Memutus Wabah Campak di Leuwigoong
Di tengah status KLB campak di Garut, tenaga kesehatan Puskesmas Leuwigoong menembus kampung-kampung, mendatangi posyandu hingga rumah warga.
Di tengah status KLB campak di Garut, tenaga kesehatan Puskesmas Leuwigoong menembus kampung-kampung, mendatangi posyandu hingga rumah warga.
BandungBergerak - Hari masih pagi saat Anggun Pertiwi, Puri Suciati, dan Nina dari Puskesmas Leuwigoong, menapaki jalan kampung yang menurun. Langkah kaki mereka membawa ke Posyandu Delima, Kampung Cikukuk, Desa Margacinta, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Senin, 6 April 2026. Hari itu merupakan kick off Outbreak Response Immunization (ORI) yang digagas pemerintah demi menanggulangi penyebaran wabah campak di Jawa Barat, khususnya di Garut.
Di posyandu, puluhan ibu-ibu bersama anak-anak balita mereka sudah menunggu kedatangan para petugas kesehatan tersebut. Salah satunya Imas yang mengaku anaknya belum mendapat imunisasi.
“Supaya tidak was-was kan katanya lagi wabah di Garut ya,” kata Imas, sambil menggendong sang buah hati.
Setelah screening kondisi dan data kesehatan anak oleh kader PKK setempat, ibu-ibu dan balita mereka memasuki ruangan posyandu sembari menunggu giliran. Sebelum vaksin anak-anak harus dipastikan tidak dalam kondisi demam.
“Ini sambil nonton film ya di hape,” kata seorang ibu, membujuk anak balitanya yang mulai rewel saat petugas kesehatan menyiapkan vaksin campak atau MR (measles rubella).
“Maaf ya, ini agak sakit, sebentar aja ya. Bu tolong dipegang kakinya sambil didekap ya,” kata bidan desa, Anggun Pertiwi.
Anak-anak yang terkena campak bukan hanya mengalami gejala demam dan ruam merah biasa, infeksi virus morbillivirus ini sangat menular dan bisa memicu komplikasi fatal seperti radang paru, diare berat, infeksi telinga, sampai radang otak.
Menurut salah seorang perawat desa, Nina, ia dan rekan-rekan sejawatnya terus melakukan upaya pemerataan layanan kesehatan dengan jemput bola langsung ke rumah-rumah atau posyandu.
Di hari kerja dalam sepekan, mereka bertugas satu hari di puskesmas dan satu hari ke lapangan. “Jadi di puskesmas terlayani, yang di permukiman juga bisa terlayani,” katanya.
Garut menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak setelah mengalami peningkatan kasus cukup banyak. Jawa Barat sendiri jadi salah satu provinsi KLB campak. Ada sekitar 102.000 anak belum mendapat imunisasi campak lengkap.
Setelah pelaksanaan ORI di berbagai Posyandu, Puskesmas Leuwigoong berencana melanjutkan upaya imunisasi dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah bagi anak-anak yang belum menerima vaksin. Sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan, petugas akan terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap sasaran yang belum terjangkau. Langkah ini dilakukan untuk memastikan cakupan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Leuwigoong dapat mencapai target 95 persen, sehingga rantai penularan penyakit dapat diputus.
“Ada jeda waktunya, jadi tidak langsung sekarang, akan kami data dulu,” kata Puri Suciati, salah seorang petugas kesehatan Puskesmas Leuwigoong.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS