• Cerita
  • Sisi Gelap Manusia di Pameran Harry Suliztiarto

Sisi Gelap Manusia di Pameran Harry Suliztiarto

Lewat instalasi interaktif, Harry Suliztiarto mengajak pengunjung menghadapi paradoks manusia sebagai korban sekaligus pelaku kekerasan.

Seniman Harry Suliztiarto dalam pasungan salah satu karyanya berjudul Happy Pasung jadi pembuka pameran tunggalnya dengan tema Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang16 Mei 2026


BandungBergerak - Harry Suliztiarto bersama istrinya dan dua pemuda menyambut para pengunjung pembukaan pameran tunggal “Berpihak pada Luka”, di depan Galeri Soemardja, Gedung CAD FSRD ITB, Rabu sore, 13 Mei 2026. Sambutan ini terasa ganjil karena mereka dalam kondisi terpasung. Kepala dan tangan mereka terbelenggu alat pasung kayu.

Aksi performatif ini langsung memberi efek kejut bagi pengunjung. Di tengah lalu-lalang pengunjung yang baru memasuki galeri, tubuh-tubuh yang terpasung itu menghadirkan suasana yang mengusik.

Orang-orang menatap, lalu perlahan mendekat. Sebagian tampak penasaran, sebagian lainnya canggung menyaksikan tubuh manusia diperlakukan seperti objek hukuman di ruang seni. Dari awal pembukaan, Harry seperti ingin menyeret pengunjung untuk langsung berhadapan dengan pengalaman tentang luka karena kehilangan martabat.

Adegan ini sekaligus menjadi pintu masuk ke dunia artistik Harry: dunia yang dipenuhi ketidakberdayaan, benturan, dan kegelisahan manusia. Bagi Harry, luka bukan sekadar rasa sakit fisik, melainkan jejak dari relasi manusia dengan sesama, alam, lingkungan, hingga Sang Ilahi. Luka menjadi pengalaman yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai korban maupun sebagai pihak yang melukai.

Di pameran yang berlangsung hingga 13 Juni 2026 ini, Harry Suliztiarto menghadirkan sembilan karya tiga dimensi, arsip, dan kliping koran yang berkaitan dengan kekerasan, kehancuran, kematian, dan ketidakberdayaan. Potongan-potongan arsip itu memperlihatkan bagaimana tragedi kemanusiaan, bencana, dan kekerasan sosial terus berulang dalam kehidupan manusia.

Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Tugas akhir Harry di Studio Seni Patung ITB tahun 1984 bertajuk Mengoyak Bakal Sebagai Tindak Pamer Kekuatan turut dipamerkan. Karya tersebut lahir dari tindakan mengoyak, menarik, merobek, menghantam, hingga menghujam batang kayu. Material kayu diperlakukan secara keras sampai kehilangan bentuk utuhnya. Dari proses itu lahir karya-karya tiga dimensi yang besar, berat, cacat, dan menyimpan jejak kekerasan pada tubuh materialnya.

Salah satu karya yang paling menyita perhatian ialah Happy Pasung (2026), belenggu kayu yang dipakai Harry bersama istrinya. Instalasi berukuran 110 x 100 sentimeter ini merupakan manifestasi atas penistaan kemanusiaan di depan publik. Namun berbeda dari citra pasung yang gelap dan menyeramkan, Harry justru menghadirkannya dengan warna-warna cerah: biru terang dan putih.

Kontras itu menghadirkan kesan ironis. Pasung yang identik dengan kekerasan dan keterasingan justru tampil seperti wahana permainan yang tampak ‘ramah’. Pengunjung diperbolehkan mencoba langsung alat pasung tersebut. Tubuh mereka akan masuk ke dalam pengalaman yang biasanya diasosiasikan dengan hukuman atau kegilaan. Harry mengubah pengalaman pasung menjadi ruang perjumpaan tubuh dengan rasa sakit.

Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Karya-karya Harry tidak berhenti pada pengalaman visual. Hampir seluruh instalasi dalam pameran ini melibatkan suara, tenaga tubuh, dan interaksi langsung pengunjung. Dalam pandangan Harry, karya seni tidak harus hadir dalam keadaan diam dan steril.

Gagasan itu tampak dalam Suluk Manugal (2025), instalasi berbahan besi, kayu, dan tali yang mengharuskan pengunjung menarik tali sekuat tenaga sebelum melepaskannya kembali. Saat kayu berlubang menghantam jeruji besi merah dan lonceng-lonceng kecil di antaranya, terdengar dentuman keras yang memecah keheningan galeri. Suara benturan itu mengejutkan, bahkan membuat sebagian pengunjung refleks menoleh.

Meski menimbulkan suara yang mengagetkan, karya itu justru memancing pengunjung untuk kembali menarik tali berulang kali. Ada dorongan untuk mengulangi benturan tersebut, seolah tubuh menikmati ledakan suara yang dihasilkannya sendiri. Tubuh seperti diajak masuk ke dalam siklus antara ketegangan, rasa penasaran, kelelahan, dan pelepasan emosi.

Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Pengalaman serupa muncul dalam instalasi Luk Uluk Regol Kidul Isih Digembok (2025). Namun dibanding Suluk Manugal, dentuman yang dihasilkan jauh lebih keras dan tenaga yang dibutuhkan lebih besar. Bunyi benturan kayu bercampur dengan kerincingan deretan gembok yang terguncang. Instalasi itu menghadirkan metafora tentang pintu keadilan dan kemanusiaan yang masih tertutup rapat meski terus didobrak.

“Rasa sesak dan prihatin menyaksikan banyak pintu masih tergembok—pintu keadilan, pintu nurani, pintu kemanusiaan,” tulis Harry dalam keterangan karyanya.

Kurator pameran, Danuh Tyas, melihat karya-karya Harry selalu bergerak di wilayah luka dan kekuatan. Menurutnya, Harry berupaya menepis ketakutan akan suasana diam dalam ruang pamer. Karena itu, karya-karyanya hadir secara interaktif, bersuara, dan melibatkan tubuh pengunjung secara langsung.

Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Makanya beliau pengin karya ini enggak cuma visual, tapi ada suara dan sebagainya,” ujar Danuh, Rabu, 13 Mei 2026. 

Pengalaman berinteraksi dengan karya Harry melahirkan paradoks. Di satu sisi, pengunjung mungkin merasa bergidik membayangkan tindakan mereka dapat merusak atau melukai sesuatu. Namun di sisi lain, muncul pula rasa puas dan kesenangan saat menghantam, menarik, atau menghasilkan dentuman keras melalui karya-karya tersebut.

Paradoks itulah yang menjadi inti refleksi dalam Berpihak pada Luka. Manusia bisa berdiri sebagai korban yang terluka, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi pelaku yang melukai. Luka hadir sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai, juga tidak pernah menemukan kesimpulan tunggal.

Baca Juga: Pameran Seni Menolak Genosida Israel di Tanah Palestina
Tjap Sahabat, Ruang Seni Baru di Pecinan Bandung

Sekelompok Jelema Gering

Pengalaman panjang Harry di dunia panjat tebing dan penyelamatan turut membentuk bahasa artistiknya. Sejak akhir 1970-an, ia akrab dengan tubuh, risiko, benturan, dan situasi genting. Saat masih menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB pada 1977, ia mendirikan Sekolah Panjat Tebing Skygers Indonesia di kawasan Punclut, Bandung.

Skygers akronim dari bahasa Sunda "Sekelompok Jelema Gering (sekelompok orang sakit (jiwa))”. Sekolah ini lahir dari rasa kesepian selama kuliah.

"Pulang (kuliah) luntang-lantung (saat mendirikan Skygers),” ungkap Harry, dengan gelak tawa. “Sekarang punya teman banyak. Ada 3.000 orang sekarang, di Aceh ada, di Medan ada,"

Rekan sejawat yang juga seniman, Irawan Karseno dan Tisna Sanjaya juga berbagi cerita tentang Harry. Sejak mahasiswa, Harry memang sudah dekat dengan aktivitas panjat tebing. Di sela perkuliahannya, ia mudah ditemukan di atap gedung kampus sembari berbincang dan minum kopi. Ia juga kerap aktif mengadakan diskusi sore, pameran instalasi dan musik, hingga pembacaan puisi.

Bagi Harry, dunia panjat tebing bukan sekadar olahraga, melainkan pengalaman hidup yang membentuk cara pandangnya terhadap manusia dan alam. Aktivitas penyelamatan serta perjumpaannya dengan berbagai peristiwa duka menghadirkan banyak pertanyaan tentang luka dan ketidakberdayaan manusia.

Latar belakang itu memberi pengaruh kuat pada kerya-karyanya. Material-material keras seperti kayu, besi, tali, dan gembok kemudian diolah bukan semata sebagai benda, tetapi sebagai medium untuk menghadirkan tekanan, benturan, daya tahan, dan ketegangan tubuh manusia.

Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran tunggal Harry Suliztiarto Berpihak Pada Luka di Galeri Soemardja ITB, Bandung, 13 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Energi fisik menjadi bagian penting dari praktik seninya. Bahkan di usia 71 tahun, Harry masih aktif membuat karya berukuran besar yang menuntut tenaga dan proses teknis yang tidak sederhana.

Menurut Danuh Tyas, vitalitas itu pula yang membuat Harry menjadi salah satu sosok penting dalam sejarah seni rupa Bandung, terutama melalui praktik seni eksperimentalnya sejak akhir 1970-an. Salah satu aksinya yang dikenang ialah pemanjatan Kubah Planetarium Taman Ismail Marzuki pada 1979 untuk memasang karya patungnya. Aksi tersebut dikenal sebagai bagian dari upaya mendobrak tradisi estetika seni rupa ITB pada masa itu.

Setelah lulus kuliah pada 1984, Harry sempat lama berhenti berkarya dan lebih fokus pada aktivitas panjat tebing serta penyelamatan. Baru puluhan tahun kemudian ia kembali aktif membuat karya seni.

“Sekarang aku punya waktu banyak dan aku mulai berkarya,” katanya.

Melalui Berpihak pada Luka, Harry tidak bermaksud menciptakan luka baru ataupun alat untuk melukai seseorang. Ia justru menghadirkan ruang untuk menyadari sisi tergelap manusia: bagaimana manusia dapat melahirkan kehancuran, kekerasan, sekaligus ketidakberdayaan.

Di dalam ruang pamer, luka tidak hadir sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Luka justru dibuka, dibunyikan, dihantamkan, dan dipertemukan kembali dengan tubuh pengunjung agar manusia menyadari bahwa kekerasan sering kali lahir sangat dekat dari dirinya sendiri.

“Hati-hati lho, manusia itu punya sisi gelap,” ucap Harry.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//