Wayang Potehi di Tjap Sahabat, Menghidupkan Kembali Tradisi Tionghoa di Era Kontemporer
Kolaborasi seni tradisional dan kontemporer di Tjap Sahabat, Bandung menghadirkan kehidupan baru bagi wayang potehi dan warisan budaya Tionghoa.
Penulis Tim Redaksi21 Januari 2026
BandungBergerak - Suasana Tjap Sahabat, Bandung ramai dengan suara alat musik dan percakapan, saat boneka kayu dengan pakaian warna-warni mulai dipersiapkan untuk pertunjukan, 16 Januari 2026. Boneka-boneka ini adalah wayang potehi, kesenian asal Tionghoa yang tampil di panggung merah menyerupai miniatur rumah.
Setiap boneka memiliki mata, hidung, dan mulut, dengan guratan cat yang membentuk karakter khas masing-masing tokoh. Mereka menunggu giliran untuk dimainkan, menjadi bagian dari sebuah tradisi seni yang telah bertahan selama berabad-abad.
Pementasan wayang potehi ini merupakan bagian dari Cap Cip Cup Fest: Kelana Wayang Potehi, sebuah acara kolaborasi antara Tjap Sahabat dan sanggar wayang potehi Siauw Pek San. Acara yang digelar dari 15 hingga 30 Januari 2026 ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan wayang potehi, tetapi juga karya seni kontemporer yang merespons tradisi tersebut.
Acara ini dibuka dengan penjelasan tentang wayang potehi, sebuah seni pertunjukan boneka tangan yang berasal dari komunitas Hokkien di Tiongkok Selatan. Tradisi yang dibawa ke Indonesia sejak abad ke-17 ini tidak hanya berkembang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media ritual dan pewarisan budaya.
Seiring berjalannya waktu, wayang potehi Indonesia tetap mempertahankan nuansa tradisional yang khas, berbeda dengan pertunjukan di negara lain yang banyak mengalami modernisasi. Menurut pihak Siauw Pek San, itulah alasan mengapa wayang potehi Indonesia tetap hidup, menjadi ruang untuk bertahan dan menjaga nilai budaya di tengah zaman yang terus berubah.
Perjalanan Wayang Potehi di Indonesia
Sejarah wayang potehi di Indonesia bermula ketika masyarakat Tionghoa, terutama dari daerah Fujian, bermigrasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tradisi ini mulai berkembang di tanah Jawa dan baru dikenal luas pada tahun 1928 di Sumatera Barat. Namun, wayang potehi sempat mengalami masa suram pada era Orde Baru, di mana pemerintah Suharto mengeluarkan Instruksi Presiden yang melarang berbagai aktivitas yang berhubungan dengan budaya Tionghoa.
Andika Pratama, dalang dari Siauw Pek San, mengungkapkan bahwa selama 32 tahun masa pembatasan tersebut, wayang potehi hampir tak terlihat. Pada masa itu, pemerintah menganggap budaya Tionghoa berhubungan dengan komunisme, yang menyebabkan seni ini terkekang.
“Bisa jadi ini bentuk rasisme dan stigma terhadap orang Tionghoa, yang dulu dianggap komunis,” ujar Andika.
Namun, setelah Instruksi Presiden dicabut pada era Presiden Gus Dur, kebebasan berekspresi kembali diterima oleh komunitas Tionghoa, dan wayang potehi pun mulai bangkit kembali.
Akibat pembatasan pada masa Orde Baru, wayang potehi mengalami akulturasi sebagai langkah adaptasi agar dapat dipentaskan. Tidak lagi hanya diwariskan kepada sesama Tionghoa, wayang potehi berjalan lebih luas hingga ke pemain-pemain Jawa. Musik yang kini mengadopsi budaya Jawa, merupakan salah satu bentuk akulturasi yang terjadi.
“Ritme dan pola musiknya ada beberapa yang terinspirasi dari wayang Jawa, kayak wayang golek. Bahasa yang digunakan juga terpaksa diubah, tidak lagi menggunakan bahasa Hokkien tetapi wajib memasukan unsur bahasa Indonesia,” jelas Andika.
Kini, meskipun toleransi semakin berkembang, tantangan terbesar adalah mengenalkan wayang potehi kepada generasi muda Tionghoa yang semakin sedikit mengenal tradisi ini.
Baca Juga: Wayang Golek di Tangan Orang-orang Muda, Menemukan Tantangan Berat di Era Digital
Lintasan Lakon Wayang

Merawat Wayang Potehi Melalui Seni Kontemporer
Selain pementasan wayang potehi, acara ini juga menyuguhkan pameran seni kontemporer sebagai respons terhadap tradisi wayang potehi. Para seniman, seperti Ilham Sadikin dan Maaliki Sadikin, turut berpartisipasi dengan karya-karya yang memadukan elemen tradisional dengan interpretasi modern.
Ilham Sadikin, dalam karyanya yang berjudul Sie Jin Kwie, menggambarkan sosok legendaris wayang potehi dalam bentuk robot. Menggunakan teknik doodle dengan spidol di atas kertas, Ilham menciptakan sebuah karya visual yang kaya warna, menggabungkan tradisi dengan imajinasi futuristik. Karya ini, menurut Ilham, terinspirasi dari pengenalan awalnya terhadap wayang golek, yang serupa dengan wayang potehi.
Sementara itu, Maaliki Sadikin menciptakan karya berjudul Decoding Culture, yang memanfaatkan Augmented Reality (AR) untuk menghidupkan panggung wayang potehi. Ketika karya ini dipindai dengan aplikasi khusus, animasi yang muncul akan mengubah panggung wayang potehi menjadi rumah adat Jawa, menyimbolkan akulturasi budaya yang telah berlangsung lama.
“Di sini aku pengin menceritakan bahwa emang dalam sejarah perjalanan wayang potehi ke Indonesia itu banyaknya di Jawa, dan sudah melebur dengan budaya dan orangnya,” ujar Maaliki.
Karya-karya ini menunjukkan bagaimana wayang potehi tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dihadirkan dalam bentuk yang relevan dengan zaman sekarang. Menurut Mei Suling, perwakilan Tjap Sahabat, acara ini dimaksudkan untuk melestarikan wayang potehi di Bandung, mengingat kini hampir tidak ada lagi generasi muda yang melanjutkan tradisi ini.
“Jadi, generasi dulu itu, dalang-dalangnya yang mainin wayang potehi sudah pada meninggal semua. Sekarang, di Bandung itu sebenernya sudah tidak ada pemainnya,” ujar Mei Suling.
*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Alysha Ramaniya Wardhana dan Riani Alya Supriatna Khairunnisa. Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

