• Berita
  • Film Teman Tegar Maira, Pesan dari Anak untuk Menyelamatkan Hutan dan Masyarakat Adat Papua

Film Teman Tegar Maira, Pesan dari Anak untuk Menyelamatkan Hutan dan Masyarakat Adat Papua

Film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua mempertemukan anak Papua dan Bandung di hutan adat. Menyuarakan penyelamatan hutan dari pembalakan.

Film Teman Tegar Maira Whisper from Papua ditayangkan perdana di Ciwalk XXI, Cihampelas Walk, Bandung, Rabu, 21 Januari 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang26 Januari 2026


BandungBergerak - Berlatarkan pedalaman Kampung Lobo, Kaimana, Papua Barat, karakter Maira, seorang gadis pemberani berusia 12 tahun hidup berdampingan dengan hutan. Maira bertemu Tegar, bocah 11 tahun penyandang disabilitas dari Bandung yang datang ke Papua bersama Teh Isy.

Rasa ingin tahu Tegar terhadap burung cendrawasih membuat pertemuan dua anak dari latar belakang berbeda ini menjadi awal perjalanan yang mengubah cara pandang mereka tentang alam, keberanian, dan masa depan.

"Alam ini telah memberikan banyak hal, tapi kita tidak bisa memberikan apa-apa," ujar Maira sembari memperlihatkan kekayaan alam Papua pada Tegar dan Teh Isy.

Keindahan lanskap alam Papua diperlihatkan dengan begitu eksotis. Hutan, gunung, sungai, laut, hingga kehidupan masyarakat adat menjadi latar perjalanan petualangan mereka dengan pendekatan musikal.

"Pohon seperti saudara, hewan-hewan menjadi teman yang tinggal akrab dengan masyarakat adat," ucap nenek Maira sekaligus tetua adat di Kampung Lobo.

Kisah Maira disuguhkan dalam film "Teman Tegar Maira: Whisper from Papua" karya Anggi Frisca, sutradara dari rumah produksi Aksa Bumi Langit. Film ini menjadi sekuel dari karya sebelumnya, Tegar yang dirilis tahun 2022 lalu. Film ini ditayangkan perdana di Ciwalk XXI, Cihampelas Walk, Bandung, Rabu, 21 Januari 2026.

Selama lebih dari 90 menit, film ini memperlihatkan realita kehidupan alam Papua yang indah, namun juga ironi dengan krisis iklim dan pembalakan hutan (deforestasi) hutan yang kini tengah terjadi. Dengan formula film anak yang menyenangkan dan inklusif, film ini mudah dinikmati oleh penonton dari berbagai umur.

Di gala premier-nya di Bandung, film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua telah ditonton lebih dari seribu orang lebih dari berbagai kelompok masyarakat.

Inklusif dan Lekat dengan Isu Lingkungan

Jika film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak difabel, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global, yakni krisis iklim dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, tapi sebagai peran kuat yang punya suara, keberanian, dan bertindak untuk menyelamatkan masa depan.

Produser film Chandra Sembiring menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang. Terlebih memperluaskan kesadaran masyarakat akan isu inklusif, deforestasi Papua, hingga masyarakat adat.

"Karena ini bukan hanya tugas dari beberapa orang, kita harus sama-sama berkontribusi terhadap krisis iklim dan bagaimana menyampaikannya dengan sangat ringan," ungkapnya.

Chandra sendiri menjelaskan, dalam proses pembuatan film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua, membutuhkan riset 2,5 tahun hingga akhirnya produksi film. Papua, menurutnya, bukan hanya berperan jadi objek dan latar belakang saja, melainkan subjek yang turut berperan dalam kontribusi film.

Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua. Hingga mayoritas pemerannya merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.

Chandra melihat, masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat. Sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

"Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye, dan benih gerakan," ucapnya.

Salah satu penonton asal Bandung, Herlis menceritakan film ini mampu memperkenalkan kehidupan Papua yang begitu alami, bersih, harmonis, dan kompak. Ia melihat, film ini mampu menjadi contoh yang baik buat generasi ke depannya untuk menjaga alam di tengah krisis iklim dan bencana ekologi yang terjadi.

"Kalau alam sudah dirusak oleh kita, ya itu tadi, bencana itu datang bukan buat orang-orang yang merusak, tapi kita pun yang sudah memelihara jadi ikut (terdampak) juga," ungkap Herlis.

Baca Juga: Refleksi Sejarah Mahasiswa Papua di Gedung Merdeka
Mahasiswa Papua di Bandung Mengajak Memetik Pelajaran dari Bahaya Tambang Nikel di Raja Ampat

Petani Film

Anggi Frisca, sang sutradara, percaya film akan membawa ke dalam satu gerakan yang pada tujuan akhirnya ialah dampak ekosistem. Aksa Bumi Langit, kata Anggi, yang memproduksi film pertama Tegar dan film lanjutan Teman Tegar: Maira Whisper from Papua berangkat dari kegelisahan Anggi terhadap masyarakat kota yang kerap kali lupa terkoneksi dengan alam.

"Supaya kita cuma tidak hanya berpikir tentang pembangunan yang masif, (tapi) kita yang hidup di kota juga harus punya kesadaran bagaimana membangun ekosistem yang baik," tambah Anggi.

Selain sutradara, Anggi Frisca menyebut dirinya petani film yang berasal dari Bandung. Konsisten tumbuh dalam ekosistem seni dan film selama 10 tahun, membuat pengalaman panjangnya tetap dalam isu yang sama. Yakni, tentang anak-anak, komunitas, serta isu sosial, hingga lahirnya semesta Teman Tegar.

"Saya menyebut diri saya petani film. Film ini adalah bibit yang kami tanam dengan puluhan tahun pengalaman, kegelisahan, dan cinta pada Indonesia," ungkapnya.

Realita Pembalakan Hutan dan Masyarakat Adat Papua

Pembalakan hutan atau deforestasi di Papua setiap tahunnya menhkhawatirkan. Menurut Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, pada data awal 2024 sekitar 765,71 hektare hutan di Papua hilang selama Januari-Februari 2024. Kerusakan ini mayoritas diakibatkan oleh ekspansi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pembalakan kayu hutan.

Dari Global Forest Watch pada 24-31 Desember 2025 lalu saja, sudah mencatat 45.775 peringatan deforestasi di Papua. Hal ini setara dengan 560 hektare hutan hilang hanya dalam seminggu. Sehingga angka ini dapat menyimpulkan, deforestasi bukan hanya masalah tahunan, melainkan peristiwa yang terus berlangsung setiap minggunya.

Berdasarkan catatan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, mereka mengidentifikasi setidaknya enam penyebab utama hilangnya hutan primer di Papua pada 2024 dan empat pendorong yang telah terkonfirmasi pada paruh pertama 2025.

Pertama, adanya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang membuka ratusan ribu hektare kawasan hutan untuk kawasan pangan nasional (food estate). Dilanjutkan dengan ekspansi agribisnis, transmigrasi dan budidaya padi, ekspansi kelapa sawit, hingga penambangan yang masif di Raja Ampat.

Deforestasi hutan Papua pun berdampak dengan keberlangsungan masyarakat adat di Papua. Penggusuran dan konfilk lahan banyak terjadi, terutama di wilayah adat Malind dan Yei.

Dalam penelitian, masyarakat adat melaporkan bahwa hutan yang merupakan sumber pangan, obat, budaya, dan kehidupan, terus tegerus. Tanpa adanya konsultasi penuh dengan mereka yang pada akhirnya menciptakan pelanggaran prinsip FPIC (Free, Prior, and Informed Consent).

Film, Media Edukasi dan Kampanye

Dosen Prodi Ilmu Film Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Sandi Jaya Saputra menyebut, film dapat menjadi satu jembatan yang kuat dalam menyampaikan pesan edukasi untuk generasi mendatang. Terlebih, film ini memang ditargetkan untuk anak-anak yang secara implisit membangun kesadaran soal krisis iklim dan inklusif sejak dini.

"Bagaimana di film ini juga diperankan dengan baik oleh Tegar bahwa film juga menjadi salah satu sarana yang inklusif," katanya.

Sandi berharap dengan lahirnya film edukasi seperti Teman Tegar Maira: Whisper from Papua dapat berpengaruh baik dalam sudut pandang generasi mendatang.

"Harapannya beberapa puluh tahun ke depan, anak-anak menjadi pemegang kekuasaan, pemegang kebijakan, dan bisa lebih bijak dalam membangun dan akhirnya Indonesia bisa menjadi lestari," ungkap Sandi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Kota Bandung Indra Sofyan mengapresiasi film Teman Tegar. Film yang hadir untuk segmen anak-anak ini dinilai sebagai wadah pengingat tentang menjaga hutan. Ia menambakan, film menjadi alat kampanye yang kuat dalam menyadarkan masyarakat untuk menjaga lingkungan.

 

...

 *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//