Pak Koerni, Guru yang Mengajari Saya bahwa Hukum Tidak Seharusnya Jauh dari Kehidupan
Mengenang sosok mendiang Koerniatmanto Soetoprawiro, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung yang wafat 2 September 2026.

Ignatius Bintang Bala Surya
Alumni Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
26 September 2026
BandungBergerak – Saya sebenarnya sudah berimajinasi tentang pertemuan saya dengan Pak Koerni setelah wisuda.
Tanggal 4 September 2026 saya akan wisuda. Dalam imajinasi saya, setelah segala urusan selesai, saya akan datang ke ruangannya. Mungkin beliau akan melihat saya lalu bertanya seperti biasanya, “Piye le? Wis rampung?” Saya akan menjawab bahwa semuanya sudah selesai. Lalu mungkin kami akan mengobrol sebentar, entah soal karier, soal kampus, atau soal apa saja yang tiba-tiba muncul dalam percakapan.
Tetapi dua hari sebelum wisuda itu, sekitar pukul sepuluh pagi, saya mendapat kabar dari dosen pembimbing saya, bahwa Pak Koerni meninggal dunia. Beliau menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 09.45. Di situ saya baru sadar, ternyata tidak semua hal yang sudah kita imajinasikan akan terjadi.
Nama lengkapnya Ancelyo Sebastianus Koerniatmanto Soetoprawiro. Di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (FH Unpar), hampir semua orang mengenalnya sebagai Prof. Koerniatmanto Soetoprawiro, S.H., M.H. Bagi saya, beliau adalah Pak Koerni, karena beliau tidak nyaman ketika seseorang memanggilnya dengan sebutan “Prof”.
Saya pertama kali mengenalnya sekitar pertengahan 2022. Waktu itu beliau adalah dosen Hukum Tata Negara saya. Tidak ada peristiwa besar yang mengawali perkenalan kami. Hanya percakapan ringan selepas kelas. Saya masih ingat, kami sedang membicarakan partai politik sebagai salah satu infrastruktur politik dalam negara. Dari pembicaraan yang awalnya biasa saja, Pak Koerni kemudian bercerita tentang pandangan politiknya dengan gaya yang sangat khas: terus terang, tanpa banyak basa-basi, dan sesekali membuat saya tertawa.
Begitulah saya mulai mengenal beliau. Tidak lama kemudian kami bertukar nomor WhatsApp. Sejak saat itu ada satu kebiasaan yang tidak pernah saya lupakan: hampir setiap malam, bahkan kadang sudah masuk dini hari, Pak Koerni mengirimkan doa singkat. Bukan paragraf panjang. Kadang hanya beberapa kata. Tetapi doa-doa pendek itu datang berulang kali, seolah mengingatkan bahwa di tengah kesibukan seorang guru besar, ia masih menyisakan sedikit ruang untuk berdoa.
Entah karena kebetulan atau bukan, doa-doa singkat itu malah membuat saya lumayan rajin untuk gereja. Setidaknya, setiap kali melihat pesan dari Pak Koerni, saya seperti diingatkan lagi untuk tidak hanya menerima doa, tetapi juga berusaha datang dan berdoa.
Sepanjang pengalaman saya, saya tidak pernah melihat beliau meledak-ledak kepada mahasiswa. Cara mengajarnya justru penuh semangat. Materi disampaikan dengan lugas, kadang serius, kadang diselingi cerita, dan sesekali masuk ke pendidikan politik. Ada banyak hal yang menurut saya khas Pak Koerni, termasuk caranya membawa dirinya sendiri ke dalam kelas.
Beliau sering bercerita tentang keluarganya. Saya masih ingat wallpaper laptop yang dipajangnya. Di situ ada foto Pak Koerni bersama istrinya dan kedua anaknya. Dari hal sesederhana itu saya melihat sesuatu yang mungkin tidak selalu kelihatan ketika seseorang berdiri di depan kelas sebagai profesor, beliau adalah orang yang sangat mencintai keluarganya.
Ia juga punya aturan ujian yang cukup berbeda dengan kebanyakan mata kuliah lain. Ketika mata kuliah lain meminta mahasiswa menutup buku, Pak Koerni justru memperbolehkan kami membuka buku saat ujian. Bagi sebagian mahasiswa, mungkin itu dianggap sebagai kemudahan. Bahkan mungkin membuat sebagian orang menganggap mata kuliah yang diampunya tidak terlalu sulit. Tetapi saya kemudian berpikir, mungkin memang bukan hafalan yang paling ingin diuji oleh Pak Koerni.
Baca Juga: Bahasa Hukum dan Titik Balik Sebuah Keadilan
Hukum yang Merisak Pesta
Negara Hukum dan Senjata Kekuasaan
Di Luar Ruang Kelas
Karena merasa cocok dengan cara berpikirnya, saya kemudian beberapa kali meminta beliau mengisi acara pelatihan yang pernah saya buat selama 2023 sampai 2024. Tiga kali beliau datang. Tidak pernah sekalipun beliau meminta honor sebagai narasumber. Permintaannya hanya satu. “Bapak sekarang gampang masuk angin, le. Jadi jemput ke rumah, ya.” Saya iyakan. Setiap kali datang menjemput, saya berusaha menemani beliau selama perjalanan. Dari situlah saya mengenal Pak Koerni dalam versi yang berbeda dari yang saya kenal di ruang kelas.
Kami berbicara tentang banyak hal. Kadang tentang buku yang sedang beliau tulis. Kadang tentang kehidupan sebagai guru besar. Kadang tentang dinamika kampus. Kadang tentang makanan enak di Bandung. Kadang juga tentang iman dan kebiasaannya sebagai seorang Katolik. Tidak ada kurikulum untuk obrolan semacam itu. Kami hanya berada di dalam mobil, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, sementara percakapan mengalir begitu saja. Mungkin justru dalam perjalanan-perjalanan pendek itu saya lebih banyak mengenal Pak Koerni sebagai manusia.
Menjelang akhir semester genap 2025, kami kembali bertemu dalam agenda kampus. Nama Pak Koerni tercantum sebagai salah satu dosen penguji seminar proposal skripsi saya. Di salah satu kesempatan, beliau bercerita bahwa sekarang punya “dua istri”. Saya tentu saja kaget. Dalam kepala saya waktu itu: “Mana mungkin profesor berusia tujuh puluhan ini menikah lagi?”
Ternyata saya yang salah tangkap. “Istri tua” adalah Fakultas Hukum. “Istri muda” adalah Fakultas Vokasi. Beliau memang kemudian dipercaya menjadi kaprodi di fakultas vokasi. Saya tertawa waktu itu. Dan sampai sekarang, setiap mengingatnya saya tetap merasa bahwa kalimat itu sangat Pak Koerni.
Pada saat seminar proposal, ada satu hal lain yang saya ingat. Pak Koerni cukup tertarik ketika saya menjelaskan penelitian saya mengenai masyarakat Sunda, kepercayaan Sunda Wiwitan, Masyarakat AKUR Cigugur, dan Kampung Adat Cireundeu. Saya tidak tahu apakah saat itu beliau melihat sesuatu dalam penelitian saya atau sekadar tertarik karena memang bidangnya bersinggungan dengan hukum dan masyarakat. Tetapi saya senang. Ada rasa seperti sedang diuji sekaligus didengarkan oleh seorang guru yang memahami bahwa hukum tidak pernah benar-benar berdiri sendirian.
Beberapa bulan kemudian, saya justru semakin memahami mengapa Pak Koerni mengajar mata kuliah yang pada pandangan pertama terasa cukup jauh dari Hukum Tata Negara. Di semester ganjil 2025, beliau mengajar saya Hukum Perikanan dan Hukum Pertanian. Awalnya saya heran. Mengapa seorang akademisi yang saya kenal melalui Hukum Tata Negara justru mengajar pertanian dan perikanan? Kemudian saya membaca cerita tentang perjalanan beliau, dan semuanya terasa lebih masuk akal.
Saya ingat, beliau pernah mengatakan bahwa dirinya pada awalnya sebenarnya setengah hati belajar hukum. Perjalanan akademiknya cukup panjang. Beliau menyelesaikan studi S1 di FH Unpar dalam tujuh tahun dan melanjutkan S2 di FH Universitas Padjadjaran selama empat tahun. Pada masa awal, beliau bahkan menganggap hukum hanya bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki uang. Pandangan itu kemudian berubah. Setelah menempuh pendidikan doktoral di FH Universitas Airlangga, beliau justru menemukan bahwa hukum dapat menjadi jalan untuk membantu orang-orang yang miskin dan tidak berdaya.
Mungkin di situlah saya kemudian memahami kenapa pertanian menjadi penting bagi Pak Koerni. Dalam pidato ilmiahnya ketika dikukuhkan sebagai guru besar, beliau berbicara tentang “Hukum bagi Si Miskin: Kasus Hukum Pertanian”.Keadilan sosial bukan sekadar istilah dalam buku. Bagi beliau, itu berkaitan dengan petani, kelompok marjinal, hak-hak ekonomi, dan kesejahteraan mereka.
Obituari tentang beliau bahkan memakai istilah “rela terjun ke serba kering” untuk menggambarkan jalan tersebut. Bagi sebagian orang, mungkin pertanian dan perikanan memang terlihat seperti wilayah yang kering. Tidak sepopuler bidang hukum lain. Tidak selalu menjadi pusat perhatian mahasiswa. Tetapi Pak Koerni justru masuk ke sana. Dan di sana ia melihat manusia.
Ada satu kata dari Pak Koerni yang sampai sekarang masih bisa saya dengar nadanya. “Mangga.” Itu adalah jawaban beliau setiap kali ada mahasiswa terlambat dan mengetuk pintu kelas. Jam berapa pun. Selama mahasiswa itu datang, pintu tetap terbuka. Mungkin alumni dan mahasiswa FH Unpar yang pernah diajar beliau akan tahu persis bagaimana nada “mangga” itu diucapkan.
Sederhana. Tetapi anehnya saya mengingatnya.
Pada 2025, saya sendiri sedang berada dalam masa yang tidak mudah. Saya kehilangan sosok Ibu Wali. Dalam kondisi itu, saya banyak bercerita kepada Pak Koerni. Pernah selepas kelas, percakapan kami berlanjut sampai ke lift. Di sana beliau kemudian bercerita tentang salah satu momen kehilangan terbesar dalam hidupnya: anaknya, Mas Hari, yang meninggal pada 2012 dalam sebuah insiden penembakan di rumahnya.
Saya mendengarkan. Beliau bercerita bahwa awalnya ia juga kesulitan untuk menerima kehilangan itu. Sampai pada suatu kesempatan, beliau mendapat penguatan dari seorang biarawati, begini kalau tidak salah: “Jika ada orang yang meninggal, jangan sedih, karena Tuhan mengambilnya untuk menghiasi surga.”
Kalimat itu melekat pada dirinya. Sejak saat itu, Pak Koerni tidak pernah meninggalkan doa Rosario setiap hari. Barangkali sekarang saya baru mengerti kenapa doa-doa pendek itu selalu datang ke WhatsApp saya pada malam hari.
Ia tidak hanya mengirimkan doa. Ia sedang menjalankan kebiasaannya untuk berdoa bagi orang lain. Dan tanpa saya sadari, doa-doa itu juga menguatkan saya untuk terus melanjutkan hidup.
Kemudian tibalah hari sidang skripsi saya. Nama Pak Koerni kembali ada di jajaran dosen penguji. Saya semula tidak menyangka pertanyaan-pertanyaan teoritis justru datang cukup banyak dari beliau. Salah satunya mengenai zelfbestuur, atau masyarakat swapraja.
Saya panik. Dan saya memang tidak mempersiapkan bagian itu dengan cukup baik. Singkat cerita, saya “dihabisi”. Ada beberapa hal mendasar yang menurut beliau seharusnya saya ketahui sebagai mahasiswa hukum tetapi justru tidak saya kuasai.
Waktu itu saya kesal kepada diri sendiri. Sekarang saya justru mengingatnya sambil tersenyum. Mungkin memang begitu cara seorang guru menyayangi muridnya: tidak selalu dengan membenarkan. Kadang dengan membuat murid sadar bahwa ada sesuatu yang belum ia mengerti.
Belum selesai urusan sidang, keesokan harinya saya mendapat masalah baru. Saya salah membaca jadwal ujian Hukum Perikanan. Seharusnya datang pukul delapan pagi. Saya datang pukul sepuluh. Saya bahkan sempat berdebat dengan orang yang duduk di kursi saya karena mengira orang itu salah tempat. Ternyata saya yang salah. Saya tidak punya alasan untuk mengelak. Ini murni kesalahan saya sendiri. Akhirnya saya menghubungi Pak Koerni dan menceritakan kejadian tersebut.
Beliau hanya menjawab dengan mengirim satu stiker karikatur orang kaget, bertuliskan: “Astapiruloh.”
Satu stiker. Tetapi saya tahu persis bagaimana seharusnya nada suara itu jika diucapkan langsung. Setelah itu saya pernah berjanji kepada diri sendiri akan memperbaiki nilai Hukum Perikanan. Tetapi janji itu tidak segera saya tunaikan.
Hari berganti minggu. Minggu menjadi bulan. Saya sudah semakin jarang bertemu Pak Koerni secara langsung. Namun doa-doa pendek itu masih datang. Kadang saya sedang sibuk. Kadang saya baru membacanya beberapa jam kemudian. Tetapi selalu ada.
Pada masa itu beliau juga sempat bercerita tentang Lambang Babar Purnomo, yang ternyata merupakan teman seangkatannya ketika di De Britto. Ia adalah seorang arkeolog yang kemudian dibunuh oleh rezim pada masa itu. Saya tidak selalu tahu harus menjawab apa ketika Pak Koerni bercerita tentang hal-hal seperti itu. Saya lebih banyak mendengar.
Menjelang akhir, beliau sempat bertanya tentang rencana karier saya. “Arep dadi opo, le?” Saya menjawab apa adanya tentang apa yang ingin saya kejar setelah lulus. Saya tidak menyangka, percakapan pendek itu akan menjadi salah satu percakapan terakhir kami.
Seorang teman dekat saya yang juga mendapat bimbingan dari Pak Koerni sempat mendapat semacam sinyal lebih dulu. Beberapa kali jadwal bimbingannya dibatalkan oleh Pak Koerni karena, katanya, jantungnya sedang rewel. Waktu itu kami tentu tidak pernah mengira bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi semacam pertanda.
Saya sendiri tahu kesehatan Pak Koerni memang sudah tidak sekuat dulu. Pada 2024 beliau sempat terkena stroke, ketika mengajar mata kuliah Hukum Pertanian dan Perikanan pun Pak Koerni beberapa kali mengajar menggunakan jaket, shawl, dan iket kepala Sunda, supaya tidak kedinginan karena sedang tidak enak badan katanya. Memasuki 2026, beliau beberapa kali masuk rumah sakit. Bahkan dalam dua minggu terakhir sebelum kepergiannya, beliau bolak-balik rumah sakit. Sabtu beliau dinyatakan keluar dari rumah sakit, tetapi Senin harus masuk rumah sakit lagi.
Saya tidak ikut yudisium. Wisuda sudah di depan mata. Saya masih membayangkan setelah wisuda nanti saya akan main ke ruangan Pak Koerni. Saya akan bercerita bahwa semuanya sudah selesai. Saya membayangkan beliau bertanya lagi tentang hidup saya, tentang karier, atau mungkin sekadar soal apa yang sedang saya kerjakan.
Ternyata pagi 2 September 2026 itu semuanya berubah. Pak Koerni meninggal. Saya yakin Pak Koerni telah berusaha sebisa mungkin sembuh dari sakitnya, tetapi memang jantungnya sedang rewel. Menurut kabar yang saya terima saat itu, kondisi jantung itulah yang akhirnya membuat beliau pergi. Saya kemudian membantu sebisanya di rumah duka di Nana Rohana. Sesekali saya hanya bisa menangis sendiri. Yang paling sulit diterima adalah waktunya. Kenapa sekarang? Kenapa hanya dua hari sebelum wisuda? Dan yang lebih menyakitkan lagi, pemakaman Pak Koerni pada 4 September 2026 bertepatan dengan hari wisuda anak-anak Fakultas Hukum Unpar. Hari yang seharusnya menjadi awal bagi kami yang lulus justru menjadi hari ketika kami kehilangan salah satu guru kami. Pada hari itu saya berdiri dengan toga, sementara beliau sudah lebih dahulu pergi.
Yang Tertinggal Setelah Kepergiannya
Belakangan saya teringat satu hal yang hampir selalu muncul dalam slide presentasi Pak Koerni setiap kali semester berakhir dan kami akan menghadapi ujian akhir.
Sebuah adagium: “Law is love of life, Love is law of life.”
Beliau pernah menjelaskan bahwa ia menggunakan bahasa Inggris bukan untuk terlihat keren. Ada sesuatu yang menurutnya lebih nyambung ketika kalimat itu diucapkan dalam bahasa tersebut. Saya tidak tahu apakah saya sudah benar-benar memahami maksudnya. Mungkin saya masih terlalu muda. Mungkin saya masih terlalu sibuk menghafalkan pasal, mengejar nilai, mempersiapkan sidang, dan memikirkan pekerjaan setelah lulus. Tetapi setelah beliau pergi, kalimat itu terasa berbeda.
Barangkali memang hukum tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari kehidupan. Sebab apa arti hukum kalau ia tidak dipakai untuk menjaga kehidupan manusia? Apa arti seorang sarjana hukum kalau ia hanya pandai berbicara tentang aturan tetapi tidak pernah melihat orang-orang yang hidupnya disentuh oleh aturan itu?
Dan mungkin itu juga alasan Pak Koerni rela masuk ke wilayah yang “serba kering”. Ia memilih mendekati pertanian, petani, dan sektor-sektor yang menurutnya membutuhkan perlindungan hukum. Bukan karena wilayah itu mudah, tetapi justru karena di sanalah hukum diuji oleh kehidupan yang nyata.
Itulah perjalanan yang mungkin dulu tidak saya pahami ketika duduk di kelasnya. Sekarang, setelah beliau tidak ada, saya mulai melihatnya sedikit demi sedikit.
Saya tidak ingin menulis Pak Koerni hanya sebagai seorang guru besar yang telah menyelesaikan perjalanan akademiknya. Ia memang seorang profesor. Ia memang seorang akademisi yang punya perjalanan panjang. Ia pernah mengajar, menulis, memimpin, menguji, membimbing, dan membentuk banyak orang. Tetapi bagi saya, ia adalah dosen yang membuka pintu ketika mahasiswanya terlambat dan berkata, “Mangga”. Ia adalah dosen yang memperbolehkan kami membuka buku saat ujian. Ia adalah guru besar yang meminta saya menjemputnya karena takut masuk angin. Ia adalah orang tua yang menceritakan kehilangan anaknya kepada seorang mahasiswa yang sedang berduka. Ia adalah seseorang yang masih sempat bertanya, “Arep dadi opo, le?” Dan ia adalah orang yang hampir setiap malam mengirimkan doa. Mungkin itulah sebabnya kepergiannya terasa tidak sederhana.
Sebab yang hilang bukan hanya seorang profesor. Yang hilang adalah seseorang yang selama beberapa tahun terakhir diam-diam hadir dalam rutinitas hidup saya. Dalam perjalanan menuju acara. Dalam ruang kelas. Dalam percakapan selepas kuliah. Dalam notifikasi WhatsApp pada malam hari. Dalam teguran ketika saya tidak memahami zelfbestuur. Dalam stiker “astapiruloh” ketika saya salah membaca jadwal ujian. Dan dalam sebuah pertanyaan sederhana tentang masa depan saya.
Ada orang-orang yang kehadirannya baru terasa besar setelah mereka tidak ada. Mungkin Pak Koerni adalah salah satunya. Saya tidak tahu nanti akan menjadi apa seperti yang pernah saya ceritakan kepadanya. Saya juga belum tahu apakah semua rencana karier yang pernah saya ceritakan akan benar-benar terjadi.
Tetapi saya tahu satu hal.
Kelak, ketika saya masuk ke ruang kelas, membaca sebuah putusan, membuka buku hukum, atau berhadapan dengan seseorang yang sedang membutuhkan bantuan, mungkin saya akan teringat pada seorang profesor yang dulu mengajari saya bahwa hukum tidak seharusnya jauh dari kehidupan. Saya juga mungkin akan teringat pada doa-doa pendek yang dikirim menjelang tidur.
Dan mungkin, sesekali saya masih akan membayangkan masuk ke ruangannya setelah wisuda, lalu mendengar suara yang sudah saya kenal bertahun-tahun: “Piye, les, wis rampung?”
Kali ini saya tidak mungkin lagi menjawabnya. Tetapi mungkin tugas seorang murid memang bukan untuk terus mencari gurunya. Lebih jauh dari itu, membawa apa yang pernah diajarkan gurunya ke jalan yang lebih jauh.
Ada satu doa terakhir dari Pak Koerni yang beliau kirim sebelum akhirnya berpulang, doanya seperti ini: “Arahkanlah perjuangan hidup kami demi mereka yang miskin, tereliminasi, dan menderita ya Tuhan, sebab keadilan (sosial) baru terealisasi saat mereka memperoleh hak mereka dan kesejahteraan hidup. Amin”
Pak Koerni sekarang punya tugas baru untuk menghiasi surga. Selamat jalan, Pak Koerni. Cintamu kini dan nanti.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


