Duka di Lereng Burangrang
Pencarian panjang korban longsor dari lereng Gunung Burangrang yang menimbun puluhan rumah dan kebun. Menewaskan dan menghilangkan lebih dari 80 orang.
Pencarian panjang korban longsor dari lereng Gunung Burangrang yang menimbun puluhan rumah dan kebun. Menewaskan dan menghilangkan lebih dari 80 orang.
BandungBergerak - “Itu kampung di atas paling banyak rumahnya, ada 30an mah, tidak kelihatan lagi semua tertimbun,” kata Eman, petani di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu pagi, 24 Januari 2026. Tragedi awal tahun ini diperkirakan terjadi dini sekitar pukul 02.30, berdasarkan data dari posko utama BPBD Provinsi Jawa Barat. Catatan perkiraan waktu kejadian hampir sesuai dengan jam dinding yang teronggok di reruntuhan rumah warga, menunjukan waktu pukul 02.45 dini hari.
Menurut Eman, rumah dan seluruh kebun (greenhouse) habis tak tersisa. Di dalamnya sebelumnya ada kebun paprika, selada, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Terdapat pula kebun bunga potong, seperti hebras (gerbera) dan kembang listrik (aster).
“Semuanya musnah,” ujar Eman.
Eman menunjuk ke arah puluhan petugas gabungan SAR yang berjibaku menggali lumpur, batu, dan segala material yang berserakan menghampar luas di lautan lumpur berwarna coklat tua.
“Itu mereka berada di atas rumah-rumah warga yang habis tertimbun,” kata Eman.
Lebih dari 80 orang dilaporkan hilang setelah tertelah material longsor, termasuk 23 prajurit marinir TNI AL yang saat itu tengah menjalani latihan di kawasan tersebut.
“Sudah 6 yang teridentifikasi sebagian sudah diambil keluarga, ada yang belum juga. Dua kantung lainnya berupa potongan tubuh, yang ini anggota TNI,” kata salah seorang petugas di posko disaster victim identification (DVI) Polda Jawa Barat, di bagian belakang Puskesmas Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu pagi, 24 Januari 2026.
Longsoran tebing memanjang dari kawasan hutan Gunung Burangrang meluncur deras ke lembah berupa perkampungan dan rumah-rumah kaca kebun bunga potong, paprika, selada, dan jenis sayuran semusim lainnya. Hanya menyisakan puing-puing dan reruntuhan material, perkampungan dan rumah-rumah kaca itu semua tertimbun lumpur tebal berwarna coklat.
Ada satu kawasan di kaki gunung dan termasuk yang sebagian tersapu longsor adalah Bukit Mentari, hanya ada sisa-sisa tegakan pohon pinus di bagian atas sedangkan bagian lerengnya menjadi kebun-kebun sayuran semusim terasering.
Sedikit Persiapan
Pasangan suami istri, Devi dan Ivan, tampak menarik karung berisi pakaian bersih yang masih sempat mereka selamatkan saat longsor menerjang kampung mereka. Di tengah kepanikan dini hari itu, keduanya berusaha menyelamatkan barang-barang yang sudah lebih dulu mereka siapkan untuk situasi darurat.
Ivan menuturkan, suara gemuruh terdengar ketika permukiman di bagian atas mulai diterjang longsor. Ia dan istrinya segera mengambil dokumen penting yang telah dipisahkan sebelumnya, lalu bergegas menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Rumah orang tua mereka yang berada di bagian bawah tak tersisa setelah tertimbun material longsor.
Devi mengatakan, kesadaran akan mitigasi bencana sudah mereka bangun sejak dua tahun terakhir. Mereka kerap membaca informasi tentang potensi gempa di Sesar Lembang, sementara wilayah Cisarua tempat mereka tinggal berada di jalur tersebut. Sejak itu, surat-surat berharga dan barang penting lainnya disimpan dalam kantong terpisah agar mudah dibawa saat darurat. Meski demikian, beberapa dokumen tetap tak sempat terselamatkan. Untuk sementara, mereka berencana mengungsi ke rumah kerabat di desa.
“Waktu itu bergemuruh saat kampung yang di atas mulai terkena longsor. Saya dan istri langsung ambil barang-barang, terutama dokumen penting yang memang sudah kami siapkan secara terpisah. Kami langsung keluar ke wilayah yang lebih tinggi. Rumah orang tua kami yang di bawah hancur terkubur longsor,” kata Ivan.
“Sejak dua tahun lalu kita sudah pisahkan surat-surat berharga ke dalam kantong terpisah, juga barang-barang berharga lain. Jadi kita simpan saja nggak dibongkar-bongkar lagi. Saat kejadian longsor kita langsung bawa kantung dan tas yang penting saja, tapi tetap saja ada dokumen penting yang hilang juga,” kata Devi, yang mengungsi ke rumah kerabat di desa.
Tanggap bencana diberlakukan, petugas SAR gabungan dan relawan-relawan kemanusiaan berupaya mencari korban yang masih tertimbun di tengah cuaca buruk dan ancaman longsor susulan. Kedalaman lumpur bisa sebetis sampai pinggang orang dewasa, menjadi hambatan tersendiri saat operasi pencarian korban hilang.
Belasan alat berat (ekskavator) mulai beroperasi untuk mempercepat proses pencarian. Untuk pengambilan jenazah dan evakuasi tetap dilakukan secara manual. Kantong dibawa secara estafet oleh ratusan orang petugas SAR dari mulai lokasi penemuan sampai ke ambulans.
Evakusi korban tidak mudah. Mereka berpijak di atas lumpur dan air yang tak stabil, lalu berpindah dari tangan ke tangan melewati tebing yang memisahkan lahan pertanian dengan rumah-rumah, baru dibawa melalui jalan kecil ke ambulans yang parkir di pinggir jalan desa.
Hari ke sembilan pencarian, 1 Februari 2026, bangkai-bangkai mobil dan sepeda motor disingkirkan ke area aman di pinggiran batas zona pencarian. Batu-batu sebesar bola sepak sampai yang sebesar mobil dnegan berbobot puluhan ton jadi kendala lain dalam operasi pencarian. Satu jenazah ditemukan, perlu waktu beberapa jam untuk membebaskannya dari himpitan batu sebesar angkot.
Hujan mulai turun, kabut tebal menuruni lereng gunung dengan cepat, jarak pandang paling jauh hanya 10 meteran saja. Situasi ini sangat berbahaya saat proses evakuasi korban. Petugas berpacu dengan waktu, mereka yang bersentuhan langsung dengan jenazah wajib memakai pelindung diri di hari ke tiga pencarian. Berjalan perlahan di tengah kabut tebal, petugas akhirnya berhasil mengevakuasi satu korban longsor yang tertimbun.
Tak lama suara peluit bersahutan, itu tanda semua personel harus segera bergeser ke area aman untuk menghindari pontensi longsor susulan yang sudah beberapa kali terjadi saat proses pencarian. Iring-iringan petugas bergegas di jalur setapak yang sudah dibuat. Mereka berjalan dengan latar bayangan hitam pepohonan. Operasi SAR akan dilanjutkan saat cuaca kembali membaik.
Setelah tiga pekan atau 22 hari operasi pencarian, Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana secara resmi menghentikan pencarian pada Sabtu 14 Februari 2026. 101 kantong jenazah telah dievakuasi. Tim DVI Polda Jabar mengidentifikasi 83 korban longsor, 64 korban di antaranya adalah warga Desa Pasirlangu.
Analisa Geologi
Mahkota longsor di Desa Pasirlangu berasal dari hutan lebat di tebing curam Gunung Burangrang. Material tanah dan batuan meluncur sejauh sekitar tiga kilometer ke arah lembah dan menghancurkan apa pun yang dilaluinya.
Badan Geologi, di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menyimpulkan longsor dipengaruhi kondisi lereng yang sangat curam, terutama di bagian atas dengan kemiringan 35 hingga lebih dari 55 derajat. Bagian tengah hingga bawah lebih landai, sekitar 8–16 derajat. Wilayah ini merupakan pegunungan vulkanik tua yang telah lama mengalami pelapukan dan erosi. Bekas longsoran lama juga terlihat di lereng tengah dan bawah.
Lapisan tanah tersusun dari endapan piroklastik Gunung Burangrang yang tidak terkonsolidasi dan mudah terurai, dengan ketebalan sekitar 10 meter. Di beberapa bagian tampak perlapisan antara batuan piroklastik dan lava yang telah lapuk. Struktur geologi berupa patahan dan rekahan di lereng atas turut melemahkan kestabilan tanah.
Longsor ini berkembang menjadi aliran bahan rombakan (debris flow). Di bagian atas, aliran sepanjang sekitar 1,7 kilometer menggerus kawasan hutan. Di bagian bawah, lebih dari dua kilometer aliran menerjang lahan pertanian dan permukiman di sepanjang jalur sungai. Material bergerak ke selatan lalu berbelok ke barat mengikuti alur sungai, dengan beberapa titik limpasan akibat luapan material.
Badan Geologi menyatakan potensi longsor susulan masih ada. Faktor utamanya adalah lereng curam dengan tanah vulkanik tua yang telah lapuk, kondisi air tanah, penggunaan lahan, serta keberadaan rekahan dan sesar. Pemicu langsungnya adalah hujan lebat.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah ini termasuk zona kerentanan menengah, artinya longsor dapat terjadi saat curah hujan tinggi, terutama di sekitar lembah sungai, tebing, gawir, atau lereng yang terganggu. Longsoran lama juga bisa aktif kembali.
Badan Geologi merekomendasikan relokasi permukiman terdampak ke lokasi lebih aman, menghindari pembangunan di sempadan sungai, melakukan normalisasi sungai dan pembangunan sabo untuk menahan aliran material, serta tidak beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di lereng atas atau jalur longsor.
Jalan yang terputus di dekat mahkota longsor sebaiknya tidak dibangun kembali di lokasi yang sama, melainkan dialihkan menjauh dari tebing. Pemantauan debit dan warna air sungai perlu dilakukan; jika air tiba-tiba keruh atau debit meningkat, segera laporkan ke pemerintah daerah.
Pemantauan juga perlu dilakukan di lembah lain di kaki Gunung Burangrang yang memiliki kondisi serupa. Pemetaan jalur aliran debris dan sungai dari hulu menjadi dasar pengurangan risiko dan penataan ruang. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, memahami potensi gerakan tanah, dan mengikuti arahan BPBD serta pemerintah daerah.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS