Diskusi Pasar Minggu: Lidah yang Terjajah, Pangan Lokal yang Terpinggirkan
Pasar Minggu membuka ruang pertemuan untuk membicarakan pangan, lingkungan, dan masa depan pertanian.
Penulis Asma Aqilah Mahfuzhoh2 November 2026
BandungBergerak - Lidah masyarakat kini semakin akrab dengan berbagai makanan tinggi garam, lemak, serta bahan tambahan. Sementara itu, makanan lokal yang berasal langsung dari alam justru terpinggirkan. Fenomena ini disebut sebagai “lidah yang terjajah”.
Dhea Karlina Irwanto, penggerak program sosial-ekologi, mengatakan fenomena tersebut muncul di tengah kehidupan serba instan. Alih-alih memilih makanan yang berasal langsung dari alam, masyarakat cenderung mengonsumsi makanan dengan kandungan bahan tambahan yang tinggi. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh harga makanan sehat yang relatif lebih mahal.
“Tapi, nggak bisa dengan (menyebutkan) ini salah, kamu salah, kamu harus vegan. Makanya, pendekatan sipil itu untuk tahapan saat ini mempertemukan dulu, jadi lokalnya itu dengan eksplorasi,” kata Dhea dalam diskusi Anjangsana Vol. 3 di Kozi Coffee 6.2, Minggu, 1 November 2026.
Diskusi bertajuk “Dari Perut Sampai Mental: Bagaimana Isu Pangan Bisa Jadi Perekat Sosial” ini merupakan hasil kolaborasi Pasar Minggu dengan Melihat Lebih Jernih. Selain Dhea, diskusi yang dipandu oleh periset sejarah Nur Alifa itu menghadirkan Nadya Gadzali, periset sosial budaya.
Salah satu langkah yang ditawarkan Dhea untuk mendekatkan masyarakat dengan pangan alami ialah mulai mengurangi konsumsi makanan tinggi bahan tambahan. Ia juga mengajak masyarakat mencoba menanam di kebun milik sendiri, kalai tidak, di kebun punya teman sebagai upaya mengenal sekaligus memperbanyak konsumsi pangan yang berasal dari alam.
Namun, mendekatkan masyarakat dengan sumber pangan tidak cukup dengan perubahan pola konsumsi individu. Sebab, persoalan pangan bukan semata urusan individu, melainkan juga berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan masyarakat.
Salah satu tantangan dalam produksi pangan ialah menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi lahan nonpertanian. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Kota Bandung Tahun 2025 yang diterbitkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mencatat, ketergantungan Kota Bandung terhadap pasokan pangan dari daerah lain mencapai sekitar 94,01 persen. Kondisi tersebut membuat ketahanan pangan kota rentan terhadap gangguan pasokan.
Selain persoalan lahan, keberlanjutan pangan juga bergantung pada regenerasi petani. Ketersediaan sumber daya manusia yang melanjutkan aktivitas pertanian menjadi salah satu hal yang turut disoroti dalam diskusi.
Nadya menyebutkan adanya kebiasaan di sejumlah daerah, seperti Kalimantan, ketika masyarakat yang telah menempuh pendidikan di luar daerah memilih untuk kembali ke kampung halaman.
“Apalah artinya menempuh studi tinggi kalau tidak kembali ke rumah, jadi ilmunya belum paripurna kalau belum diaplikasikan di kampungnya sendiri,” ujar Nadya.
Meskipun begitu, masa depan pangan ini menjadi suatu permasalahan bersama yang harus diselesaikan secara komunal. Hal ini terkait erat dengan siapa yang akan menanam dan bagaimana lahan untuk memproduksinya tetap tersedia.
Baca Juga: Pangan Lokal: Dekat dari Rumah, Jauh dari Piring Kita
Sistem Pangan Lokal, Alternatif Melawan Dominasi Sistem Pangan Global

Pasar Minggu: Dari Jual Beli hingga Ruang Kolaborasi
Diskusi tentang pangan sengaja digelar di Pasar Minggu sebagai ruang komunal, tempat ruang pertemuan bagi masyarakat. Selain aktivitas jual beli, berbagai kegiatan komunitas turut menghidupkan interaksi dan membuka ruang pertukaran gagasan di dalamnya.
Pasar Minggu merupakan lapak dagang yang diinisiasi oleh individu dengan latar belakang beragam, mulai dari penggiat literasi, pendiri toko buku, guru, dosen, hingga seniman. Berangkat dari keinginan untuk berdagang sekaligus menerapkan ekonomi mandiri, Pasar Minggu telah berjalan selama tiga tahun dengan berpindah-pindah lokasi. Saat ini, Pasar Minggu berlokasi di Kozi Coffee 6.2, Jalan Veteran, Kota Bandung.
Wanggi Hoed, salah satu penggagas Pasar Minggu, mengatakan bahwa Pasar Minggu tidak hanya menjadi tempat berdagang, tetapi juga ruang pertemuan bagi individu dan komunitas dengan latar belakang serta pengetahuan yang berbeda. Melalui rangkaian diskusi, Pasar Minggu berupaya menjangkau lebih banyak orang sekaligus menyediakan ruang yang nyaman untuk berinteraksi.
“Berniaga, berbaur, dan bertumbuh,” ujar seniman pantomim tersebut.
Melalui Pasar Minggu, aktivitas jual beli tidak berhenti pada transaksi ekonomi. Pertemuan yang tercipta di dalamnya membuka peluang bagi lahirnya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan hubungan antarkomunitas. Dari interaksi sederhana itulah koneksi dan silaturahmi dapat terbangun.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


