Bagaimana Polusi PLTU Cirebon Menyebar dan Apa Dampaknya bagi Warga?
Emisi atau polisi dari pembakaran batu bara dapat terbawa angin dan menyebar jauh dari cerobong.
Penulis Fitri Amanda 16 September 2026
BandungBergerak - Setiap kali batu bara dibakar untuk menghasilkan listrik, ada zat-zat lain yang ikut dilepaskan ke udara. Di PLTU Cirebon, emisi yang menjadi perhatian antara lain sulfur oksida yang berasal dari kandungan sulfur dalam batu bara dan nitrogen oksida yang terbentuk dari proses pembakaran pada suhu tinggi yang melibatkan nitrogen dari udara.
Persoalannya bukan hanya apa yang keluar dari cerobong, tetapi juga ke mana polutan tersebut bergerak setelah dilepaskan. Penelitian berjudul Air Pollution Simulation From Cirebon Power Plant Activity mencoba memodelkan pergerakan polutan dari aktivitas PLTU Cirebon. Hasil simulasi menunjukkan arah dan jarak penyebaran polutan dapat dipengaruhi oleh angin, suhu, kelembapan, dan hujan.
Dalam simulasi yang dilakukan Muhaimin, dkk. pada 2015 itu, satu cerobong Cirebon-1 berkapasitas 660 megawatt diperkirakan menghasilkan sulfur oksida dengan konsentrasi mencapai 36,89 mikrogram per meter kubik, sedangkan nitrogen oksida mencapai 31,25 mikrogram per meter kubik.
Pada saat penelitian dilakukan, Cirebon-2 masih berupa rencana. Karena itu, peneliti juga memperhitungkan skenario emisi dari dua unit PLTU. Dalam skenario tersebut, konsentrasi maksimum sulfur oksida diperkirakan mencapai 52,95 mikrogram per meter kubik, sedangkan nitrogen oksida mencapai 44,86 mikrogram per meter kubik.
Meski penelitian tersebut menunjukkan kadar zat yang diukur masih berada di bawah batas aman, polutan dari cerobong tidak selalu berhenti di sekitar PLTU. Polutan dapat terbawa angin dan turun ke permukaan tanah ketika hujan.
Hal ini membuat lokasi permukiman di sekitar pembangkit menjadi bagian dari gambaran penyebaran emisi. Beberapa desa pesisir seperti Waruduwur, Citemu, Kanci, Kanci Wetan, dan Kanci Kulon berada di sekitar PLTU.
Penelitian Air Poluution Simulation From Cirebon Power Plant Activity menghitung angin dominan bergerak dari barat daya ke timur laut dengan kecepatan rata-rata 1,91 meter per detik. Penelitian tersebut juga menghitung penyebaran polutan hingga 10 kilometer dari PLTU dan sekitar 1,5 kilometer ke arah samping dari titik cerobong.
Gambaran mengenai jangkauan polutan yang lebih luas juga muncul dalam laporan Toxic Twenty. Laporan tersebut menghitung penyebaran polutan PM2.5 dari PLTU Cirebon-1 dan Cirebon-2. Peta sebarannya menunjukkan polutan dapat mencapai kawasan seperti Bandung, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta.
Jejak Polutan di Sekitar PLTU
Penelitian lain mencoba melihat perubahan kualitas udara di sekitar PLTU dengan membandingkan citra satelit tahun 2004 dan 2019. Penelitian yang dilakukan Moh. Dede pada tahun 2020 pada 2020 itu menunjukkan bahwa tidak semua jenis polutan mengalami peningkatan.
Dalam jarak dua kilometer dari PLTU, kadar karbon monoksida meningkat rata-rata 1,25 milligram per liter pada 2019. Sementara itu, beberapa jenis polutan lain justru berkurang. Peneliti menyebutkan udara yang lembap dan suhu yang tinggi dapat menjadi salah satu kemungkinan pemicu partikel-partikel polutan lebih cepat turun dan menempel di permukaan.
“Lokasi PLTU yang dikelilingi oleh lahan pertanian produktif dikhawatirkan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman, karena peningkatan CO (karbon monoksida) berpotensi mengganggu fiksasi nitrogen oleh bakteri perakaran dan bila teroksidasi juga dapat menjadi material penyebab hujan asam,” tulis peneliti dalam penelitian yang berjudul Estimasi Perubahan Kualitas Udara Berbasis Citra Satelit Penginderaan Jauh di Sekitar PLTU Cirebon.
Jejak aktivitas pembangkit juga tidak hanya dibicarakan dalam konteks udara. Di wilayah pesisir, perhatian lain muncul dari pembuangan limbah panas yang berasal dari sistem pendingin pembangkit.
Panas yang Dilepaskan ke Laut
Dalam penelitian berjudul Polemik PLTU dan Kebijakan Lingkungan: tantangan Administrasi dalam Pengambilan Keputusan Pembangunan di Pesisir Cirebon, dijelaskan bahwa pembuangan air panas dapat memengaruhi kualitas air dan mengganggu kehidupan biota laut.
Penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2026 itu menyebutkan meski peningkatan suhu air laut relatif kecil secara kuantitatif, dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati dan produktivitas perikanan di perairan sekitar PLTU.
Temuan penelitian tersebut berkelindan dengan pengalaman warga yang menggantungkan kehidupan dari perairan pesisir. Pada Agustus 2026, BandungBergerak BandungBergerak juga melaporkan keluhan warga pesisir mengenai perubahan warna air laut dan semakin sulitnya menemukan rajungan di dekat pantai.
Perubahan juga dirasakan pembudidaya kerang hijau di perairan Waruduwur hingga Mundu. Bibit kerang yang mulai tumbuh kembali rontok dan terlepas dari tali budidaya. Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar lima tahun terakhir.
“Sekarang air lautnya berubah warna. Rajungannya memang tidak langsung mati massal, tapi limbah itu membuat rajungan pinggiran habis, jumlahnya berkurang drastis. Habitat alaminya rusak,” ungkap Daryono, salah satu nelayan di Waruduwur.
Keluhan warga tersebut memberikan gambaran lain mengenai dampak yang dirasakan di sekitar PLTU. Namun, ketika berbicara mengenai kesehatan manusia, hubungan antara paparan polusi dan dampak kesehatan membutuhkan pembacaan berdasarkan data dan metode penelitian masing-masing.
Baca Juga: Tiga PLTU di Jawa Barat Masuk Daftar Paling Berisiko
Ironi Co-Firing Biomassa PLTU Batu Bara, Transisi Energi yang Membebani Lingkungan Hidup dan Warga
Dampak ke Kesehatan Warga
Dalam laporan Toxic Twenty, dampak polusi udara terhadap kesehatan warga dihitung berdasarkan emisi dari PLTU Cirebon-1 dan Cirebon-2. Laporan tersebut memperkirakan emisi kedua PLTU berkaitan dengan 1.109 kematian orang dewasa dan empat kematian anak di bawah lima tahun setiap tahunnya.
Perhitungan tersebut mencakup beberapa penyakit seperti stroke, jantung, gangguan pernapasan, penyakit paru-paru, kanker paru-paru, dan diabetes. Laporan yang sama juga menyebutkan perkiraan 1.075 kunjungan ke IGD karena asma dan 3.503 kasus baru asma setiap tahun. Pada bayi, diperkirakan ada 528 kelahiran prematur dan 346 bayi lahir dengan berat badan rendah.
Di tingkat lokal, laporan laporan independen.id menyebutkan data kesehatan dari Puskesmas Mundu menunjukkan terdapat 3.562 pasien ISPA dan 10.698 kasus nasofaringitis akut sepanjang 2019–2022.
Sementara itu, laporan BandungBergerak menyebutkan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menerima laporan rutin dari puskesmas setiap bulannya. ISPA dan pneumonia balita secara konsisten masuk ke daftar penyakit terbanyak di 10 kecamatan dengan kasus tertinggi, yang mayoritas berada di jalur Pantura.
Namun, data penyakit tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh aktivitas PLTU. Ada berbagai sumber paparan lain di kawasan tersebut, mulai dari kepadatan penduduk hingga aktivitas transportasi dan industri.
BandungBergerak melaporkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni menyebut wilayah tersebut memang memiliki karakter berlapis, yaitu padat penduduk, jalur transportasi kendaraan berat, serta aktivitas industri dan pelabuhan yang berhimpitan, sehingga sulit memisahkan mana yang murni akibat PLTU.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


