Orang Muda Menjaga Potehi
Wayang potehi Sanggar Siauw Pek San tampil dalam bahasa Indonesia di panggung Asia dan Eropa, memadukan warisan leluhur dengan sejarah nasional dan tema kekinian.
Wayang potehi Sanggar Siauw Pek San tampil dalam bahasa Indonesia di panggung Asia dan Eropa, memadukan warisan leluhur dengan sejarah nasional dan tema kekinian.
BandungBergerak - Tawa, ketegangan, dan haru silih berganti di wajah penonton saat menyaksikan pertunjukan wayang potehi oleh Sanggar Kelana Wayang Potehi Siaw Pek San di ruang temu budaya dan galeri Tjap Sahabat, kawasan Pecinan Cibadak, Bandung, 15 Januari 2026. Setiap malam, mereka disuguhi kisah-kisah klasik seperti Sun Go Kong: Perjalanan ke Barat dan Hakim Bao, hingga cerita kontemporer berjudul dr. Oen.
Panggung wayang potehi yang sangat jarang atau mungkin tak pernah digelar di Bandung ini merupakan rangkaian dari eksebisi seni dengan tajuk Kelana Wayang Potehi Cap Cip Cup yang digelar 15 Januari sampai 30 Januari 2026.
Semakin sore semakin banyak penonton berdatangan. Mereka menyibak tirai kertas berwarna merah muda dan kuning di bangunan tua bekas pabrik sabun yang kini bersalin rupa jadi ruang persilangan antara seni, sejarah, budaya, dan keseharian Tjap Sahabat.
Penonton lintas generasi dari beragam latar belakang mulai memenuhi deretan kursi di ruang dengan cahaya temaram. Di depan, lampu spot menyorot panggung kecil dengan dominasi warna merah dan detail corak berwarna emas tak lebih dari 1,5 meter lebarnya. Seorang dalang dan asisten dalang mulai mempersiapkan boneka-boneka atau wayang yang akan dimainkan sesuai lakon.
Salah seorang penonton, Fairuz, 25 tahun, mengatakan pertunjukan malam itu menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan wayang potehi secara langsung. Ia mengaku belum mengetahui asal-usul kesenian tersebut, namun ketertarikannya pada seni pertunjukan mendorongnya datang. Sejak dulu ia gemar bermain dan menonton kabaret maupun teater. Rasa penasaran itulah yang membuatnya ingin melihat bagaimana wayang potehi dimainkan, bagaimana dialog para tokohnya dibawakan di atas panggung.
“Kalau wayang kan beda, saya pengen lihat langsung mainnya gimana, dialognya gimana,” kata Fairuz.
Para pemusik latar bersiap di belakang panggung. Mereka memainkan seperangkat alat musik perkusi, tiup, dan gesek. Dalang Andika Pratama mulai beraksi dibelakang panggung, ia membuka pertunjukan dengan pengenalan sejumlah tokoh, asisten dalang Indira Natalia tak kalah sigap memainkan juga karakter wayang lainnya.
Menurut Indira, wayang potehi bisa dimainkan dan ditonton oleh siapa pun, tidak memandang latar belakang suku, agama, atau sekat sosial apa pun. “Jadi merasa luwes gitu, saya seperti menonton opera tapi dalam ukuran mini. Jadi saya tertarik untuk bisa memainkannya,” katanya.
Wayang potehi di Indonesia memiliki keunikan yang tidak dimiliki pertunjukan serupa di negara lain. Meski berasal dari tradisi Tiongkok, wayang ini tumbuh dan beradaptasi dengan bahasa serta kebudayaan setempat. Di Indonesia, lakon-lakonnya dibawakan dalam bahasa Indonesia, bahkan kerap diselipi dialek dan ungkapan lokal yang akrab di telinga penonton.
Berbeda dengan pertunjukan di Thailand, Malaysia, atau Singapura yang umumnya tetap menggunakan bahasa Mandarin, kelompok potehi Indonesia justru menjadikan bahasa Indonesia sebagai medium utama penceritaan. Karena itu, ketika mereka tampil di berbagai negara Asia maupun Eropa, bahasa yang digunakan tetap bahasa Indonesia; penonton mancanegara dapat mengikuti alur cerita melalui deskripsi atau terjemahan dalam bahasa mereka masing-masing.
Bagi Indira, di situlah letak kekuatan sekaligus identitas wayang potehi Indonesia—tradisi Tiongkok yang hidup sepenuhnya dalam suara dan bahasa Nusantara.
Indira adalah lulusan IKJ jurusan seni murni. Ia banyak mengolah seni instalasi dan lukisan bergaya kontemporer. Bersama Kelana Wayang Potehi, ia melanglang buana ke banyak kota, mulai dari Yogyakarta, Ciamis, Bandung, Penang di Malaysia, Singapura, sampai Palermo di Itali.
Andika, 27 tahun, pendiri sanggar wayang potehi Siauw Pek San, menurutkan sanggar wayang potehi ini dibentuk setelah ia beberapa orang muda bolak-balik Jakarta - Jawa Timur untuk belajar pada para maestro. Lalu, hingga terbentuklah sanggar di Jakarta, kota metropolitan dengan keragaman latar budaya orang-orangnya.
Andika mengatakan sanggar yang mereka kelola tidak hanya berfokus pada pementasan, tetapi juga pelestarian dan pengembangan wayang potehi agar tetap relevan dengan zaman. Mereka berupaya mendekatkan kesenian tradisional ini kepada generasi muda melalui pilihan tema yang lebih kontekstual, termasuk isu-isu yang akrab dengan kehidupan sekarang.
Selain mengangkat kisah klasik, sanggar juga mengembangkan cerita dari sejarah nasional, khususnya tokoh-tokoh pergerakan keturunan Tionghoa seperti dr. Oen Boen Ing, lulusan STOVIA yang turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Salah satu cara untuk dekat dengan generasi muda adalah dengan tema yang mereka suka seperti kasus-kasus korupsi atau kejahatan, kita pentaskan wayang dengan tokoh Hakim Bao,” jelas Andika.
Wayang potehi adalah wayang tangan, mirip boneka tangan yang dimainkan menggunakan lima jari. Wayang ini adalah seni pertunjukan boneka asal Cina di masa Dinasti Tang pada abad ke-7 sampai ke-9. Wayang potehi konon mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-16 atau ke-17, lalu menyebar ke pesisir Jawa di sisi utara.
Di samping sebagai sarana hiburan, wayang ini juga awalnya berkembang sebagai medium ritual dan pewarisan nilai. Dalam perjalanannya, wayang Potehi di luar Cina, khususnya di Indonesia, bertransformasi melalui interaksi budaya, bahasa, dan kesenian serta cerita lokal.
Wayang potehi sejak awal banyak dipentaskan di vihara atau kelenteng, kebanyakan di wilayah Jawa Timur seperti di Surabaya, Tuban, Tulungagung, dan Jombang. Di Semarang dan Solo juga ada, sampai Cirebon, tapi tidak intens seperti di Jawa Timur. Wayang potehi lebih lestari di pesisir utara Jawa karena pola migrasi manusia dari luar ke Nusantara di masa lalu.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS