• Berita
  • Tak Cukup Memberitakan, Awak Media Floresa Memilih Menjadi Relawan Bencana ketika Flores Diguncang Gempa

Tak Cukup Memberitakan, Awak Media Floresa Memilih Menjadi Relawan Bencana ketika Flores Diguncang Gempa

Floresa mengubah ruang redaksi menjadi tempat respons cepat setelah gempa 7,7 magnitudo mengguncang Flores.

Diskusi Kado Kecil dari media Floresa di Perpustakaan Bunga di Tembok, Kota Bandung, Senin, 5 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 7 Oktober 2026


BandungBergerak - Ketika gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada pertengahan Agustus 2026, media lokal independen Floresa segera mengubah kerja redaksinya. Berbasis di pulau yang menjadi lokasi bencana, Floresa tidak lagi hanya menjalankan kerja jurnalistik, tetapi membentuk Tim Respons Cepat Gempa Flores.

Ruang redaksi seketika berubah menjadi ruang pusat panggilan yang tak henti menerima laporan kebutuhan bantuan dari berbagai wilayah terdampak. Produksi berita dihentikan sementara. Di tengah kesibukan tim dan kebutuhan mendesak warga, Floresa memilih memprioritaskan respons kebencanaan.

Dalam diskusi “Kado Kecil” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Kota Bandung, Senin, 5 Oktober 2026, Kontributor Floresa Elisa Lehot, yang saat itu juga mengelola keuangan donasi publik, menceritakan beratnya pekerjaan tersebut.

“Ini pekerjaannya sangat berat menurut saya, itu juga satu alasan mengapa kami berhenti menulis berita. Saya sampai sakit punggung gitu karena harus duduk di depan laptop 24 jam, sampai stres juga,” ungkapnya.

Selama sekitar satu bulan, sejak donasi publik dibuka hingga ditutup pada 12 September 2026, Floresa menghimpun lebih dari Rp1,3 miliar. Dana tersebut disalurkan ke 221 titik di 194 desa atau kelurahan terdampak melalui relawan yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut.

Jejaring relawan membantu Floresa menjangkau daerah terdampak dengan cepat. Sebagian besar relawan telah mengenal kampung dan warga setempat sehingga dapat memberikan informasi langsung mengenai kebutuhan di lapangan. Ketika sejumlah lembaga pemerintah masih melakukan pendataan korban, jaringan tersebut memungkinkan Floresa lebih cepat mengetahui kondisi dan kebutuhan warga.

“Kami Floresa, kami mengambil celah itu. Karena pemerintah kerjanya lambat begitu, jadi seminggu pertama di masa itu ketika orang-orang tidak berani melakukan apa pun, mereka kemudian membutuhkan makanan. Jadi kami mengisi celah itu dengan mengumpulkan donasi.” tambah Elisa.

Baca Juga: Floresa.co Meraih Udin Award 2023 dari AJI, Jalan Jurnalisme Berkualitas Melawan Kekerasan
Hasil Sidang Etik Kasus Kekerasan terhadap Pemimpin Redaksi Floresa Melanggengkan Impunitas Aparat Polisi Pelaku Kekerasan

Diskusi Kado Kecil dari media Floresa di Perpustakaan Bunga di Tembok, Kota Bandung, Senin, 5 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)
Diskusi Kado Kecil dari media Floresa di Perpustakaan Bunga di Tembok, Kota Bandung, Senin, 5 Oktober 2026. (Foto: Muhammad Jadid/BandungBergerak)

Bukan Hasil Kerja Satu Hari

Kemampuan Floresa bergerak cepat saat bencana tidak terbentuk dalam waktu singkat. Media yang berdiri sejak 2014 itu telah membangun jejaring sekaligus kepercayaan publik melalui kerja jurnalistik dan interaksi dengan berbagai komunitas di Flores.

Pemimpin Umum Floresa, Ryan Dagur, dalam diskusi yang sama mengatakan jejaring tersebut menjadi modal penting bagi media itu untuk mengambil peran dalam situasi bencana. Sebagai media lokal, Floresa juga mengetahui detail dampak gempa.

“Lalu kita bertanya gini, bahwa apakah kami memilih untuk melihat saja itu. Floresa memilih untuk memanfaatkan yang dipunya, modal bahwa orang-orang percaya kami, kami punya banyak relawan di daerah lokasi dan kami memilih membantu,” terangnya.

Jejaring yang dibangun melalui berbagai pertemuan, diskusi, hingga wawancara jurnalistik itu membuat Floresa memiliki gambaran kondisi di berbagai wilayah Flores, dari Labuan Bajo hingga Larantuka.

“Kami juga punya jaringan teman-teman kami yang ada di mana-mana. Kebetulan Floresa kita sudah punya banyak kenalan teman-teman mahasiswa yang lagi di kampung, juga teman-teman muda sehingga itu lebih mudah dalam menjangkau lokasi-lokasi yang saat itu tidak dijangkau pihak lain,” Rayn menambahkan.

Informasi dari relawan di berbagai kampung juga membantu Floresa menentukan jenis dan besaran bantuan yang diperlukan. Dengan begitu, penyaluran donasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah, bukan sekadar dibagikan secara merata.

Hampir dua bulan setelah gempa utama, warga terdampak di Flores masih menghadapi gempa susulan. Hingga awal Oktober 2026, gempa berkekuatan 3-5 magnitudo masih tercatat dalam laman resmi Gempa Bumi Real-time yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kondisi di pengungsian juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, sebanyak 108 orang dinyatakan meninggal dunia saat berada di lokasi pengungsian. Data tersebut menunjukkan masih adanya persoalan serius terkait keselamatan dan kelayakan tempat pengungsian.

Selain kebutuhan dasar, pemulihan fasilitas pendidikan menjadi perhatian lain. Ryan Dagur menyoroti keberlanjutan pendidikan anak-anak yang sekolahnya rusak atau roboh akibat gempa yang dipicu aktivitas Sesar Naik Belakang Busur Flores.

“Mungkin kalau teman-teman bisa bantu, mungkin sebaiknya bantu ke sekolah-sekolah karena mereka yang sudah sangat paling butuh, dan akan butuh waktu lama untuk membangun sekolah baru,” ujar Ryan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTT per 15 September 2026 mencatat 120 orang meninggal dunia, 1.191 orang luka-luka, dan 136.642 warga mengungsi. Gempa tersebut juga merusak sedikitnya 86.018 rumah. Kerusakan meliputi sedikitnya 573 fasilitas kesehatan, 2.240 fasilitas pendidikan, 535 rumah ibadah, dan 566 perkantoran.

***

 *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//