• Berita
  • Kembalinya Suara Para Siotjia, Kiprah Perempuan Tionghoa dan Jejak Emansipasi yang Terlupakan

Kembalinya Suara Para Siotjia, Kiprah Perempuan Tionghoa dan Jejak Emansipasi yang Terlupakan

Lebih dari seabad setelah tulisan mereka terbit di Djawa Tengah, Kolektif Arungkala menghidupkan kembali pemikiran para Siotjia melalui pembacaan terbuka di Bandung.

AcaraBersama-sama Membaca Para Siotjia di Toko Buku Pelagia, Bandung, 21 Februari 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Penulis Alysha Ramaniya Wardhana26 Februari 2026


BandungBergerak - Lebih dari seabad lalu, perempuan-perempuan Tionghoa telah menulis tentang hak pendidikan, ketimpangan relasi suami-istri, hingga posisi perempuan dalam keluarga melalui surat kabar Djawa Tengah pada 1915-1917. Namun, nama mereka nyaris tidak tercatat dalam sejarah Indonesia.

Tulisan-tulisan itu kini kembali ditemukan oleh Kolektif Arungkala dan dibacakan kembali  melalui acara “Bersama-sama Membaca Para Siotjia” di Toko Buku Pelagia, Bandung, 21 Februari 2026. Menggunakan format open reading, suara yang lama tidak terdengar itu kembali diperdengarkan.

Mengenal Para Siotjia

Istilah “Siotjia” ditemukan oleh Kolektif Arungkala ketika menghimpun surat kabar Djawa Tengah dari awal abad ke-20. Istilah ini merujuk pada penulis-penulis perempuan Tionghoa yang aktif menulis opini dan terlibat dalam perdebatan sosial pada masanya.

“Kebanyakan itu sebetulnya kalau kita akan refer ke zaman sekarang, semacam tulisan opini di surat kabar,” ungkap Lestari dari Kolektif Arungkala.

Para Siotjia menggunakan surat kabar untuk mengampanyaikan emansipasi dan saling melakukan perdebatan dengan penulis lain, sambil terus menggemakan ajakan kepada kawan-kawan mereka untuk menuangkan pikirannya dalam surat kabar.

Salah satunya adalah Oei Siotjia Lasem, nama tersebut merupakan nama pena seorang penulis opini di surat kabar. Tidak hanya Oei Siotjia, penulis perempuan lain juga menggunakan nama keluarganya dan diikuti dengan nama wilayah tempat mereka tinggal, seperti Liem Siotjia Djokdja.

Sebagian besar tulisan Nona Oei berkaitan dengan hak pendidikan perempuan Tionghoa pada masa itu yang dianggap masih kurang. Jika pun bersekolah, umumnya hanya sampai tingkat sekolah Melayu rendah dan jarang berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi.

Selain pendidikan, perempuan muda dari Lasem itu juga menuliskan mengenai posisi kesetaraan perempuan dalam keluarga. Dalam salah satu tulisannya, ia menggambarkan bagaimana perempuan ditempatkan pada posisi yang rendah, termasuk ketika perempuan tidak makan bersama suami, dan baru dipanggil saat suami sudah selesai menyantap hidangannya.

“Oei Siotjia itu menulis dalam salah satu esainya itu perempuan dianggap seperti budak, bahkan kita bisa melihat dari contoh yang diberikan Oei Siotjia atau Nona Oei, itu dalam tatanan keluarga, perempuan itu bahkan makan aja dia gak pernah bersama dengan suaminya,” ujar Lestari.

Dalam penulisannya, Oei Siotjia menggunakan bahasa Melayu rendah sehingga terkesan sangat santai dan tidak formal untuk ukuran surat kabar saat ini. Tulisan yang dibuat Oei Siotjia juga tajam dan keras sekali mengkritisi laki-laki. 

“Betul-betul dengan kata-kata saya mau protes dengan kaum lelaki. Terus juga saya kecewa sekali, saya menyesal sekali dengan kelakuan orang laki-laki gitu. Jadi sangat amat keras gitu,” ungkap Lestari.

Hilang dari Sejarah

Walaupun tulisan para Siotjia terbit di surat kabar dan terdokumentasi oleh arsip Kolektif Arungkala, nama para Siotjia tidak banyak muncul di sejarah Indonesia. Narasi sejarah yang selama ini berkembang hanya berputar pada tokoh-tokoh politik atau figur laki-laki dalam ruang publik.

“Kami di Arungkala itu kan juga gemar sekali gitu ya. Membaca lapisan-lapisan apa aja sih sebetulnya yang membuat narasi sejarah itu terbentuk hari ini gitu ya. Narasi sejarah yang maskulin, yang militeristik gitu ya, yang berpihak lagi-lagi pada orang-orang yang punya kuasa gitu,” ujar Lestari.

Pada masa kolonial, politik segregasi turut memengaruhi akses pendidikan dan ruang sosial untuk masyarakat Tionghoa. Pada saat itu, pemerintahan Hindia Belanda membagi masyarakat Indonesia ke dalam empat golongan, dan orang Tionghoa masuk ke dalam golongan Timur Asing.

Adanya golongan pada masa itu berpengaruh pada aspek keturunan, pekerjaan, dan pendidikan. Berbagai pembatasan yang ditujukan kepada Tionghoa menyebabkan terbatasnya ruang ekspresi sekaligus memengaruhi bagaimana tokoh-tokoh Tionghoa, khususnya perempuan tercatat dalam sejarah Indonesia. 

“Karena dari zaman kolonial, zaman Hindia Belanda pun itu seperti sudah semacam ada hal yang sistemik gitu ya. Bahwa orang-orang Tionghoa itu juga sangat lama dipinggirkan gitu. Mulai dari politik segregasi dalam perumahan gitu ya. Sampai juga politik segregasi dalam pendidikan gitu,” ujar Lestari.

Arsip surat kabar yang ditemukan Kolektif Arungkala menunjukkan bahwa perempuan Tionghoa peranakan telah terlibat dalam perdebatan sosial sejak awal abad ke-20. Namun, keberadaan para Siotjia lebih banyak tersimpan di lembaran surat kabar dibanding dalam narasi sejarah Indonesia.

Menurut Lestari, pembatasan terhadap masyarakat Tionghoa masih berlanjut hingga kekerasan tahun 1998 kepada orang Tionghoa yang kerap dibekukan negara. Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan kembali pemikiran perempuan Tionghoa yang selama ini terkubur.

Baca Juga: Hikayat Perjalanan Orang Tionghoa ke Nusantara serta Pasang Surut Perayaan Imlek di Indonesia #1
Jejak Peradaban Tionghoa di Pecinan Kota Bandung

Kembalinya Para Siotjia

Melalui pembacaan ulang dan pengarsipan, tulisan-tulisan para Siotjia kini diperkenalkan kembali sebagai bagian dari sejarah sosial Indonesia yang selama ini jarang disorot.

Amos dari Kolektif Arungkala mengungkapkan bahwa konsep open reading kali ini bercermin dari arsip-arsip yang mereka temukan. Pada zaman itu, koran pergerakan dibacakan oleh satu orang di hadapan khalayak yang berkumpul. Cara tersebut digunakan karena sekitar 80 persen masyarakat saat itu tidak dapat membaca aksara latin.

Adanya acara yang diselenggarakan Kolektif Arungkala memberikan pengetahuan baru bagi Hana, salah satu pengunjung.

“Aku ngerasa pada tahun segitu ternyata perempuan sudah mulai menulis, bahkan perempuan Tionghoa dari grassroot. Tapi kayak itu adalah isu yang mungkin gak pernah kita dengar sehari-hari, gak pernah juga ada di percetakan atau toko-toko buku yang kita mudah temui hari ini,” ujar Hana. 

Ini adalah suatu hal yang penting untuk Hana dalam mengetahui bagaimana pemikiran perempuan pada saat itu, terutama dari orang-orang yang terpinggirkan, bahwa gagasan tentang kesetaraan telah lama diperjuangkan.

Melalui pembacaan karya para Siotjia, mereka tidak lagi hanya sekadar arsip. Mereka kembali hadir dan bersuara bertemu dengan kita hari ini.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//