Renungan Perang di Ereveld Leuwigajah
Peringatan korban Perang Dunia II di Ereveld Leuwigajah menjadi pengingat yang pahit, sementara korban konflik bersenjata terus berjatuhan hingga hari ini.
Peringatan korban Perang Dunia II di Ereveld Leuwigajah menjadi pengingat yang pahit, sementara korban konflik bersenjata terus berjatuhan hingga hari ini.
BandungBergerak - Kecamuk Perang Dunia II dengan cepat menjalar sampai ke Hindia Belanda, saat Jepang masuk menaklukkan seluruh wilayah Nusantara. Ketika bala tentara dari Negeri Matahari Terbit itu menguasai Bukittinggi di Sumatera Barat tahun 1942, seluruh warga Belanda dan Eropa lainnya, termasuk tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) dan orang Indonesia yang bekerja di institusi Pemerintah Belanda dilucuti dan ditangkap.
Salah satu yang langsung diamankan adalah Direktur Kebun Binatang Bukittingi yaitu Dr MF Bernecker. Bernecker ditahan di Payakumbuh sementara istrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya ditahan di Padang. Bernecker dipaksa untuk melakukan penelitian satwa bagi pihak Jepang.
Pada akhirnya ia dituduh menyelundupkan uang, obat-obatan, dan senjata yang disembunyikan di kandang-kandang binatang. Jepang lalu mengurungnya di penjara di Payakumbuh, siksaan demi siksaan harus dijalani dokter hewan sekaligus anggota KNIL tersebut. Ia meninggal di penjara bulan Juni 1945.
Senin 4 Mei 2026, langit biru menaungi rumput hijau yang menghampar luas, lebih dari 5.000 batu nisan berwarna putih berjajar rapi. Ada ragam bentuk berbeda di bagian atas nisan yang menandakan beragam agama yang dianut para korban perang yang bersemayam di Ereveld Leuwigajah, Cimahi: Islam, Katolik, Kristen, Yahudi, dan Buddha.
Di sini ada monumen untuk menghormati korban perang kapal Junyo Maru yang tenggelam dihantam torpedo kapal selam Inggris di lepas pantai barat Sumatera tahun 1944. Kapal Jepang yang dijuluki kapal neraka tersebut mengangkut ribuan orang penumpang terdiri dari tawanan perang berkebangsaan Belanda, Amerika, Australia, dan Inggris, serta kuli kerja paksa atau romusha yang akan dikirim ke Sumatera. Lebih dari 5.000 orang tewas dan hilang.
Pagi itu, Eveline de Vinck Direktur Yayasan Makam Kehormatan Belanda, berdiri di depan makam kakeknya, MF Bernecker. Ia merenung sejenak lalu menyimpan buket bunga di depan pusara sang kakek. Desir angin dan kicau burung jadi simfoni pengantar requiem.
Momen tersebut bertepatan dengan peringatan Commemoration of The Fallen, sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban perang, baik sipil maupun militer, dalam Perang Dunia II maupun konflik-konflik setelahnya. Eveline mengatakan, upacara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa dampak perang terus berlangsung hingga hari ini di berbagai belahan dunia.
Dalam peringatan itu, perhatian tidak hanya diarahkan pada sejarah Perang Dunia II yang berakhir pada 1945, tetapi juga pada berbagai misi perdamaian internasional yang masih berjalan. Konflik bersenjata yang terus terjadi membuat risiko jatuhnya korban sipil maupun militer tetap nyata, termasuk bagi personel yang dikirim dalam misi kemanusiaan dan perdamaian internasional.
Situasi global yang kembali diwarnai perang dan ketegangan geopolitik dinilai menjadi alasan penting mengapa peringatan semacam ini tetap relevan. Upacara tersebut sekaligus menjadi refleksi mengenai pentingnya menjaga perdamaian, kebebasan, dan kemanusiaan di tengah meningkatnya konflik dunia.
“Kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga perdamaian dan kebebasan untuk semua,” papar Eveline.
Peringatan ini juga dihadiri Wakil Atase Pertahanan Kerajaan Belanda di Indonesia Patrick Stahli, beberapa perwakilan keluarga korban perang termasuk keluarga van Der Meulen yang datang dari Belanda dan keluarga Schmidlen dari Indonesia. Keluarga lalu menyimpan karangan bunga secara simbolis dan berdoa di pusara kerabat mereka yang dimakamkan di Leuwigajah.
Setiap tanggal 4 Mei pula diperingati sebagai Dodenherdenking atau Hari Berkabung nasional yang menandai berakhirnya Perang Dunia II di Belanda (juga diperingati di Makam Kehormatan Belanda di Indonesia) untuk mengenang dan menghormati korban perang dari kalangan militer dan sipil baik warga Belanda dan Indonesia dalam peperangan dan misi perdamaian selama Perang Dunia.
Dan setiap 15 Agustus diperingati sebagai penanda berakhirnya Perang Dunia II di Asia. Peringatan tanggal 15 Agustus akan jadi upacara terbesar karena secara resmi dihadiri Atase Pertahanan Kerajaan Belanda dan timnya sebagai penanggungjawab, Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting) atau OGS sebagi host, serta perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Upacara akan digelar di ereveld tertentu dan Taman Makam Pahlawan di kota yang dipilih.
Jumlah total ada sekitar 50.000 makam korban perang, angka ini hanya untuk untuk jenazah yang ditemukan saja. Angka resmi yang dikeluarkan Kerajaan Belanda ada 180.000 korban perang, di antaranya 12.000 korban dimakamkan di Belanda, 13.000 korban lainnya di 50 negara, dan ada 25.000 korban yang dimakamkan di Indonesia.
Dulunya ada 22 ereveld di seluruh Indonesia, tahun 1950-an pemerintah Indonesia meminta Belanda mengurangi ereveld. Selama 10 tahun dilakukan proses permakaman kembali semua korban perang ke 12 ereveld sementara dan akhirnya menjadi 7.
Korban perang yang dimakamkan di ereveld berasal dari 3 periode perang, Perang Dunia II, periode revolusi nasional, dan periode pertempuran di Irian Barat. 75 persen korban perang yang dimakamkan di Indonesia adalah sipil.
Peringatan 4 Mei atau Commemoration of The Fallen juga menjadi ruang bagi keluarga korban perang untuk mengenang anggota keluarganya yang meninggal pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Salah satunya disampaikan Joseph Rizky Schmidlen saat menghadiri upacara peringatan di Makam Kehormatan Leuwigajah.
Joseph menceritakan kakeknya, Frederick Pieters Schmidlen, meninggal di Penjara Sukamiskin pada 1942 setelah ditangkap tentara Jepang. Saat itu, sang kakek bekerja di pabrik gula di wilayah Sigli, Sumatera.
Ketika Jepang datang, para pekerja dan tahanan dikumpulkan sebelum akhirnya dibawa ke Sukamiskin. Ayah Joseph baru berusia empat tahun ketika kehilangan ayahnya.
Joseph mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kematian kakeknya. Namun ia menemukan banyak korban lain yang tercatat meninggal pada tanggal yang sama pada periode tersebut.
“Entah karena penyakit atau apa, tapi banyak yang waktu meninggalnya bersamaan tahun 1944, tanggalnya saya lihat ada beberapa yang sama saya tidak tahu apa alasannya bisa sama ya,” kata Joseph.
Ada tujuh Makam Kehormatan Belanda di Indonesia atau ereveld dibawah pengelolaan Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting) yang jadi tempat perisitirahatan terakhir sekitar 25.000 orang korban perang yang gugur baik sipil dan militer selama masa Perang Dunia II dan masa revolusi (1942-1949).
Tujuh Ereveld tersebut adalah Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta yang didirikan tahun 1946. Ada sekitar 4.000 makam di Menteng Pulo, sedangkan Ancol jadi perisitirahatan terakhir sekitar 2.000 orang korban perang termasuk anggota pasukan Sekutu.
Di Bandung ada Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah di Cimahi. Ereveld Pandu diresmikam tahun 1948 jadi tempat pemakaman lebih dari 4.000 orang korban perang. Ereveld Leuwigajah yang diresmikan tahun 1949 jadi tempat pemakaman lebih dari 5.200 orang korban perang.
Ereveld Kalibanteng didirikan tahun 1949 dan Ereveld Candi diresmikan tahun 1947 di Semarang. Lebih dari 3.000 jasad dimakamkan di Kalibanteng dan sekitar 1.100 makam korban perang di Ereveld Candi.
Ereveld Kembang Kuning di Surabaya yang dibangun tahun 1947 didedikasikan sebagai makam kehormatan angkatan laut. Lebih dari 5.000 orang korban perang termasuk pelaut dan warga sipil dimakamkan disini.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS