• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: ‘Nugas’ di Kafe, Harga Kopi Selangit, dan Ilusi Hiperrealitas Jean Baudrillard

MAHASISWA BERSUARA: ‘Nugas’ di Kafe, Harga Kopi Selangit, dan Ilusi Hiperrealitas Jean Baudrillard

Kita terjebak dalam ilusi bahwa semakin mahal harga kopi yang kita seruput, semakin tinggi tingkat produktivitas yang kita hasilkan.

Angelique Leony Gabriella

Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi gaya hidup. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

13 Agustus 2026


BandungBergerak – Pernahkah kamu bangun pagi dengan niat untuk menyelesaikan tugas makalah, laporan praktikum, atau skripsi yang deadline-nya sudah di depan mata hingga membuat kamu kepikiran setiap hari? Tapi bukannya membuka laptop di meja belajar kamar kos, kamu malah berganti baju dan bersiap-siap, memanaskan kendaraan atau memesan ojek online, lalu menerjang kemacetan demi menuju sebuah coffee shop estetik dengan AC-nya yang dingin.

Sesampainya di sana, kamu memesan butterscotch sea salt latte seharga Rp40.000 beserta camilannya, yaitu butter croissant dengan harga Rp30.000. Jika dihitung-hitung, total harga makanan dan minuman tersebut sebanding dengan porsi makan siang empat kali di warteg.

Laptop dibuka, sebuah buku atau kertas-kertas ditata presisi di sebelah cangkir kopi, lalu difoto dan diunggah ke Instagram Story dengan caption bahasa Inggris atau dengan lagu yang mendukung vibes-nya.

Masalahnya, setelah ritual foto itu selesai, berapa persen tugas yang benar-benar terketik? Akankah tugas tersebut benar-benar selesai?

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Memeluk NPC Energy di Tengah Sejuknya Kota Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Topeng Digital, Anonimitas sebagai Barikade Terakhir Demokrasi
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Portofolio Menjadi Ukuran Keberhasilan Mahasiswa

Realitas Belajar 

Kebanyakan dari kita justru menghabiskan satu jam pertama untuk berburu tempat atau posisi yang nyaman dengan colokan listrik, satu jam memilih playlist Spotify agar vibes-nya mendukung dan membangkitkan semangat, dan dua jam berikutnya sibuk scroll TikTok, Instagram, dan X  karena koneksi Wi-Fi cafe ternyata tidak sekencang ekspektasi.

Kopi sudah habis, es batu juga sudah meleleh, dan tugas di layar laptop atau di kertas baru bertambah dua kalimat. Tapi anehnya, saat merapikan barang bawaan untuk pulang ke tempat kos, kita merasa sangat puas dan merasa telah menjadi manusia yang sangat produktif.

Kalau dipikir-pikir berulang kali, ini adalah sebuah keanehan yang masih dianut oleh banyak orang, khususnya mahasiswa. Mengapa perpustakaan kampus yang dingin, tenang, dan menyediakan ribuan referensi gratis justru tidak dipilih? Mengapa kafe dengan musik keras, ramai orang, dan harga konsumsi  yang terbilang mahal malah menjadi pilihan oleh mahasiswa?

Melihat hal ini, tentunya ada semacam pergeseran kultur di kalangan anak muda hari ini. Aktivitas nugas tidak lagi digambarkan sebagai proses berpikir atau pencarian ilmu, melainkan telah bergeser menjadi kegiatan untuk mencari suatu keindahan dan meningkatkan status sosial.

Ada perasaan gengsi yang tidak dapat dijelaskan ketika kita mengerjakan tugas di kamar kos yang berantakan. Sebaliknya, ada sebuah kepuasan tersendiri jika kita bisa mengetik di atas meja kafe dengan interior indah diikuti dengan alunan musik yang menenangkan dan membuat siapa pun betah berjam-jam di kafe tersebut.

Mengapa kita begitu rela merogoh dompet demi penderitaan berkedok produktivitas ini?

Seorang sosiolog dan filsuf asal Prancis, Jean Baudrillard, punya jawaban yang sangat pas untuk fenomena ini lewat teorinya tentang Hiperrealitas, Simulakra, dan Konsumsi Simbol.

Menurut Baudrillard, manusia modern dalam masyarakat konsumen tidak lagi membeli barang atau jasa berdasarkan nilai guna (fungsi asli) atau nilai tukar (harga ekonomis) semata. Kita mengonsumsi sesuatu karena nilai tanda atau nilai simbol yang melekat pada aktivitas tersebut.

​Kita pergi ke kafe sebenarnya bukan karena butuh tempat belajar. Kalau tujuannya murni mencari ketenangan untuk berpikir, meja di kamar kos atau perpustakaan jelas jauh lebih mendukung dan tidak merogoh kocek, alias gratis. Namun, kita memilih untuk membayar puluhan hingga ratusan ribu rupiah di meja kafe demi membeli simbol sebagai “anak muda yang sibuk, produktif, dan memiliki kualitas”.

​Di titik inilah konsep simulakra dan hiperrealitas dari Baudrillard bekerja dan menjelaskan semuanya. Simulakra adalah kondisi ketika salinan atau gambar buatan menggantikan kenyataan aslinya.

Realitas belajar yang sebenarnya, yang ditandai dengan membaca banyak referensi dan jurnal internasional, pusing memikirkan metodologi penelitian, berpikir keras, dan memutar otak untuk mengetik kalimat demi kalimat. Namun, pada akhirnya digantikan oleh hiperrealitas atau gambar buatan.

Gambar buatan itu diwujudkan dalam bentuk interior kafe yang estetik, cangkir kopi latte art, tatanan laptop yang indah, serta unggahan Instagram Story dengan tagar penanda lokasi.

Manipulasi Citra

​Secara psikologis, manipulasi citra ini memberikan jebakan dopamin instan atau hormon kebahagiaan yang memberikan kepuasaan dengan cepat. Ketika kita berhasil mengunggah foto yang menggambarkan kondisi sedang mengerjakan tugas di media sosial dan mendapat beberapa balasan atau likes dari teman-teman, otak kita menangkap sinyal bahwa kita telah melakukan pekerjaan besar. Kita merasa telah menjadi mahasiswa yang ambisius dan rajin.

Padahal, itu semua bukanlah realitas yang sebenarnya dan hal itu telah dimanipulasi. Otak kita sudah terlanjur merasa puas terlebih dahulu dari validasi-validasi tersebut, meskipun kenyataannya memperlihatkan dokumen di layar laptop atau kertas yang masih bersih melompong tanpa adanya sebuah kemajuan.

Kita terjebak dalam ilusi bahwa semakin mahal harga kopi yang kita seruput, semakin tinggi tingkat produktivitas yang kita hasilkan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: dompet semakin menipis, sementara beban akademis dan skripsi tetap menumpuk tak kunjung usai.

Tentu saja, tidak ada salahnya sesekali mencari suasana baru di coffee shop kalau dinding kamar kos sudah membuat kita jenuh. Tapi jika setiap kali mau nugas kamu harus membayar puluhan hingga ratusan ribu demi secangkir kopi mahal beserta camilan dan selembar foto Instagram, mungkin yang sedang kamu kejar sebenarnya bukan kelulusan, melainkan validasi sosial.

Jadi, buat kamu yang sekarang sedang membaca artikel ini di meja cafe disertai dengan dokumen tugas yang masih bersih melompong, ayo tutup dahulu media sosialmu, seruput kopinya, dan tulis paragraf pertama kamu sekarang juga. Sebelum tugas kamu benar-benar tuntas, jangan biarkan kopimu habis terlebih dahulu dan hanya meninggalkan sisa es yang sudah leleh.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//