Menelusuri Bandung Bersama Hasan dalam Novel Atheis
Dari Jalan Sasakgantung ke Braga, kisah cinta, ideologi, dan hasrat dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja dihidupkan kembali.
Penulis Retna Gemilang27 April 2026
BandungBergerak - Hari di Bandung masih meninggalkan sisa dingin semalam ketika Hasan mengayuh sepeda Fongers-nya keluar dari Jalan Sasakgantung 18. Ia adalah suami Kartini—perempuan yang kehadirannya tak hanya mengisi ruang rumah tangga, tetapi juga menjadi pusat perhatian teman Hasan, seorang penyair anarkis Anwar.
Roda besi itu berderit pelan, menyusuri jalan-jalan kota. Dari rumahnya, ia bisa menuju pusat kota sekitar dua kilometer dari Alun-alun, lalu terus ke Braga, tempat diskusi panjang tentang iman, ideologi, dan politik kerap berlangsung, atau meluncur ke selatan hingga Tegallega.
Jejak-jejak itu bukan sekadar cerita dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, melainkan peta kota yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini. Gagasan ini mengemuka dalam diskusi “Perjodohan Sastra dan Wisata: Ngobrol Santai Menggagas Tur Jalan Kaki Novel Atheis” yang digelar PR Institute di Abraham & Smith HQ, Bandung, Kamis, 23 April 2026.
Diskusi tentang novel Atheis mengajak peserta membayangkan ulang Bandung melalui langkah Hasan dan kawan-kawannya, seperti Rusli, aktivis sosial yang tinggal di Jalan Kebonmanggu 11. Melalui alur novel, lanskap kota bertaut dengan pergulatan batin para tokohnya.
Rusli digambarkan sebagai aktivis politik berhaluan marxis, sementara di rumahnya, seniman bohemian dari Jakarta Anwar ikut menumpang. Pertemuan Hasan, Rusli, Anwar, dan Kartini bukan sekadar pertemanan, melainkan ruang silang gagasan, tubuh, konflik batin, bahkan ideologis.
Pembaca novel akan larut dalam dialog ideologis yang mengalir tanpa terasa digurui, dari kapitalisme, marxisme, anarkisme, hingga Islam. Beragam aliran pemikiran di era pascakolonial itu hadir sebagai bagian dari keseharian Hasan dan kawan-kawannya.
Diskusi ini hasil kolaborasi dengan komunitas Anti Leumpunk-Leumpunk Club, Budayawan Sunda dan dosen FISS Unpas Hawe Setiawan, dan Komunitas Aleut Ridwan Hutagalung.
Gagasan wisata sastra sebenarnya bukan kali pertama. Sebelumnya, dengan novel yang sama Komunitas Aleut pernah menggelar tur jalan kaki bertajuk "Kelas Literasi dan Ngaleut Atheis" pada 2017. Ridwan menjelaskan, kala itu Komunitas Aleut berjalan menyusuri jalanan kota dan tempat-tempat yang disebut dalam novel dengan peserta dari beragam latar peserta.
"(Peserta) yang satu akrab dengan buku, tapi jauh dari lapangan. Yang satu sangat akrab dengan lapangan, tapi tidak membaca," ujar Ridwan.
Dari sisi isi novel, Hawe Setiawan menjelaskan bahwa Achdiat K. Mihardja berhasil membuat alur cerita yang menarik. Atheis, tuturnya, bukan buku yang menyebarkan faham atheisme. Novel ini menggambarkan arus pemikiran yang bergejolak dan pencarian makna hidup dalam diri Hasan.
Ia menduga, cerita Atheis terpengaruhi dari karya Multatuli, yakni Marx Havelar. Karena menurutnya, penokohan Hasan mirip dengan Sjaalman. Dugaan lain, karakter Hasan merupakan alter ego atau penggambaran Achdiat itu sendiri.
"Hasan berasal dari Garut, Pak Achdiat lahir di Cibatu kan," menurut analisanya.
Dari segi lanskap ruang fisik, Hawe mengatakan novel ini mengungkap cukup banyak ruang-ruang di Bandung. Mulai dari rumah, penginapan, kantor, gang, restoran, dan lain sebagainya. Juga terdapat lanskap yang khas dengan zaman perang, yakni lubang perlindungan.
"Saya mencatat, ada banyak sekali (tempat) yang bisa kita rekonstruksi ya, membayangkan Bandung tahun 1900-an," jelasnya.
Dalam lanskap kebudayaan, menurutnya, novel ini mendeskripsikan kehidupan Bandung yang lekat kaitannya dengan benda budaya di era akhir kolonialisme. Mulai dari topi Borsalino dan sepeda Fongers milik Hasan, radio Philips, rokok kawung, hingga kain direhoek yang menutupi rambut Kartini.
Selain itu, lanskap bahasa juga hadir di tengah pertumbuhan bahasa Indonesia masih belum lazim digunakan di tahun 1949. Hawe menjelaskan, dialog-dialog novel ini banyak menyerap dari bahasa Belanda dan bahasa Sunda. Tak ayal, para tokoh novel ini berpoliglot.
Namun cara Achdiat bercerita, menurut Hawe telah ikut memperkaya bahasa Indonesia sekaligus arsip sejarah. Hawe kemudian mendorong untuk memelihara ingatan kolektif berdasarkan sastra fiksi. Cara ini menjadi bentuk pewarisan budaya Kota Bandung.
"Lewat aktivitas jalan-jalan dengan kaitan literasi, saya kira ini bisa dipelihara (menjadi) ingatan kolektif," ungkapnya. "Jadi tidak sampai terputus, kalau sampai terputus, kota ini terancam kehilangan cerita."
Baca Juga: Menggali Sejarah Bandoengsch Villapark: dari Permukiman Elite Kolonial hingga Kawasan yang Terancam Punah
Kembalinya Suara Para Siotjia, Kiprah Perempuan Tionghoa dan Jejak Emansipasi yang Terlupakan
Menjodohkan Sastra dan Wisata
Yusuf Wijanarko, Inisiator PR Institute menjelaskan, gagasan menjodohkan sastra dan wisata berkaca dari Bloomsday Festival di Dublin, Irlandia. Di mana perayaan ini sudah dilakukan puluhan tahun yang didasarkan pada novel Ulysses karangan James Joyce. Dari situ, ia pun ingin menciptakan destinasi wisata sastra (literary tourism) di Bandung berdasarkan novel Atheis.
"Saya sebetulnya pengin Bandung punya hal yang serupa, karena Bandung punya modal yang kuat, yaitu novel Atheis," ujar Yusuf.
Menurutnya, novel Atheis merupakan salah satu mahakarya sastra di Indonesia. Dari Atheis, ia menemukan relevansi karya sastra dengan kondisi modern saat ini. Sehingga, muncul upaya menjaga ingatan kolektif tentang sudut historis kota Bandung melalui cara yang ringan dan sehat, yakni jalan kaki.
"Sebenaranya cuma sesederhana itu aja yang bisa kita telurusi, tempatnya masih ada enggak? Atau tebak-tebakan rumahnya si tokoh utama itu yang mana ya?" tuturnya.
Meski begitu, Yusuf melihat kampanye ini punya sejumlah tantangan. Mulai dari masih rendahnya minat baca dan pemaknaan yang dangkal terhadap novel Atheis. Kemudian belum populernya wisata yang didasarkan karya fiksi, hingga infrastruktur kota yang tidak mendukung akibat kerusakan ruang publik dan alih fungsi lahan.
"Bandung tidak butuh lebih banyak mal dan reklame. Bandung butuh lebih banyak cerita yang dituturkan kembali di trotoar-trotoarnya," tutupnya.
Sementara itu, komunitas yang digandeng dalam wisata sastra ini antara lain komunitas Anti Leumpunk-Leumpunk. Salah seorang pegiatnya, Meiyama Nugraha menceritakan komunitas ini bermula dari kebutuhan sederhana untuk berolahraga melalui jalan kaki.
Namun, aktivitas tersebut perlahan berkembang menjadi ruang silaturahmi. Sebagian besar anggota merupakan teman lama yang sudah saling mengenal, sehingga kegiatan ini menjadi cara merawat hubungan yang terjalin lama sekaligus membuka ruang bagi pertemanan baru.
Dalam praktiknya, ia menjelaskan komunitas ini tidak hanya berjalan kaki, tapi juga menjelajahi sudut Kota Bandung tanpa rencana kaku. Ia kerap membagikan kisah-kisah tentang Bandung dengan cara santai dan kadang bercampur humor, membuat perjalanan terasa lebih hidup.
"Jadi setiap jalan kaki ke mana juga, kita tuh kadang enggak tahu arah, tapi intinya mah menikmati Kota Bandung," ujar Meiyama.
Menurutnya, daya tarik komunitas ini terletak pada suasana yang terbuka dan tidak formal. Tak ada proses pendaftaran bagi siapa pun yang ingin bergabung. Ia menegaskan siapa saja bisa datang dan ikut berjalan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


