Gadis Ngarot
Gadis-gadis ngarot Indramayu berhiaskan mahkota bunga untuk menyambut musim tanam, meski hujan belum juga turun karena pengaruh perubahan iklim dan el nino.
Gadis-gadis ngarot Indramayu berhiaskan mahkota bunga untuk menyambut musim tanam, meski hujan belum juga turun karena pengaruh perubahan iklim dan el nino.
BandungBergerak.id - Jarum jam masih menunjukan pukul 7 pagi, tak ada kegiatan petani di sawah-sawah yang terlihat telah habis dipanen di wilayah Kecamatan Lelea, Indramayu, 13 Desember 2023. Udara segar pagi minim polusi beraroma rumput dan pandan dari bekas potongan batang-batang padi yang dipanen jadi teman perjalanan yang menyenangkan.
Banyak burung-burung air berburu mangsa di sawah-sawah yang menghampar di Desa Lelea, sebuah desa yang luasnya sekitar 422 hektare. Sayang tak bisa berhenti untuk sekadar memotret pemandangan tersebut, karena tujuan utama pagi itu adalah bisa sampai di Desa Lelea sebelum pukul setengah delapan pagi.
Pagi itu akan berlangsung sebuah helaran tradisi yang disebut ngarot. Ngarot adalah tradisi helaran para gadis belia yang disebut cuwene dan anak laki-laki yang disebut bujang dengan beragam rentang usia, umumnya di rentang usia 8-17 tahunan. Tradisi ini digelar di awal musim tanam rendeng atau musim tanam padi utama di musim hujan, walaupun saat ini dampak perubahan iklim dan fenomena el nino berupa kemarau panjang masih terus berlangsung di wilayah Jawa Barat.
Pukul setengah delapan pagi, gadis-gadis berpakaian kebaya merah menyala sudah berkumpul di sebuah rumah kayu berdinding bilik bambu. Beberapa dari mereka sudah memakai hiasan bunga warna warni di kepalanya. Beberapa gadis lain juga sedang dirias, sebagian lagi dengan sabar menunggu untuk dibuatkan mahkota bunga.
Hiasan bunga kenanga, melati, dan bunga kertas itu dibuat sedemikian rupa hingga menutupi hamper seluruh kepala. Jadi mirip mahkota bunga. Konon tiga jenis bunga ini melambangkan kesucian dan kecantikan para gadis ngarot.
Yang sudah selesai dirias sempat berfoto dengan keluarga masing-masing, entah dengan orang tua, adik, kakak, nenek, paman, atau bibi mereka.
Ngarot tradisi turun temurun. Dian (38 tahun), merupakan perempuan ngarot tahun 1999. Waktu itu ia ikut ngarot ketika masih kelas 6 SD atau berusia 12 tahun. Sekarang Dian mendampingi keponakannya yang ikut ngarot, namanya Harum yang baru 9 tahun.
"Dia (Harum) memang minta diantar, pengin ikut ngarot katanya," ujar Dia, warga Desa Lelea.
Lain halnya dengan Alya, siswi kelas 6 SD berusia 11 tahun yang sudah dua kali ikut ngarot. "Pertama lihat ngarot waktu lihat temen-temen ikut, akhirnya saya jadi ikutan juga. Sudah dua kali ikut ngarot, ikut melestarikan tradisi," kata Alya. Ayah Alya asli orang Lelea, sedangkan ibunya berasal dari daerah lain.
Sekitar setengah sembilan pagi, iring-iringan para gadis ngarot mulai berjalan kaki menuju balai adat dan rumah Kuwu Lelea, kebetulan letak dua tempat ini bersisian. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 2,5 kilometer jalan kaki.
Beberapa anak gadis ada yang langsung diantar ke rumah kuwu. Ada gadis yang dibonceng dengan motor oleh neneknya. Keduanya naik sepeda motor bebek yang sudah dimodifikasi khusus untuk melahap jalanan offroad.
Jalan menuju balai adat melewati gang dan jalan-jalan kampung, melintasi sisi sawah atau sungai-sungai kecil dan saluran irigasi. Air sungai bening kehijauan dengan beberapa jenis ikan liar di alirannya, pertanda kualitas air di desa masih sangat terjaga tanpa pencemaran.
Iring-iringan peserta ngarot akhirnya tiba di balai adat disambut iringan kesenian genjring dan tanjidor ala Indramayu.
Para seniman musik tradisional Pantura ini tampil unik, alat musik seperti bonang, kendang besar, dan organ yang dibawa pakai sepeda ontel. Sementara beberapa orang lain memainkan alat tabuh terbang. Musisi tanjidor dilengkapi dengan trompet, trombone, gitar listrik, snare, dan bass drum, serta pengeras suara Toa besar yang dibawa juga dengan sepeda ontel.
Para peserta helaran ngarot sudah berkumpul di balai adat. Mereka siap berjalan kaki menyusuri sejumlah ruas jalan desa menuju kantor Kuwu atau Desa Lelea yang menjadi pusat keramaian kecamatan bagi tradisi ngarot. Konon tradisi ini sudah berjalan sejak tahun1646, di masa kepemimpinan Kuwu Kapol.
Pukul 9 pagi, 120 orang peserta tradisi ngarot mulai berjalan kaki meninggalkan balai adat. Iring-iringan berjalan perlahan dipimpin oleh Kuwu Raidi didampingi istri dan anak gadisnya yang juga ikut ngarot. Formasi ini sudah jadi pakem di mana kuwu memimpin helaran tradisi ngarot diikuti para cuwene dan bujang.
Iring-iringan tradisi ngarot berjalan kaki cukup jauh, lebih dari 3 kilometer. Setelah keluar kampung, mereka berjalan menyusuri jalan raya Lelea ke arah kantor kuwu. Warga masyarakat yang menonton memenuhi semua badan jalan, termasuk para pedagang musiman. Tak ada lagi sisa untuk kendaraan bermotor, semua berubah jadi lautan manusia.
Salah seorang pedagang yang berharap berkah ngarot ini adalah Dede. Wanita asal Cirebon berusia 50 tahun ini berjualan minuman dingin dan makanan-makana street food ala Korea yang juga populer di Lelea.
"Ya nggak tentu juga, kira-kira bisa dapat sejutalah (rupiah). Ini aja baru mulai buka, pedagang baru boleh jualan setelah rombongan gadis ngarot lewat," kata Dede yang khusus datang berdagang ke Lelea hanya saat ngarot.
Di antara padatnya kerumunan manusia, rombongan gadis ngarot terlihat paling menyita perhatian dengan warna kebayanya yang menyala ditambah hiasan mahkota bunga warna warni. Ratusan alat perekam digital dan acungan ponsel terus mengiringi mereka.
Saat 120 orang peserta cuwene dan bujang masuk ke kantor kuwu, petugas langsung menutup gerbang masuk dengan barikade pagar bambu dan meja kayu agar warga tidak ikut masuk karena kapasitas area terbatas. Iringan kesenian ronggeng ketuk menghibur para peserta ngarot dan tamu undangan yang hadir.
Tradisi Menyambut Musim Tanam
Di masa lalu, anak-anak yang telah mengikuti tradisi ngarot akan langsung turun ke sawah untuk belajar menanam padi. Setelah berjalan kaki keliling desa, mereka akan langsung turun ke sawah dengan masih berpakaian kebaya dan hiasan bunga itu.
“Kalau sekarang kan nggak lagi ke sawah, tinggal simbolis saja yang digelar di kantor kuwu," kata Dian. Simbol yang dimaksud seperti kendi berisi air, benih padi, cangkul, pupuk, dan simbol penangkal hama berupa daun pisang, bambu kuning, serta daun andong.
Menurut Kuwu Lelea Raidi, selain untuk melestarikan tradisi budaya turun temurun di Lelea, ngarot juga sebagai ungkapan syukur atas datangnya musim tanam padi dan harapan hasil panen melimpah.
"Ngarot sudah jadi warisan budaya tak benda nasional karena mampu dilestarikan masyarakat secara turun temurun di Desa Lelea," katanya.
Ngarot disebut sudah berlangsung sejak tahun 1646 yang digagas oleh Kuwu Lelea di masa itu, yaitu Ki Kapol. Pelaksanaan ngarot harus jatuh pada hari Rabu Wekasan setahun sekali, antara bulan November-Desember.
Konon, asal kata ngarot diambil dari kata ngaruwat yang artinya membersihkan diri dari segala dosa dan noda. Ada juga yang menyimpulkan diambil dari kata bahasa Sunda rot yang artinya minum.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ngarot semakin populer dan jadi pertunjukan seni tradisi yang menarik perhatian para wisatawan dari luar Indramayu. Sehari itu, desa dengan penduduk lebih dari 4.600 jiwa ini benar-benar larut dalam festival budaya tradisi tersebut. Berbondong-bondong para fotografer dari luar kota sibuk mengabadikan jalannya helaran. Demikian juga dengan netizen dan content creator, mereka sibuk merekam detik demi detik, langkah demi langkah, momen demi momen, perhelatan setahun sekali di Desa Lelea.
Jarak dari Kota Bandung ke Lelea menurut Google maps sekitar 139 kilometer melalui jalan nasional nontol dengan rute Bandung Sumedang via Tomo sampai Majalengka via Kadipaten-Kertajati-Jatitujuh, lalu masuk Indramayu via Tukdana-Tugu-Lelea. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam dengan sepeda motor dengan kondisi jalan lancar. Bisa lebih cepat memakai mobil melalui Tol Cisumdawu.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS