Puasa, Sakral, dan Komersial
Ngabuburit bersama anak, bukan bersama layar. Refleksi Ramadan tentang keluarga, media sosial, dan godaan konsumsi di era digital.

Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
7 Maret 2026
BandungBergerak - Saat sedang asyik berselancar mencari referensi tentang tradisi imsak di Bandung, tiba-tiba lamunan itu terpotong oleh suara kecil yang begitu akrab. “Bah, simpan dulu HP-nya! Ayo main ke sawah.”
Kakang, 4 tahun, anakku yang ketiga, berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh harap. Belum sempat menjawab, Aa Akil, anak kedua (11 tahun) menimpali dengan nada menggoda, “Iya Bah, ini hari libur masa kerja terus di HP.”
Kudiam sejenak. Pikiran melayang. Kalimat sederhana itu bak teguran lembut yang bukan tentang pekerjaan, melainkan pentingnya kebersamaan dan kehadiran bersama anak-anak. Ihwal waktu yang tak bisa diulang. Soal masa kecil yang tak menunggu, bukan menganggu.
Perlahan kusimpan ponsel di atas tumpukan buku-buku di perpustakaan alakadarnya. Dunia digital yang tadi terasa begitu penting, mendadak menjadi biasa saja. Sambil mendekat pada kedua bocah itu, lalu tersenyum dan berkata, “Hayu atuh, ngabuburit!”

Tren Peningkatan Digital vs Intensitas Ibadah
Liputan GoodStats bertajuk “Pola Waktu Online Publik RI saat Ramadan 2026” menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia paling aktif online menjelang waktu berbuka puasa (50 persen). Angka ini lebih tinggi dibandingkan setelah salat tarawih (39 persen) maupun pada awal malam hari (21 persen).
Ramadan dikenal sebagai bulan suci yang identik dengan peningkatan intensitas ibadah. Di tengah suasana yang lebih religius ini, aktivitas digital masyarakat tetap berlangsung, meski dengan ritme yang beragam.
Hasil survei YouGov memperlihatkan sore hari menjadi puncak aktivitas daring masyarakat. Rutinitas ini dapat dimaknai sebagai bentuk “ngabuburit digital”, ketika publik mengisi waktu menunggu berbuka dengan berselancar di media sosial, menonton konten, berinteraksi secara online. Momentum menjelang magrib menjadi waktu paling strategis dalam keterlibatan digital selama Ramadan 2026.
Sebaliknya, waktu sahur dan larut malam bukan pilihan utama. Hanya 13 persen responden yang aktif saat sahur, 9 persen memilih waktu setelah tengah malam. Rendahnya persentase ini mengindikasikan masyarakat cenderung memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat dan fokus ibadah. Hanya 12 persen yang menyatakan tetap aktif sepanjang hari seperti biasa, menunjukkan adanya penyesuaian kebiasaan digital selama Ramadan (https://data.goodstats.id).
Uniknya, peningkatan aktivitas ibadah justru tercermin dari lonjakan penggunaan aplikasi gaya hidup muslim, seperti Muslim Pro. Selama Ramadan, jumlah unduhan dan pengguna aktif aplikasi ini meningkat hingga dua kali lipat dibanding periode normal. Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar, dengan total sekitar 40 juta unduhan dari lebih 182 juta unduhan global.
CEO Muslim Pro, Nafees Khundker, menunjukkan tren pertumbuhan di Indonesia terus meningkat. Bila tahun 2025 lalu, unduhan dari Indonesia naik sekitar 30–32 persen atau bertambah delapan juta unduhan, maka tahun 2026 ini, perusahaan menargetkan tambahan 10 juta unduhan baru, dengan estimasi minimal satu juta unduhan terjadi selama periode Ramadan saja. Lonjakan penggunaan paling terasa pada pekan pertama sampai terakhir Ramadan, serta saat Idulfitri.
Fitur yang paling banyak digunakan adalah Al Quran digital, termasuk fitur “Ramadan Mode” yang menghadirkan lantunan ayat beserta terjemahan menjelang berbuka dan sahur. Mayoritas pengguna di Indonesia berusia di bawah 35 tahun, dengan komposisi gender relatif seimbang.
Secara geografis, pengguna terbesar berasal dari Jakarta dan Surabaya. Data ini menunjukkan Ramadan bukan hanya momentum spiritual, justru menjadi fase transformasi digital yang selaras dengan kebutuhan ibadah masyarakat Muslim Indonesia (Antara, Selasa, 3 Februari 2026 17:42 WIB).

Bijak dan Cerdas Gunakan Medsos
Memang di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Selama Ramadan, intensitas penggunaannya cenderung meningkat. Banyak orang memanfaatkannya untuk mencari informasi keagamaan, hiburan ringan, hingga berbagi momen kebersamaan saat sahur dan berbuka.
Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berdampak pada kualitas ibadah dan kesehatan mental. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology di bawah naungan American Psychological Association menunjukkan soal pembatasan penggunaan media sosial terbukti mampu menurunkan tingkat stres, meningkatkan kesejahteraan psikologis. Temuan ini relevan diterapkan pada bulan Ramadan, saat ketenangan batin sangat dibutuhkan.
Bijak bermedia sosial dapat dimulai dengan mengatur waktu pemakaian secara sadar dan terencana. Membatasi akses gawai pada waktu-waktu utama seperti sahur, berbuka puasa, dan setelah salat akan membantu meningkatkan fokus ibadah dan mempererat interaksi langsung bersama keluarga.
Pemilihan konten memegang peranan penting. Mengikuti akun yang menyajikan kajian keislaman, motivasi kebaikan, dan informasi edukatif dapat memperkuat semangat menjalani ibadah. Sebaliknya, berita hoaks, konten provokatif, penuh perdebatan, yang belum jelas kebenarannya mestinya dihindari karena berpotensi memicu emosi negatif dan mengurangi nilai kesabaran yang menjadi esensi bulan suci.
Ramadan momentum yang tepat untuk meningkatkan etika digital. Menyaring kebenaran informasi sebelum membagikannya merupakan bentuk tanggung jawab moral di tengah derasnya arus berita.
Dengan penggunaan media sosial yang terkontrol dan bernilai manfaat, Ramadan dapat dijalani dengan lebih khusyuk dan bermakna. Keseimbangan antara aktivitas digital dan ibadah akan menghadirkan ketenangan, produktivitas, dan peningkatan kualitas spiritual (RRI, 26 Febuari 2026).
Agar tetap fokus pada ibadah dan kebaikan, berikut enam langkah praktis yang bisa diterapkan:
- Kurangi Waktu Bermedia Sosial
Atur durasi penggunaan media sosial, terutama pada jam-jam utama seperti sahur, waktu salat, dan menjelang berbuka. Pengelolaan waktu yang baik akan menjaga kualitas ibadah.
- Hindari Konten yang Mengganggu
Jaga hati dan pikiran dengan menghindari konten yang memicu emosi negatif, perdebatan, atau hal-hal yang kurang pantas. Pilih konten yang positif, inspiratif, dan edukatif.
- Gunakan untuk Menebar Kebaikan
Manfaatkan media sosial untuk berbagi hal-hal bermanfaat seperti doa Ramadan, pengingat ibadah, tips kesehatan saat puasa, atau pesan-pesan motivasi.
- Batasi Interaksi Negatif
Hindari perdebatan yang tidak produktif. Ramadan adalah momentum melatih kesabaran, termasuk dalam komunikasi digital.
- Fokus pada Kualitas, Bukan Popularitas
Jangan terjebak pada jumlah like atau followers. Lebih penting memastikan bahwa konten yang dibagikan memberi manfaat bagi orang lain.
- Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Peningkatan Ibadah
Ikuti kajian daring, pengingat salat, atau komunitas positif yang saling mendukung dalam menjalani ibadah puasa (RRI, 3 Mar 2025 11:12 WIB).
Baca Juga: Memupuk Kerukunan
Kesan, Pesan, dan Kenangan
Paradoks Bulan Ramadan
Ingat, bulan Ramadan adalah bulan yang suci dan mulia, bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan lamanya. Bulan obral pahala dari Allah Swt. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, sedangkan amal buruk hanya dicatat satu keburukan, dan itu pun dicatat kalau sudah secara nyata dilakukan.
Saking mulianya bulan Ramadan, tidurnya orang berpuasa bisa bernilai ibadah, daripada melakukan hal-hal yang sia-sia dan merusak ibadah puasanya. Walau demikian, alangkah lebih baik justru di bulan Ramadan tidur dikurangi dan diisi dengan beragam ibadah, agar suasana Ramadan yang datang setahun sekali benar-benar bermakna dan bermanfaat. Tidak ada jaminan tahun berikutnya kita mendapatkan kesempatan lagi merasakan bulan Ramadan.
Rupanya, di balik segala kesakralan bulan Ramadan, seiring dengan perkembangan zaman, dihadapkan pada tantangan komersialisasi pada berbagai hal, utamanya berkaitan dengan yang bersifat fisik. Mulai dari makanan, minuman, suplemen, obat-obatan, alat-alat rumah tangga, sarung, pakaian, HP, sampai aksesori dikaitkan dengan Ramadan dan Idulfitri.
Momen Ramadan, di satu sisi digunakan untuk berlomba-lomba mengumpulkan pahala, sedangkan bagi pedagang dan pengusaha, digunakan untuk meraup laba sebesar-besarnya. Mereka merayu pembeli dengan tawaran diskon yang menggiurkan. Akibatnya, susbtansi Ramadan kadang kehilangan makna. Tertutup oleh hal-hal yang bersifat simbolistik, bahkan konsumtif.
Para pengusaha tidak segan-segan menjadi sponsor acara-acara Ramadan, khususnya yang banyak digemari oleh penonton. Belum lagi berbagai atribut yang digunakan pengisi acara, mulai dari baju koko, hijab, kerudung, sampai make up semuanya adalah produk sponsor. Dengan kata lain, mereka menjadi bintang iklan produk-produk sponsor dan yang menjadi targetnya tentunya adalah para penonton acara agar tertarik membeli produk yang dipakai pengisi acara.
Mendekati akhir Ramadan, tawaran-tawaran diskon menarik semakin banyak dan menggoda calon pembeli, karena para pedagang dan pengusaha tahu kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat untuk mempesiapkan lebaran. Mal-mal dan pasar semakin kebanjiran pembeli, sedangkan masjid jumlah jamaahnya semakin berkurang. Baris (shaf) salat tarawih semakin "maju", bahkan hanya tersisa satu shaf saja.
Padahal puasa adalah medan perjuangan melawan hawa nafsu, termasuk nafsu belanja. Bulan Ramadan seharusnya bukan menjadi beban, tetapi realitanya adalah beban. Orang tua memikirkan kebutuhan lebaran anaknya, seorang anak berpikir untuk memberikan "THR" kepada orang tua dan saudara-saudaranya, pengusaha memberikan THR kepada para pegawainya, dan kepala kantor memikirkan THR kepada anak-anak buahnya.
Minggu terakhir yang seharusnya dijadikan sebagai sarana untuk kejar setoran amal kebaikan, justru digunakan untuk kejar setoran kebutuhan lebaran. Pada dasarnya manusiawi jika seseorang ingin berpenampilan menarik dan berpakaian serba baru pada saat lebaran. Hal itu tidak dilarang asal tidak memaksakan diri dan tidak berlebihan.
Rasulullah Saw. dalam salah satu hadis mengatakan, pada saat salat Id, gunakan pakaian terbaik, bukan harus pakaian baru, tetapi bagi masyarakat umum, pakaian terbaik diartikan sebagai pakaian baru. Tentunya ini yang menyebabkan budaya konsumtif tidak dapat dihindari pada saat Ramadan dan lebaran. Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Karena yang berlebihan biasanya mubazir, dan yang mubazir adalah temannya setan. Ini sudah tergambar jelas dalam Al Quran.
Ramadan, hal yang sakral dalam bayang-bayang komersial. Memang tidak dapat dipungkiri alias tidak dapat disangkal jika melihat fenomena yang berkembang di masyarakat. Media baik TV maupun media sosial menjadi sumber referensi utama untuk menawarkan barang-barang dagangan atau produk sebuah perusahaan.
Pengendalian diri. Itulah satu-satunya jalan agar tidak terhindar dari pemborosan dan konsumerisme pada saat Ramadan dan lebaran. Pedagang dan pengusaha apa pun akan mengatakan bahwa produknya yang paling baik, produknya yang nomor satu, menggunakan bintang iklan yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik untuk menarik pembeli. Itu adalah strategi marketing. Para konsumen harus cerdas dan bijak dalam berbelanja.
Jangan sampai Ramadan yang sakral berlalu begitu saja, tanpa ada kesan atau kesuksesan secara amaliah. Malah justru berlomba-lomba dalam hal fisik dan penampilan yang sama sekali tidak ada relevansinya dengan tujuan berpuasa (Idris Apandi,2018:11-13).
Ramadan menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki diri, termasuk dalam cara kita berinteraksi di ruang digital yang sakral dan penuh godaan komersial. Dengan kesadaran dan pengendalian diri, media sosial dapat menjadi sarana memperkuat iman, bukan justru mengurangi makna ibadah. Setiap jejak digital yang kita tinggalkan, setiap kata yang kita tuliskan, semestinya bernilai ibadah dan mengundang ridha Allah SWT.
Barang kali, di sanalah letak makna terdalam Ramadan, ikhiar “imsak” yang bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi berusaha menahan diri dari berlebihan dalam bersuara, berkomentar, dan bereaksi. Imsak bukan hanya pengetahuan yang tersimpan di layar, melainkan kesadaran yang hidup dalam kebersamaan.
Saat langkah kecil menuju sawah bersama anak-anak, ada tawa yang jujur dan suasana (waktu) yang benar-benar kita hadiri sepenuh hati. Sore yang cerah itu mengajarkan arti kebersamaan dan kehadiran. Terkadang, apa yang kita cari dalam buku dan berbagai referensi justru sedang menyapa di depan mata: suara anak kecil yang sederhana, namun penuh hikmah.
Ramadan mengingatkan kita ihwal makna terdalam kehidupan yang sering kali lahir dari aktivitas-aktivitas yang tampak biasa, justru dijalani dengan sepenuh hati yang terjaga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

