• Liputan Khusus
  • KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Dengan Musik Menemani Petani

KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Dengan Musik Menemani Petani

Setelah konflik tanah meletus dan melukai warga, solidaritas mengalir untuk Sukajaya. Gelaran musik menjadi salah satu wadahnya.

Acara Sound of Solidarity (SoS) di Kampung Madhur, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu, 8 Agustus 2026. (Foto: Tim Redaksi BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam18 Agustus 2026


BandungBergerak - Hujan mulai turun setelah pemandu acara membuka perhelatan Sound of Solidarity (SoS), ajang solidaritas untuk petani di Kampung Madhur, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Warga dan para pedamping berteduh di sebuah tenda yang berdiri di samping kebun kopi milik salah satu petani.

Tiga hari sebelumnya, Kamis, 6 Agustus 2026, para petani Kampung Madhur terancam penggusuran oleh perusahaan yang mempersengketakan tanah garapan mereka, PT Prima Mustika Candra (PMC). Upaya mengambilalihan lahan ini diwarnai kekerasan, videonya beredar luas di media sosial.

Malam solidaritas itu digelar di lahan seluas setengah lapangan sepak bola. Di bawah suhu dingin pegunungan, anak-anak hingga orang dewasa berkumpul bersama.

Enam tenda berdiri dari kedua sisi lapangan, di antaranya: tenda jajanan, tenda perpustakaan Literakyat. Di tenda ini anak-anak menggambar atau membaca buku, mereka juga bisa membawa pulang buku yang dibagikan cuma-cuma.

Ada juga tenda sablon dengan bayarab seikhlasnya. Uang sablon dialokasikan untuk keperluan pendamping dan membantu kebutuhan selama konflik berlangsung.

Sekitar pukul 20.00 malam, hujan berhenti. Acara pertama ialah menonton film pendek dokumenter di layar samping panggung. Film tanpa judul berdurasi 14.16 menit ini menyuguhkan cerita perlawan warga yang menolak tanahnya digusur. Adegan di film menceritakan peristwia 6 Agustus tentang warga menjadi korban kekerasan, lalu cerita tentang para petani.

Dalam postingan Instagram Sukajaya Melawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar bentuk kepedulian saja, melainkan upaya untuk menguatkan semangat dan kondisi psikologis para petani yang selama berbulan-bulan menghadapi tekanan penggusuran.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian,” tulis mereka caption Instagram Sukajaya Melawan.

Firdaus Abstrak, salah satu penampil, menambahkan bahwa acara ini sebagai sikap, khususnya para seniman, untuk membela masyarakat rentan yang bakal tergusur ruang hidupnya.

“Ini bentuk nurani baik kita ajalah. Solidaritas kita aja terhadap warga gitu,” ujarnya, kepada  BandungBergerak.

Firdaus menilai, konflik Sukajaya bukan hal baru melainkan pola berulang yang kerap diciptakan oleh para pemilik modal. Konflik ini kerap membenturkan kelompok masyarakat secara horizontal.

“Ormas dibenturkan dengan masyarakat petani setempat yang akhirnya juga berdampak pada kekerasan, berdampak pada luka, trauma terhadap masyarakat yang jelas harus kita tentang dan kita harus lawan,” tegasnya.

Melalui konser musik Sound of Solidarity, Firdaus berharap pesan perjuangan ini dapat tersampaikan kepada masyarakat luas. Ia menginginkan acara tersebut tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan menjadi pemantik gerakan yang lebih besar.

“Semoga kawan-kawan juga bisa ikut serta membantu kita merawat kesadaran, merawat kebaikan, merawat fungsi kita sebagai manusia kepada manusia lainnya,” tutupnya.

Baca Juga: KABAR PERLAWANAN DARI SUKAJAYA: Turun-temurun Petani Merawat dan Mempertahankan Tanah Garapan

Cerita Warga

Di sela-sela pertunjukkan, masyarakat petani Sukajaya melakukan refleksi atas peristiwa yang mereka alami. Salah satunya Afifah Khairul Bariah. Ia menjelaskan, Kampung Madhur memliki ratusan varietas tumbuhan dan perkebunan yang dirawat oleh warga secara turun-temurun. Selain berkebun, warga juga menerapkan agroforesti sebagai bentuk merawat alam.

Afifah tak membayangkan jika warga tergusur oleh perusahaan, bagaimana dengan nasib alam yang selama ini dirawat? Menurutnya para petani secara rutin turut menjaga kelestarian alam Sukajaya. Selain merawat pohon dan kebun, warga juga menjaga mata air yang memberi mereka sumber kehidupan.

“Petani di sini tidak hanya mempertahankan tanah, tapi mereka mengelola tanah, mereka menjaga alam,” katanya.

Afifah merupakan petani generasi ketiga yang turut terdampak dari konflik lahan ini. Ia khawatir jika warga tergusur, yang bakal terdampak bukan hanya kampungnya saja, melainkan bakal merembet ke kampung lain.

“Dan ini sudah terbukti di Desa Tamansari ketika tanahnya diratakan setelah itu banjir,” tuturnya, melalui pengeras suara.

Desa Tamansari sendiri merupakan nama dari kacamatan sekaligus tetangga Desa Sukajaya. Afifah bercerita, saat upaya penggusuran terjadi, ia menyaksikan ratusan oragn dari pihak perusahaan mengintimidasi warga. Di sisi lain, warga yang mempertahankan ruang hidupnya kurang dari 50 orang, kebanyakan perempuan.

“Nah, perlu teman-teman tahu di kondisi seperti itu kita sudah tidak lagi takut mati. Siapa pun kita akan hadapi ketika mereka menghancurkan tanah ini, menghancurkan kehidupan ini,” tegas Afifah, dengan suara bergetar, diiringi sorakan dari warga dan pendamping.

***

 *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//