Kerja Petugas Gaslah yang Terlupakan
Petugas Gaslah memikul beban pengelolaan sampah kota. Dihadapkan pada upah rendah dan minimnya minat generasi muda. Kurang diapresiasi.
Petugas Gaslah memikul beban pengelolaan sampah kota. Dihadapkan pada upah rendah dan minimnya minat generasi muda. Kurang diapresiasi.
BandungBergerak - Rita Lidyawati memasuki lorong-lorong permukiman untuk mengambil sampah organik dari rumah ke rumah di RW 4 Kelurahan Kacapiring, Kota Bandung, 25 Maret 2026. Teriakannya bergema di lorong gang, “sampah organik sampah organik.” Tak lama berselang, beberapa orang ibu-ibu keluar sambil membawa kantung plastik atau ember berisi sampah hijau sisa makanan atau bahan-bahan makanan.
Rita adalah petugas Gaslah (Pemilah dan Pengolah Sampah). Ia tak sendiri. Yosep Dariusman yang bertanggung jawab untuk mengambil sampah organik di RW 5, mendampinginya.
“Supaya efektif saya kerja barengan dengan Yosep, jadi sehari kita bisa beresi sampah organik di tujuh RT,” kata Rita.
Sinar pagi menerobos dinding-dinding bangunan dan pepohonan, jatuh tepat di tali jemuran warga. Setelah terkumpul di satu RT mereka bergerak lagi ke RT lain. Yosep mendorong roda berisi enam ember penampung sampah, sementara Rita kembali masuk ke lorong-lorong gang untuk mengambil sampah.
Selain di permukiman padat, mereka juga menjemput sampah di permukiman pinggir jalan besar yang masuk wilayah RT, namun tidak begitu banyak sampah yang diambil dari rumah-rumah besar itu. Ada satu atau dua rumah yang memiliki ember penampung sampah organik, jadi tinggal diambil saja.
Sembilan RW di Kelurahan Kacapiring sudah menjalani program Gaslah dalam dua bulan terakhir. Rata-rata sehari sampah organik yang diambil sekitar 500 kilogram, bisa lebih malah disaat momen tertentu seperti Lebaran kemarin.
Rita dan Yosep membutuhkan waktu seminggu untuk sosialisasi pemilahan sampah pada warga di wilayahnya. Selepas itu warga sudah bisa memilah sendiri sampahnya. Selain Rita dan Yosep, masih ada Sri, Nanang, dan Asep Nurdin, yang bertugas di RW lain.
Mereka biasanya saling menunggu di teras depan rumah Rita di Jalan Cianjur. Sambil istirahat, mereka minum dan ngemil seraya menanti teman-teman yang lain. “Setelah istirahat sejenak baru kita barengan setor sampah organik ke panampungan dekat kantor kelurahan,” kata Rita.
Tak semua petugas Gaslah berasal dari Kelurahan Kacapiring. Yosep berasal dari Antapani dan Sri adalah warga Cilengkrang. Kok bisa? Tentu bisa karena minimnya peminat untuk jadi petugas Gaslah di wilayah Kacapiring, apalagi dari kalangan orang muda.
Usia para petugas Gaslah yang bekerja di wilayah Kacapiring antara 41-55 tahun. Hanya Asep Nurdin yang usianya 23 tahun. Mungkin tak banyak anak-anak muda menganggur yang mau bergelimang dengan sampah organik setiap hari. Selain itu upahnya juga kecil, hanya 1.250.000 rupiah per bulan, entah bagaimana pemerintah menentukan hitungan gaji minim untuk jenis pekerjaan yang seharusnya diapresiasi lebih.
Rita, Yosep, Sri, Nanang, dan Asep, harus bersiasat agar masih bisa menikmati hari libur di akhir pekan, layaknya aparatur sipil negara lainnya. Karena urusan sampah ini, libur sehari dua hari saja saat akhir pekan bakal berdampak pada penumpukan yang cukup luar biasa, jadi perlu kerja ekstra keras lagi saat pengambilan di hari Senin.
Semua kendala-kendala tersebut mereka hadapi dengan ringan saja. Karena pada dasarnya para punggawa Gaslah ini berawal dari kecintaan mereka terhadap lingkungan tempat tinggal masing-masing. Mereka sejak semula memang aktif bergiat di penataan lingkungan di kelurahan-kelurahan tempat mereka tinggal.
Diketahui, berdasarkan data Pemkot Bandung, volume sampah mencapai 1.496,3 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton masih dibuang ke TPA Sarimukti yang sudah penuh. Sedangkan 496,3 ton sisanya diolah melalui berbagai metode, seperti insinerator, Kawasan Bebas Sampah (KBS), bank sampah, Reduce to Fertilizer (RTF), budidaya maggot, dan kompos mandiri.
Namun metode pembakaran sampah dengan insinerator bertentangan sengan keberlanjutan lingkungan hidup karena sifatnya yang polutan dan menimbulkan masalah baru tentang kesehatan dan perusakan lingkungan. Selain itu, Pemkot Bandung juga telah melarang metode pembakaran sampah ini.
Program Gaslah adalah program lama pemilahan dan pengolahan sampah setelah program Kang Pisman (Kurangi Pisahkan Manfaatkan) tidak serius dijalankan. Program ini justru yang direkomendasikan para ahli maupun aktivis lingkungan.
Gaslah mungkin terinspirasi dari program jemput sampah organik oleh komunitas pemuda One Six di Kelurahan Nyengseret bernama Sidak Panik (Simpen Candak Sampah Organik) yang bergulir sejak September 2024.
Konsep serupa lalu digagas Wali Kota Muhammad Farhan dan Pemerintah Kota Bandung setelah sempat melakukan kunjungan ke Nyengseret. Program Gaslah memasang target bisa merekrut 1.596 petugas dengan skema satu orang petugas per RW dengan gaji 1.250.000 rupiah per orang per bulan! Program ini belum berjalan optimal di seluruh kelurahan dan kurang menarik minat orang muda, entah karena gaji kecil atau karena enggan bersinggungan dengan sampah.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS