Mahasiswa UIN SGD Bandung Mendesak Penanganan Karhutla dan Pembebasan Rekan yang Ditangkap
Mahasiswa menyoroti lambannya penanganan karhutla dan menuntut pembebasan rekan mereka yang ditetapkan sebagai tersangka setelah demonstrasi 20 Oktober 2026.
Penulis Yopi Muharam6 November 2026
BandungBergerak - Pemberitaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mulai meredup di tengah munculnya berbagai isu lain. Namun, kebakaran yang masih berlangsung tetap menjadi perhatian masyarakat. Melalui berbagai aksi, mereka berupaya menjaga isu tersebut tetap menjadi perhatian publik sekaligus mendesak pemerintah segera menuntaskan penanganannya.
Salah satunya melalui Aksi Kamisan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sejak sore, mahasiswa berpakaian hitam berkumpul di depan Tugu Kujang, Kampus I UIN Bandung, Kamis, 5 November 2026. Dalam aksi ini, mahasiswa mengangkat dua isu utama: karhutla dan penangkapan peserta demonstrasi 20 Oktober 2026 yang digelar untuk memperingati dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Secara bergantian, mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui orasi, nyanyian, dan musikalisasi puisi. Mereka menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan lingkungan sekaligus menghentikan tindakan sewenang-wenang terhadap peserta aksi.
Fauzan Haansa dalam orasinya menyoroti kerusakan alam dan habitat satwa akibat kebakaran hutan yang dinilainya tidak ditangani secara serius oleh pemerintah. Ia juga menyinggung pernyataan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebut kebakaran dipicu oleh ulah manusia dan faktor alam, seperti El Niño atau sambaran petir. Menurutnya, narasi tersebut berpotensi mengaburkan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai mahasiswa UIN Bandung, Fauzan mengaitkan persoalan tersebut dengan ajaran Islam dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia sebagai khalifah di bumi.
“Manusia dikirim ke bumi selain menjadi pemimpin yaitu untuk melestarikan alam. Dan hari ini nyatanya manusia lalai dalam menjaga kelestarian alam tersebut,” terangnya saat berorasi.
Fauzan juga mengkritik penolakan pemerintah terhadap tawaran bantuan pemadaman api dari negara lain. Ia menilai pemerintah terlalu percaya diri mampu menangani persoalan tersebut secara mandiri. Ia menilai pemerintah seakan-akan bisa menyelesaikan karhutla, tapi kenyataanya kebakaran hutan semakin meluas.
Selain karhutla, Fauzan menyinggung penanganan bencana alam di Aceh dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mengkhawatirkan kerusakan lingkungan yang tidak ditangani secara serius akan mengancam keberlanjutan ekologi Indonesia.
“Bahwa rezim Prabowo-Gibran bukan hanya gagal dalam bisa mensolusikan persoalan-persoalan negara, tapi juga gagal dalam menguatkan moral rakyat dan juga alam yang ada di Indonesia,” tutupnya.
Senada dengan Fauzan, Siti Fadilla, mahasiswi semester tujuh Jurusan Jurnalistik, mengkritik penolakan pemerintah terhadap bantuan negara lain. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan penanganan kebakaran membutuhkan dukungan lebih besar.
Siti menjelaskan, Aksi Kamisan kali ini merupakan kolaborasi antara Aksi Kamisan UIN Bandung dan mahasiswa Jurusan Jurnalistik. Kolaborasi tersebut bertujuan mengawal berbagai persoalan yang tengah terjadi sekaligus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan.
“Ini menjadi ruang untuk kami sebagai mahasiswa untuk bisa menyuarakan apa yang menjadi keresahan kami semua, terutama saya pribadi terkait carut-marutnya kasus-kasus yang terjadi pada era kepemimpinan Prabowo-Gibran ini," ujar Siti.
Ia mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional dan turun langsung melihat kondisi masyarakat terdampak. Pemerintah juga dituntut turun langsung ke lokasi langsung.
Siti berharap pemerintah segera mengambil langkah serius agar bencana tahunan tersebut tidak terus berulang. Ia juga berharap tahun ini menjadi tahun terakhir terjadinya karhutla dengan dampak terburuk di Indonesia.
Baca Juga: Aksi Kamisan di Braga: Merawat Welas Asih dari Jalanan
Perkembangan Kasus Demonstrasi 20 Oktober 2026 di Bandung: Dari Penangkapan hingga 13 Tersangka

Menuntut Pembebasan Mahasiswa yang Ditangkap
Selain karhutla, penangkapan peserta demonstrasi 20 Oktober menjadi isu lain yang disuarakan dalam Aksi Kamisan. “Bebaskan kawan kami,” ujar Alief Maulana sembari mengangkat tiga jari ke udara. Seruan tersebut merujuk pada penangkapan seorang mahasiswa yang diduga terkait demonstrasi 20 Oktober lalu. Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik itu menilai aparat seharusnya berfokus pada substansi tuntutan massa, bukan melakukan penangkapan yang justru mengalihkan perhatian dari aspirasi masyarakat.
“Jadi setiap aksi itu menunjukan pola yang gitu-gitu aja. Di mana aksi itu selalu dipukul mundur dan berakhir penangkapan,” ungkap Alief usai orasi.
Penangkapan tersebut juga berdampak pada keberanian mahasiswa untuk kembali turun ke jalan. Alief mencontohkan rencana keterlibatan mahasiswa dalam aksi pada 28 Oktober, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang akhirnya diurungkan karena kekhawatiran akan penangkapan serupa.
Sebagai gantinya, mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui aksi berskala kecil, salah satunya Aksi Kamisan. Alief mengajak seluruh sivitas akademika UIN Bandung untuk terlibat dalam ruang penyampaian pendapat tersebut.
Dalam aksi itu, ia bersama peserta lainnya menuntut pembebasan mahasiswa UIN Bandung yang ditangkap polisi dan kini berstatus tersangka. Ia juga berharap kepolisian, TNI, dan pemerintah menjalankan tugas serta fungsi masing-masing dalam menyikapi penyampaian pendapat di muka umum.
Di penghujung aksi, Ketua DEMA UIN Bandung, Mochamad Abdu Malik, menyampaikan tuntutan keadilan melalui orasi yang diiringi musikalisasi puisi. Ia menegaskan mahasiswa akan terus memperjuangkan aspirasi masyarakat.
“Karena semakin ditekan, kami semakin melawan. Diserang makin keras, perlawanan kami pun akan semakin keras,” bebernya.
Aksi Kamisan ditutup dengan penyalaan lilin dan doa bersama. Melalui aksi simbolik tersebut, mahasiswa berharap solidaritas dan tuntutan keadilan tetap menyala di tengah berbagai persoalan yang mereka suarakan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


