Saat Dupa Menari di Atas Danau Lembah Dewata
Dari prosesi Melasti hingga pawai ogoh-ogoh, umat Hindu di Lembang merawat semesta dan diri dalam balutan budaya lintas etnis. Merajut spiritualitas, seni, dan keber
Dari prosesi Melasti hingga pawai ogoh-ogoh, umat Hindu di Lembang merawat semesta dan diri dalam balutan budaya lintas etnis. Merajut spiritualitas, seni, dan keber
BandungBergerak - Hawa sejuk pegunungan dan asap dupa menyapa pagi di Taman Lembah Dewata, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, 14 Maret 2026. Iring-iringan umat Hindu berjalan pelan sambil membawa banten (sesaji), gebogan, benda-benda sakral pura seperi pratima atau arca, jempane (usungan atau tandu pembawa benda sakral), tedung (payung adat), umbul-umbul, dan penjor.
Tetua adat menyambut rombongan umat dengan terus melafalkan mantra. Lengan mereka memegang lonceng kecil dan dupa. Para perempuannya mengusung pratima. Umat Hindu dari wilayah Bandung Raya dan Cimahi, khususnya dari Pura Agung Wira Loka Natha Cimahi, mengikuti di belakang.
Mantra dan doa menyertai setiap langkah menuju ke daratan sekitar danau. Ada dua jembatan yang harus dilewati sebelum sampai di lokasi upacara. Ada pura di area danau, suasananya mirip dibuat seperti Pura Ulun Danu di Danau Bratan, Bali. Iring-iringan ini disebut mepeed. Ritual mepeed ini makin semarak dengan iringan gamelan Baleganjur, sebuah ensembel musik tradisi Bali yang dimainkan sambil berjalan kaki
Ratusan umat Hindu yang mengusung banten dan gebogan di atas kepala mereka satu per satu masuk ke area upacara. Benten dan usungan jempane berisi benda-benda sakral disusun rapi di atas meja besar. Jari-jari perempuan mengatur letak banten. Ada bunga-bunga, makanan kecil, uang kertas, dan hio, dalam wadah terbuat dari janur kuning.
Tari Pendet menyambut umat di sekitar patung Rama dan Shinta. Setelah itu secara berurutan Tari Baris Gede, Tari Rejang Dewa, tari Cenderawasih, dan tari Belibis, dipentaskan di depan umat sebagai bagian dari prosesi upacara Melasti.
Salah satu ritus dalam upacara Melasti adalah Tirta Amerta atau penyucian diri dan tempat. Sejumlah kaum perempuan melaksanakan prosesi penyucian ini dengan berjalan berkeliling, mulai dari pura di pinggir danau, sambil memercikan air suci, termasuk kepada umat yang hadir serta ke beberapa sudut di area upacara.
Melasti adalah prosesi penting menjelang Nyepi untuk menyucikan diri, alam, serta benda-benda sakral dari energi negatif. Umat Hindu percaya Melasti jadi bentuk permohonan kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar diberi kekuatan lahir batin dalam menjalani Catur Brata Penyepian dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026.
Dua hari sebelum Hari Raya Nyepi, dua ogoh-ogoh menyedot perhatian masyarakat di sepanjang Jalan Sriwijaya, Cimahi, 17 Maret 2026. Patung raksasa ini tidak sendiri, ia diiringi rombongan kesenian dari daerah lain dalam seni helaran Pawai Budaya & Ogoh-Ogoh Lintas Etnis & Suku. Ada 18 jenis ragam seni budaya.
Dibuka dengan tarian Pendet oleh 119 orang penari di lapang Pussenarhanud Cimahi. Satu per satu peserta pawai budaya memulai helaran menyusuri jalan dengan rute Jalan Siwijaya-Stasiun Kereta Api Cimahi-Jalan Gatot Subroto, dan kembali ke Jalan Sriwijaya.
Iring-iringan pembawa gebogan membuka jalan diikuti rombongan warga Bali berbusana adat Bali Madya, Bali Agung, dan busana Adat Pura. Di belakangnya kesenian angklung buncis, sisingaan, barongsai, topeng bondres, gamelan baleganjur, dan kelompok-kelompok etnis Jawa, Papua, Sunda, Palembang, Dayak, dan Tionghoa, dengan busana dan kesenian khasnya masing-masing.
Rangkaian upacara Melasti dan pawai ogoh-ogoh adat Hindu Bali ini dilaksanakan saat bulan Ramadan, sedangkan Hari Raya Nyepi jatuh tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Seluruh rangkaian adat dan pelaksanaan hari raya keagamaan ini berlangsung dengan tertib dan penuh toleransi.
Sehari semalam saat Nyepi umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api, lampu, dan barang elektronika. Tidak melakukan pekerjaan fisik. Tidak bepergian keluar rumah. Terakhir, tidak mencari hiburan atau kesenangan.
Usai Nyepi umat Hindu Bali mengakhiri masa hening dengan Ngembak Geni, mengunjungi keluarga dan kerabat untuk saling bermaafan.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS