Malam Bandung yang Makin Sepi, Para Pedagang Kuliner Tetap Bertahan
Marak pembegalan membuat sebagian pedagang kuliner malam di Saparua, Japati, dan Lengkong Kecil mengalami penurunan omzet dan mempersingkat waktu berjualan.
Penulis Adinda Putri S11 Agustus 2026
BandungBergerak - Merebaknya kasus pembegalan belakangan ini dikeluhkan para pedagang street food malam di Kota Bandung. Maraknya aksi begal dinilai turut memengaruhi kunjungan masyarakat ke lapak-lapak kuliner yang biasanya ramai hingga larut malam.
Berdasarkan penelusuran liputan media, sepanjang tahun ini tercatat lebih dari 20 kasus pembegalan di Bandung Raya. Dalam sejumlah kasus, pelaku tidak segan menggunakan senjata tajam dan melakukan kekerasan. Kondisi tersebut membuat sebagian warga khawatir beraktivitas pada malam hari.
Rosi, 57 tahun, pedagang ayam geprek dan es teler di Jalan Saparua, merasakan perubahan itu. Menurutnya, pukul 21.00 hingga 22.00 biasanya menjadi waktu paling ramai bagi pengunjung kuliner di Saparua. Namun, sejak pemberitaan mengenai pembegalan ramai diperbincangkan, pengunjung justru mulai berkurang pada jam tersebut.
Rosi baru sekitar dua bulan berjualan di Saparua. Ia mengatakan pendapatannya langsung turun ketika kasus pembegalan mulai marak.
“Hari pertama kita buka juga sekitar 700-800 (ribu rupiah) dapat. Kemarin dapat 100 ribu (rupiah),” tutur Rosi kepada BandungBergerak.
Pantauan BandungBergerak pada malam akhir pekan menunjukkan Jalan Saparua mulai ramai sekitar pukul 19.00. Muda-mudi berdatangan untuk menikmati kuliner malam atau menghabiskan waktu bersama. Sebagian pengunjung juga mampir ke lapak pedagang setelah berolahraga di Lapangan Saparua.
Meski masih ada pelanggan, sejumlah pedagang mengaku pendapatan mereka tidak lagi seperti biasanya. Sebagian bahkan hanya mampu memperoleh sekitar separuh dari pendapatan sebelumnya.
Ayie, 49 tahun, pedagang kopi keliling, mengatakan hal serupa. Pada hari biasa, omzetnya dapat mencapai Rp500 ribu hingga 600 ribu rupiah per hari. Setelah kawasan tersebut dianggap rawan begal, pendapatannya berkurang sekitar 200 ribu hingga 300 ribu rupiah.
“Omset harian paling minimalnya di hari-hari biasa itu sekitar 500 sampai 600 ribu (rupiah) sehari, kalau setelah red zone (rawan begal) itu untuk hari-hari biasa ada penurunan sekitar paling 200 ribu, 300 ribu,” tutur Ayie.
Kondisi tersebut juga berpengaruh pada jam operasional pedagang. Satpol PP mengimbau pedagang di Jalan Saparua untuk berjualan maksimal hingga pukul 23.00.
Namun, tidak semua pengunjung menilai situasi keamanan masih mengkhawatirkan. Bunga, 21 tahun, salah seorang pengunjung Saparua, merasa kondisi mulai cukup aman setelah sejumlah pelaku begal ditangkap. Sukma, yang juga berusia 21 tahun, menyampaikan pandangan serupa. Menurut mereka, kasus pembegalan mulai mereda setelah sejumlah pelaku diringkus.
Meski demikian, Tri, 22 tahun, menilai pembatasan jam berjualan bukan solusi untuk mengatasi persoalan begal.
“Itu bukan sebuah solusi. Bukan sebuah perlindungan. Itu mah, mereka (aparat) saja yang tidak mau cari mati,” tuturnya.
Menurut Tri, kasus kriminalitas di Bandung bukan persoalan baru. Ia melihat kasus-kasus kriminal kerap ramai diberitakan dalam suatu periode, kemudian kembali mereda.
Jika di Saparua para pedagang mendapat imbauan untuk membatasi jam berjualan, situasi berbeda terjadi di kawasan Japati dan Jalan Lengkong Kecil. Para pedagang di dua lokasi tersebut mengatakan tidak pernah mendapat imbauan serupa sejak kasus pembegalan mulai ramai.
Sepi di Jalan Japati
Pantauan BandungBergerak di sekitar Gasibu dan Jalan Dipatiukur pada pukul 21.00 menunjukkan jalanan tampak lengang, meski saat itu akhir pekan.
Kondisi tersebut dirasakan Rendi, 46 tahun, pedagang kue pukis di kawasan Jalan Japati. Menurutnya, polisi memang kerap berpatroli di sekitar kawasan tersebut. Namun, jumlah pengunjung tetap berkurang sehingga ia memilih menutup lapaknya lebih awal.
Sebelum kasus pembegalan marak, Rendi biasanya berjualan hingga pukul 01.00. Kini, ia memilih berhenti sekitar pukul 22.00.
“Kalau waktu dulu mah pendapatan kalau malam sih sampai 700, paling kecil 500 (ribu rupiah). Sekarang rata-rata pendapatan paling setengahnya, ada 300,” tuturnya.
Meski demikian, tidak semua pedagang mengubah jam operasional. Sebagian tetap berjualan hingga dini hari seperti biasa, sementara pedagang lainnya memilih tutup lebih awal seperti Rendi.
Anis, 50 tahun, pedagang pecel di kawasan yang sama, membenarkan bahwa pembeli sepi selama Juli. Namun, memasuki Agustus, menurutnya pengunjung mulai kembali ramai meski belum sepenuhnya seperti sebelumnya.
Berbeda dengan Saparua dan Japati yang banyak diisi lapak dengan tenda nonpermanen, street food di Jalan Lengkong Kecil berdampingan dengan deretan toko makanan permanen.
Hendriawan, 20 tahun, pedagang pisang keju di Jalan Lengkong Kecil, mengatakan kawasan tersebut pernah sangat ramai pada 2023. Jalan bahkan sempat ditutup karena banyaknya pengunjung. Namun, saat BandungBergerak mendatangi lokasi, jalan yang lebar itu tampak lancar dilalui kendaraan.
Menurut Hendriawan, pendapatannya sempat turun drastis selama dua minggu pertama ketika kasus pembegalan di Bandung mulai ramai. Setelah itu, kondisi perlahan membaik.
Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit turut memengaruhi maraknya aksi begal.
“Emang lagi susah uang (sepertinya). Jadi ngelemparin gitu ya, nyari uang soalnya susah ya, apa-apalah. Jadi sebisa-bisanya,” ucapnya.
Hendriawan juga mengaitkan penurunan aktivitas ekonomi yang ia rasakan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, bukan hanya pedagang, tetapi pekerja lain juga merasakan dampaknya.
“Pas ada MBG itu, jualan mulai berkurang. Kerja-kerja apa-apa di luar sekarang itu sampai (sejak) ada MBG, kurang,” lanjut Hendriawan.
Terlepas dari kondisi jalanan yang lebih sepi, para pedagang tetap harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka, berkurangnya pembeli bukan berarti kebutuhan hidup ikut berkurang.
Hendriawan sendiri memilih tetap berjualan apa pun kondisinya. Sebelum memiliki lapak sendiri di Lengkong Kecil, ia pernah bekerja sebagai sopir travel dan bekerja pada orang lain.
“Saya mah jualan, mau ada apa lagi, (tetap) jualan,” tutur Hendriawan.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


