• Foto
  • Menyibak Wajah Lama Cicadas

Menyibak Wajah Lama Cicadas

Bangunan-bangunan yang lama tersembunyi kini kembali terlihat, membangkitkan kenangan tentang pusat belanja dan hiburan yang pernah menjadi denyut malam di Cicadas.

Fotografer Prima Mulia27 Juni 2026

BandungBergerak - Wajah lama Cicadas menghidupkan ingatan di masa lalu. Tahun 90an, malam akhir pekan di Cicadas selalu ramai. Warga hilir mudik menyeberangi De Groote Post Weg atau Jalan Daendels, kini Jalan Ahmad Yani, yang membelah pusat perdagangan di sisi timur Kota Bandung. Semakin larut, kawasan itu justru semakin hidup. Lampu toko dan pedagang makanan menerangi hampir setiap jengkal trotoarnya.

Ketika pertokoan tutup sekitar pukul 19.00 hingga 20.00, bioskop, gedung biliar, dan tenda-tenda kuliner mengambil alih keramaian malam.

Selain berbelanja di pertokoan Kalimas, Horizon, atau Super Bazaar, lalu menikmati jajanan malam, warga juga datang untuk menonton di bioskop Taman Hiburan, Ramayana, dan Cahaya. Ketiganya dikenal sebagai bioskop misbar—gerimis bubar—karena ruang pertunjukannya terbuka tanpa atap. Taman Hiburan menjadi yang paling populer karena memiliki area menonton paling luas. Di sekitar kawasan itu berdiri pula gedung biliar Kandaga, yang sama-sama dikenal rawan keributan.

“Sering terjadi keributan di sana. Dulu kan banyak premannya di Cicadas,” kata Atip, pengusaha sablon di sentra industri sablon Suci, Bandung, 22 Juni 2026.

Pada masa itu, Atip hampir setiap malam datang ke Cicadas untuk menjemput kekasihnya yang bekerja di Toko Horizon. Ia mengaku kerap merasa khawatir karena keributan di tempat hiburan sering meluas hingga ke lingkungan sekitar.

Biasanya perkelahian dipicu oleh orang-orang mabuk melawan aparat yang juga sama-sama sedang nonton di hari libur. “Biasanya masalah perempuan atau saling senggolan padahal tidak sengaja malah buntutnya pada berkelahi,” lanjut Atip.

Julukan "Gang 1.000 punten" melekat pada Cicadas sebagai gambaran kawasan yang keras. Cicadas juga dikenal sebagai "negara beling" dan populer lewat kisah legendaris "ninja Cicadas". Seiring pergantian milenium, citra itu perlahan memudar.

Pamor Cicadas ikut meredup setelah sejumlah pusat pertokoan, bioskop, dan gedung biliar Kandaga tutup. Di saat yang sama, trotoar di kedua sisi jalan semakin dipenuhi tenda semi permanen pedagang kaki lima (PKL) yang menutupi deretan toko-toko lama. Keberadaan PKL di kawasan ini disebut sudah dimulai sejak awal 1970-an dan menjelang pergantian milenium jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 lapak.

Akibatnya, fasad bangunan yang semestinya menjadi etalase pertokoan tenggelam di balik deretan tenda. Ingatan tentang Cicadas sebagai kawasan perdagangan pun perlahan memudar. Pengendara yang melintas di Jalan Ahmad Yani nyaris hanya melihat tenda-tenda PKL dan papan reklame di atas bangunan. Bahkan langit nyaris tak terlihat ketika berjalan di lorong-lorong tenda yang menutupi trotoar.

Padahal, sejarah kawasan perdagangan Cicadas telah berlangsung sejak sedikitnya 1948. Salah satu toko yang masih bertahan adalah Toko Potret Wijaya, yang telah berdiri sejak dekade 1940-an.

“Suami saya buka toko potret tahun 1940-an, tepatnya lupa, pokoknya 1940 sekian lah, dulu toko potret ini namanya Zon Foeng,” kata Liem, 80 tahun, yang kini mengelola Toko Potret Wijaya.

Studio foto itu bertahan melewati masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga berbagai pergolakan politik di Indonesia. Menurut Liem, pada era 1980-an hingga akhir 1990-an, Cicadas selalu ramai hingga malam hari. Lokasi bioskop misbar berada tepat di seberang tokonya.

“Ramai saat malam hari, walau toko-toko sudah tutup sekitar jam 7 atau 8 malam, tapi bioskop kan ramai, roda dan tenda kuliner juga ramai, kadang suka ada keributan disana, ya namanya anak-anak muda,” kata Liem.

Salah satu pelanggan tetap Toko Potret Wijaya adalah Nurul Arifin, yang saat itu masih menjadi aktris sebelum terjun ke dunia politik.

“Nurul Arifin langganan kita, ya tentu foto-fotonya waktu dia masih muda dulu, masih gadis waktu itu, dia kan orang sini,” kata Liem sambil tertawa.

Kini studio foto itu masih beroperasi meski tak lagi seramai dulu. Untuk menambah pemasukan, Liem juga menjual pakaian di tokonya.

Bagi generasi muda yang bekerja di kawasan itu, trotoar Cicadas yang kini bebas dari tenda PKL menghadirkan suasana berbeda.

“Sekarang lebih enak aja kan terlihat dari jalan, kita juga pemandangan keluar jadi lebih lapang, etalase toko jadi terlihat jelas,” kata pegawai perempuan di toko Enggal.

Tak lama kemudian, sebuah becak naik ke trotoar dan berhenti di depan Toko Ayu Trends. Seorang perempuan lanjut usia yang membawa tongkat duduk di dalamnya. Pegawai toko segera menghampiri sambil membawa beberapa pasang kaus kaki yang telah dipesan pelanggan tersebut.

“Saya orang Cicadas, selalu belanja disini sejak kecil sampai sekarang, kaki ibu kan sakit sudah sulit berjalan, sekarang becak bisa langsung berhenti di depan toko sebentar, dulu kan banyak tenda, hese balanja ge (dulu banyak tenda jadi susah mau belanja ke toko),” kata Yayi, 80 tahun.

Tak sampai lima menit, becak kembali melaju menyusuri Jalan Ahmad Yani untuk singgah ke beberapa toko lain.

Berjalan di sepanjang trotoar Cicadas kini menghadirkan pemandangan yang berbeda. Deretan toko tua yang selama puluhan tahun tersembunyi di balik tenda PKL kembali terlihat. Sebagian masih beroperasi, sebagian sudah tutup, bahkan ada yang tinggal puing. Sebuah apotek yang juga menjadi tempat praktik dokter umum dan psikiater kini tampak jelas dari jalan.

Di sisi lain jalan, seorang perempuan tampak berjemur di depan bangunan tua bercat kusam yang mulai mengelupas dimakan usia. Tulisan "Tukang Gigi" dengan huruf merah masih menempel di dinding dan papan lapuk bangunan Tukang Gigi Sin Min.

Tak jauh dari sana, dua bangunan bernomor 567 dan 569 sudah kehilangan atap. Semak belukar tumbuh memenuhi bagian dalamnya. Di bangunan nomor 567, nama Toko Cherry masih terbaca jelas, menjadi penanda salah satu toko busana yang pernah berjaya pada masanya.

Terbukanya kembali trotoar Cicadas membuat deretan bangunan tua itu kembali terlihat. Bagi sebagian warga, pemandangan tersebut menjadi penghubung dengan ingatan kolektif tentang Cicadas sebagai salah satu pusat perdagangan dan hiburan di sisi timur Kota Bandung.

Namun, di balik wajah baru kawasan itu, persoalan lain muncul. Penggusuran lapak PKL mengakhiri mata pencaharian sebagian pedagang yang telah berjualan turun-temurun selama lebih dari setengah abad. Hingga kini belum ada kepastian mengenai lokasi relokasi bagi para mantan pedagang.

Sebagian memilih tetap berjualan secara berpindah dengan lapak portabel. Mereka datang membawa barang dagangan, berjualan beberapa jam, lalu pulang. Ada pula yang memanfaatkan ujung trotoar atau mulut gang sebagai tempat berjualan.

Di salah satu toko, seorang perempuan berusia 82 tahun baru saja membuka pintu usahanya.

“Lagi nunggu penjual masakan keliling langganan saya,” katanya.

Ia merasakan perbedaan yang mencolok antara sebelum dan sesudah penggusuran PKL. Ketika masih ada PKL suasana ramai sampai malam hari. Ia merasa banyak teman ngobrol.

“Kalau masalah rejeki kan sudah ada yang ngatur, nggak pengaruh juga ke toko saya baik saat masih ada PKL atau kaya sekarang sudah bersih PKL, yang pasti saya banyak kehilangan teman-teman ngobrol,” kata pemilik toko yang sudah buka sejak tahun 1965.

 

*Foto dan Teks: Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//