Menelusuri Sejarah Persib di Kota Bandung, dari Nyaris Terdegradasi hingga Belajar Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Titik balik Persib setelah larangan penggunaan APBD, sementara peserta walking tour menyaksikan bagaimana sejarah klub terus hidup di sudut-sudut Kota Bandung.
Penulis Yopi Muharam20 Juni 2026
BandungBergerak - Matahari belum benar-benar muncul ketika bobotoh dari berbagai elemen sudah berkumpul di Stadion Sidolig, Jalan Ahmad Yani, Bandung, Sabtu, 13 Juni 2026. Lapangan yang kerap disebut Stadion Persib ini dijadikan titik berkumpul acara bobotoh susur sejarah atawa story walk ke-empat yang digelar oleh Intersep.
Empat orang pemandu mendampingi acara ini, yakni Eko Noer Kristiyanto atau akrab dikenal Eko Maung, Ariska Dwi Priyono atau Anyun Cadel, Andri Gurnita, dan Merdi Hajiji. Sebelum peserta memulai susur sejarah, Eko Maung mejelaskan secara singkat sejarah stadion Sidolig.
Stadion ini dibangun pada tahun 1903 oleh arsitek Belanda bernama Frans Sidolig. Namanya merupakan singkatan dari sport de Openlucht is Gezond yang berarti ‘berolahraga di udara terbuka itu menyehatkan’. Pada awalnya lapangan ini digunakan sebagai kandang klub sepak bola bentukan Belanda, yaitu Voetbal Bond Bandoeng & Omstraken (VBBO). Seiring berjalannya waktu, stadion ini kemudian menjadi tempat latihan bagi Persib Bandung.
Peserta lalu berjalan kaki menuju ke Kosambi. Titik pertama yang dikunjungi ialah Stasiun Cikudapateuh. Eko bercerita, sepanjang Jalan Cikudapateuh-Kosambi merupakan tempat penuh sejarah lokal, khususnya bagi anak-anak yang akan membeli sepatu.
Tiba di stasiun Cikudapateuh, para peserta berkumpul tepat di depan gerbang masuk. Di sana, Anyun menceritakan pengalamannya saat akan menonton Persib di kandangnya, Stadion Siliwangi. Menurut pria kelahiran Rancaekek itu, Stasiun Cikudapateuh ini menjadi titik kumpul bobotoh sebelum berangkat bareng ke Siliwangi.
Tetapi ada cerita unik. Era itu aturan kereta apu belum seketat saat ini. Hingga tahun 2002an, bobotoh masih bisa naik kereta tanpa membayar tiket, dengan catatan naik di atas kereta. Anyun adalah salah satu saksi hidup yang merasakan momen tersebut.
“Dulu mah sampai tukang cangciman masuk ke dalam gerbong, da enggak ada tiketing kaya sekarang,” jelasnya.
Konflik juga kerap terjadi di jalur kereta, seperti di Ciroyom atau Kiaracondong, di sana bobotoh dan warga biasa terlibat saling lempar.
“Karena kami dulu tuh menyangka ada rumah koruptor di sana. Ari pek pemiliknya enggak nerima. Jadi weh saling baledog,” bebernya, diiringi tawa bobotoh.
Kini semuanya telah berubah. Transportasi kereta api sudah bertransformasi. Bobotoh sudah tak bisa naik kereta di atas gerbong.
Menuju titik kedua, bobotoh menyusuri gang kecil ke jalan Katapang Kaler yang bisa tembus ke Jalan Burangrang arah SMA BPI. Tak jauh dari SMA BPI terdapat gang belakang bernama UNI. Jalurnya cukup padat karena diisi oleh rumah-rumah warga. Tembusan jalan itu menuju area Jalan Lengkong Kecil. Keluar dari gang utama, peserta melangkah menuju aparatemen Grand Asia-Afrika, di Jalan Karapitan.
Di lokasi yang kini berdiri bangunan jangkung apartemen, secuil sejarah sepak bola Bandung berada. Sebelum beton apartemen dibangun, tempat itu merupakan lapangan yang dijadikan markas Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI. Secara singkat UNI didirikan pertama kali pada tahun 28 Februari 1903 oleh Wim L. Kuik, ketua pertama UNI. UNI merupakan singkatan dari Uitspanning Na Inspanning artinya “bersenang-senang setelah bekerja keras”.
UNI sempat beberapa kali berganti stadion, seperti di Alun-alun Bandung, Jalan Jawa, pacuan kuda Tegalega, hingga akhirnya menetap di lapang Karapitan yang dulu bernama Nieuw Houtrust di tahun 1925. Lapangan tersebut dulunya milik Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah yang dijual dengan harga miring ke pemerintahan kota madya, sebelum dijual ke UNI.
Akibat masalah keuangan, setelah 82 tahun, lapang tersebut dijual, dan pada tahun 2007 SSB UNI resmi pindah ke jalan Baturaden, Ciwastra, Kota Bandung. Tak hanya itu, di era 90an hingga 2000an menurut Eko sekolah seperti SMA BPI, Taman Siswa atau, SMAN 7 dijadikan pilihan bagi anak-anak yang ingin masuk ke SSB UNI.
Yusuf, dari Intersep menambahkan, untuk melihat jejak lapangan UNI, masyarakat bisa menengok video musik P-Project tahun 1994 yang syuting di area tersebut.

Catatan Bobotoh di Jalan Asia-Afrika
Setelah napak tilas ke lapang bekas markas UNI, peserta diajak menyusuri jalan Asia-Afrika Bandung. Kali ini Andri Gurnita, mantan wartawan foto Pikiran Rakyat memandu jalannya cerita.
Dia menunjukkan beberapa foto keramaian bobotoh yang tumpah ruah ke jalan tersebut di rentang tahun 1995-2004an. Di era tersebut Jalan Asia-Afrika menjadi jalan utama bagi bobotoh setiap Persib usai bermain di Stadion Siliwangi.
Di tahun 2003an, ketika Persib berada di ambang degradasi, banyak bobotoh yang kecewa. Bobotoh meluapkan kekecewaannya dengan turun ke Jalan Asia-Afrika. Mereka menggulingkan pot bunga di pinggir jalan hingga jalan tersebut ditutup.
“Saat itu sampai aparat bawa laras panjang. Padahal enggak ada keributan,” tuturnya.
Menurut Andri, kebiasaan tersebut dilakukan setiap Persib kalah. Hingga di tahun 2004 setelah Persib mengganti pelatih, budaya menggulingkan pot sudah tak ada lagi.
Tak hanya itu, saat perayaan Persib juara tahun 1994/1995, Andri juga memamerkan kemeriahan bobotoh di Jalan tersebut untuk menuju ke Pendopo Pemerintah Kota Bandung. Menurutnya bukan hal aneh jika perayaan Persib juara, jalan-jalan ditutup untuk mengiringi para pemain yang membawa piala.
Dari foto-foto, tampak para pemain diarak menggunakan mobil bak terbuka. Warga antusias hingga mencat wajahnya dengan warna biru-putih. Banyak bobotoh yang datang menggunakan sepedah, motor, hingga mobil bak. Warga menyemut di pinggir jalan mengabadikan momen tersebut.
Baca Juga: Sejarah Maenbal di Bandung dan Lahirnya Persib
Perjalanan Juara Persib dari Zaman Perserikatan hingga Liga Indonesia
Persib di Ambang Kebangkrutan
Tak jauh dari Jalan Asia-Afrika, peserta walking tour diajak singgah ke depan Pendopo Kota Bandung di seberang Alun-alun Bandung. Di lokasi itu, mantan Direktur Keuangan Persib Bandung, Merdi Hajiji, membagikan kisah perjuangan Persib bertahan setelah pemerintah melarang penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk membiayai klub sepak bola profesional.
Merdi menjelaskan, pada 2008 Menteri Dalam Negeri mengirimkan surat yang menegaskan bahwa klub sepak bola tidak lagi boleh dibiayai APBD. Kebijakan tersebut membuat Pemerintah Kota Bandung dan para pemangku kepentingan Persib harus mencari sumber pendanaan baru untuk menutup kebutuhan operasional klub yang saat itu mencapai Rp20 miliar hingga Rp30 miliar per musim.
Di tengah situasi tersebut, sebuah pertemuan digelar di Pendopo Kota Bandung dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mencari pihak yang bersedia mengelola Persib.
"Pokoknya yang mau dulu aja siapa, lalu Pak Umuh langsung ngacung," kata Merdi mengenang keberanian Umuh Muchtar yang saat itu menyatakan kesediaannya mengoperasikan Persib. Setelah itu, Umuh menunjuk Merdi Hajiji sebagai Direktur Keuangan Persib.
Merdi mengaku sempat kebingungan menentukan langkah untuk membawa Persib memasuki era sepak bola profesional. Ia kemudian menyusun proposal bisnis atau blueprint Persib pada 2009 sebagai strategi agar klub mampu memperoleh pendanaan secara mandiri tanpa bergantung pada APBD.
Proposal tersebut dipresentasikan dan dinilai langsung oleh Erick Thohir untuk mengukur prospek bisnis Persib serta nilai yang dapat ditawarkan kepada calon sponsor.
Dalam proposal itu, Persib menetapkan empat bisnis inti sebagai sumber pendapatan. Pertama, trade player atau jual beli pemain. Kedua, ticketing atau penjualan tiket pertandingan yang pada saat itu hasilnya masih habis untuk menutupi biaya operasional klub.
Sumber pendapatan ketiga berasal dari hak siar televisi (TV rights). Merdi menceritakan, pada awalnya Persib justru diminta membayar Rp15 juta kepada salah satu stasiun televisi swasta agar pertandingan mereka dapat disiarkan.
Namun karena Persib telah berbentuk perseroan terbatas (PT), Merdi menolak permintaan tersebut. Sebaliknya, ia berhasil membuat pihak televisi membayar Persib sebesar Rp45 juta untuk hak siar pertandingan. Sejak saat itu, hak siar televisi menjadi salah satu sumber pendapatan klub.
Sumber pendapatan keempat berasal dari penjualan merchandise resmi. Menurut Merdi, merek Persib telah dipatenkan sehingga setiap produksi merchandise harus dikoordinasikan dengan PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB).
Merdi mengatakan, keberanian Umuh Muchtar mengambil alih pengelolaan Persib yang kemudian diikuti penyusunan proposal bisnis menjadi titik awal perubahan klub. Dari proses tersebut Persib akhirnya bertemu dengan Glenn Sugita, pemegang saham mayoritas PT PBB, yang kemudian berperan dalam membawa Persib berkembang menjadi klub sepak bola profesional seperti saat ini.
Hubungan Persib dengan Bobotoh
Salah seorang peserta walking tour, Arvi Damayanti asal Cimahi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti susur sejarah Persib bersama suaminya. Dalam kegiatan tersebut, ia berkesempatan bertemu langsung dengan orang-orang yang selama ini berada di balik layar Persib, mulai dari wartawan, fotografer, hingga perwakilan bobotoh.
Ia juga mendengarkan berbagai kisah unik yang selama ini jarang diketahui publik, termasuk cerita-cerita yang disampaikan oleh Anyun.
"Ternyata Persib itu enggak hanya tentang main bola tapi ada cerita-cerita lucu, cerita yang sejarahnya juga ternyata wah banget," ungkap Arvi.
Menurutnya, upaya merawat sejarah Persib sangat penting karena klub tersebut memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat Bandung. Baginya, hubungan antara Persib dan bobotoh memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan relasi suporter dan klub sepak bola lain di Indonesia.
Setalah berjalan lebih dari delapan kilometer dengan delapan titik, susur sejarah berakhir di stadion Siliwangi. Eko Maung menjelaskan bahwa pemilihan rute ini sengaja dirancang untuk memperlihatkan perkembangan sejarah Persib dari lingkup kecil hingga besar.
Bagi Eko, mengenalkan sejarah sepak bola kepada generasi muda sangatlah penting, terutama agar mereka memahami bagaimana kebijakan pemerintah dapat memengaruhi dinamika sepak bola di suatu kota. Ia berharap, jika generasi muda ini kelak menjadi pemimpin atau duduk di pemerintahan, mereka akan lebih peduli terhadap nasib sepak bola dan ruang publik bagi anak-anak.
“Ketika mereka melihat bahwa oh, gara-gara mall dibangun tiba-tiba anak-anak kehilangan lahan bermain,” jelas Eko.
Ia menyinggung sejumlah lapangan bola yang kini sudah digantikan oleh bangunan-bangunan tinggi dan menyingkirkan sejarah serta tempat untuk bermain sepak bola.
Berbicara mengenai hubungan Persib dengan Kota Bandung, Eko menegaskan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Persib adalah identitas Kota Bandung. Bahkan, di tengah kompleksnya permasalahan kota seperti infrastruktur, transportasi umum, pengangguran, hingga pendidikan, Persib hadir sebagai penawar.
“Persib itu sebetulnya bisa meninabobokan ya, bisa membuat suasana mood warga Bandung lebih ceria,” bebernya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


