• Berita
  • Kecelakaan Berulang di Jalan Sukarno Hatta Bandung: Mengapa Pesepeda Terus Menjadi Korban?

Kecelakaan Berulang di Jalan Sukarno Hatta Bandung: Mengapa Pesepeda Terus Menjadi Korban?

Kematian seorang pesepeda setelah tertabrak truk menambah daftar korban di ruas Jalan Sukarno Hatta Bandung yang berulang kali memakan nyawa.

Kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Rabu, 29 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam30 Juli 2026


BandungBergerakJalan Soekarno-Hatta kembali memakan korban jiwa. Rabu, 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.15 WIB, sebuah truk pengangkut gas yang dikemudikan sopir yang diduga mengantuk hilang kendali di depan Terminal Leuwipanjang, Bandung. Truk menghantam seorang pesepeda perempuan, menyeretnya sekitar 30 meter, lalu menabrak sejumlah kendaraan dan gerobak pedagang yang berada di bahu jalan.

Kecelakaan beruntun itu menjadi pengingat bahwa Jalan Soekarno-Hatta bukan sekadar lokasi kecelakaan lalu lintas biasa. Dalam beberapa bulan terakhir, ruas jalan ini berulang kali menjadi lokasi kecelakaan serius, termasuk yang merenggut nyawa pesepeda. Di balik kecelakaan ini muncul persoalan tentang infrastruktur jalan yang belum memberikan perlindungan bagi pengguna paling rentan.

Di lokasi kejadian, polisi dan relawan langsung melakukan evakuasi. Sebuah mobil berwarna abu-abu yang mengalami kerusakan parah diderek menggunakan truk derek kepolisian. Tiga sepeda motor dan sebuah sepeda lipat diangkut ke kendaraan Satlantas. Di sisi jalan, gerobak kopi, bakso tahu, dan bakso malang tampak hancur dengan dagangan berceceran.

Informasi yang dihimpun di lokasi menyebut sedikitnya satu orang meninggal dunia dan seorang pedagang bakso tahu mengalami luka berat hingga patah tulang. Korban meninggal dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, sedangkan korban luka dirawat di RS Bandung Kiwari.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, kecelakaan berlangsung dalam hitungan detik. Muhammad Zikri, pengemudi ojek daring, baru saja memarkir sepeda motornya di bahu jalan setelah mengantar penumpang ke Terminal Leuwipanjang ketika sebuah truk pengangkut gas berwarna merah melaju tanpa kendali.

Ia melihat truk mengarah ke kiri dan menyeret korban yang tertabrak. Sepeda motor Zikri ikut terseret hingga rusak berat.

“(Motornyanya) ringsek, udah pasti enggak bisa jalan lagi,” ujar pria berusia 30 tahun itu.

Menurut sejumlah saksi yang ditemui di lokasi, kecelakaan melibatkan sekitar 12 kendaraan yang terdiri atas lima mobil, lima sepeda motor, satu truk, dan satu sepeda. Selain itu, tiga gerobak pedagang ikut menjadi korban.

Namun, data sementara kepolisian sedikit berbeda. Polisi mencatat kecelakaan melibatkan lima mobil, tiga sepeda motor, satu sepeda, dan tiga gerobak. Perbedaan pendataan tersebut masih dalam proses pendalaman seiring penyelidikan.

Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung Fiekry Adi Perdana mengatakan dugaan awal pengemudi tertidur sesaat sehingga kendaraan keluar jalur ke sisi kiri. Akibatnya, truk terlebih dahulu menabrak pesepeda, kemudian terus melaju menghantam kendaraan yang terparkir dan gerobak para pedagang.

Sementara itu, korban meninggal merupakan W, 50 tahun, pemilik warung kopi yang berada tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Menurut kakak iparnya, Syafarudin, siang itu W sedang menjaga warung bersama suaminya. Ia kemudian berpamitan membeli plastik ke kawasan Jalan Kopo menggunakan sepeda, seperti yang biasa dilakukannya.

“Hobinya memang suka naik sepeda ke mana-mana,” beber pria berumur 71 tahun itu.

Keluarga semula belum mengetahui bahwa W menjadi korban kecelakaan. Informasi yang mereka terima masih simpang siur hingga akhirnya Syafarudin melihat sepeda korban tergeletak di lokasi.

"Saya enggak melihat langsung karena enggak tega," katanya dengan suara bergetar.

W meninggalkan dua anak yang telah dewasa. Sebelum meninggal, ia sedang merenovasi warung kopinya yang berada di seberang Terminal Leuwipanjang agar lebih luas dan nyaman bagi pelanggan.

Saat BandungBergerak mendatangi lokasi, warung bercorak kayu itu tertutup rapat tanpa aktivitas.

Mengapa Pesepeda Paling Rentan?

Kematian W menambah daftar pesepeda yang kehilangan nyawa di jalan raya Bandung tahun ini. Koordinator Bidang Riset Bike to Work (B2W) Bandung, Mohamad Ridwan, mengatakan persoalan keselamatan pesepeda tidak dapat dijelaskan hanya melalui kesalahan individu. Menurutnya, sistem jalan di Kota Bandung belum memberikan perlindungan yang memadai bagi kelompok pengguna jalan paling rentan.

Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menempatkan pesepeda dan pejalan kaki sebagai pengguna jalan yang harus mendapat perlindungan.

Namun, di lapangan kondisi tersebut belum sepenuhnya terwujud.

Sebagian jalur sepeda masih bercampur dengan kendaraan bermotor. Tidak sedikit pula yang digunakan sebagai tempat parkir atau mengalami kerusakan sehingga kehilangan fungsinya.

Ridwan mencontohkan jalur sepeda di Jalan Merdeka yang sempat rusak akibat bekas galian. Pada ruas jalan satu arah dengan kendaraan berkecepatan tinggi, kondisi semacam itu justru meningkatkan risiko bagi pesepeda.

“Dalam hal pesepeda sebagai pengguna jalan pun tidak cukup hanya mengandalkan perilaku individu dalam bersepeda,” kata Ridwan dihubungi BandungBergerak.

Menurut Ridwan, pemerintah perlu memperbaiki jalur sepeda yang rusak sekaligus membangun jaringan jalur yang benar-benar terlindungi, terutama di koridor utama seperti Jalan Soekarno-Hatta yang menjadi penghubung antarkota.

Saat ini B2W Bandung bersama Koalisi Mobilitas Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (Komoratan) terus melakukan advokasi agar pembangunan transportasi di Bandung lebih berpihak kepada pengguna jalan yang rentan.

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa Jalan Soekarno-Hatta memang memiliki karakteristik yang berisiko bagi pesepeda.

Penelitian Intan Rani dan Samun Haris mengenai evaluasi kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung mencatat selama 2022 terjadi 72 kecelakaan di ruas Jalan Soekarno-Hatta, atau sekitar 13,5 persen dari seluruh kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung. Sebanyak 32 kejadian menyebabkan korban meninggal dunia.

Penelitian lain oleh Fadillah Arridha Ramadhan dan tim menunjukkan variasi kecepatan kendaraan di ruas tersebut cukup tinggi. Kecepatan sepeda motor dapat mencapai sekitar 84 kilometer per jam, kendaraan ringan sekitar 60 kilometer per jam, sedangkan kendaraan berat sekitar 54 kilometer per jam.

Perbedaan kecepatan dan ukuran kendaraan membuat pesepeda berada dalam posisi yang sangat rentan ketika berbagi ruang dengan kendaraan bermotor. Bagi pesepeda, tabrakan dengan kendaraan berat hampir selalu berakibat fatal.

Kios milik W, perempuan pesepeda yang menjadi korban kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Rabu, 29 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Kios milik W, perempuan pesepeda yang menjadi korban kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Rabu, 29 Juli 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Kecelakaan yang Terus Berulang

Bagi warga sekitar, kecelakaan pada Rabu siang bukanlah peristiwa yang mengejutkan. Fajar, pengemudi ojek daring yang hampir setiap hari mangkal di kawasan Terminal Leuwipanjang, mengatakan sejak akhir 2025 sedikitnya telah terjadi tiga kecelakaan besar di sekitar lokasi tersebut.

Peristiwa pertama terjadi pada Desember 2025 ketika seorang pengamen meninggal dunia setelah terjatuh saat mencoba menumpang truk dan terlindas kendaraan.

Beberapa bulan kemudian terjadi tabrakan dua mobil ketika salah satu kendaraan mencoba berputar arah di lokasi yang bukan peruntukannya. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, benturan terjadi cukup keras akibat tingginya kecepatan kendaraan dari arah berlawanan.

Menurut Fajar, ketika lalu lintas lengang, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi di Jalan Soekarno-Hatta.

“Di sini kan enggak ada jalur sepeda, ditambah risikonya juga gede di jalan ini mah, (pengendara) ngajalankeuna seserebetan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti minimnya penerangan jalan, terutama pada malam hari. Menurutnya, sebagian lampu di jembatan sering hilang akibat pencurian sehingga pengendara hanya mengandalkan lampu kendaraan.

“Dari ujung ke ujung (jembatan), lamput teh dicandakan (curi),” lanjutnya.

Kondisi serupa, menurut dia, dapat ditemui di sepanjang koridor Soekarno-Hatta dari Cibiru hingga Cibeureum.

Korban Bukan yang Pertama

Kematian W terjadi hanya beberapa pekan setelah kecelakaan yang menewaskan Dika Putra Mahardika, 14 tahun, pesepeda remaja yang tertabrak truk tanker di Jalan Soekarno-Hatta pada Juni 2026. 

Peristiwa itu memicu ratusan pesepeda menggelar aksi Ride in Peace. Mereka bersepeda dari Kiara Artha Park menuju lokasi kecelakaan dan memasang ghost bike—sepeda putih—sebagai simbol penghormatan bagi pesepeda yang meninggal dunia di jalan raya.

"Itu menjadi pengingat bahwa di sini pernah ada pesepeda yang meninggal," kata Andi Nurfauzi, salah satu penyelenggara aksi solidaritas untuk Dika.

Namun, hanya berselang beberapa minggu, seorang pesepeda kembali kehilangan nyawa di ruas jalan yang sama.

Data Bike to Work Indonesia menunjukkan persoalan ini bukan hanya terjadi di Bandung. Pada periode 2017–2020 sedikitnya 88 pesepeda meninggal akibat tertabrak kendaraan bermotor. Pada 2021 tercatat 63 kecelakaan pesepeda di berbagai daerah, sekitar 93 persen terjadi di jalan raya, dengan 36 korban meninggal dunia.

Di Kota Bandung sendiri, B2W mencatat sedikitnya tiga pesepeda meninggal sepanjang 2026.

Bagi komunitas pesepeda, rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa keselamatan jalan tidak cukup dibangun melalui imbauan agar masyarakat lebih berhati-hati. Mereka mendesak aparat melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan, termasuk memeriksa kondisi teknis kendaraan, kepatuhan terhadap uji berkala, hingga sistem perawatan armada perusahaan.

Menurut B2W, penegakan hukum saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu memperbaiki infrastruktur jalan, menyediakan jalur sepeda yang terlindungi, meningkatkan penerangan, dan memastikan pengguna jalan yang paling rentan memperoleh ruang yang aman.

Kematian W memperlihatkan bahwa kendaraan berat, kecepatan tinggi, minimnya ruang aman bagi pesepeda, dan lemahnya perlindungan infrastruktur bertemu dalam satu ruang yang sama. Selama persoalan-persoalan tersebut belum dibenahi, Jalan Soekarno-Hatta berpotensi terus menghadirkan korban berikutnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//