PELAJAR BERSUARA: Ketika Proyek Underpass dan Pemeliharaan Jembatan Dikerjakan Berbarengan di Kota Cimahi
Kemacetan di Kota Cimahi semakin memburuk karena proyek underpass Jalan Gatot Subroto dan pekerjaan pemeliharaan jembatan di Jalan Raden Demang Hardja Kusumah.

Priscilla Kezia Stefanie Gunawan
Siswa SMA Trinitas Bandung
7 Oktober 2026
BandungBergerak – Kota Cimahi merupakan kota satelit, banyak warga Kota Cimahi yang aktif bekerja di Kota Bandung. Hal itulah yang membuat jalan di Kota Cimahi padat saat jam-jam tertentu. Dengan kondisi warga Cimahi yang aktif melewati jalan menuju Kota Bandung, dibutuhkannya pemeliharaan rutin seperti yang sedang dilakukan pada jembatan di Jalan Raden Demang Hardja Kusumah, Cimahi. Pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto yang dilintasi oleh jalur kereta api juga mendukung perjalanan warga Kota Cimahi menuju Kota Bandung. Namun dalam prosesnya kemacetan malah semakin memburuk. Warga dari berbagai daerah dalam Kota Cimahi diarahkan menuju Jalan Jendral H. Amir Machmud yang menjadikan jalan tersebut macet dan sulit dilewati. Apa solusi dari pemerintah kota dalam menyelesaikan kemacetan pada jalan-jalan tersebut?
Kemacetan yang terjadi di beberapa ruas jalan ini sangat menghambat perjalanan. Walaupun kemacetan hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, kemacetan ini dapat berlangsung selama 30 menit hingga 1 jam. Lamanya waktu kemacetan berlangsung membuat masyarakat mengkritik pemerintah kota. Selain lama waktu kemacetan berlangsung, kenaikan harga bensin juga menjadi faktor kemarahan warga Cimahi. Kondisi ini sangat disayangkan karena tidak ada solusi yang benar-benar menyelesaikan permasalahan ini. Perubahan rute jalan juga hanya membuat kemacetan semakin meluas. Beberapa rute alternatif juga tidak diberi petunjuk lanjutan sehingga berpotensi membuat warga tersasar.
Pembangunan underpass pada Jalan Gatot Subroto di Kota Cimahi dimulai pada tanggal 19 Agustus 2026 dan diperkirakan memakan waktu beberapa bulan ke depan. Proyek infrastruktur ini bertujuan untuk menghilangkan perlintasan sebidang rel kereta api yang selama ini menjadi titik kemacetan sentral. Namun selama masa pengerjaan fisik berlangsung, penutupan beberapa ruas jalan yang memicu penumpukan terutama pada jam berangkat dan jam pulang kerja. Proyek infrastruktur ini menelan anggaran konstruksi sekitar Rp126,4 miliar dari APBD Provinsi Jawa Barat, serta dibantu dana pembebasan lahan sebesar Rp36 miliar dari Pemkot Cimahi. Penutupan total ruas jalan sepanjang 450 meter memaksa pengalihan arus lalu lintas ke rute alternatif seperti Jalan Padasuka Indah, Jalan Amir Machmud, dan Jalan Mahar Martanegara. Penutupan pada area ini memicu penumpukan kendaraan signifikan, berdampak langsung pada penurunan efisiensi waktu mobilitas harian warga menuju Kota Bandung.
Pemeliharaan jembatan pada Jalan Raden Demang Hardja Kusumah, Cimahi juga menghambat perjalanan. Pemeliharaan jembatan ini dimulai pada tanggal 19 Agustus 2026 dan diperkirakan akan memakan waktu 4 minggu. Seiring berjalannya waktu Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira melihat bahwa Kota Cimahi semakin padat dan memiliki beberapa titik sentral kemacetan. Ia memutuskan untuk mempersingkat perkiraan waktu pemeliharaan jembatan menjadi 3 minggu. Tetapi hingga saat ini masih belum ada kepastian berapa lama lagi jembatan akan selesai dan dapat dilalui kembali.
Baca Juga: PELAJAR BERSUARA: Budaya Ngopi, Ruang Sosial, dan Peluang Spasial Perkotaan
PELAJAR BERSUARA: Tentang Pedal yang Menolak Tepi
PELAJAR BERSUARA: Menakar Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Era Baru Transportasi Bandung
Melihat kondisi jalan Kota Cimahi yang hingga saat ini belum terurai kemacetannya, Pemerintah Kota Cimahi sebaiknya bisa menentukan tingkat prioritas proyek yang akan dilaksanakan. Pembangunan underpass pada Jalan Gatot Subroto dapat ditunda dan menyelesaikan pemeliharaan jembatan terlebih dahulu. Jalan Gatot Subroto yang dihambat oleh jalur kereta api juga bukanlah jalur yang menjadi titik kemacetan sentral sehingga menurut sebagian masyarakat Kota Cimahi, pembangunan underpass belum menjadi prioritas dan bukan suatu inovasi yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini.
Selain penentuan prioritas proyek yang akan dilaksanakan, pengalihan ruas jalur di Kota Cimahi juga dapat membantu mengurai kemacetan. Seperti pada underpass Jalan Dustira dialihkan menjadi dua jalur. Lalu Jalan Gatot Subroto dari arah barat menuju Gereja Santo Ignatius dialihkan ke Jalan Taman R.A. Kartini yang lebih kecil. Tetapi hingga saat ini belum ada jalur alternatif menuju Bandung yang dapat mengurai kemacetan. Jalan-jalan di Kota Cimahi juga banyak yang terpotong dengan jalan lain sehingga memaksa para pengendara untuk berhenti dan memperburuk giliran untuk berjalan.
Pemeliharaan jembatan dan pembangunan underpass memang inovasi yang dapat meningkatkan kualitas kota dan membantu masyarakat, tetapi dibutuhkan juga alternatif dan solusi pada permasalahan yang muncul. Masyarakat juga seharusnya dapat mengerti kondisi Kota Cimahi dan tetap sabar menunggu pembangunan selesai. Semoga dengan adanya pembangunan underpass dan pemeliharaan jembatan, dapat meningkatkan kualitas Kota Cimahi. Semoga Kota Cimahi dapat menjadi lebih baik dan menjadi kota maju seperti kota lainnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


