• Berita
  • Generasi Kripto: Orang Muda dalam Pusaran Tren, Teknologi, dan Spekulasi

Generasi Kripto: Orang Muda dalam Pusaran Tren, Teknologi, dan Spekulasi

Dari trader, airdroper, hingga seniman NFT, orang muda di Bandung mencari peluang alternatif di ekosistem kripto yang terus berkembang.

Zen, full-time trader kripto, di Bandung, Sabtu, 28 Februari 2026. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)

Penulis Awla Rajul26 Maret 2026


BandungBergerak - Bagi banyak orang muda, kripto terlihat seperti jalan cepat menuju cuan. Lonjakan harga dalam hitungan jam atau hari kerap memancing harapan, bahkan keyakinan, bahwa kekayaan bisa diraih secara instan. Namun di balik itu, risiko sering datang lebih cepat daripada kesiapan.

Zen (nama samaran) pernah mengalaminya. Ia masuk ke dunia kripto di penghujung 2020, saat pandemi Covid-19 mengubah cara banyak orang mencari penghasilan. Awalnya sekadar coba-coba, ia menjadikan trading kripto sebagai kegiatan sampingan di sela berjualan vitamin saat libur kuliah.

Keuntungan cepat langsung datang. Dengan modal awal 1 juta rupiah, nilainya sempat melonjak menjadi 2,2 juta rupiah hanya dalam dua hari.

“Waktu lihat ada yang sehari naik 100 persen, 200 persen, tergiurlah,” kata pria berusia 25 tahun yang kini menjadi full-time trader kripto, ditemui di salah satu kafe di Jalan Supratman, Bandung, Sabtu, 28 Februari 2026.

Kepercayaan dirinya meningkat. Ia menambah modal, dan dalam waktu singkat total dana yang ia kelola sempat menyentuh 30 juta rupiah. Saat itu, bayangan menjadi kaya dengan cepat terasa semakin nyata.

“Kalau begini setiap hari enak, bisa cepat kaya,” kenangnya sambil tertawa.

Namun pasar tidak selalu ramah. Ada masa ketika beruang menang dari banteng.

Saat berlibur ke Bali, pasar kripto anjlok hingga 50 persen. Alih-alih menahan diri, Zen justru menambah modal, berharap harga akan berbalik naik. Yang terjadi sebaliknya—pasar terus melemah hingga masa liburannya berakhir.

Ia kehilangan sekitar 45 juta rupiah.

“Rupanya aku gak belajar. Kripto itu ada siklusnya, dan waktu aku masuk itu sedang bear market. Aku gak tahu, makanya tambah-tambah terus sampai uangnya habis,” katanya.

Belajar dari Rugi dan Memahami Siklus

Kerugian itu membuatnya berhenti total dari trading sepanjang 2022. Ia menghapus aplikasi exchange dan menjauh dari pasar, meski sempat diajak kembali oleh ibunya yang juga berinvestasi kripto.

Saat itu, ia masih menyisakan sebagian aset dalam bentuk Ethereum (ETH). Ketika pasar kembali ramai pada 2023—ditandai gelombang FOMO baru—Zen memutuskan kembali. Bedanya, kali ini ia datang dengan pendekatan berbeda.

Ia mulai belajar serius: memahami siklus pasar, membaca tren global, hingga mengikuti dua kelas trading sekaligus. Ia juga mulai menerapkan manajemen risiko—sesuatu yang sebelumnya diabaikan.

Kini, ia menjadi full-time trader dan mengelola komunitas Diary Crypto yang didirikan pada 2025. Komunitas itu menjadi ruang berbagi analisis sekaligus diskusi, sesuatu yang dulu ia rasa tidak ia miliki saat pertama kali masuk ke dunia kripto.

Ia juga menekankan bahwa analisisnya tidak mutlak benar. Pasar, menurutnya, tetap penuh ketidakpastian.

Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS VOLUBIT: Ruang bagi Orang Muda Belajar dan Bertahan di Dunia Kripto

Pasar 24 Jam, Risiko Tanpa Jeda

Kripto merupakan aset digital berbasis teknologi blockchain—sistem pencatatan terdesentralisasi yang memungkinkan transaksi tanpa perantara seperti bank. Pasar kripto juga berjalan tanpa henti, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kondisi ini membuat pergerakan harga sangat dinamis, sekaligus berisiko tinggi.

Berbeda dengan saham, kripto tidak memiliki aset dasar yang jelas sebagai penopang nilai. Keuntungan murni berasal dari selisih harga beli dan jual, yang sangat dipengaruhi sentimen pasar.

Di Indonesia, kripto telah diakui sebagai komoditas yang legal diperdagangkan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hingga Desember 2025 jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,19 juta, dengan nilai transaksi sepanjang tahun mencapai 482,23 triliun rupiah.

Angka ini menunjukkan tingginya minat, terutama dari kalangan muda. Namun, besarnya pasar juga berbanding lurus dengan potensi risiko.

Jebakan FOMO dan Minim Literasi

Wakil Ketua Komunitas Investor Saham Pemula Bandung, Chamid Nur Muhadjir, menilai banyak anak muda masuk ke kripto karena dorongan tren dan pengaruh influencer, bukan karena pemahaman.

Menurutnya, kondisi ini rentan dimanfaatkan oleh pihak tertentu melalui skema seperti exit liquidity.

“Banyak hal-hal kayak gini ditransaksikan untuk menjebak masyarakat kelas bawah yang kurang literasi keuangannya oleh masyarakat kelas atas, trennya kayak gitu kalau menurut aku. Dishare di grup premium, masyarakat bawah yang baru ikutan jadi ikut-ikutan beli. Masyarakat kelas atas jual waktu harganya naik, kemudian turun kan harganya, masyarakat jadi nyangkut,” ungkap Chamid, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami profil risiko sebelum berinvestasi. Tidak semua orang cocok dengan instrumen berisiko tinggi seperti kripto.

“Paling enggak, kenali dulu apakah kita agresif, moderat, atau konservatif. Jangan langsung masuk ke high risk kalau belum siap,” tegasnya.

Selain itu, ia menyarankan agar publik tidak menelan mentah-mentah informasi dari influencer, dan lebih mengandalkan sumber yang kredibel, termasuk penasihat investasi yang berizin.

Regulasi dan Ekosistem yang Tumbuh

Pendiri komunitas kripto Volubit di Bandung, Arli Fauzi, melihat perkembangan regulasi di Indonesia memberi dampak positif bagi ekosistem kripto.

Menurutnya, keberadaan bursa kripto yang berizin dan diawasi, serta pengawasan dari OJK dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), menjadi langkah penting dalam melindungi investor.

Ia juga menilai pemerintah mulai aktif melakukan kurasi aset, membatasi promosi ilegal, dan meningkatkan literasi publik melalui program tahunan.

“Sekarang kripto bukan cuma ‘mainan Gen Z’. Generasi yang lebih tua juga mulai masuk, karena sudah ada regulasi yang lebih jelas,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa regulasi tidak menghilangkan risiko pasar.

Mencari Celah Risiko Lebih Rendah

Di tengah tingginya risiko trading, sebagian anak muda memilih jalur alternatif, seperti airdrop. Cara ini dijalani Esha, 25 tahun, yang mulai terjun pada 2021.

Awalnya, ia tertarik pada kripto dari media sosial dan cerita teman. Ia bahkan sempat berpikir untuk menitipkan dana kepada temannya untuk di-trading-kan. Namun, ia kemudian mengenal airdrop sebagai opsi yang lebih minim risiko.

Sebagai airdroper, ia hanya perlu menyelesaikan tugas-tugas dari proyek kripto—mulai dari aktivitas di media sosial hingga penggunaan platform—dan akan mendapatkan imbalan token saat proyek resmi dirilis.

Dalam sehari, ia bisa mengikuti lebih dari 10 proyek, dengan informasi yang banyak beredar di Telegram dan Discord.

“Airdrop ini lebih low risk karena kita enggak perlu keluar modal banyak. Cukup waktu, usaha, dan device buat ngerjain campaign,” katanya.

Kini, selain menjadi airdroper, Esha juga belajar trading dan sempat bekerja di perusahaan pengembang kripto sebagai manajer kampanye airdrop. Ia juga mendirikan komunitas Valuble sebagai ruang berbagi informasi dan diskusi.

NFT: Peluang Baru, Tantangan Baru

Ekosistem kripto juga membuka peluang di sektor lain, seperti NFT (Non-Fungible Token). Seniman asal Bandung, Jarwo Edhie, merasakan langsung peluang ini saat gelombang NFT booming pada 2021.

Awalnya, ia hanya mencoba menjual karya ilustrasi lamanya. Tak disangka, karyanya laku. Ia kemudian membuat satu edisi berisi 20 karya—yang langsung terjual habis dalam hitungan menit.

Dalam satu edisi, ia bisa meraup sekitar 2 juta rupiah.

“Kadang 5 menit, 30 menit, tiba-tiba sudah sold out,” ujarnya.

Keberhasilan itu membuatnya serius menekuni NFT. Ia kini menggunakan beberapa platform, menjaga konsistensi produksi karya, sekaligus membangun relasi dengan kolektor.

Namun, setelah tren mereda, ia menyadari bahwa keberhasilan tidak lagi instan. Seniman harus aktif memasarkan karya dan menjaga komunitas.

Meski begitu, ia melihat NFT memberi keuntungan tersendiri, seperti transparansi transaksi dan sistem royalti otomatis setiap kali karya dijual kembali.

Belajar Sebelum Terlambat

Kini, Zen melihat kripto bukan lagi sebagai jalan pintas, melainkan instrumen yang harus dipahami dengan hati-hati. Ia percaya pada potensi kripto, terutama Bitcoin yang jumlahnya terbatas dan memiliki siklus jangka panjang.

Namun, keyakinan itu tidak lagi membuatnya gegabah.

Baginya, yang terpenting bukan seberapa besar keuntungan yang bisa diraih, melainkan seberapa siap seseorang menghadapi kemungkinan terburuk.

“Siapa pun mau untung, tapi siapa yang siap rugi? Kalau seandainya kita tahu ada potensi rugi, jadi kita menahan beli dan menjaga uang kita kan. Jadi makanya belajar dulu. Itu juga yang sering aku sampaikan ke kawan-kawan komunitas untuk mikirkin berapa rugi yang siap ditanggung setiap trading? Jadi di balik, jangan untungnya dulu, tapi risikonya berapa yang siap,” katanya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//