PELAJAR BERSUARA: Tentang Pedal yang Menolak Tepi
Critical Mass menjadi ajang silaturahmi, sekaligus menjadi bentuk “unjuk rasa” dalam menuntut hak keselamatan bersepeda yang selama ini masih terabaikan.

Ilmam Rahmaan Devanda
Siswa SMA Bina Dharma 2 Bandung
5 Juni 2026
BandungBergerak – Bandung di Jumat malam adalah sebuah orkestra kebisingan yang tiada hentinya. Di saat orang-orang bergegas ingin menikmati liburan akhir minggu, sepanjang Jalan BKR justru berubah menjadi medan tempur. Deru mesin bus beradu dengan bisingnya knalpot brong, menciptakan polusi suara yang sanggup menelan kewarasan siapa pun yang terjebak di dalamnya.
Namun, di tengah kepungan mesin kendaraan, tepat di dekat Taman Tegallega, satu per satu siluet manusia dengan pedal yang dikayuhnya mulai berdatangan. Ada suara decitan dari gesekan ban dengan aspal, derit rem yang butuh pelumas, dan ada sapaan kecil sambil berpelukan yang memecah ketegangan menjadi kehangatan. Mereka berada di sana bukan untuk balapan, apalagi memamerkan kemewahan sepedanya. Ini adalah sebuah titik di mana jumlah pesepeda sudah tidak terhitung lagi jumlahnya–sebuah massa kolektif yang hadir hanya untuk menyuarakan hak mereka di jalan.
“Wah... kalo semisalnya lagi gowes sendiri tuh suka dikucilin, asli ini mah. Makanya urang kalo gowes sendirian teh selalu hati-hati, soalnya mobil atau transum lah. Suka enggak ngeliat kita yang lagi gowes,” ucap salah satu pesepeda yang mengikuti kegiatan ini dengan nada getir.
Baca Juga: PELAJAR BERSUARA: Apa Kabar Transisi Demokrasi Indonesia?
PELAJAR BERSUARA: Menyimak Feodalitas dan Kedunguan Otoritas
PELAJAR BERSUARA: Menjawab Kaburnya Batas antara Pakar dan Pemengaruh, Mengutuk Otoritas Pakar
Pesepeda yang Dipaksa Menepi
Selama ini, narasi jalan raya di Bandung memang didikte oleh kecepatan; siapa yang bermesin, dialah yang menang. Pesepeda sering kali dipaksa untuk menepi, nyaris keserempet trotoar hanya karena sebuah bus ingin mendahului tanpa permisi. Belum lagi jalur sepeda yang lebih sering beralih fungsi menjadi tempat parkir liar. Namun, Critical Mass membalikkan logika pahit itu.
“Gua teh suka banget kalo ikutan critical mass soalnya kita teh enggak harus takut sama pengendara lainlah. Karena kita banyakan, enggak hanya belasan atau bahkan puluhan. Kita cuman mau nyampein ‘we are not blocking traffic, WE ARE TRAFFIC’ just that,” ceritanya dengan lantang sambil terus mengayuh sepedanya.
Filosofi critical mass adalah tentang eksistensi pesepeda di ruang publik. Saat satu sepeda bergerak, ia mungkin dianggap gangguan–namun saat pesepeda tak terhitung jumlahnya bergerak bersama, merekalah arus lalu lintas (traffic) itu sendiri. Di sini, slogan “We are not blocking traffic, WE ARE THE TRAFFIC” menemukan jiwanya. Kita tidak sedang membuat kemacetan; kita sedang menunjukkan bahwa jalan ini juga milik manusia yang bernapas, bukan hanya untuk mesin yang haus bensin.
Mari bicara jujur tentang jalanan di Bandung. Kota ini memang memiliki jalur sepeda yang dicat warna hijau, tapi banyak yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Kondisi jalan bekas pembongkaran dan penambalan drainase yang tidak rapi semakin membuat jalur sepeda menjadi medan yang tidak aman. Entah di Jalan Riau ataupun Jalan Merdeka; jalur itu sering kali dihuni oleh ojek online yang menunggu penumpang atau menjadi tempat singgah mobil. Jalur sepeda di Bandung telah menjadi “janji yang tidak ditepati”.
Keresahan ini nyata dirasakan oleh Keandra, seorang kawan yang sudah bertahun-tahun mengayuh pedal di Bandung. Dengan nada kesal, ia menceritakan pengalamannya tentang aspal yang hancur, “Gua tuh yah kesel sama jalanan yang berlubang, apalagi sama drainase yang ngerusak jalanan. Yak intinya jangan dirusaklah aspalnya gitu. Kan banyak tuh yang rusak gara-gara perbaikan drainase. Itu suka bikin ban gua bocor mulu sama pengendara mobil dan motor yang suka make jalur sepeda. Itu bikin gua kesel banget”.
Keluhan itu disambut oleh rekannya, Raynor, yang melihat masalah ini dari sudut pandang yang lebih kritis. “Jalur sepeda kan sudah dirancang khusus untuk para pesepeda. Sesuai pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan serta Permenhub PM 59 tahun 2020 tentang keselamatan pesepeda di jalan. Yang di mana seharusnya hal-hal kaya gini ditindak tegas sama pemerintah, tapi sebagian besar masih terkesan lalai dalam penanganannya,” tegasnya. Bagi Raynor, Critical Mass menjadi ajang silaturahmi untuk menguatkan kebersamaan, sekaligus menjadi bentuk “unjuk rasa” dalam menuntut hak keselamatan bersepeda yang selama ini masih terabaikan.
We area Traffic
Rasa kesal atas hak yang terabaikan dan aspal yang rusak itu seolah menjadi bahan bakar kolektif bagi rombongan. Kami tidak lagi merasa kecil atau terancam seperti saat sendirian di gelapnya Jalan BKR. Solidaritas inilah yang kemudian mengubah amarah menjadi energi baru.
Transformasi energi itu memuncak saat rombongan mulai merayap membelah Jalan Asia Afrika. Di bawah pendar lampu kota dan kemegahan gedung tua, suasana yang tadi penuh keluh kesah seketika pecah menjadi magis. Orang-orang di trotoar mulai mengangkat telepon genggam mereka untuk mengabadikan momen ini. Sementara itu, para pesepeda meneriakkan eksistensinya dengan lantang: “Awoof awoof!”, “Qiww Qiww!”, hingga pekikan “WE ARE TRAFFIC!” yang diikuti tawa selepasnya.
Di sini, hierarki menguap. Siswa yang sepedanya hasil menabung berbulan-bulan bisa gowes berdampingan dengan mereka yang menggunakan sepeda seharga puluhan juta rupiah.
Di lampu merah, mereka tidak saling pamer spesifikasi sepeda, melainkan berbagi tawa sambil membincangkan kondisi kota. “Kamari urang ngaliwat Jalan Aceh anu ka arah Taman Pramuka, ban urang pecah pedah lubang gede pisan,” keluh salah satu pesepeda. Inilah ruang publik yang sebenarnya: cair, setara, dan bebas.
Perjalanan ini biasanya berakhir di ruang-ruang luas seperti Gedung Sate atau Saparua. Sambil menyesap rokok yang baru dibakar, obrolan tentang Bandung yang lebih manusiawi terus mengalir di antara kepulan asap. Critical Mass mungkin hanya terjadi sebulan sekali, tapi dampaknya tertanam kuat di ingatan siapa pun yang melihatnya dari balik kaca mobil ataupun kaca helm.
Kita sedang menanam benih kesadaran. Bahwa kemajuan Bandung bukan berasal dari seberapa banyak kendaraan pribadi yang dimiliki warganya, melainkan dari keberanian seorang anak kecil untuk bisa bersepeda ke sekolah tanpa rasa takut ditabrak. Selama aspal masih panas dan asap masih pekat, roda-roda ini akan terus berputar, merawat harapan di setiap kayuhannya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


