• Foto
  • Merah Tomat, Merah Protes Petani

Merah Tomat, Merah Protes Petani

Tradisi Rempug Tarung Adu Tomat di Lembang mengubah hasil panen yang tak layak jual menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakpastian harga komoditas pertanian.

Fotografer Prima Mulia4 Juli 2026

BandungBergerak - Seribu lima ratus kilogram tomat berterbangan ke udara. Dua kelompok warga saling lempar buah-buah tomat itu. Ini bukan tawuran antarkampung, ini adalah bagian dari tradisi rempug tarung adu tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 26 Juni 2026.

Ruas jalan kampung sepanjang 50 meteran itu memerah oleh tomat-tomat yang hancur terinjak-injak. Warga menyemut di pinggir jalan dan teras-teras rumah. Siapa saja boleh bergabung ke tengah jalan untuk ikut perang tomat tahunan ini, dengan risiko seluruh tubuh bakal berlumuran merah tomat. Tapi peserta perang tomat tidak boleh emosian.

Sebagian peserta memakai baju pelindung berbahan bambu dan daun kelapa, tameng bambu, dan helm juga dari bambu. Baju zirah mereka sepintas mirip pakaian perang centurion Romawi.

Sebagian besar tomat yang dipakai dalam perang ini tomat busuk atau terlalu matang. Terkena lemparan tomat busuk tak terlalu jadi masalah. Yang paling sial saat terkena lemparan tomat yang masih setengah matang, lumayan sakit.

Di antara para peserta perang tomat ada gadis-gadis penari yang ikut memeriahkan bagian dari tradisi hajat lembur tersebut. Durasi perang tomat kali ini tak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit saja. Setelahnya warga bergotong royong membersihkan jalan, mengumpulkan kembali tomat-tomat yang sudah lumat untuk dijadikan pupuk.

Sejak awal salah satu alasan digelarnya perang tomat adalah sebagai bentuk protes pada kebijakan pemerintah yang tidak mampu menjamin kestabilan harga panen pertanian. Pemerintah juga dinilai tidak bisa menjamin ketersediaan obat-obatan atau pupuk. Padahal sudah lama negeri ini dikenal sebagai negara agraris.

“Ini bentuk demo kepada pemerintah, protes kekecewaan petani, dari pada demo biasa, kami kemas menjadi seni,” kata Acep Unen, usai mengikuti perang tomat.

Para petani tomat menghadapi fluktuasi harga hasil panen. Mereka pernah menghadapi harga 500-2.000 per kilogramnya. Bagi petani, harga ini sangat tak masuk akal. Untuk sekadar biaya buruh petik saja tak mencukupi, apalagi ditambah dengan harga obat-obatan dan pupuk yang selangit. Obat dan pupuk tomat tidak ada yang disubsidi. Dalam perhitungan Acep, modal menanam satu pohon tomat sekitar 5.000 rupiah.

“Daripada tomat dibiarkan busuk akhirnya kami jadikan bentuk hiburan (perang tomat),” kata Acep.

Menurut petani Desa Cikidang ini, sekarang harga tomat di musim kemarau terbilang tinggi, 12.000 rupiah per kilogram. Jadi perang tomat kali ini terasa kontradiktif dengan semangat awal digelarnya perang tomat.

Namun, Acep menyatakan, harga ini belum tentu bertahan lama. Fluktuasi harga panen inilah yang juga jadi bentuk protes petani pada pemerintah yang tidak bisa menjamin kestabilan harga komoditas pertanian.

“Bagusnya jika harga panen bisa selalu di atas 5.000 (rupiah) per kilogram,” kata Acep.

Di mata peserta, lain lagi ceritanya. Ade Hidayat yang baru pertama kali mengikuti perang tomat, ini adalah pengalaman dan keseruan yang akan membekas dalam ingatannya.

“Seru, tahun depan mau ikutan lagi, saya juga jadi mengerti makna adat dan tradisi di kampung sendiri seperti hajat lembur dan perang tomat ini,” kata pelajar SMPN 5 Lembang tersebut.

Meski demikian, perang tomat tahun ini agak kurang gereget dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terakhir digelar tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19, di mana perang tomat sangat meriah dengan menghabiskan berton-ton tomat busuk yang tak terjual karena harga sedang jatuh.

Waktu itu panitia sudah memberi tempat di sepanjang sisi kanan jalan. Ribuan kilogram tomat yang beterbangan di udara dan banyaknya peserta perang tomat waktu itu cukup untuk membuat para perekam citra untuk hati-hati melangkah dan memilih sudut perekaman.

Berbanding terbalik dengan tahun ini. Perang tomat tomat terasa semerawut antara wartawan peliput, pembuat konten media sosial, dan para penggemar fotografi. Tomat yang diperangkan hanya sedikit, sekitar 1.500 kilogram saja, mengingat harga tomat sedang tinggi-tingginya.

Dari sisi peserta, jumlahnya tak terlalu banyak. Jumlah mereka hampir sama banyaknya dengan jumlah pemburu gambar dan konten yang berseliweran ke sana ke mari. Namun, perang tomat sekarang maupun ke depan tetap menyimbolkan protes bahwa keberpihakan pemerintah terhadap petani masih dirasa minim.

 

*Foto dan Teks: Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//