KABAR DARI REDAKSI: Menelusuri Jalan Berliku BRT Bandung Raya
Pembangunan BRT Bandung Raya digadang menjadi solusi kemacetan. Namun ada dampak sosialnya. Simak liputan khusus BandungBergerak di Teras.id.
Penulis Tim Redaksi6 Juli 2026
BandungBergerak - Kemacetan telah menjadi bagian dari keseharian warga Bandung Raya. Di tengah dominasi kendaraan pribadi dan belum terintegrasinya transportasi publik, pemerintah mendorong pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Basin Metropolitan Area (BBMA) sebagai upaya membenahi sistem transportasi perkotaan.
Proyek ini mencakup pembangunan jalur khusus sepanjang sekitar 27 kilometer, puluhan halte, terminal, serta layanan feeder yang menghubungkan Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, hingga Sumedang. BRT diproyeksikan menjadi fondasi transportasi publik yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan untuk mengurangi kemacetan, polusi udara, serta ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Namun, setiap pembangunan menghadirkan konsekuensi. Dokumen Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) mengklasifikasikan proyek ini sebagai proyek dengan tingkat risiko yang substansial. Pada tahap konstruksi, pembangunan diperkirakan memicu kemacetan, debu, kebisingan, hingga gangguan terhadap aktivitas warga. Di saat yang sama, ribuan kelompok rentan seperti pedagang kaki lima, juru parkir, penyewa kios, dan pengemudi angkot berpotensi terdampak akibat perubahan ruang dan aktivitas ekonomi.
Di tengah dilema tersebut, BandungBergerak menghadirkan liputan khusus "BRT Metropolitan Bandung: Membangun Transportasi Publik di Tengah Jalan Berliku", yang terbit pada 22 Juni 2026. Liputan ini berangkat dari satu pertanyaan utama: mampukah BRT menjawab akar persoalan sistemik transportasi publik di Bandung Raya?
Selama peliputan, kami menelusuri berbagai sisi proyek ini. Tidak hanya membahas pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyoroti pengalaman pengguna transportasi umum, masa depan angkot dalam sistem transportasi baru, persoalan kemacetan yang telah berlangsung lama, hingga dampak sosial yang dirasakan masyarakat di sepanjang koridor pembangunan.
Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Di Balik Menjamurnya Kafe di Bandung
KABAR DARI REDAKSI: Menguji Mitigasi Sesar Lembang di Bandung Raya
Ada 10 tulisan dalam liputan khusus ini meliputi:
1 Menyambung Asa Sopir Angkot Bandung
2 BRT Bandung, Proyek Minim Sosialisasi
3 Macet, Potret Umum Transportasi di Bandung
4 Menyusuri Jalur On-corridor dan Off-coridor BRT Metropolitan Bandung
5 BRT Bandung, Embrio Transportasi Publik Terintegrasi
6 Masa Depan Angkot dalam Sistem BRT Bandung
7 Agar Waktu Tempuh Tak Lagi Ngaret
8 Drama Pembekuan Izin Proyek BRT Bandung
9 Karakter Masalah Transportasi Publik di Bandung
10 Polemik Kewenangan BRT Metropolitan Bandung
Melalui liputan ini, BandungBergerak mengajak pembaca melihat proyek BRT secara lebih utuh: bukan hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi sebagai kebijakan publik yang akan memengaruhi kehidupan warga, ruang kota, dan arah masa depan transportasi di Bandung Raya.
Kami juga perlu menginformasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Teras.id adalah konten berbayar. Ini merupakan bagian dari inisiatif kolaborasi antara media daring lokal di seluruh Indonesia, yang bekerja sama dengan Teras.id untuk menyajikan liputan berkualitas. Melalui inisiatif ini, kami mengundang publik untuk berpartisipasi dengan berlangganan konten eksklusif yang disediakan oleh media-media daring lokal.
Selamat membaca, KawanBergerak!
Salam,
Redaksi BandungBergerak
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


