• Cerita
  • KABAR DARI REDAKSI: Di Balik Menjamurnya Kafe di Bandung

KABAR DARI REDAKSI: Di Balik Menjamurnya Kafe di Bandung

Dari komunitas kafe ke kafe, geliat industri kopi di Bandung menghadapi masalah keberlanjutan, tenaga kerja, minim dukungan regulasi.

Adin, barista di Homage Makes, Bandung, Sabtu, 11 April 2026. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi9 Juni 2026


BandungBergerak - Pertumbuhan kafe di Bandung dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan wajah baru kota yang identik dengan budaya ngopi. Ribuan kedai kopi bermunculan, menawarkan ruang estetik, suasana nyaman, dan pengalaman sosial yang lekat dengan gaya hidup generasi muda. Namun di balik gemerlap industri kopi tersebut, tersimpan berbagai persoalan yang jarang terlihat oleh pengunjung.

Ledakan bisnis kedai kopi mulai menguat sejak pandemi Covid-19 dan terus berkembang hingga kini. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencatat lebih dari 1.200 kedai kopi beroperasi hingga akhir 2024. Kafe tidak lagi sekadar tempat menikmati kopi, tetapi telah menjadi ruang bekerja, berjejaring, hingga membangun identitas sosial.

“Di Balik Gemerlap Kafe di Bandung” adalah topik baru dari liputan khusus yang diterbitkan BandungBergerak di laman Teras.id. Tim liputan terdiri dari Riyan D Apriliyana, Insan Radhiyan, dan Yopi Muharam. Mereka telah melakukan reportase lapangan, mewawancarai narasumber, serta menggali data, dan dokumen untuk menyuguhkan tulisan-tulisan mendalam.

Dari liputan-liputan tersebut tampak bahwa pertumbuhan pesat kafe di Bandung didorong oleh kemudahan membuka usaha kedai kopi. Modal yang relatif terjangkau dan tingginya minat masyarakat membuat banyak pelaku usaha baru masuk ke pasar. Namun konsekuensinya adalah persaingan yang semakin ketat, terutama bagi usaha kecil dan menengah yang harus berebut pelanggan di tengah pasar yang kian jenuh.

Di tingkat pekerja, pertumbuhan industri tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Muhammad Ismail Hakim, seorang barista yang bekerja di Bandung sejak 2022, menjadi gambaran kondisi tersebut. Meski menguasai berbagai keterampilan mulai dari meracik espresso hingga manual brew, ia pernah bekerja dengan status harian dan menerima pendapatan sekitar 2,4 juta rupiah per bulan yang bergantung pada jumlah hari kerja. Sistem kerja yang tidak pasti membuat jaminan kesejahteraan, termasuk akses BPJS, belum sepenuhnya tersedia bagi sebagian pekerja sektor ini.

Sementara itu, pemilik usaha juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di tengah meningkatnya biaya bahan baku dan operasional, mereka dituntut terus berinovasi agar tetap relevan. Media sosial turut mengubah lanskap bisnis kopi. Kehadiran kreator konten membuat kafe tidak hanya bersaing pada kualitas produk, tetapi juga pada kekuatan visual, desain ruang, dan kemampuan membangun citra digital.

Di balik persaingan tersebut, sejumlah pelaku usaha berusaha mempertahankan nilai yang lebih dari sekadar menjual minuman. Ada kafe yang tumbuh sebagai ruang komunitas, perpustakaan alternatif, hingga tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat. Bagi sebagian pemiliknya, secangkir kopi menjadi medium untuk membangun ruang bersama dan mempertahankan usaha di tengah ketidakpastian.

Para pengamat menilai pemerintah daerah memiliki peran penting untuk memastikan pertumbuhan industri kopi tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan perlindungan bagi pekerja dan keadilan dalam rantai pasok. Tanpa pengawasan ketenagakerjaan yang memadai dan kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil, ledakan bisnis kopi berpotensi menyisakan ketimpangan di balik citra gemerlapnya.

Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Musim Semi Literasi Bandung Mekar di Tengah Bayang Represi
KABAR DARI REDAKSI: Menguji Mitigasi Sesar Lembang di Bandung Raya

Secangkir kopi di Bandung bukan hanya soal aroma dan rasa. Di balik meja bar, interior estetik, dan unggahan media sosial, terdapat cerita tentang pekerja yang berjuang memperoleh penghidupan layak, pemilik usaha yang bertahan dalam kompetisi ketat, serta industri yang terus tumbuh sambil menghadapi berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

Kami juga perlu menginformasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Teras.id adalah konten berbayar. Ini merupakan bagian dari inisiatif kolaborasi antara media daring lokal di seluruh Indonesia, yang bekerja sama dengan Teras.id untuk menyajikan liputan berkualitas. Melalui inisiatif ini, kami mengundang publik untuk berpartisipasi dengan berlangganan konten eksklusif yang disediakan oleh media-media daring lokal.

Adapun tulisan serial "Di Balik Gemerlap Kafe di Bandung" bisa diakses melalui tautan berikut ini:

Ledakan Usaha Kedai Kopi Bandung

Aroma dan Suasana Lima Kedai Kopi

Bertahan Hidup dari Segelas Kopi

Jalan Riau, dari Vila Kolonial ke Surga Kopi

5 Krisis Iklim dalam Secangkir Kopi

Tantangan di Tengah Geliat Bisnis Kopi

7 Jika Barista Belum Sejahtera

8 Jatuh Bangun Merintis Kedai Kopi

9 Tangan Pemerintah di Balik Bisnis Kopi

Selamat membaca, Kawanbergerak!

Salam,

 

Redaksi BandungBergerak

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//