• Berita
  • Kelas Buruh RUMSI: Dari Catatan Belanja, Pekerja Kebersihan Unpad Menyusun Tuntutan

Kelas Buruh RUMSI: Dari Catatan Belanja, Pekerja Kebersihan Unpad Menyusun Tuntutan

Kelas Buruh RUMSI mempertemukan pekerja P3L Unpad untuk membaca kembali kondisi kerja, upah, dan kebutuhan sehari-hari. Mulai disusun menjadi tuntutan bersama.

Kelas Buruh di RUMSI, Jatinangor, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Sumber: Rumsijatinangor)

Penulis Femmi Trimartsyah 29 Agustus 2026


BandungBergerak - Di sebuah ruangan berbentuk persegi di Jatinangor, sedikitnya 20 pekerja duduk melingkar. Mereka datang mengikuti Kelas Buruh di RUMSI. Sesekali tawa pecah, senyum tersungging di antara percakapan. Namun di balik suasana yang cair itu, wajah-wajah lelah dan raut resah tetap sulit disembunyikan.

Salah satunya adalah Dede, petugas K3L di Universitas Padjadjaran (Unpad). Sejak awal Mei, ia rutin mengikuti Kelas Buruh. Bagi Dede, kelas ini bukan sekadar ruang untuk bertemu dan berbagi cerita dengan sesama pekerja. Ia datang untuk memahami dan memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja—hal-hal yang sebelumnya jarang ia pikirkan secara sadar.

Di kelas itu, Dede mulai mengenal hak-hak yang semestinya ia terima sebagai pekerja, termasuk soal upah yang layak dan sepadan dengan pekerjaan yang dilakukannya. Pengetahuan-pengetahuan sederhana itu perlahan membuatnya melihat kembali pengalaman kerjanya dengan cara berbeda.

Dengan kata lain, Kelas Buruh adalah ruang konsolidasi: tempat kesadaran kelas dibangun, organisasi pekerja diperkuat, dan langkah bersama disusun demi kehidupan yang lebih layak.

"Setelah ikut kelas buruh ini saya merasa terbantu, terus saya juga belajar banyak," ujarnya, kata Dede, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dede bukan setahun dua tahun kerja K3L Unpad di bidang kebersihan. Sudah 25 tahun! Sebagai salah satu pekerja dengan masa kerja terlama di lingkungan kampus, ia masih mengingat awal mula bekerja. Waktu itu KTP menjadi satu-satunya syarat untuk mendaftar. Honornya 50 ribu rupiah per bulan.

Bagi Dede, yang lulusan SMA, pekerjaan itu adalah berkah. Dari situ ia bisa menafkahi anak-anaknya. Tapi seiring waktu, rasa syukur itu mulai bercampur dengan keresahan. Dari 50 ribu rupiah, gajinya naik menjadi 500 ribu rupiah, lalu 1,6 juta rupiah. Angka itu terus bertambah, tapi menurutnya tidak pernah benar-benar bisa mengejar kebutuhan hidup yang juga terus naik.

"Makin ke sini saya rasa gaji yang saya dapat nggak sepadan sama pekerjaan saya," katanya.

Keresahan itu yang akhirnya membawa Dede dan rekan-rekannya bergabung dengan kegiatan rutin di Rumah Literasi Jatinangor atau yang lebih dikenal dengan sebutan RUMSI, mengikuti Kelas Buruh.

Sebulan lalu, Ibu Dede dan rekan-rekannya mendapat tugas dari RUMSI untuk mengisi buku konsumsi harian. Selama sebulan, mereka mencatat setiap pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Catatan tersebut kemudian dikumpulkan untuk melihat sejauh mana penghasilan mereka mampu memenuhi kebutuhan hidup. Dari data itu, RUMSI ingin menunjukkan kondisi ekonomi pekerja secara lebih nyata sekaligus menjadi dasar bagi tuntutan kenaikan upah yang akan diajukan kepada Unpad.

Baginya, buku konsumsi harian yang ia dan rekan-rekannya isi setiap hari bukan sekadar catatan belanja biasa. Buku itu adalah bukti bahwa pekerjaan yang ia lakukan selama 25 tahun terakhir seharusnya dihargai dengan gaji yang benar-benar sepadan.

Dari catatan pengeluaran yang mereka isi setiap hari, Dede berharap keresahan yang selama ini ia rasakan dapat terlihat lebih jelas. Catatan itu menjadi bukti yang bisa dibawa bersama rekan-rekannya untuk menyuarakan kebutuhan dan tuntutan mereka.

Sementara itu, Reihan, mahasiswa Unpad yang juga menjadi salah satu pengurus RUMSI, menjelaskan tujuan di balik tugas buku konsumsi harian bukan sekadar pelengkap, melainkan dasar dari tuntutan kenaikan gaji yang akan diajukan pekerja P3L Unpad ke kampus.

"Kita mau membuktikan bahwa pekerja-pekerja ini nggak asal nuntut gaji, tapi nyatanya mereka memang kesulitan dengan gaji yang diberikan," kata Reihan.

Menurutnya, catatan pengeluaran yang dikumpulkan para pekerja juga dapat menunjukkan kebutuhan lain yang selama ini mereka tanggung sendiri. Salah satunya biaya transportasi bulanan yang cukup besar dan dapat menjadi pertimbangan untuk mengusulkan fasilitas jemputan kerja. Namun, Reihan menilai persoalan upah tetap menjadi kebutuhan yang paling mendesak untuk dibenahi.

Buku ini nantinya akan dibawa langsung ke pihak Unpad sebagai bukti konkret, bukan sekadar tuntutan berdasarkan standar upah minimum kabupaten semata, melainkan gambaran nyata kondisi ekonomi pekerja yang menurut Reihan sudah semakin terhimpit.

Baca Juga: Kelas Liar #8: Kita Adalah Buruh
Membantah Buruh Bukan Alat politik: Kritik Terhadap Romantisisme

Belum Cukup Satu Suara

Kelas Buruh RUMSI menjadi wadah para pekerja untuk bersuara. Menurut Enis, salah satu pekerja P3L dan juga peserta Kelas Buruh, persoalan upah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuarakannya sendiri-sendiri. Ia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan keluhannya, tapi merasa suaranya tidak cukup didengar.

"Kalau cuma satu suara, mereka mau dengar?" katanya.

Enis mengatakan, kekuatan sebenarnya ada pada pekerja itu sendiri, asal mereka mau bersatu dan bersuara bersama-sama. Baginya, ini bukti bahwa hak pekerja tidak akan datang dengan sendirinya kalau tidak terus dipertanyakan dan diperjuangkan bersama.

Ia juga menyinggung peran mahasiswa yang menginisiasi kelas buruh ini, yang menurutnya bukan didorong kepentingan pribadi, melainkan niat mengajak pekerja untuk lebih memahami kondisi kerja mereka sendiri. Kelas ini hanya berlangsung seminggu sekali, tapi bagi Enis, pertemuan sesingkat itu sudah menjadi ruang penting untuk saling menguatkan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//