BandungBergerak - Sepenggal jejak masa lalu di era kolonial Belanda tersimpan di Pulau Santolo, Garut, Jawa Barat. Pulau karang atau atol berpasir putih itu berdiri di hutan cagar alam, Pantai Santolo. Konon, arti Santolo adalah tempat matahari terbenam, serapan kata dari bahasa Belanda. Entah benar atau tidak, yang jelas jika cuaca bersahabat kita bisa melihat matahari terbenam yang cantik.

Pulau Santolo berada di wilayah pesisir Sayangheulang, Kecamatan Pameungpeuk. Muara Sungai Cilauteureun jadi pemisah antara Pulau Santolo dan Pantai Santolo yang masuk wilayah Garut selatan, Kecamatan Cikelet. Jaraknya tak jauh, kita hanya perlu naik perahu menyeberangi muara. Dulu pernah ada jembatan gantung yang menghubungkan Pulau Santolo dengan cagar alam Pantai Santolo. Jembatan ini sekarang sudah roboh.

Ada dua ekses menuju Pulau Santolo, dari gerbang masuk Pantai Santolo di Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, atau dari gerbang masuk Pantai Sayangheulang di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk. Jika ingin sedikit berpetualang lewat Sayangheulang lebih cocok. Kita bisa menyusuri garis Pantai Sayangheulang ke arah Cilauteureun melalui perkampungan nelayan, kedai-kedai ikan bakar, dan penginapan-penginapan pinggir pantai.

Atau kita bisa berjalan menyusuri pasir putih dan gugusan karang maha luas di sepanjang garis pantai menuju ke arah Cilauteureun. Disarankan pagi-pagi atau sore hari supaya tidak terlalu panas. Setelah berjalan sekitar 1 kilometer, di kejauhan tampak mencuat bangunan mercusuar.

Sampai ujung Sayangheulang, kita harus menyeberang naik rakit eretan dengan tarif 5.000 rupiah per orang ke kampung nelayan Pantai Santolo. Lalu jalan kaki lagi menyusuri dermaga kapal-kapal nelayan. Dari dermaga kita menyeberang lagi ke Pulau Santolo naik perahu nelayan dengan tarif 5.000 rupiah.

Perahu tersebut akan membawa ke depan cagar alam, dari sini kita bisa menjelajah pulau mungil ini. Pulau Santolo terkenal dengan dermaga tua dan mercusuar yang dibangun di masa Hindia Belanda. Dahulu dermaga ini dibangun untuk menghadang ganasnya gelombang Samudera Hindia, jadi kapal-kapal kecil nelayan bisa keluar masuk dan bersandar dengan aman.

“Ini sudah roboh dermaganya, tapi masih cukup kuat menahan gelombang besar,” kata Engkus, 76 tahun, di warungnya, 8 Januari 2026.

Warung Engkus berdiri di sisi dermaga tua dengan pemandangan ke arah mercusuar. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini.

“Yang pakai kapal kecil bisa berlabuh disini, tapi kalau kapal-kapal nelayan bersandarnya di Cilauteureun,” tambah Engkus.

Ya, di Pulau Santolo ada dermaga yang dibangun sekitar tahun 1910 -1913 di masa Hindia Belanda. Mercusuar yang dibangun dekat dermaga berfungsi untuk menavigasi kapal-kapal yang melintasi wilayah perairan karang Garut Selatan. Dari Pulau Santolo kerap terlihat kapal-kapal besar di kejauhan yang mengarah ke jalur pantai selatan Cianjur, Sukabumi, sampai Banten.

Garut selatan sejak dulu memang dikenal sebagai penghasil komoditas perkebunan skala besar terutama karet, teh, rempah-rempah, dan coklat. Waktu itu untuk komoditas perkebunan di dataran tinggi Cikajang dan sekitarnya bisa diangkut pakai kereta api dari Stasiun Cikajang. Belanda membangun akses transportasi darat berupa jalan berbatu di kawasan dataran tinggi sampai ke wilayah pesisir.

Komoditas dari perkebunan di Pameungpeuk, Cikelet, dan Cisompet lalu diangkut ke dermaga di Pulau Santolo, selanjutnya dibawa menggunakan kapal-kapal kecil ke kapal-kapal besar yang buang sauh di perairan lebih dalam.

Panjang dinding dermaga sekitar 100 meter dengan lebar sekitar 50 meter. Diperkirakan dermaga ini mampu menampung sekitar 50 kapal nelayan bobot 5 ton. Puluhan tahun lalu masih ada rel untuk lori pengangkut komoditas dan alat pengatur ketinggian air, sayangnya semua hilang entah ke mana dan oleh siapa.

Menurut legenda lokal, konon pulau ini erat dengan dunia mistis. Dari mulai penampakan seorang perempuan yang menunjukan lokasi dimana harusnya dermaga dibuat saat pembangunan di masa lalu, sampai orang-orang yang sengaja datang untuk bertirakat mencari ilmu kebatinan. Wujud gaib seperti wujud wanita atau dewi ular disebut kerap masih menampakan diri saat ada kecelakaan di laut atau pantai.

Terlepas dari benar tidaknya kisah yang dituturkan secara turun temurun tersebut, konsep mistis dan pamali (larangan) masih bisa mencegah kerusakan lingkungan di Pulau Santolo. Tidak seperti laguna-laguna karang dan barisan pandan laut di garis pantai Sayangheulang ke arah gumuk pasir Tungtung Karang yang habis dibabat demi penataan jalur pedestrian dan spot-spot foto era Gubernur Ridwan Kamil. Cerita mistis dan pamali ini erat kaitannya dengan konsep konservasi, bukan cerita hantu belaka.

 

*Foto dan Teks: Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//