Bandung dan Krisis Air Bersih: Warga Mencari Jalan Keluar Sendiri
Dari sumur sibel hingga daur ulang air, berbagai cara ditempuh warga Bandung ketika pasokan air tak selalu tersedia.
Penulis Tim Redaksi1 Oktober 2026
BandungBergerak - Angga Marditama pernah putus asa menghadapi krisis air bersih di rumahnya di kawasan Antapani, Bandung. Air Perumda Tirtawening, kini Perumda Tirtawening, tidak lancar mengalir. Berbagai keluhan sudah disampaikan. Namun tidak membuahkan hasil yang ia harapkan.
“Kalau musim kemarau itu air PDAM jarang ngocor. Kalau pun ngocor biasanya tengah malam dan hanya dua sampai tiga jam saja,” tutur Angga, Jumat, 19 Juni 2026.
Angga menetap di Antapani sejak tahun 2014 hingga 2024. Di tengah krisis tersebut, pria 42 tahun ini akhirnya memilih membuat sumur bor sendiri dengan biaya puluhan juta rupiah.
Keluhan serupa dialami Pipih Triana. Ceritanya terjadi pada musim kemarau pertengahan tahun 2025. Perempuan berumur 56 tahun itu terpaksa harus mengambil air di keran umum di RT 1 RW 5, Antapani Kaler, Kota Bandung.
Waktu itu, selama sepekan lebih, pipa dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtawening tidak mengalir ke rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan air bagi empat anaknya, Pipih harus membawa gerobak berisi jerigen ke fasilitas sumur sibel komunal. Jaraknya hanya belasan meter dari rumah Pipih.
Pipih berlangganan Perumda Tirtawening sejak tahun 1980an. Selama itu pasokan air sering kali terjadi. Terlebih ketika musim kemarau tiba. Menurutnya, kemarau tahun 2025 menjadi yang terparah. Banyak tetangganya mengalami hal serupa.
Saat ini, penyaluran air di wilayah tempat tinggalnya dilakukan dengan sistem giliran dua hari sekali. Akibat pembagian jadwal tersebut, air hanya mengalir dalam waktu terbatas. Pipih mendapat jadwal aliran mulai pukul 23.00 hingga 04.00.
“Kalau sudah lewat jam 04.00, sudah enggak ngocor airnya,” ujar Pipih saat ditemui pada Jumat, 26 Juni 2026.
Kondisi tersebut memaksanya begadang untuk menampung air yang baru mengalir tengah malam. Selain menggunakan toren berkapasitas 350 liter di lantai dua rumahnya, Pipih menampung air menggunakan sekitar 10 galon bekas air mineral dan ember bekas cat. Dengan kondisi itu, keluarganya harus menghemat penggunaan air.
Jika aliran benar-benar berhenti, Pipih meminta air dari fasilitas sumur bor yang tersedia di kampungnya. Jika air dari sibel juga mengalir sedikit, ia terpaksa membeli air. Untuk 15 jerigen, ia mengeluarkan uang 50.000 rupiah kepada saudaranya yang berjualan air bersih.
Namun Pipih tetap membayar tagihan Perumda Tirtawening setiap bulan sekitar 60.000 hingga 70.000 rupiah. Rata-rata penggunaan airnya sekitar 15 meter kubik per bulan.
Warga lainnya yang mengeluhkan layanan air bersih dari Perumda Tirtawening adalah Dedy Ferdian, asal Babakan Sari, Kiaracondong. Ia mengaku sering menyampaikan keluhan ke petugas. Namun respons yang diterimanya selalu sama, tanpa ada perubahan atau perbaikan yang jelas. Pada akrhirnya, Dedy kerap pasrah setiap air di rumahnya tidak mengocor.
“Karena sudah capek,” keluhnya kepada BandungBergerak, Jumat, 26 Juni 2026.
Sementara itu, pihak Perumda Tirtawening berasalan bahwa pembatasan pengaliran air terjadi karena keterbatasan sumber air baku. Sari Kartini, Sekretaris Perusahaan Perumda Tirtawening, menegaskan bahwa pihaknya bukan perusahaan yang menghasilkan air, melainkan operator yang mengelola dan mendistribusikan air baku yang tersedia saja.
“Jadi Perumda itu sebagai operator, apabila sumber airnya tidak ada, ngolah kami apa?” jelas Sari, ditemui di kantornya, Senin, 29 Juni 2026.
Pengalaman warga Bandung yang berjibaku dalam mengakses air bersih, selengkapnya dapat ditengok di laman Teras.id berjudul: Derita Warga Bandung Memburu Air Bersih.

Swadaya Masyarakat Membangun Akses Air Bersih
Pengalaman warga Bandung yang mengalami kesitan mengakses air bersih tidak hanya di Antapani. Ace Saepul Rohman, warga Jamika, juga pernah mengalami hal serupa.
“Kalau kesulitan cari air bersih dulu itu memang sulit. Kita mesti beli air untuk kebutuhan sehari-hari, nyebrang ke luar daerah, luar kecamatan juga. Bahkan sampai ngantre berjam-jam, baru dapat cuma satu roda,” kenang Ace.
Cerita Ace berlangsung sebelum tahun 2012 silam. Sebagai warga di Bojongloa Kaler, kecamatan dengan penduduk terpadat, mendapatkan air sebelum tahun 2012 merupakan perjuangan sehari-hari. Dalam penurutan Ace, tidak banyak warga Bojongloa Kaler yang berlangganan air ke Perumda Tirtawening. Alasannya beragam, mulai dari jaringan pipa yang tidak mudah dijangkau hingga biaya penyambungan yang dinilai tidak murah.
Di sisi lain, banyak warga Jamika yang tidak memiliki sumur bor tersendiri karena biaya pengeboran yang mahal. Permukaan air tanah yang kian dalam semakin meningkatkan ongkos pengeboran.
Diketahui, jumlah penduduk di Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung tercatat sebanyak 27.956 jiwa (BPS Kota Bandung). Dulu setiap bulannya, warga Jamika termasuk Ace harus mengalokasikan dana sebesar 200 ribu rupiah hanya untuk air bersih saja. Keadaan tersebut semakin membebani warga yang kondisi ekonominya terseok-seok.
Kondisi itu pula yang kemudian mendorong Ace dan pengurus Masjid Al-Barokah mencari jalan keluar. Pada tahun 2012, warga berinisiatif membuat sumur sibel dengan menggunakan dana dari masjid. Kini, warga di kampung Ace telah menyambungkan pipa ke masjid untuk menyalurkan air ke rumah-rumah.
Air dari masid mampu mengaliri sekitar 150 rumah di RW 6 yang mencakup 11 RT, bahkan menjangkau sejumlah warga di luar RW. Untuk mengakses air tersebut, warga membayar sekitar 100 ribu rupiah per bulan. Namun angka itu tidak mutlak.
Liputan mengenai upaya warga Jamika memenuhi air bersih dapat diakses di laman Teras.id berjudul: Siasat Warga Jamika di Tengah Krisis Air Kota Bandung.
Upaya serupa dalam memenuhi kebutuhan air bersih dilakukan warga Kampung Lio, RW 1, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung. Nunung, salah satu warga Lio, sempat mengalami kemacetan air mengalir di rumahnya hampir setengah tahun.
Saat itu, di tahun 2015, kemarau panjang menerjang Kota Bandung, yang membuat sumur bor di rumahnya mengering. Nunung bersama anak bungsunya terpaksa harus mengangkut air dari Masjid Nurul Jannah yang terletak 30 kaki dari rumahnya.
Selain Nunung, banyak warga Lio mengalami pengalaman serupa. Hingga akhirnya di tahun 2019, Ketua RW Cuncun Sudiana berinisiatif membangun sumur sibel di samping pos kamling RT 7.
Kini Nunung tidak lagi khawatir mengalami kesulitan air bersih. Karena pipa yang berasal dari sumur itu telah menyalurkan air ke seluruh penduduk Kampung Lio sebanyak enam RT. Biaya pemasangannya pun cukup terjangkau, yaitu; 600 ribu saja, dengan biaya perbulan tergantung pemakaian.
Sementara itu, di Jalan Baraga, tepatnya di Kampung Gang Apandi, RT 4 RW 8, warga memanfaatkan air yang bersumber hotel. Iis, salah astu warga menuturkan, hotel tersebut memfasilitasi air bersih yang isalurkan ke torn di pinggir pos satpam.
Sebelum adanya hotel, Iis bercerita, warga biasa mengambil air secara manual dari sumur umum di pinggir Sungai Cikapundung. Warga harus mengantre dan membawa air menggunakan ember untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu kan ada sumur di belakang. Nah di sana kita ngantre. Kalau yang dekat sungai mah ya di sana,” ungkap Iis.
Cerita tentang Nunung dan Iis dapat diakses di laman Teras.id berjudul: Cerita Warga Kampung Lio dan Braga Mencari Sumber Air Bersih.
Keadaan Air Tanah di Bandung
Di tengah kebutuhan air bersih warga Bandung, ada masalah lain yang terus membayangi, yaitu penurunan muka tanah. Heri Andreas, pakar geodesi ITB menyebutkan, ketika air tanah terus diambil, lapisan tanah di bawah permukaan perlahan kehilangan air dan menjadi padat. Proses inilah yang kemudian menyebabkan permukaan tanah menjadi turun.
Dampak dari penurunan muka air tanah ini dapat menimbulkan kelangkaan air dan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk mengakses air. Dengan terpaksa masyarakat harus menggali lebih dalam lagi agar bisa menyedot air. Sementara itu, air tanah yang diambil membutuhkan proses panjang untuk pulih kembali.
“Butuh puluhan tahun untuk mengisi air tanah sedangkan itu dikalahkan oleh eksploitasi yang berjalan secara sangat cepat. Jadi apa yang diisi tidak sebanding dengan apa yang yang diambil. Alhasil air tanahnya terus berkurang,” ungkap Heri, saat dihubungi BandungBergerak, Agustus 2026.
Penilaian serupa datang dari Gumilar dkk pada 2012 yang berjudul Studi Pemantauan Penurunan Muka Tanah di Cekungan Bandung dengan Metode Survei GPS dan InSAR. Menurutnya, penurunan muka tanah ini diduga kuat disebabkan akibat eksploitasi air tanah, terutama oleh pabrik dan industri. Selain faktor aktivitas manusia, kondisi geologi seperti aktivitas tektonik juga diperkirakan turut berpengaruh.
Hasil pemantauan selama periode 2000 - 2012 dalam penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Cekungan Bandung mengalami penurunan tanah. Di Cimahi khususnya daerah Leuwigajah, penurunan mencapai sekitar 14 cm per tahun. Sementara itu di wilayah gedebage mengalami penurunan sekitar 9-14 cm per tahun. Lalu di Dayeuhkolot dan Majalaya, laju penurunan berada pada kisaran 4 - 7 cm per tahun.
“Perlu dicatat di sini bahwa semua wilayah tersebut merupakan kawasan industri yang diduga mengambil banyak airtanah (artesis),” tulis Gumilar dkk, dalam penelitian tersebut.
Untuk membaca lebih dalam lagi mengenai konidisi permukaan air tanah di Bandung, pembaca dapat mengakses Teras.id berjudul: Bandung Terus Ambles, Air Tanah Makin Dalam.
Perlu diketahui juga bahwa kebutuhan air bagi masyarkat Kota Bandung tidak seimbang dengan ketersediaan pasokan air. Dalam laporan BandungBergerak berjudul Data Kebutuhan Air Bersih di Bandung: Kota Padat, Sumber Air Terbatas menunjukkan ketidakberimbangan antara jumlah penduduk Kota Bandung dan ketersediaan air.
Kajian yang dilakukan Astri W Hasbiah dan Sidik Nurjaman mengungkapkan, pada 2019 Kota Bandung baru dapat memanfaatkan sekitar 2.500 liter air baku per detik. Jumlah itu masih jauh di bawah kebutuhan ideal yang mencapai 5.000 liter air baku per detik.
Perbedaan Sibel dan Artesis
Di tengah upaya masyarakat mencari air bersih, muncul istilah sumur artersis dan sibel. Kerap kali kedua istilah ini saling tertukar. Padahal, Dasapta Erwin Irawan, seorang akademisi geologi menjelaskan, kedua istilah tersebut merujuk pada dua hal yang berbeda.
Istilah sibel berasal dari kata submersible pump, yaitu sebuah alat pompa yang dirancang untuk bekerja dalam kondisi terendam di dalam air pada dasar sumur. Dengan posisi pompa yang berada di dalam sumur, air dapat didorong ke permukaan secara lebih efisien dibandingkan jenis pompa lain, seperti jet pump yang bekerja dengan cara menyedot air dari permukaan.
Sementara itu, artesis meurut Dasapta bukanlah nama suatu jenis pompa, melainkan sebuah istilah untuk menggambarkan kondisi air tanah. Air artesis berasal dari akuifer tertekan, yaitu sebuah lapisan pembawa air yang berada di antara dua lapisan tanah dan batuan yang kedap air.
Penjelasan mengenai perbedaan ini dapat dibaca lebih lanjut di Teras.id berjudul: Memahami Perbedaan Sumur Sibel dan Artesis.
Baca Juga: KABAR DARI REDAKSI: Mengapa Masyarakat Kelas Menengah Bawah di Bandung Semakin Sulit Kuliah?
KABAR DARI REDAKSI: Di Tahun Keempat, Menjelang Tahun-tahun yang Kian Berat
Kesehatan Fisik dan Mental
Krisis air bersih yang dialami warga Bandung berefek domino. Dalam riset yang dilakukan oleh BandungBergerak berjudul Krisis Air Bersih Bisa Memicu Diare hingga Tekanan Psikologis disebutkan, ketersediaan air bersih dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan tekanan psikologis.
Pengamat kesehatan masyarakat Ahyani Raksanagara mengatakan, air bersih tidak hanya sebagai kebutuhan dasar rumah tangga, tetapi juga memiliki peran penting untuk mencegah berbagai penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, disentri, kolera, hingga hepatitis A.
Ia juga menyebutkan bahwa ketersediaan air bersih sangat penting untuk kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menjaga kebersihan saat merawat bayi dan mencegah infeksi setelah melahirkan. Data dari Kemenkes menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu lingkungan (40 persen), perilaku (30 persen faktor pelayanan Kesehatan (20 persen dan faktor dari keturunan (genetika) (10 persen).
Data tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan, khususnya kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik adalah faktor yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Di sisi lain, kurangnya akses air mempengaruhi kondisi berdampak pada psikologis warga.
Penelitian Bisung dan Elliott (2016) dengan judul “Everyone is exhausted and frustrated” menjabarkan bahwa masyarakat yang kekurangan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak dapat mengalami kecemasan, stres, hingga frustasi.
Menanggapi masalah akses terhadap air bersih di Kota Bandung, Fitri Agustine, Plt. Kepala Kantor Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jawa Barat menegaskan, masyarakat memiliki lima hak mengenai akses air bersih ini. Pertama, masyarkat memiliki hak untuk mendapatkan air bersih sesuai standar kualitas;
Kedua, keterjangkauan biaya. Ketiga, adanya keberlanjutan, jangan sampai ada keluhan dari masyarakat dalam mendapatkan pasokan air bersih dari pemerintah. Keempat, adanya transparasi informasi layanan, termasuk mengenai persyarakat, prosedur, hingga tatacara pengaduan. Terakhir, jika ada kendala di masyarakat, pemerintah harus sigap merespon dan memperoleh penyelesaian.
Lebih jauh mengenai hak-hak masyarakat terkait air dapat diakses di Teras.id berjudul Fitry: Masyarakat Bandung Berhak Mengakses Pelayanan Air Bersih.
Memanfaatkan Kembali Air
Di tengah krisis air bersih Kota Bandung, ada inisiatif baik yang dilakukan warga. Masjid Salman ITB mempraktikan daur ulang air wudu dan hujan. Aktifitas daur ulang air telah dilakukan sejak 5 Maret 2026.
Melalui sistem daur ulang air hujan dan air wudu yang mereka miliki saat ini, air hujan dan air wudu tidak akan terbuang begitu saja. Terdapat perangkat teknologi filtrasi yang dapat mengolah kembali air-air limbah ringan tersebut menjadi air layak pakai yang kelak dapat digunakan kembali untuk kebutuhan-kebutuhan seperti menyiram tanaman ataupun kebutuhan lainnya di sekitar Masjid Salman ITB.
Berdasarkan alur kerjanya, sistem pengolahan daur ulang air yang dilakukan oleh Masjid Salman ITB ini kerap disebut sebagai Ekonomi Sirkular. Pendekatan ini mendorong perubahan dari produksi dan konsumsi yang semula ekonomi linear berupa ambil, olah, dan buang, menjadi sistem produksi dan konsumsi yang lebih menekankan pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali sumber daya, salah satunya berupa sistem daur ulang air tersebut.
Iyan Nurdin, Corporate Secretary Yayasan Pembina Masjid Salman ITB menyebut adanya sistem sirkulasi air ini berangkat dari kesadaran akan keberadaan sumber air yang makin menipis. Dengan begitu, menurutnya, masjid Salman dapat menghemat air, dan minim menggunakan air sumur setiap harinya.
“Cuma kita memang jangan sampai mengeksploitasi terus air yang tersedia di bawah, supaya lebih panjang saja,” ujar Iyan ketika ditemui di ruang Kantor Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Selasa siang, 2 Juni 2026.
Cerita tentang masjid Salman ini dapat dibaca di Teras.id Bagaimana Cara Majid Salman ITB Menjaga Air Tanah.
Bisnis Air Minum Tumbuh
Kesulitan air bersih memunculkan peluang bisnis. Misalnya, Kayat, pedagang air bersih keliling di kampung Lio, menjajakan air lewat roda jerigen ke rumah-rumah. Edo—sapaan akrab Kayat—telah berjualan sejak tahun 2005, setelah memutuskan keluar dari pekerjaanya sebagai buruh pabrik.
Bersama sang kaka, Edo membagi dua wilayah penjualan. Dia kebagian di RT 4, 5, dan 6. Kakanya di RT 2, 3, dan 7. Alasan ia memilih bisnis air karena kondisi air tanah di lingkungannya sudah menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Air sumur warga cenderung kotor dan tidak layak konsumsi.
“Di sini kan permukaan air tanahnya udah aga turun. Terus kotor, dan mengandung banyak bakteri,” ujar Edo, Kamis, 18 Juni 2026.
Edo berjualan dari hari Selasa-Minggu. Setiap hari rata-rata dia menjual 25 jerigen. Sementara khusus untuk hari Selasa, ia bisa menjual lebih dari 40 jerigen sebagai akumulasi karena hari Seninnya ia libur. Dalam hitungan kasar, setiap hari berjualan ia bisa mengantongi keuntungan bersih 52 ribu rupiah.
Sementara keuntungan yang lebih besar dirasakan oleh Suprayitno, yang setiap hari kebanjiran pelanggan lewat bisnisnya membuka depor air minum. Sehari dia bisa mendapatkan konsumen 150 orang.
Dengan harga per galon 4 ribu rupiah jika mengisi di tempat atau 6 ribu rupiah dengan ongkos kirim, dalam sebulan dia bisa mengambil untung hingga lebih 10 juta rupiah. Untuk mejalankan depot ini ia mempekerjakan dua pegawai.
Supri mulai membuka usahanya pada tahun 2006. Ia melihat keterbatasan masyarakat dalam mengakses air bersih layak konsumsi. Tetapi ia menegaskan bisnis yang telah berjalan sekitar 20 tahun ini bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan juga untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat sekitar.
“Karena sekarang kan kebutuhan air itu masyarakat sangat besar ya. Walaupun ini daerah pegunungan, ya air bersih tetap dibutuhkan gitu,” ujar pria 70 tahun itu, ditemui BandungBergerak, Jumat, 19 Juni 2026.
Di sisi lain, bisnis pasokan dari air Manglayang lebih banyak lagi untungnya. Misalnya Perusahaan minum air milik Banyu (bukan nama asli), yang memiliki sumber mata air di pegunungan Manglayang, Kabupaten Bandung.
Perusahaan milik almarhum bapaknya, memiliki 8 truk tanki air minum yang setiap hari mendistribusikan air bersih ke Bandung Raya. Dia memiliki belasan pegawai.
Setiap hari truknya mendistribusikan ke berbagai wilayah di kawasan Bandung Timur dan Bandung Selatan. Ia memperkirakan perusahaannya rata-rata memasok 10 truk tangki berkapasitas 6.000 liter air ke pelanggan, terutama pabrik dan depot air minum.
Harga per tangki yang ia jual berbeda-beda, ditentukan oleh jarak pengiriman. Misalnya jika ngirim ke Cinambo sejauh 5 kilometer biayanya 150 ribu rupiah per tangki. Jika mengirim ke kawasan Cijerah dengan jarak yang ditempuh 20 kilometer bisa mencapai 400 ribu rupiah.
“Jadi kalau pabriknya minta ya kita kirim, kalau enggak ya kayak gini banyak yang diam,” bebernya.
Perusahaan air milik Banyu diperkirakan memperoleh pendapatan kotor sekitar 82,5 juta rupiah per bulan, berdasarkan rata-rata keuntungan 275.000 rupiah per tangki, dengan pengiriman sekitar 10 truk per hari.
Namun, angka tersebut belum memperhitungkan berbagai biaya operasional, seperti pajak daerah, gaji karyawan, BBM, biaya operasional truk, serta iuran kepada masyarakat untuk perbaikan jalan.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana bisnis air di Bandung, kawan-kawan dapat membaca Teras.id Bisnis Air Minum di Bandung Seperti Cendawan di Musim Hujan.
Liputan khusus tentang krisis air bersih di Bandung Raya terbit di Teras.id, situs berita jurnalisme lokal independen yang menjadi mitra BandungBergerak. Melalui liputan ini, BandungBergerak mengajak pembaca melihat permasalahan krisis air bersih dari bergam perspektif.
Kami juga perlu menginformasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Teras.id adalah konten berbayar. Ini merupakan bagian dari inisiatif kolaborasi antara media daring lokal di seluruh Indonesia, yang bekerja sama dengan Teras.id untuk menyajikan liputan berkualitas. Melalui inisiatif ini, kami mengundang publik untuk berpartisipasi dengan berlangganan konten eksklusif yang disediakan oleh media-media daring lokal.
Selamat membaca, KawanBergerak!
Salam,
Redaksi BandungBergerak
*Laporan ini ditulis Reporter BandungBergerak Yopi Muharam


