• Berita
  • Mengelola THR di Tengah Euforia Belanja Lebaran

Mengelola THR di Tengah Euforia Belanja Lebaran

Tekanan sosial dan godaan konsumsi membuat THR lebaran cepat habis. Padahal, bonus tahunan ini bisa dimanfaatkan untuk tabungan, dana darurat, hingga investasi.

Ilustrasi. Mengelola keuangan diperlukan oleh individu maupun perusahaan. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang17 Maret 2026


BandungBergerak - Pusat perbelanjaan mulai padat menjelang lebaran. Orang-orang menenteng kantong belanja berisi baju baru, kotak kue, hingga oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Di sisi lain, tiket mudik, hampers, dan amplop THR untuk sanak saudara sudah masuk daftar pengeluaran.

Tak jarang, belanja itu merembet ke hal lain: gawai baru, pakaian tambahan, atau oleh-oleh pulang kampung. Tanpa disadari, Tunjangan Hari Raya (THR) yang baru cair pun habis dalam waktu singkat, tanpa sempat disisihkan untuk tabungan atau tujuan keuangan lain.

Manajemen Keuangan di Musim Lebaran

Dalam situasi itu, menajemen keuangan menjadi kunci. Ini diakui Muhammad Luthfi Diantoro, 26 tahun, yang menerima Tunjangan Hari Raya (THR) penuh dari kantornya. Ia telah lebih dari setahun bekerja sebagai content creator di perusahaan event olahraga di Jakarta.

Untuk menyiasatinya, Luthfi telah membuat perencanaan keuangan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mudik, keperluan lebaran, menabung, hingga berdonasi. Baginya, momentum lebaran justru menjadi kesempatan untuk berbagi, terutama kepada keluarga.

Namun, ia menyadari bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil menuntut pengelolaan uang lebih hati-hati. Menurut Luthfi, pemasukan tambahan seperti THR dapat menimbulkan ilusi memiliki banyak uang, sehingga mendorong pengeluaran impulsif.

"Jadi naikin ego kita buat boros, ngerasa kita banyak duit, padahal itu sebenernya, ya, cuma ilusi doang gitu kan. Setelahnya 'kan kita juga bakal hidup kayak biasa lagi," papar Luthfi saat dihubungi BandungBergerak, 3 Maret 2026.

Hal serupa disampaikan pekerja lepas pemasaran digital, Muhammad Insan Mulyawan, 23 tahun. Meski tidak menerima THR secara penuh karena statusnya sebagai pekerja lepas, ia tetap menganggapnya sebagai rezeki tambahan yang sebagian dialokasikan untuk berbagi selama Ramadan dan lebaran.

Agar arus kas tetap sehat, Insan menggunakan metode pembagian keuangan sederhana: uang hijau, biru, dan merah. Uang hijau digunakan untuk kebutuhan harian seperti transportasi, makanan, kesehatan, dan belanja bulanan. Uang biru disisihkan sebagai dana darurat. Sementara uang merah dialokasikan untuk tabungan atau investasi.

Ia juga tidak merasa terbebani oleh tekanan sosial saat Lebaran. Baginya, kuncinya adalah pengendalian diri dan tidak menaruh ekspektasi berlebihan terhadap orang lain. Dengan perencanaan yang matang, kondisi keuangannya tetap stabil setelah Lebaran.

"Karena (keuangan) sudah terencana 'kan, ya, sebetulnya jadi relatif masih terkendali," jelasnya, "(THR) bonus aja, jadi 'kan kita enggak usah bergantung ke itu, karena sudah terkontrol." 

Baca Juga: THR untuk ASN, Guru Honorer dapat Apa?
Puasa, Sakral, dan Komersial

Permasalahan Umum dalam Pengelolaan THR

Perencana keuangan Rista Zwestika mengatakan, masalah pengelolaan THR hampir selalu berulang setiap tahun. Salah satu yang paling umum adalah anggapan bahwa THR merupakan uang bonus yang harus dihabiskan. Padahal secara finansial, THR seharusnya diperlakukan sebagai tambahan pendapatan yang tetap perlu direncanakan.

Masalah lainnya adalah tidak adanya penganggaran yang jelas. Ketika dana THR masuk ke rekening, banyak orang langsung membelanjakannya secara impulsif. Selain itu, masyarakat juga kerap terjebak pengeluaran sosial saat lebaran, seperti pakaian baru, dan lain-lain.

Banyak orang tidak menyisihkan THR untuk tujuan keuangan yang lebih penting, seperti memperkuat dana darurat, melunasi utang, menabung, atau menyiapkan dana pendidikan.

Menurut Rista, kebiasaan tersebut sering dipicu tekanan sosial. Ada anggapan bahwa seseorang dianggap sukses jika mampu memberi banyak saat Lebaran. Padahal, esensi lebaran bukanlah ajang menunjukkan kemewahan. 

"Lebaran itu bukan ajang kompetisi. Bermula kompetisi untuk menunjukkan bahwa kita punya kemewahan, bukan. Tapi lagi-lagi, lebaran itu makna untuk bersilaturahmi," ungkap Rista.

Mengatur THR agar Keuangan Tetap Sehat

Rista menyarankan agar THR dikelola secara bijak, sehingga kondisi keuangan tetap aman setelah lebaran. Ia menyarankan agar menetapkan batas anggaran sejak awal menerima THR. Anggaran tersebut dapat mencakup kebutuhan mudik hingga dana berbagi untuk keluarga. Penting pula untuk berani mengatakan cukup ketika pengeluaran mulai melebihi rencana.

“Jangan sampai kita memenuhi semua keinginan keluarga, tapi kondisi keuangan kita jadi berbahaya atau bahkan harus berutang,” tegasnya.

Prioritaskan kebutuhan utama dan keluarga inti. Rista menyarankan untuk mengurangi kebiasaan memberi secara berlebihan kepada kerabat jauh jika kondisi keuangan tidak memungkinkan. Menjaga kesehatan finansial tetap harus menjadi prioritas.

Membagi THR ke dalam beberapa pos anggaran juga prioritas. Tidak ada rumus pasti mengenai pembagian persentasenya, karena setiap orang memiliki kebutuhan berbeda. Namun Rista memberikan contoh sederhana: sekitar 30 persen untuk kebutuhan Lebaran, 20 persen untuk berbagi dan THR keluarga, 20 persen untuk tabungan atau dana darurat, 20 persen untuk investasi, dan 10 persen untuk kebutuhan pribadi.

Penting juga memanfaatkan THR untuk memperkuat dana darurat atau melunasi utang konsumtif. Menurut Rista, pengalaman pandemi 2020 menunjukkan banyak orang kesulitan secara finansial karena tidak memiliki cadangan dana. Jika seseorang memiliki utang konsumtif yang memberatkan, THR dapat digunakan untuk membantu melunasinya.

Selain itu, THR juga dapat dimanfaatkan untuk investasi jika selama ini sulit menyisihkan uang dari pendapatan bulanan. Dana tersebut dapat diarahkan untuk berbagai tujuan keuangan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Misalnya untuk dana darurat atau pelunasan utang dalam jangka pendek; pembelian rumah, pernikahan, atau pendidikan dalam jangka menengah; serta dana pensiun atau pendidikan anak dalam jangka panjang.

Bahkan, menurut Rista, sebagian THR juga bisa disimpan untuk kebutuhan Lebaran di tahun berikutnya. “Jadi ada atau tidak ada THR tahun depan, kita tetap bisa menjalani Lebaran dengan tenang,” kata Rista.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//