• Berita
  • Merebut Kembali Masa Kecil dari Layar Gawai

Merebut Kembali Masa Kecil dari Layar Gawai

Paparan gawai dapat menghambat tumbuh kembang anak. Pemulihan bukan sekadar menyita ponsel, melainkan membangun kembali hubungan di dalam keluarga.

Aktivisme digital, yang juga rentan direpresi, merawat keterkejutan, harapan, dan daya tahan perjuangan. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi Mahasiswa UPI28 Juni 2026


BandungBergerak - Najla, 21 tahun, menghela napas setiap kali bercerita tentang adiknya yang kini berusia 13 tahun. Menurutnya, gawai perlahan mengambil alih masa kecil sang adik. Bermain bersama teman semakin jarang, sementara sebagian besar waktunya dihabiskan menatap layar.

"Adikku tuh, kalau HP-nya diambil langsung ngurung diri. Nggak mau makan sampai HP-nya balik," kata Najla saat ditemui di kawasan Gegerkalong, Bandung, Jumat, 24 April.

Ketergantungan itu, menurut Najla, tak hanya mengubah perilaku adiknya, tetapi juga memengaruhi kemampuan dasarnya. Meski telah berusia hampir 13 tahun, sang adik masih kesulitan membaca sehingga harus menjalani terapi untuk meningkatkan kemampuan literasinya.

Pengaruh gawai pada adik Najla hanya potret kecil dari rumitnya dunia anak di era teknologi. Data 2025 mencatat bahwa 42,25 persen anak usia dini Indonesia kini sudah menggunakan gawai, naik signifikan dari tahun-tahun sebelumnya (BPS, Profil Anak Usia Dini 2025, dilansir GoodStats Desember 2025). Hal ini diduga akibat kebiasaan orang tua menjadikan gawai sebagai “pengasuh digital” sebagai pengganti interaksi langsung.

Konselor rehabilitasi di Mental Care Giver (MCG) Laznah Fitri mengatakan, kecanduan gawai pada anak umumnya berakar pada minimnya keterlibatan orang tua secara emosional.

Dalam perkembangan psikologis, orang tua berperan membantu anak membangun kontrol diri dan memahami batasan perilaku. Ketika peran itu tidak hadir, anak kehilangan pegangan dalam mengendalikan dirinya.

"Kalau orang tua tidak hadir dalam proses itu, anak tidak punya kompas," ujar Laznah.

Ia menilai kebiasaan memberikan ponsel untuk meredakan tantrum menjadi salah satu penyebab yang paling sering terjadi. Anak belajar bahwa menangis atau mengamuk akan berujung pada hadiah berupa gawai. Jika pola itu terus berulang, ketergantungan akan semakin sulit dihentikan.

Laznah bahkan pernah menangani anak yang mengancam orang tuanya dengan pisau karena tidak dibelikan kuota internet. Menurutnya, kasus ekstrem seperti itu menunjukkan bagaimana kecanduan gawai dapat berkembang ketika tidak ditangani sejak dini.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Menurut Laznah, kecanduan gawai tidak selalu terlihat jelas. Namun ada sejumlah tanda yang dapat dikenali sejak dini.

Pertama, anak sulit menghentikan penggunaan gawai meski sudah berkali-kali diingatkan. Bahkan, sebagian anak tetap menggunakan gawai secara diam-diam setelah waktu yang disepakati berakhir.

Kedua, anak menunjukkan ledakan emosi ketika gawainya diambil. Reaksinya dapat berupa menangis histeris, berteriak, hingga merusak barang.

Ketiga, durasi penggunaan terus meningkat. Waktu satu jam tidak lagi cukup, lalu bertambah menjadi tiga, empat, bahkan lebih lama karena anak membutuhkan stimulasi yang lebih besar untuk memperoleh kepuasan yang sama.

Keempat, anak mulai menjauh dari aktivitas sosial. Bermain bersama teman atau berkumpul dengan keluarga terasa membosankan dibandingkan menghabiskan waktu di depan layar.

“Pada Fase lebih lanjut anak bisa aja melakukan segala cara untuk mendapatkan gadget nya. Misal sama orang tua di sembunyiin, mending rusakin pintu daripada ngga dapet gagdet,” ujar Laznah. 

Laznah menambahkan, orang tua juga perlu memahami perkembangan emosi anak. Tantrum bukan sekadar perilaku yang harus dihentikan, melainkan cara anak menyampaikan perasaan yang belum mampu diungkapkan dengan kata-kata. Memberikan gawai saat anak menangis hanya menyelesaikan masalah untuk sesaat, tetapi memperkuat ketergantungan di kemudian hari.

Baca Juga: Membaca Data Meningkatnya Kekerasan Seksual di Bandung, Pelecehan Sering Berawal dari Hal yang Dianggap Sepele

Mengapa Anak Sulit Lepas dari Gawai

Psikolog Klinis Rumah Sakit Advent Bandung Yulia D. Saraswati menjelaskan, penggunaan gawai lebih dari enam jam sehari dapat menjadi salah satu indikator kecanduan digital. Kondisi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan yang berlangsung terus-menerus.

Pada anak yang berkembang secara sehat, rasa senang diperoleh dari berbagai aktivitas, seperti bermain, belajar, berinteraksi dengan teman, dan bercakap dengan keluarga. Namun pada anak yang mengalami kecanduan gawai, sumber kesenangan perlahan menyempit dan hanya bergantung pada layar.

"Dia merasa, dengan ini pun aku sudah cukup," kata Yulia.

Akibatnya, anak bisa mengabaikan rasa lapar, haus, bahkan menunda ke toilet demi tetap menggunakan gawai. Jika berlangsung lama, kondisi ini tidak hanya menghambat perkembangan psikologis, tetapi juga memengaruhi kesehatan fisik, kemampuan belajar, dan keterampilan sosial anak.

Yulia mengingatkan pentingnya pembatasan penggunaan gawai pada anak. Menurutnya, anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar gawai. Setelah usia dua tahun, penggunaan gawai perlu dibatasi maksimal satu jam per hari dan tetap didampingi orang tua agar penggunaan maupun kontennya dapat diawasi.

Jika anak sudah mengalami kecanduan, menghentikan akses secara tiba-tiba bukanlah solusi. Proses pemulihan umumnya berlangsung sedikitnya 12 minggu dan melibatkan psikolog, psikiater, serta dukungan penuh dari keluarga. Pada beberapa kasus, terapi juga disertai pemberian obat.

Menurut Yulia, waktu penggunaan gawai sebaiknya dikurangi secara bertahap sambil menggantinya dengan aktivitas lain, seperti bermain, berolahraga, membaca, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Pendekatan ini membantu anak kembali menemukan sumber kesenangan di luar layar.

Namun, Yulia menilai tidak mungkin menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi digital. Yang terpenting adalah memastikan kebutuhan sosial, emosional, dan interaksi langsung anak terpenuhi terlebih dahulu.

Pada masa awal pertumbuhan, otak anak sedang membangun kemampuan berempati, berkomunikasi, dan mengelola emosi. Kemampuan tersebut berkembang melalui hubungan dengan orang lain, bukan dari layar.

Jika fondasi itu telah terbentuk, gawai dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti interaksi. 

“Gadget bisa menjadi alat bantu belajar yang baik, misalnya memperlihatkan salju kepada anak yang tinggal di Indonesia, atau memperkenalkan lagu daerah,” kata Yulia.

***

*Reportase ini dikerjakan tim liputan mahasiswa konsentrasi jurnalistik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung: Danillah Nur Rahmat, Fazatil Husainah, Heny Indah M, Tiara Maulida, Wina Melinda

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//