• Kolom
  • Memudarnya Adab di Selasar Kampus

Memudarnya Adab di Selasar Kampus

Ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang terbungkus ijazah.

Rahman Malik

Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara. Berminat pada kajian Sosiologi, Cultural Studies, Sosiologi Masyarakat Virtual.

Ilustrasi kuliah. (Ilustrator: Alfonsus Ontrano Irakaswar/BandungBergerak/Mahasiswa di Institut Teknologi Sumatera)

4 Maret 2026


BandungBergerak.id – Enam tahun lalu, saya melangkah ke koridor universitas dengan idealisme tinggi. Menjadi dosen bukan sekadar mentransfer teori dari buku teks ke papan tulis, melainkan sebuah proses "membentuk" manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, ada sesuatu yang terasa menguap dari atmosfer pendidikan tinggi kita. Sesuatu itu bukan kecerdasan intelektual, karena mahasiswa sekarang jauh lebih melek informasi, melainkan adab.

Sebagai praktisi di dunia akademik, saya menyaksikan sendiri bagaimana etika mulai terpinggirkan oleh efisiensi digital dan pergeseran nilai sosial. Kita sedang menghadapi krisis karakter yang, jika dibiarkan, akan melahirkan sarjana yang berilmu tinggi namun miskin empati.

Dahulu, menghubungi dosen melalui pesan singkat memiliki "ritual" tersendiri: salam yang sopan, perkenalan diri yang jelas, hingga penggunaan kata-kata yang terukur. Kini, layar ponsel saya sering kali menerima pesan tanpa identitas, dikirim di jam istirahat atau tengah malam, dengan nada yang menuntut. Fenomena "P" (hanya mengirim huruf P sebagai pembuka) atau pesan singkat yang lebih mirip instruksi kepada pelayan daripada konsultasi kepada guru, menjadi makanan sehari-hari.

Ada kesan bahwa mahasiswa menganggap dosen sebagai service provider (penyedia layanan) dalam industri pendidikan, bukan sebagai sosok pembimbing. Ketika pendidikan dipandang sebagai transaksi komersial–saya bayar UKT, Anda beri saya nilai–maka penghormatan menjadi variabel yang dianggap tidak relevan.

Pemandangan di koridor kampus pun berubah. Jarang sekali saya temukan mahasiswa yang sekadar mengangguk atau melepaskan pandangan dari layar ponselnya saat berpapasan dengan dosen. Budaya bersalaman bukan sekadar menempelkan tangan, tapi mencium tangan sebagai simbol penghormatan atas ilmu, kini dianggap kuno atau bahkan "berlebihan" oleh sebagian generasi Z.

Padahal, dalam tradisi ketimuran, gestur fisik tersebut adalah cara menundukkan ego. Ketika seorang mahasiswa bersalaman dengan hormat, ia sedang mengakui bahwa ada "sumur ilmu" yang ia timba darinya. Tanpa pengakuan itu, ilmu yang diserap hanya akan menjadi tumpukan data di kepala, tanpa keberkahan yang mampu mengubah perilaku.

Satu hal yang paling menyesakkan adalah minimnya kepekaan untuk mengapresiasi. Sering kali, setelah dosen memberikan bimbingan berjam-jam, memberikan referensi tambahan, atau memberikan keringanan tugas, mahasiswa melenggang pergi begitu saja. Kata "terima kasih" seolah menjadi barang mewah yang mahal harganya.

Mahasiswa seolah lupa bahwa di balik materi kuliah yang mereka nikmati, ada jam-jam persiapan, riset, dan dedikasi yang diberikan dosen. Rendahnya rasa syukur ini adalah alarm keras. Jika terhadap orang yang memberi mereka tangga untuk naik ke masa depan saja mereka abai, bagaimana mereka akan bersikap di dunia kerja atau masyarakat luas nantinya?

Baca Juga: Pengaruh Buku Pengembangan Diri dalam Tranformasi Generasi ZMenjaga Etika Generasi Muda Menuju Indonesia Tidak Cemas 2045Di Balik Harapan Besar pada AI, Ada Eksploitasi Pekerja dan Masalah Etika

Membangun Kembali Ekosistem Beradab

Mengapa adab mahasiswa merosot tajam? Saya melihat ada tiga faktor utama. Pertama, derasnya arus digital–teknologi membuat segalanya instan dan tanpa sekat. Hal ini mengaburkan batas antara ruang privat dan publik, serta antara komunikasi santai dengan teman sebaya dan komunikasi formal dengan atasan atau dosen. Kedua, pola asuh dan lingkungan–kampus adalah muara. Jika dari rumah dan jenjang pendidikan sebelumnya nilai-nilai adab tidak ditekankan, maka perguruan tinggi tidak bisa melakukan "keajaiban" dalam sekejap. Ketiga, komersialisasi pendidikan–pandangan bahwa mahasiswa adalah "konsumen" membuat mereka merasa berhak mendapatkan segalanya tanpa harus menunjukkan kepantasan secara moral.

Kita tidak bisa hanya mengeluh. Perlu ada langkah konkret untuk mengembalikan muruah pendidikan kita. Kontrak Etika di Awal Semester: Mulailah menerapkan “Kontrak Adab” di samping Kontrak Perkuliahan. Saya sampaikan secara lugas bagaimana cara mengirim pesan yang benar, jam berapa boleh menghubungi dosen, dan bagaimana bersikap di dalam kelas. Ini bukan soal gila hormat, tapi soal mendidik etika. Integrasi Adab dalam Kurikulum: Adab tidak boleh hanya menjadi mata kuliah pilihan atau materi sisipan di ospek. Ia harus menyatu dalam setiap interaksi di kelas. Dosen harus berani menegur jika ada mahasiswa yang berperilaku tidak sopan, tanpa rasa takut akan dinilai buruk dalam evaluasi dosen. Dosen Sebagai Teladan (Role Model): kita tidak bisa menuntut adab jika kita sendiri tidak menunjukkannya. Dosen harus tepat waktu, menghargai pendapat mahasiswa, dan berkomunikasi dengan tutur kata yang baik. Adab akan menular melalui keteladanan, bukan sekadar ceramah. Kampanye Literasi Etika Digital: perguruan tinggi perlu secara masif mengampanyekan etika berkomunikasi di ruang digital. Ini adalah soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja profesional.

Untuk para mahasiswa, sadarilah bahwa gelar akademikmu mungkin akan membawamu ke pintu wawancara kerja, tetapi adabmulah yang akan menentukan seberapa lama kamu bertahan di dalam ruangan itu. Ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang terbungkus ijazah.

Untuk rekan-rekan pendidik, mari kita tetap sabar namun tegas. Kita bukan sekadar pengajar, kita adalah penjaga nilai. Jangan lelah mengingatkan mereka untuk bersalaman, jangan bosan meminta mereka mengucapkan terima kasih. Sebab, jika kita menyerah mendidik adab mereka, maka kita sedang mempersiapkan masa depan bangsa yang cerdas secara intelektual namun cacat secara karakter.

Mari kita kembalikan kampus sebagai tempat di mana akal diasah dan budi pekerti luhur dijunjung tinggi. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang dosen bukan dilihat dari seberapa banyak mahasiswanya yang lulus dengan IPK 4,0, melainkan seberapa banyak mereka menjadi manusia yang tahu cara menghargai sesamanya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//