Muka Tanah Cekungan Bandung Semakin Turun karena Kehabisan Air, Bagaimana Bisa Terjadi?
Puluhan tahun eksploitasi air tanah membuat permukaan tanah terus turun. Tanpa pengendalian, Bandung Raya menghadapi risiko krisis air bersih.
Penulis Fitri Amanda 31 Juli 2026
BandungBergerak - Permukaan tanah di Bandung Raya terus menurun. Pengambilan air tanah yang tidak terkendali disinyalir menjadi penyebab utama fenomena ini. Dalam jangka panjang, cadangan air tanah yang menjadi sumber air bersih bisa habis.
Peneliti Geodesi dan Geofisika Heri Andreas menjelaskan, air tanah yang berada di bawah permukaan berfungsi untuk mengisi ruang-ruang kecil di antara lapisan tanah. Ketika air tanah tersebut terus disedot terus-menerus, maka ruang-ruang itu kehilangan penyangga sehingga lapisan tanah dan permukaan di atasnya perlahan turun.
Heri menyebutkan daerah yang mengalami penurunan muka tanah biasanya terjadi di daerah lapisan tanah sedimen lunak seperti Cekungan Bandung. Berdasarkan pemantauan terbarunya, sejumlah wilayah di Bandung Raya telah mengalami penurunan tanah secara kumulatif lebih dari 1 meter, bahkan di beberapa titik dapat mencapai lebih dari 3 meter.
“Faktor dominannya akibat dari pengambilan air tanah yang berlebihan,” ucap Heri Andreas pada BandungBergerak saat ditemui di Kantornya, 27 Juni 2026.
Keterangan Heri sejalan dengan temuan Badan Geologi bahwa Bandung menjadi salah satu daerah di Indonesia yang menghadapi permasalahan serius pada penurunan muka tanah, seperti di Jakarta Utara dan pesisir utara Jawa. Berdasarkan pemantauan, sejumlah wilayah di Bandung mengalami penurunan muka tanah dengan laju bisa mencapai lebih dari lima sentimeter per tahun. Penurunan muka tanah merupakan sebuah situasi ketika permukaan tanah turun akibat pemadatan lapisan tanah di bawahnya.
Menurut Heri, tren penurunan muka tanah di Bandung Raya bermula pada tahun 1980 - 1990, ketika wilayah ini mulai dipenuhi industri yang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Lalu pada awal tahun 2000-an, penurunan muka tanah makin terjadi secara signifikan khususnya di wilayah-wilayah industri seperti Cimahi, Dayeuhkolot, dan Gedebage.
Di 2010 penurunan muka tanah menjalar ke wilayah Kopo, Cibaduyut, dan Buah Batu yang mengindikasikan pengambilan air tanah secara masif. Ketika dulu pengeboran hanya mampu dijangkau oleh industri karena biaya yang besar, kini masyarakat sudah mampu melakukan pengeboran secara mandiri.
Penurunan muka tanah pun tak terhindari. Pada periode tahun 2000 - 2012, Gumilar dkk (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Studi Pemantauan Penurunan Muka Tanah di Cekungan Bandung menyatakan, daerah Cimahi khususnya Leuwigajah, penurunan tanah dapat mencapai 14 cm per tahun, Gedebage mengalami penurunan sekitar 9 - 14 cm per tahun, dan di Dayeuhkolot dan Majalaya, penurunan sekitar 4 - 7 cm per tahun.
Pada periode tahun 2021 - 2022, rata-rata penurunan muka tanah di Kota Bandung dapat mencapai 0,070 meter per tahun. Hal tersebut diungkap oleh Muharam dan Sari pada penelitiannya tahun 2024. Angka penurunan naik dari 0,173 meter di 2021, menjadi 0,254 meter di 2022.
Muharam dan Sari dalam penelitian ini juga mengungkap bahwa angka penurunan muka tanah terbesar ditemukan di wilayah yang memiliki endapan tanah liat seperti di Gedebage, Rancasari, Buah Batu, Bandung Kidul, Bojongloa Kidul, Babakan Ciparay, Bandung Kulon, dan Regol. Pada wilayah-wilayah tersebut penurunan muka tanah rata-rata dapat mencapai sekitar 0,231 meter.
Baca Juga: Paradoks Kota Kembang: Saat Bandung Krisis Air Bersih
Ancaman Krisis Air Bersih di Bandung Raya karena Penurunan Tanah dan El Nino
Penurunan Muka Tanah dan Dampaknya
Heri menyebutkan penurunan muka tanah dan penurunan muka air tanah merupakan dua masalah yang saling berkaitan. Satu meter penurunan muka tanah sama dengan 20 meter penurunan muka air tanah. Diperlukan waktu puluhan tahun agar ruang air tanah dapat terisi kembali secara alami. Namun pengambilan kenyataannya pengambilan air tanah dilakukan terus-menerus.
Dampak penurunan muka tanah tidak hanya dirasakan di bawah permukaan, tetapi juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Heri menyebutkan permukaan tanah yang terus turun dapat menyebabkan bangunan menjadi retak, jalan akan menjadi lebih sering amblas, hingga memperbesar risiko banjir.
Heri menjelaskan, ketika permukaan tanah turun air hujan sulit mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dayeuhkolot dan Gedebage merupakan contoh mutakhir sebagai wilayah yang rentan tergenang ketika hujan deras karena penurunan muka tanah tersebut.
Penurunan muka tanah juga dapat menimbulkan kerugian dalam aspek ekonomi. Ketika bangunan rusak, maka diperlukan biasa perbaikan dan pemeliharaan yang besar. Dengan menggunakan metode khusus untuk menganalisis risiko bencana dan menghitung kerugian ekonomi yang ditimbulkan, Ludya dkk (2016) dalam penelitiannya memilih Baleendah sebagai wilayah penelitian. Hasilnya, kerugian diperkirakan dapat mencapai sekitar 633,19 miliar rupiah untuk isi bangunan dan sekitar 452,69 miliar rupiah untuk struktur bangunan.
Tetapi dari semua dampak yang paling mengkhawatirkan bagi Heri adalah ancaman krisis air. Penurunan muka tanah menjadi tanda bahwa cadangan air tanah terus menyusut. Jika pengambilan air tanah tidak dikendalikan dan tidak ada sumber air alternatif yang memadai, Bandung berisiko menghadapi krisis air bersih di masa mendatang. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah tidak banyak masyarakat yang sadar akan potensi krisis air bersih di Bandung Raya ini, bahkan beberapa kebijakan justru semakin memperparah potensi krisis air bersih.
Sejalan dengan analisa Heri, Tatas dan Rahayudin pada tahun 2010 meneliti kematian sumber air di Cekungan Bandung. Tatas dan Rahayudin menyatakan bahwa kondisi awal air tanah Cekungan Bandung berada di atas permukaan tanah. Setelah hampir 25 tahun, posisi muka air tanah terus mengalami penurunan hingga berada puluhan meter di bawah permukaan tanah.
Penelitian tersebut juga menyajikan data perbandingan muka air tanah tahun 1980 dan 2004 di beberapa Lokasi di Cekungan Bandung. Kota Cimahi, misalnya, pada 1980 muka air tanahnya masih berada di 15 meter di atas permukaan tanah. Namun pada 2004 muka air tanah telah turun hingga 86 meter di bawah permukaan tanah. Dayeuhkolot pada 1980 memiliki muka air tanah berada di 2 meter di atas permukaan tanah dan pada 2004 muka air tanah turun hingga 55 meter di bawah permukaan tanah.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


