• Kampus
  • Integrated Arts Unpar: Saat Seni Bertemu Filsafat dan Teknologi

Integrated Arts Unpar: Saat Seni Bertemu Filsafat dan Teknologi

Integrated Arts di Unpar menawarkan pendekatan berbeda: memahami persoalan manusia lebih dulu, baru memilih medium untuk berkarya.

Peresmian gedung Program Studi (Prodi) Integrated Arts Unpar, Bandung, Jumat, 26 Juni 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam27 Juni 2026


BandungBergerak - Di tengah kampus-kampus yang berlomba mengembangkan program berbasis sains, teknologi, dan bisnis, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memilih arah berbeda. Sejak 2023, kampus ini membuka Program Studi (Prodi) Integrated Arts, sebuah program yang memadukan seni, filsafat, dan teknologi dengan pendekatan berbasis isu.

Kini, program tersebut memiliki ruang baru. Bekas gedung perpustakaan Unpar di Jalan Aceh Nomor 53, Bandung, diubah menjadi studio, galeri, dan ruang belajar mahasiswa Integrated Arts. Gedung yang diresmikan pada Jumat, 26 Juni 2026, itu juga difungsikan sebagai Unpar Hub untuk mendukung kegiatan akademik dan kreativitas mahasiswa.

Ketua Program Studi Integrated Arts Unpar, Bambang Sugiharto, mengatakan keberadaan program ini berangkat dari kegelisahan terhadap kehidupan manusia yang semakin didominasi teknologi.

“Saya kira terutama ketika seluruh hidup kita dikepung oleh teknologi bahkan teknologi masuk ke dalam diri kita sekarang itu. Saya kira kita perlu memikirkan kembali posisi manusia yang khas manusia gitu ya. Perasaannya kreativitasnya, imaginasinya, hatinya,” ujar Bambang.

Menurut dosen filsafat tersebut, seni tidak hanya menjadi sarana berekspresi, tetapi juga ruang refleksi untuk memahami kembali posisi manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Integrated Arts sendiri berada di bawah Fakultas Filsafat Unpar dan menjadi salah satu program studi yang masih langka di Indonesia. Berbeda dengan sekolah seni pada umumnya yang berangkat dari medium tertentu, seperti seni lukis, musik, atau teater, Integrated Arts memulai proses penciptaan dari sebuah persoalan atau isu.

Mahasiswa lebih dulu memilih isu yang ingin mereka angkat, mulai dari relasi manusia dan teknologi, lingkungan, hingga persoalan sosial. Setelah itu mereka menentukan medium yang paling sesuai untuk menyampaikan gagasan, bisa berupa lukisan, instalasi, film, musik, fotografi, maupun pertunjukan.

“Karena juga kami di sini perkuliahannya bukan semata-mata seni, tapi seni digabungkan dengan ilmu-ilmu filosofis,” ungkap Bambang.

Pada dua tahun pertama, mahasiswa mempelajari dasar-dasar seni, filsafat, dan pendekatan lintas disiplin. Memasuki semester berikutnya, mereka dapat memilih jalur sebagai pencipta karya (seniman), pengkaji seni yang berfokus pada kritik dan kajian, atau pengelola seni budaya.

Rektor Unpar, Tri Basuki Joewono, menilai kehadiran Integrated Arts memberi perspektif baru di lingkungan kampus yang selama ini lebih banyak berkembang melalui pendekatan sains dan Teknik rekayasa. 

“Saat kita melihat bahwa semuanya berjalan dengan cara yang lebih teknis, dengan cara yang lebih engineering, science, tapi mungkin dengan Integrated Arts yang umurnya baru, maka itu akan membawa warna baru sehingga bangunan ini akan hidup dengan cara yang baru juga,” papar Tri.

Baca Juga: BANDUNG HARI INI: Perjalanan Panjang Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung dari Hanya Satu Ruang Kuliah
Dari Diskusi ke Jalanan, Mahasiswa Unpar Menguat di Aksi Kamisan

Peresmian gedung Program Studi (Prodi) Integrated Arts Unpar, Bandung, Jumat, 26 Juni 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Peresmian gedung Program Studi (Prodi) Integrated Arts Unpar, Bandung, Jumat, 26 Juni 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Seni sebagai Cara Membaca Persoalan

Pendekatan berbasis isu di Integrated Arts terlihat dalam pameran karya mahasiswa yang digelar pada 21-27 Juni 2026. Berbeda dari pameran seni konvensional, mahasiswa bebas menentukan lokasi pameran, mulai dari Galeri 11 Unpar, Tjap Sahabat, Tribunam Perpustakaan, hingga di dalam angkutan kota.

Di Galeri 11, mahasiswa semester dua menggelar pameran bertajuk *Gulali* (Gali Ulang Lapis Ingatan). Sembilan mahasiswa menampilkan karya dengan berbagai medium, mulai dari lukisan, instalasi, hingga workshop interaktif.

Marshella Citra, salah satu mahasiswa yang berpameran, memilih menghadirkan karya berbentuk workshop menanam tanaman. Pengunjung yang tidak saling mengenal dipasangkan dalam satu kelompok dan hanya diberi satu pot serta satu bibit tanaman. Mereka harus bekerja sama mencampur tanah, menanam, hingga memutuskan siapa yang membawa pulang tanaman tersebut.

Menurut Citra, karya itu lahir dari kegelisahannya melihat semakin renggangnya interaksi antarmanusia.

“Padahal manusia itu kan harus berinteraksi kan selama hidupnya dan kita enggak bisa apatis kayak gitu. Jadi ya ini aku kayak pengen buat orang tuh jadi ngobrol gitu, berinteraksi," ujar Citra kepada BandungBergerak.

Baginya, workshop menjadi cara agar seni tidak hanya dinikmati sebagai objek yang dipandang, tetapi juga menjadi pengalaman yang melibatkan pengunjung secara langsung.

Citra mengaku menikmati proses belajar di Integrated Arts karena memberi kebebasan mengeksplorasi berbagai medium tanpa dibatasi satu disiplin seni tertentu.

"Kita bukan medium-based. Jadi kami bebas bereksperimen memilih material atau medium yang paling sesuai dengan isu yang ingin disampaikan," katanya.

Sementara itu, Lunara Anaqi menggabungkan seni visual dan sains melalui karya berjudul Between Chaos and Order. Ia memanfaatkan getaran suara dari sebuah lagu untuk membentuk pola-pola pasir yang kemudian diterjemahkan menjadi karya tiga dimensi.

Melalui eksperimen tersebut, Luna ingin menunjukkan bahwa musik tidak hanya dapat didengar, tetapi juga dapat dilihat melalui bentuk-bentuk visual yang dihasilkan oleh gelombang suara.

“Soalnya aku mikir kayak kita setiap hari dengerin musik dan kita cuman denger doang. Jadi aku pengen ngasih tahu kalau musik itu bisa kita alami bukan cuman didengar tapi bisa dengan kita melihatnya secara langsung,” ungkap Luna.

Pendekatan berbasis isu menjadi pembeda utama Integrated Arts. Seni tidak lagi dimulai dari pilihan alat atau bahan, melainkan dari pertanyaan tentang manusia dan persoalan yang dihadapinya. Di tengah kehidupan yang semakin dikepung teknologi, ruang untuk mempertanyakan, merasakan, dan membayangkan kembali posisi manusia justru menjadi hal yang semakin penting.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//