• Berita
  • Mendengarkan Suara Pedagang, Seniman, dan Ruang yang Terancam Hilang di Terminal Ledeng

Mendengarkan Suara Pedagang, Seniman, dan Ruang yang Terancam Hilang di Terminal Ledeng

Ketika pembangunan BRT Bandung Raya mendekat, musik, puisi, dan karya seni menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan warga.

Aktivitas di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi8 Oktober 2026


BandungBergerak - Kawasan Terminal Ledeng, Jalan Setiabudhi, Bandung berubah menjadi ruang pertunjukan sekaligus percakapan. Dari Kamis, 1 Oktober hingga Senin, 5 Oktober 2026, seniman dan warga menggelar Proyek Dialog melalui musik, puisi, instalasi, zine, mimbar bebas, hingga nonton bareng. Agenda ini berlangsung di saat warga terminal resah dengan proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Di tengah percakapan mengenai ruang publik dan pembangunan, dampak paling langsung dirasakan oleh orang-orang yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas terminal. Muana, 49 tahun, pedagang gorengan asal Cirebon, telah berjualan di Terminal Ledeng sejak Oktober 1993. Ia awalnya menjual jamu sebelum beralih ke gorengan pada 2008 atas permintaan istrinya.

Ia dan istrinya membagi waktu berjualan. Muana mulai bekerja pukul 03.30 hingga 09.00. Setelah itu istrinya menggantikan hingga pukul 16.00. Muana kemudian kembali berjualan sampai gorengan habis atau biasanya hingga selepas Isya.

Untuk lapaknya, Muana membayar sewa 20.000 rupiah per meter per bulan. Lapak berukuran 2x2 meter berarti 80.000 rupiah per bulan, termasuk kebersihan dan keamanan. Sementara tarif kios, menurutnya, 35.000 rupiah per meter.

Muana mengetahui rencana pembangunan melalui rapat pedagang. Dalam rapat tersebut, ia mendapat informasi bahwa pedagang kaki lima harus mengosongkan lapak mulai 5 Oktober.

“Kita orang dagang tinggal ngikutin. Masa kita nantang, kita tidak kuat sendiri,” tuturnya.

Kekhawatiran utamanya adalah kehilangan pelanggan. Jika harus pindah, ia memperkirakan pendapatannya dapat turun hingga sekitar 15–20 persen dari kondisi sekarang. Ia juga khawatir menghadapi penertiban jika berjualan di pinggir jalan sekitar Terminal Ledeng.

“Kalau misalkan kita tempatnya maaf di situ (sambil menunjuk jalan di depan terminal ledeng). Kita nanti bertentangan sama Satpol PP,” ungkapnya.

Muana mengapresiasi kegiatan seni yang berlangsung di terminal karena menurutnya kegiatan tersebut turut memberi dukungan kepada pedagang kecil.

Aktivitas di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Aktivitas di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Kondisi berbeda tetapi dengan kecemasan yang serupa dialami Tuti, pedagang nasi telur yang baru mengambil alih kontrak tempat selama satu tahun. Ia membayar 9,5 juta rupiah per tahun, ditambah iuran mingguan kepada Dishub dan Kebersihan RW.

Baru satu bulan menjalankan usaha, ia mengaku modalnya belum kembali. Rencana pengosongan membuatnya mempertanyakan nasib tempat usaha serta bentuk bantuan dari pengelola.

“Gak ada kepastian, gak ada uang kompensasi atau bantuan buat angkut barang pas mau ditutup gini,” keluhnya.

Ia juga mengingat kondisi pedagang di Terminal Cicaheum yang pernah mengalami persoalan serupa.

“Entahlah waktu di Cicaheum juga saya enggak tahu gimana tadinya gitu kan. Jadi takutnya tuh seperti itu gitu,” pungkasnya.

Meski kecewa terhadap ketidakjelasan tersebut, Tuti mengapresiasi kehadiran seniman dan pemuda yang memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan perasaan.

“Ya bagus sih ya. Jadi menyuarakan isi hati mereka tidak cuma diam iya iya tapi hatinya enggak seperti itu gitu kan. Kebanyakan kan orang cuma nurut-nurut aja ya karena mungkin enggak ada keberanian untuk bersuara. Saya salut,” tutur Tuti.

Zine yang dipamerkan di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Zine yang dipamerkan di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Proyek Dialog

Proyek Dialog dipelopori komunitas Ledeng-Ledeng-Ledeng. Komunitas menegaskan, pembangunan BRT bukan semata-mata perubahan fisik terminal. Pembangunan juga menyentuh tempat mencari nafkah, akses menuju permukiman, serta ruang sosial yang selama bertahun-tahun digunakan warga.

Acara dibuka dengan pertunjukan musik pada Kamis, 1 Oktober 2026. Suara gitar dan suling bercampur dengan deru angkot yang keluar-masuk terminal. Pedagang tetap berjualan di antara lapak, sementara pertunjukan berlangsung di ujung terminal.

Seniman Azis Zulfikar mengatakan, 1–4 Oktober sengaja dirancang sebagai masa untuk menjaga keberlangsungan kegiatan agar tidak berhenti sebagai pertunjukan sesaat. Puncaknya berlangsung pada 5 Oktober ketika lebih banyak seniman dan musisi bergabung.

Tidak semua agenda berjalan sesuai rencana. Kelompok musik Beterled (Belakang Terminal Ledeng), misalnya, batal tampil penuh karena suara musik yang terlalu keras untuk kondisi terminal. Namun, kegiatan tetap berlangsung melalui instalasi, pembagian zine, berbagai genre musik, puisi, mimbar bebas, dan nonton bareng.

Gagasan Proyek Dialog, menurut Azis, berangkat dari refleksi seniman Tisna Sanjaya mengenai sejauh mana seni masih memiliki daya dalam kehidupan sehari-hari. Aktivasi ruang melalui kesenian sebelumnya juga pernah dilakukan Ledeng-Ledeng-Ledeng pada 6 Juni 2025 melalui festival seni yang melibatkan seniman lokal dan masyarakat sekitar.

Menurut Azis, kecemasan warga terhadap pembangunan BRT tidak dapat dilepaskan dari ingatan kolektif mengenai pembangunan Terminal Ledeng pada akhir 1970-an yang diikuti pengalaman penggusuran sejumlah warga. Kecemasan itu kembali muncul ketika denah tata letak proyek BRT dipasang tanpa dialog dengan warga.

Azis kemudian menghadirkan karya yang ia sebut sebagai counter-infrastructure. Karya tersebut menyerupai infrastruktur, tetapi digunakan untuk membalik cara kerja infrastruktur resmi. Baginya, karya bukan sekadar objek estetis, melainkan instrumen untuk membongkar struktur birokrasi dan mendorong warga kembali mengambil posisi sebagai warga negara yang aktif dalam menegosiasikan ruang hidupnya.

Karena itu, kata Azis, karya tersebut tidak ditempatkan terlebih dahulu di galeri. Menurutnya, karya tersebut mengejar momen politik tertentu, termasuk pembangunan BRT. Ia menilai tidak etis jika karya hadir di galeri sementara warga yang terdampak belum dilibatkan.

Pendekatan tersebut, kata Azis, menempatkan etika sebelum estetika. Sopir angkot, pedagang, warga, hingga mahasiswa UPI diharapkan merasa memiliki hak dan suara terhadap ruang tersebut.

Beberapa hari setelah karya dipasang, Azis menambahkan mimbar bebas yang dapat digunakan siapa saja untuk berbicara atau bermusik. Menurutnya, keberadaan karya juga membuat sebagian pedagang dan warga mulai memperhatikan spanduk proyek yang sebelumnya tidak mereka sadari.

“Beberapa masyarakat atau pedagang awalnya nggak aware dengan adanya site plan itu. Malah lebih aware pas masang karya di sini. Bahkan sampai ada yang mikir, ‘Kok konsultan supervisinya Tuhan Yang Maha Esa, pemerintah itu makin nggak jelas ya.’ Dan pas mereka mencoba memahami itu, aku nggak langsung bilang ‘Oh ini karya,’ tapi biarkan mereka berpikir dulu,” jelas Azis.

Baca Juga: Seni Turun ke Terminal Ledeng
Warga Mempertanyakan Dampak Pembangunan BRT Bandung Raya di Terminal Ledeng

Aktivasi di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Aktivasi di Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Pembangunan BRT dan Informasi yang Tak Sampai ke Warga

Terminal Ledeng merupakan bagian dari pembangunan BRT Bandung Raya. Sistem ini dirancang dengan lajur khusus bus sepanjang kurang lebih 27 kilometer, dilengkapi halte, terminal, serta angkutan pengumpan yang menghubungkan Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang.

Diketahui, Bandung Raya memang memerlukan moda transportasi publik yang tangguh, yang sejauh ini belum ada. Hadirnya BRT Bandung Raya diharapkan bisa mengurai kemacetan kendaraan pribadi.

Namun, dalam dokumen Environmental and Social Impact Assessment (ESIA), proyek tersebut ditempatkan dalam kategori risiko substansial. Selama konstruksi, dampak yang diperkirakan antara lain kemacetan, debu, dan kebisingan. Pedagang kaki lima, juru parkir, penyewa kios, dan sopir angkot termasuk kelompok yang rentan terdampak.

Dalam situasi itu, warga Ledeng mempertanyakan bagaimana pembangunan berlangsung dan bagaimana nasib orang-orang yang kehidupannya bergantung pada terminal selama ini. Sebelumnya, pada 25 September, warga RW 03, Kelurahan Ledeng, mengundang pihak terminal berdialog di Masjid Al Huda. Mereka mempertanyakan waktu pembongkaran, lokasi pemindahan pedagang, akses menuju permukiman, serta keberadaan Balai RW. Dalam pertemuan tersebut, pengalaman penggusuran saat pembangunan terminal pada 1970-an juga kembali dibicarakan.

Ballerina, 24 tahun, perwakilan Ledeng.Ledeng.Ledeng, mengatakan keresahan warga muncul karena informasi mengenai pembangunan dinilai tidak disampaikan secara memadai. Ia menilai respons negatif di media sosial terhadap gerakan warga dan seniman juga berkaitan dengan kurangnya pemahaman mengenai situasi di lapangan.

“Mungkin kalau misalnya mereka baca, mereka literasi, mereka akan tahu kita tuh bukan menolak sebuah perubahan yang bagus, tapi hanya saja proses dan caranya itu yang harus diperbaiki. Karena kan komunikasi itu lebih penting dari hal apapun,” tegas Ballerina.

Menurut Balerina, informasi dari pengembang dan Dinas Perhubungan tidak disampaikan secara merata kepada warga, terutama mereka yang tinggal di belakang terminal. Ia mengatakan warga sebelumnya hanya melihat petugas melakukan pengukuran tanpa penjelasan mengenai rencana pembangunan. Informasi tentang perubahan terminal baru terasa mendadak pada September hingga Oktober, membuat warga mempertanyakan mengapa sosialisasi dilakukan begitu dekat dengan waktu pelaksanaan.

“Kenapa warga bisa tidak terima karena memang tidak ada sosialisasi sebelumnya,” ungkapnya.

Ballerina menjelaskan komunitas Ledeng.Ledeng.Ledeng lahir dari warga yang kerap berkumpul di terminal dan ingin menjadikan kawasan itu ruang publik yang terbuka. Musik dipilih karena dianggap dekat dengan banyak orang, sedangkan puisi berkaitan dengan aktivitas sebagian anggota komunitas di bidang sastra. Kesenian digunakan untuk memancing pertanyaan: mengapa kegiatan tersebut berlangsung di terminal ketika kawasan itu akan berubah?

“Penginnya mereka (mahasiswa) melek bahwa di dekat mereka ada pertolongan untuk menyuarakan bahwa hal ini tuh ada yang enggak beres,” tambah Ballerina.

Menurut Balerina, sejumlah kios di sisi lain terminal sudah tutup setelah pemiliknya mendengar kabar mengenai pembongkaran. Ia juga menyebut ada pemilik warung di ujung terminal yang tidak mengetahui informasi tersebut. Bagi pedagang yang kesulitan menyampaikan keberatan secara langsung, ruang kesenian menjadi salah satu cara untuk menyuarakan keresahan.

Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Terminal Ledeng, Bandung, Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Sementara itu, Aben, 22 tahun, warga RW 03 sekaligus mahasiswa semester enam Prodi Musik UPI, terlibat dalam kelompok Beterled. Kelompok musik tersebut sebenarnya dijadwalkan tampil, tetapi batal karena pertimbangan kebisingan.

Beterled merupakan singkatan dari Belakang Terminal Ledeng dan berkembang dari kelompok Introvert yang dibentuk tim Azis. Aben mengatakan musik keras kelompoknya terinspirasi dari kondisi terminal.

Baginya, Proyek Dialog menunjukkan bahwa kesenian tidak harus berlangsung di gedung atau panggung festival. Terminal juga dapat menjadi ruang pertunjukan sekaligus tempat bagi seniman muda untuk tampil.

“Seniman-seniman yang belum punya panggung boleh di sini langsung aja,” jawabnya.

Aben juga menilai Ledeng memiliki sejarah kesenian yang panjang. Generasi muda, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya melalui ruang publik yang dapat digunakan siapa saja.

Pandangan serupa datang dari Willa, 22 tahun, mahasiswi Prodi Musik UPI angkatan 2023 yang magang di Ledeng-Ledeng-Ledeng. Sejak awal kuliah, ia menggunakan terminal untuk makan, mencari ojek daring, dan memarkir motor. Ia mengetahui rencana BRT dari atasannya.

Menurut Willa, sejumlah kegiatan seperti DJ dan nonton bareng sengaja disiapkan untuk menarik warga datang. Setelah berkumpul, warga dapat mengetahui alasan kegiatan tersebut digelar sekaligus menyampaikan keluhan yang sulit mereka sampaikan kepada pihak berwenang. Ia berharap kebersamaan antara generasi muda dan orang tua di Terminal Ledeng bisa dipertahankan.

“Menurut aku kebersamaannya sih yang wajib untuk dipertahankan karena yang aku lihat tuh si pemuda-pemudanya gitu dari Karang Taruna atau dari anak-anaknya gitu pada nyatu gitu. Terus dari semangat orang tuanya gitu yang mau datang untuk jadi apresiasi untuk menjadi apresiasi acara-acara yang ada di Ledeng gitu. Menurut Aku itu yang harus dipertahankan,” tutur Willa.

Di hari terakhir, 5 Oktober, Proyek Dialog ditutup dengan suasana yang lebih meriah. Ledeng-Ledeng-Ledeng menggelar nonton bareng pertandingan final Timnas Indonesia melawan Thailand. Warga dan pengunjung juga mengikuti Mari Botram Gratis (MBG) dengan kudapan soto dan batagor.

Setelah pertandingan berakhir, suasana dilanjutkan dengan penampilan DJ Adityo Saputro. Musik elektronik memenuhi area terminal dan mempertemukan warga, pemuda, pedagang, serta pengunjung dalam satu ruang.

Lima hari tersebut pada akhirnya memperlihatkan fungsi lain Terminal Ledeng. Di luar perannya sebagai simpul transportasi, kawasan itu telah menjadi tempat berdagang, berkumpul, berkesenian, dan menghubungkan warga dengan lingkungan sekitarnya.

Melalui Proyek Dialog, warga dan seniman mencoba menciptakan ruang yang mereka anggap belum tersedia dalam proses pembangunan: ruang untuk bertanya, berbicara, dan mempertemukan masyarakat dengan pihak yang memiliki kewenangan atas perubahan Terminal Ledeng.

*Reportase ini dikerjakan tim reporter BandungBergerak Abimanyu Ismoyo Santoso, Ardhzohal Roman Ario Bono, dan Insan Radhiyan

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//