Menyambut Pustaka Ccita, Perpustakaan Independen di Pasar Kosambi
Ruang-ruang baca alternatif terus tumbuh di Bandung. Diperkuat komunitas dan sejarahnya.
Penulis Retna Gemilang11 Mei 2026
BandungBergerak - Di tengah riuh Pasar Kosambi dan The Hallway Space-nya, di salah satu sudut ada ruang lain yang lebih senyap menyapa pembaca: Pustaka Ccita, perpustakaan independen yang baru diresmikan pada Minggu, 3 Mei 2026.
Ruangan biru cerah perpustakaan itu dilengkapi dengan instalasi seni Palestina dan laboratorium desain Ourchetype. Koleksi bukunya: fiksi, puisi, sejarah, biografi, komik, parenting, buku anak, agama, hingga papan permainan.
Tidak hanya buku, pengunjung juga dapat menemukan ruang diskusi, instalasi seni berbasis literasi, dan kegiatan kreatif yang terintegrasi dengan koleksi buku.
Perpustakaan ini berawal dari Tujusemesta Creative Space, dengan nama Lembar Semesta, yang sempat pasif. Kini, hasil kolaborasi Tujusemesta Creative Space, Culture Collar Media, Ourchetype, dan The Hallway Space, tumbuh menjadi Pustaka Ccita. Perpustakaan ini tidak hanya menjadi ruang baca, tapi juga menjadi laboratorium literasi dan kreativitas yang menjangkau lintas usia dan disiplin.
Inisiator Pustaka Ccita sekaligus pemilik Tujusemesta Andi Abdulqodir mengatakan, perpustakaan ini hadir sebagai ruang literasi alternatif yang mempertemukan beragam disiplin, termasuk orang muda yang masih awam terhadap literasi.
Andi mengatakan, literasi perlu dikenalkan perlahan, terkoneksi dengan para pembacanya. Tidak cukup hanya menyediakan buku, tapi juga membuat mereka nyaman dan ingin kembali.
Metode yang digunakan adalah tes kepribadian interaktif Ourchetype, berdasarkan teori arketipe Carl Jung: persona, shadow, dan self. Setelah tes, pembaca mendapatkan rekomendasi buku sesuai salah satu dari 24 karakter, seperti poet, savior, mage, atau muse. Tes ini juga mengajak pembaca merenung mengenai diri sendiri, membangun kesadaran diri, sekaligus menemukan buku yang sesuai minat dan kepribadiannya.
Pengunjung tidak wajib membaca buku hingga selesai. Tujuannya adalah mulai terhubung dengan buku dan perpustakaan. Selain membaca, pengunjung bisa bermain, berbincang, bekerja, mengikuti workshop, atau berkumpul dengan komunitas.
"Jadi minimal dia bisa memulai untuk membaca satu lembar aja atau satu paragraf," tuturnya.
Selain itu, Pustaka Ccita mengadakan kelas menulis, desain, dan instalasi berbasis buku, memungkinkan pengunjung memahami proses kreatif dari sudut pandang penulis atau seniman. Kegiatan ini memberi pengalaman langsung, menggabungkan literasi dengan praktik kreatif yang nyata.
"Jadi istilahnya orang-orang akan menikmati dunia literasi itu dari awal sampai akhir perjalanan," ungkapnya.
Saat ini, jam kunjungan Pustaka Ccita setiap harinya buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Salah satu pengunjung, Pupung Nurhapipah, 25 tahun, mengaku awalnya jarang mengenal ruang literasi di Bandung. Sebelumnya, karyawan swasta ini hanya mengenal perpustakaan formal yang terasa dingin.
Dengan ruang baca alternatif seperti Pustaka Ccita, ia tidak hanya melihat buku, tapi juga interaksi yang hidup. Kini, Pupung mulai mengetahui jenis buku yang sesuai minatnya. Salah satu buku yang ia beli berjudul Oni Jouska karya Asep Ardian. Novel ini dibincangkan dalam acara diskusi yang menandai pembukaan Pustaka Ccita tempo hari.
"Aku tuh jauh dari literasi gitu, tapi semenjak berkumpul sama orang-orang di sini, aku jadi mulai suka baca buku," ujarnya.
Ruang ini juga menjadi media interaksi sosial, di mana pengunjung berbagi pengalaman, cerita, dan rekomendasi buku satu sama lain. Pendekatan ini membuat literasi terasa lebih hidup, tidak sekadar kegiatan individu, tapi bagian dari komunitas yang saling mendukung.
Baca Juga: Lahirnya Perpustakaan-perpustakaan Independen di Bandung, Gerakan Literasi tak Pernah Mati
Perpustakaan Manusia: Ruang Aman untuk Mendengar, Merasa, dan Memahami Kemanusiaan

Sejarah dan Tantangan Perpustakaan Independen
Ruang baca independen seperti Pustaka Ccita membuktikan bahwa literasi di Bandung tetap hidup, meski dukungan pemerintah minim. Sebagian besar koleksi berasal dari sumbangan dan koleksi pribadi pengurus, sementara aktivitas rutin dijalankan secara swadaya.
Bandung sendiri memiliki sejarah panjang literasi. Dalam buku Pohon Buku di Bandung: Sejarah Kecil Komunitas di Bandung 2000–2009, Deni Rachman mencatat sejak awal abad ke-20, Bandung menjadi surga pecinta buku. Tahun 1954, kota ini menempati posisi kedua setelah Jakarta dalam jumlah toko buku, yakni 63 toko.
Sejak awal masa reformasi era 2000-2009, perhelatan literasi berada di masa keemasan. Bermunculan toko-toko buku alternatif, taman bacaan, dan perpustakaan komunitas menjadi pusat diskusi, pelatihan menulis, dan aktivasi literasi lainnya. Deni mencatat terdapat 73 toko buku aktif pada masa itu.
Namun, geliat itu sempat meredup dan kembali hidup pascapandemi mereda. Ruang-ruang baca bermunculan menawarkan alternatif yang beragam, seperti The Room 19, Toko Buku Pelagia, Perpustakaan Bunga di Tembok, Kedai Jante di komplek Perpustakaan Ajip Rosidi, dan kini Pustaka Ccita.
Untuk memperkuat gerakan literasi, perpustakaan independen membentuk Aliansi Perpustakaan Independen (API) Bandung resmi terbentuk Februari 2026. Aliansi ini bertujuan memperkuat ekosistem literasi melalui solidaritas kolektif, advokasi kebijakan, dan pengembangan ruang baca alternatif.
Co-Founder The Room 19 Reiza Harits mengatakan, API Bandung telah memetakan 24 titik literasi di Bandung Raya. Aliansi juga mengadvokasi penghapusan pajak buku agar harga lebih terjangkau, mendorong gerakan kolektif dari komunitas, penerbit, penulis, hingga perpustakaan.
"Semakin banyaknya perpustakaan menjamur, buka, dan sebagainya, justru bagus, karena itu akan memberikan ke kita kesempatan untuk menunjukkan bahwa ekosistem perpustakaan ini matang lho," ujar Reiza.
Namun, banyak perpustakaan independen belum terdaftar resmi karena persyaratan fisik yang kaku, mulai dari luas bangunan hingga jumlah koleksi minimal 10 ribu buku. Pemerintah cenderung menunggu, tanpa turun ke lapangan untuk memahami kebutuhan literasi.
"(Pemerintah) kita 'kan sifatnya kayak gitu, pengen digedor begitu sifatnya, bukan yang sifatnya turun ke jalan, kayak apa nih yang bisa lakukan, sekarang kayaknya enggak mungkin terjadi sih. Jadi kayak, ya sudah, akhirnya mau enggak mau, ya peran advokasi itu harus kita lakukan," tutupnya.
Di tengah keterbatasan ruang, regulasi kaku, dan minim dukungan kebijakan, geliat literasi di Bandung tetap hidup. Perpustakaan independen terus dibuka, ruang diskusi dihidupkan, dan solidaritas komunitas menguat. Bandung menemukan kekuatannya sebagai kota literasi melalui ketekunan orang-orang yang percaya buku dan dialog masih penting.
Dengan pendekatan ini, literasi tidak lagi menjadi aktivitas formal dan kaku. Literasi menjadi pengalaman kolektif yang menyenangkan, kreatif, dan merangkul siapa pun yang ingin terlibat—dari anak muda, pekerja, hingga turis yang mampir ke Pasar Kosambi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


