• Foto
  • Kopi Wanoja Kamojang

Kopi Wanoja Kamojang

Di bawah tegakan pinus Kamojang, jemari perempuan memetik, menjemur, menyortir, dan menyangrai kopi—mengubah biji-biji merah menjadi jalan panjang menuju kemandirian

Fotografer Prima Mulia9 Agustus 2026

BandungBergerak - Lebih dari 20 perempuan sibuk mengerjakan proses penjemuran berkuintal-kuintal ceri kopi dan biji kopi di atas meja-meja bambu serta terpal plastik. Hamparan buah dan biji kopi itu memenuhi area lembah Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, pada 10 Juni 2026.

Aroma menyerupai buah yang difermentasi tercium kuat dari ceri kopi utuh yang tengah dijemur. Ini merupakan proses natural, yakni pengeringan buah kopi utuh selama beberapa hari. Di meja penjemuran lain, tampak biji kopi mentah atau green bean yang sedang dikeringkan.

Sementara itu, di bawah atap pelindung berupa jaring plastik, sejumlah perempuan membolak-balik hamparan kopi dengan proses honey. Pada proses ini, kulit luar buah kopi merah dikupas, tetapi bagian daging buah yang berlendir dibiarkan tetap menempel pada biji sebelum dijemur.

Dari berbagai proses tersebut, Wanoja Coffee menghasilkan tiga jenis produk utama, yakni green bean, honey, dan natural, dengan cita rasa serta aroma yang beragam. Produk-produk itu kemudian didistribusikan kepada pelanggan di dalam negeri dan dikirim kepada pemesan dari luar negeri.

Nyai, 42 tahun, dan Titi, 51 tahun, bolak-balik memeriksa kadar air ceri kopi yang tengah dijemur. Di tangan mereka terdapat penggaruk kayu untuk membalik hamparan buah kopi agar proses pengeringan berlangsung merata. Keduanya bekerja sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 16.30.

Nyai dan Titi sudah beberapa tahun bekerja di Wanoja Coffee. Sebelumnya, keduanya bekerja di sektor industri di Kabupaten Bandung. Titi pernah bekerja belasan tahun di pabrik tekstil sebelum terkena pemutusan hubungan kerja.

“Sudah belasan tahun kerja di pabrik tekstil lalu kena PHK,” kata Titi.

Meja sortir green bean Wanoja Coffee. Biji kopi kering diperiksa dan dipisahkan untuk mendapatkan biji yang memenuhi standar kualitas sebelum diproses lebih lanjut,10 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Nasib serupa dialami Nyai, ibu tiga anak yang sebelumnya bekerja di pabrik konveksi sebelum terkena pemutusan hubungan kerja.

Di lahan sawah terasering yang kini dimanfaatkan sebagai area penjemuran dan fermentasi kopi, para perempuan bekerja di bawah terik matahari. Topi lebar, caping, sarung tangan, dan pakaian berlengan panjang menjadi pelindung mereka dari paparan sinar matahari.

Di tengah aktivitas itu, beberapa pekerja laki-laki hilir mudik memanggul karung-karung berisi biji kopi yang baru tiba. Kopi petik merah jenis Arabika tersebut berasal dari perkebunan kopi di dataran tinggi Kamojang, kawasan di sekitar perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut.

Dari kebun Kamojang

Beberapa pekan setelah aktivitas penjemuran di Kampung Sangkan, suasana panen kopi masih terlihat di perkebunan tumpang sari di bawah tegakan hutan pinus dataran tinggi Kamojang. Pada 4 Agustus 2026, Iim, 48 tahun, memetik buah-buah kopi merah yang tersisa di kebunnya.

Juli dan Agustus merupakan bulan-bulan akhir panen raya kopi di wilayah Kamojang, baik di kawasan Kabupaten Bandung maupun Garut. Buah kopi yang dipanen harus benar-benar merah agar menghasilkan kualitas yang baik.

“Ada sisa panen tidak terlalu banyak, sudah mulai habis masa panennya. Panen kopi ini dikirim ke Desa Laksana di Ibun, itu punya Hj Eti Sumiati (pemilik Wanoja Coffee), panennya harus yang merah biar kualitasnya bagus,” kata Iim.

Usai memetik sisa panen, Iim tersenyum melihat pohon-pohon kopinya mulai kembali berbunga. Ia memeriksa batang, daun, dan bunga kopi yang mulai bermunculan.

Kebun-kebun kopi di Kamojang tumbuh di bawah tegakan hutan pinus, berdampingan dengan tanaman tumpang sari lainnya, seperti tembakau. Di tengah musim kemarau panjang, perawatan kebun harus dilakukan lebih sering.

“Musim kemarau panjang, harus sering-sering ke kebun, tapi pohon-pohon dewasa lebih tahan cuaca dibanding bibit pohon kopi,” kata Iim sambil menata kantung-kantung plastik hitam berisi bibit kopi setinggi sekitar 10 sentimeter.

Iim juga memiliki sebuah kedai kecil di dekat kebunnya. Selain makanan dan minuman, kedai yang berada di jalur wisata Kawah Kamojang itu menjual produk Wanoja Coffee serta kopi hasil produksi sejumlah industri rumahan di Kamojang.

Pekerja menyeleksi green bean dengan saringan. Biji kopi kering dan kotoran dipisahkan menggunakan alat penyaring sebelum memasuki tahap sortir berikutnya, 10 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Dari Penjemuran ke Meja Sortir

Kembali ke gudang kopi di Kampung Sangkan, Mak Ai sibuk menyeleksi biji-biji kopi pilihan. Ia memutar wadah semacam saringan bambu berlubang. Biji kopi yang belum terseleksi dan kotoran akan lolos melalui lubang-lubang tersebut.

Biji kopi kering yang telah melewati proses awal itu kemudian diperiksa kembali di meja-meja sortir. Meski berusia 70 tahun, lengan Mak Ai masih sigap mengayak biji-biji kopi agar ukurannya seragam. Ia termasuk salah satu pekerja yang paling lama bekerja di Wanoja Coffee.

Tak jauh dari sana, lebih dari 10 perempuan duduk berhadapan di meja panjang penyortiran. Dengan gerakan cepat, mereka memisahkan biji kopi yang memenuhi standar dari biji yang tidak lolos. Segenggam demi segenggam, dalam waktu sekitar 10 menit, satu baskom biji kopi pilihan pun terkumpul.

Obrolan ringan, tawa, dan canda menyertai aktivitas kerja, mulai dari area penjemuran terbuka, gudang kopi, meja sortir, hingga ruang penggarangan di Wanoja Coffee. Hampir seluruh mata rantai produksi melibatkan perempuan, mulai dari petani hingga pengolah kopi.

“Saya bersyukur bisa kerja di sini setelah keluar dari pabrik konveksi, bisa berdaya untuk bantu keuangan keluarga. Anak yang satu sudah SMP, yang satu masih balita. Di tahun awal kerja saya di bagian penjemuran, baru setelah itu pindah ke penyortiran,” kata Nenden (32).

Keterlibatan perempuan dalam seluruh proses produksi tersebut bukanlah kebetulan. Wanoja Coffee memang tumbuh dari gagasan pemberdayaan perempuan di pedesaan.

Gagasan itu berawal dari Eti Sumiati setelah ia pensiun dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Selama bertahun-tahun berdinas, ia bergelut dengan berbagai persoalan perempuan dan memahami keterbatasan pilihan yang dihadapi perempuan di perkampungan.

Pada 2012, Eti mulai mencoba bidang peternakan dan pertanian. Ia sempat berhasil mengembangkan kebun tembakau sebelum beralih menanam kopi di lahan kurang dari satu hektare dengan sekitar 150 pohon.

Usahanya berkembang. Eti kemudian mencoba bekerja sama dengan bandar kopi melalui sistem kontrak, tetapi ia merasa kurang cocok dengan sistem tersebut. Ia lalu mendirikan kelompok petani kopi bernama Wanoja—yang berarti perempuan—pada 2012 dan mulai merekrut banyak pekerja perempuan.

Para anggota kelompok belajar pembibitan, pemeliharaan tanaman, pemetikan buah, hingga pengolahan pascapanen. Mereka juga mengikuti berbagai pameran produk. Perlahan, merek kopi yang membawa identitas perempuan itu mulai dikenal dan terus berkembang hingga sekarang.

Di ruang produksi Wanoja Coffee, mesin roasting modern digunakan untuk menggarang biji-biji kopi pilihan. Aktivitas produksi juga menjadi ruang belajar bagi mereka yang ingin mendalami kopi.

“Sedang ada mahasiswa juga yang sedang melakukan riset tentang kopi, kami terbuka dengan orang-orang yang mau belajar tentang kopi, itu mereka langsung dipandu oleh Wisnu Nugraha, anaknya Ibu Eti,” kata Silvi (18), staf dan admin media sosial Wanoja Coffee.

Menurut Wisnu Nugraha, sejak awal mendirikan kelompok tani Kopi Wanoja dan Wanoja Coffee, ibunya memang menunjukkan keberpihakan terhadap pemberdayaan perempuan di desa.

“Kata Ibu, perempuan harus mandiri dan punya ruang yang setara untuk berdaya. Tahun lalu juga Wanoja Coffee mendapat anugerah Piala Apresiasi Perempuan Pejuang UMKM dari Bank Indonesia, artinya kita sudah ada di jalan yang benar sesuai filosofi Wanoja yang digagas Ibu dahulu,” kata Wisnu.

Kini, kata Wisnu, Eti lebih banyak membagikan pengetahuannya melalui seminar dan pelatihan. Sementara itu, anak-anaknya mulai ikut mengembangkan usaha kopi tersebut agar mampu menjawab kebutuhan pasar masa kini.

“Ibu sekarang banyak membagikan ilmunya di seminar-seminar atau pelatihan, hari ini juga sedang ada acara di luar. Anak-anaknya mulai belajar dan ikut mengembangkan bisnis Kopi Wanoja di era sekarang. Kita juga bikin produk untuk kafe sendiri, produk utama kita tetap green bean. Adik bungsu saya juga terus mengembangkan bisnis ini supaya Kopi Wanoja punya brand yang kuat dan cita rasa kopi specialty khas kami yang cukup variatif. Selain itu, packaging kopi juga harus menarik, itu harus dipikirkan juga desainnya,” papar Wisnu.

Belajar menyangrai biji kopi. Ruang produksi Wanoja Coffee juga menjadi tempat belajar bagi orang yang ingin mendalami proses pengolahan dan pemanggangan kopi, 10 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Perjalanan kopi dari kebun hingga pasar kini menghadapi tantangan baru. Uni Eropa mulai memberlakukan regulasi perdagangan bebas deforestasi, termasuk untuk komoditas kopi. Produk kopi Indonesia yang masuk ke pasar tersebut dituntut memiliki sistem keterlacakan sehingga asal-usulnya dapat diketahui dan dapat dibuktikan tidak berasal dari lahan hasil penggundulan hutan.

Regulasi tersebut berlaku mulai 30 Desember 2026 bagi pedagang besar dan menengah, kemudian mulai 30 Juni 2027 bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil.

Bagi Wanoja Coffee, tuntutan keterlacakan itu menambah pentingnya hubungan antara petani, kebun, pengolahan, hingga distribusi. Jejak biji kopi yang bermula dari lereng-lereng Kamojang harus dapat diketahui hingga menjadi produk yang dipasarkan.

Kini Eti Sumiati tidak lagi berjalan sendiri. Ada Iim dengan jemarinya yang memetik kopi merah di kebun-kebun Kamojang. Ada Nyai dan Titi yang membolak-balik ceri kopi di bawah terik matahari. Ada Mak Ai yang menyaring biji kopi, Nenden yang menyortirnya, serta puluhan perempuan lain yang bekerja di berbagai tahapan pengolahan.

Dari tangan-tangan perempuan di Kampung Sangkan itu, biji kopi dari lereng pegunungan Kamojang rutin memasok pasar lokal dan dikirim ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Dari kebun di bawah tegakan pinus, melewati meja-meja bambu, ruang sortir, hingga mesin roasting, perjalanan kopi itu sekaligus menjadi perjalanan pemberdayaan. Karya tangan-tangan perempuan dari sebuah kampung di lereng Kamojang kini merambah jauh hingga ke negeri-negeri lain.

*Foto dan Teks: Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//