• Nusantara
  • Mengenali Gejala Kekurangan Oksigen pada Pasien Covid-19

Mengenali Gejala Kekurangan Oksigen pada Pasien Covid-19

Gejala kekurangan oksigen pada awalnya tak terlihat, lama-kelamaan bisa memicu sesak dan gagal napas.

Petugas RSHS membawa pasien terkonfirmasi Covid-19 ke IGD khusus, sementara pasien bergejala lain menunggu di area zona merah sambil menunggu screening pemeriksaan , 13 Juni 2021. Bed Occupancy Rate Covid-19 di rumah-sakit di Jawa Barat sebesar 68 persen, sedangkan untuk Bandung Raya melonjak sampai 85 persen pasca libur lebaran. (Foto: Prima Mulia)

Penulis Iman Herdiana17 Juli 2021


BandungBergerak.idSerangan Covid-19 pada gelombang tahun kedua ini ditandai dengan tingginya pasien yang mengalami masalah pernapasan, seperti sesak dan rendahnya saturasi oksigen. Gejala massif ini diikuti dengan kelangkaan oksigen medis di pasaran.

Tidak sedikit pasien Covid-19 yang mengalami gagal napas dan meninggal dunia karena rendahnya kandungan oksigen di dalam tubuhnya. Gejala ini disebut happy hypoxia yang penting diketahui oleh pasien terinfeksi Covid-19 maupun keluarganya. Dengan mengetahui gejala happy hypoxia, diharapkan bisa segera dilakukan penanganan yang tepat.  

Dokter ahli penyakit dalam yang juga staf pengajar Respirologi Fakultas Kedokteran UI, Ceva Wicaksono Pitoyo, mengatakan bahwa penderita Covid-19 dengan happy hypoxia memiliki kadar oksigen rendah, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan saturasi yang rendah namun tidak bergejala. Awalnya, sang pasien yang happy hypoxia akan merasa baik-baik saja.

“Saturasi oksigen adalah persentase Hb (Hemoglobin) yang mengikat oksigen atau kejenuhan Hb yang teroksigenisasi,” jelas Ceva, dalam seminar daring 10 th D’Rossi Open Lecture yang diadakan oleh FKUI, dikutip dari laman UI, Sabtu (17/7/2021).

Saturasi oksigen seseorang dapat diukur dengan alat yang bernama oximeter. Pengukurannya dilakukan dengan cara menjepitkan oximeter pada jari tangan. Saturasi oksigen kemudian akan diukur berdasarkan jumlah cahaya yang dipantulkan oleh sinar inframerah, yang dikirim ke pembuluh darah kapiler.

Penyebab penderita Covid-19 yang cenderung memiliki tingkat oksigen dikarenakan sirkulasi oksigen pada pasien yang terhambat akibat adanya infeksi virus pada paru-paru, sehingga mengakibatkan penumpukan cairan yang menyulitkan oksigen masuk ke dalam tubuh.

Saturasi oksigen dapat dipengaruhi oleh fungsi paru dan sistem peredaran darah. Sedangkan distres napas pada pasien Covid-19 bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu gagal napas dan tromboemboli (bekuan darah yang bergerak)..

Ceva menjelaskan beberapa cara untuk meningkatkan saturasi oksigen agar tetap stabil, di antaranya, memastikan bahwa sirkulasi udara di ruangan sudah baik, olahraga teratur, konsumsi zat besi, dan menghindari merokok.

“Hal ini mungkin terdengar klise, tapi ini adalah cara-cara klasik yang sudah terbukti menjaga kesehatan manusia secara holistik,“ ujarnya.

Pasien Isolasi Mandiri di Luar Rumah Sakit

Kebutuhan oksigen medis meningkat pesat di Jawa Barat. Begitu juga dengan jumlah pasien yang meninggal dunia. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berusaha melakukan pengadaan oksigen medis dari daerah-daerah di luar Jawa. Dengan cara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengklaim telah mulai mengendalikan kelangkaan oksigen medis di Jawa Barat.

“Akan dibagikan ke rumah sakit-rumah sakit puskesmas kita dapatkan dari Pulau Sumatera sampai Kalimantan dari Pulau Sulawesi sampai Singapura kita upayakan demi keselamatan jiwa rakyat yang kita cintai," kata Ridwan Kamil, di sela acara virtual doa bersama, dalam siaran persnya, pekan lalu.  

Ridwan Kamil mengakui akhir-akhir ini banyak berita duka. Dalam sehari, ia bisa menerima 5 sampai 10 berita duka di handphone-nya.

Menurutnya, di Jawa Barat ada 90.000 orang pasien positif aktif Covid-19. Sebanyak 20.000 orang di antaranya dirawat di rumah sakit, sedangkan sisanya, sekitar 70.000 pasien (80 persen) melakukan isolasi mandiri. Ia mengajak semua orang untuk mendoakan kesembuhan mereka.

Editor: Redaksi

COMMENTS