• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #103: Balada Gorengan Mang Aom

CERITA ORANG BANDUNG #103: Balada Gorengan Mang Aom

Di usianya yang tidak muda, Mang Aom bertahan di Jalan Dakota, Bandung dengan jualan gorengan, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus-terusan naik.

Mang Aom sebagai pedagang gorengan yang merantau dari Majalengka ke Bandung untuk bertahan hidup. (Foto: Alysha Ramaniya/BandungBergerak)

Penulis Alysha Ramaniya Wardhana13 Februari 2026


BandungBergerak - Minyak panas mulai mendesis sejak pukul setengah dua siang di sudut Jalan Dakota, Sukaraja, Bandung. Di balik gerobak berwarna kuning, seorang pria bernama Mang Aom berdiri dengan lengannya yang tidak berhenti bekerja untuk meniriskan beberapa gorengan yang sudah matang di gerobak. 

Mang Aom merupakan sapaan akrab dari pria bernama Sahum yang sudah berjualan gorengan sejak 1988. Pria asal Majalengka itu memutuskan merantau ke Bandung atas ajakan pamannya untuk berjualan gorengan, dengan tahu yang dipasok dari pabrik tahu milik sang paman.

Keputusannya untuk merantau bukan hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga untuk mencari kebebasan.

“Cari jualan itu kan istilahnya cari kebebasan. Misalkan mau istirahat, gak libur, itulah bebas, itu gak diatasi sama orang lain,” ucap Sahum.

Dulu, pria berusia 58 tahun ini memiliki impian menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi dengan riwayat pendidikannya yang terhenti akibat keterbatasan ekonomi, ia memutuskan bekerja sebagai pengembala kambing di Majalengka ketika usianya masih 9 tahun. Bertambahnya umur, Mang Aom menambah pekerjaan sampingan sebagai pekerja bangunan.

Kebebasan merupakan hal yang sangat diinginkan Mang Aom sejak dulu. Ia rela merantau dan meninggalkan pekerjaan lamanya demi mencari pengalaman dan kemandirian. Menurutnya, dengan adanya kebebasan, bekerja pun terasa lebih menyenangkan.

“Dulu kan ikut bangunan sama saudara. Tapi kan dirasa-rasa itu kan istilahnya tertekan juga gitu kan. Jadi bapak sebenarnya males disuruh-suruh. Jadi milih buat buka gorengan. Istilahnya nyobainlah merantau gitulah. Bagaimana rasanya hidup mandiri gitu,” ungkap Mang Aom.

Perjalanan Mang Aom tidak selalu menetap di Jalan Dakota. Sebelumnya, ia telah menjelajahi tiga lokasi, Cimahi, Cibogo, dan Cibeureum dengan prinsip mengikuti pembeli, di mana ada pembeli, di situlah Mang Aom berjualan. Seiring waktu, Mang Aom akhirnya menemukan tempat yang dirasanya paling nyaman di Jalan Dakota.

“Kalau nyaman sih nyaman. Kalau bapak kata, mau tetap aja di sini, ya bapak pasti tetap di sini karena emang nyaman di sini. Kalau nyari lagi yang lain, kadang-kadang bagaimanalah istilahnya nol lagi. Jadi cari tempat yang lain, bisa. Kadang-kadang belum tentu nyaman,” ujar Mang Aom.

Setiap hari, Mang Aom melakukan persiapan sejak pagi. Pergi ke pasar, menyiapkan bahan, lalu beristirahat sebentar sebelum berjualan. Mulai pukul setengah dua siang hingga sembilan malam, ia berdiri dengan duduk sesekali menemani gerobak kuningnya yang siap menampung 350 gorengan. Jumlah tersebut tidak selalu habis, tetapi Mang Aom tetap senang hati melayani pembelinya. 

Gerobak kuning milik Mang Aom lahir dari kegigihannya mengumpulkan upah hasil dari pekerjaannya yang dulu, ketika ia menerima upah 15.000 rupiah per bulan. Perlahan, uang itu terkumpul hingga cukup bagi Mang Aom membeli bahan, kain, dan alat-alat yang menunjang usahanya saat ini.

Meski telah menemukan tempat yang nyaman, perjalanan Mang Aom sebagai pedagang gorengan juga tetap berdampingan dengan berbagai penyesuaian.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #100: Sepi di Lorong Kebun Binatang, Penyegelan di Mata Seorang Pawang
CERITA ORANG BANDUNG #102: Lily, Seorang Lansia Perawat Kucing

Gorengan Mang Aom, pedagang yang merantau dari Majalengka ke Bandung untuk bertahan hidup. (Foto: Alysha Ramaniya/BandungBergerak)
Gorengan Mang Aom, pedagang yang merantau dari Majalengka ke Bandung untuk bertahan hidup. (Foto: Alysha Ramaniya/BandungBergerak)

Pilihan Semakin Sempit

Selama berjualan lebih dari 30 tahun, Mang Aom merasakan kesulitannya menghadapi bahan baku yang semakin lama harganya semakin naik. Meski harga bahan baku mengalami perubahan, ia tetap memilih untuk mempertahankan harga jual sebesar 1.000 rupiah per gorengan.

“Paling penghasilan bapak yang ngurangin. Bukannya misalkan, harusnya kan misalkan bahan baku naik, bapak juga kan harusnya ikut naik. Tapi kan jangankan naik, jual biasa juga udah repot. Nah gitu, apalagi kita naik,” tutur Mang Aom.

Menjelang Ramadan, kenaikan harga semakin terasa. Jika dulu menjual gorengan dapat menjadi sandaran hidupnya, kini hanya dapat menutupi modal atau bahkan menombok. Ia merasa dulu lebih mudah mencari uang dibandingkan sekarang.

Tahun 2025 juga menjadi tahun yang sangat berat bagi Mang Aom. Ia hampir menutup gerobaknya karena penjualan yang menurun. Usianya yang tidak lagi muda menyebabkan pilihannya semakin sempit. Mencari pekerjaan baru terasa mustahil.

“Bapak udah tua, istilahnya udah mau lepas ini mau kemana gitu larinya. Apalagi mau cari kerjaan, jangankan dari bapak yang pendidikan atau tenaga udah kurang. Yang muda-muda juga kan masih banyak, penerus-penerus kan gitu banyak kan, kadang-kadang banyak yang nganggur juga,” ujarnya, menyoroti kondisi pengangguran.

Data dari Diskominfo Jawa Barat (Jabar) menunjukkan bahwa pada Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jabar menduduki peringkat ke-3 tertinggi dari 38 provinsi di Indonesia. Kurangnya lapangan kerja mendorong warga bekerja di sektor informal, antara lain menjadi pedagang kecil (PKL).

Merujuk situs Sistem Informasi Pedagang Kaki Lima (SIPKL), diakses 16 Juli 2021, tercatat ada sebanyak 22.003 orang pedagang kaki lima (PKL) yang terdaftar di bawah Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Bandung. Fesyen dan kuliner merupakan dua jenis usaha yang paling banyak dilakoni oleh PKL, masing-masing terdiri dari 11.783 orang dan 9.712 orang. Dari sisi penyebarannya, jumlah PKL terbanyak ditemukan di Kecamatan Regol, mencapai 3.336 orang.

Meski pilihannya sempit, Mang Aom tetap berjualan seperti biasanya, dimulai dari siang hingga malam. Ia bertahan bukan karena untung yang besar. Ia juga percaya bahwa roda kehidupan akan selalu berputar. Maka, ia memilih untuk terus berjuang dengan menikmati dan mensyukuri yang ada saat ini.

Kota Bandung telah memberikan Mang Aom kehidupan yang nyaman, salah satu alasan yang membuatnya bertahan merantau hingga kini. Mang Aom memiliki harapan bahwa suatu hari nanti ia dapat beristirahat dengan bekal yang cukup. Jika memungkinkan, ia juga ingin membuka usaha di kampung asalnya. 

“Tapi kalau bapak mah sebenarnya kalau masa depannya ya misalkan udah capek di sini, punya bekal, istilahnya udah punya modal. Misalkan modal buat usaha di kampung, ya emang dulu pengin di kampung gitu. Pengin usaha di kampung, ya istilahnya usahanya apa gitu, tapi ada pemasukan,” ungkap Mang Aom.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//