• Berita
  • Kota Bandung: Musim Kering Krisis Air, Musim Hujan Terancam Banjir

Kota Bandung: Musim Kering Krisis Air, Musim Hujan Terancam Banjir

Permukaan tanah di Cekungan Bandung mengalami penurunan setiap tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan.

Pengendara sepeda motor di Bandung menembus hujan, Rabu (15/9/2021). (Foto: Miftahudin Mulfi/BandungBergerak.id)

Penulis Bani Hakiki17 September 2021


BandungBergerak.idPergerakan permukaan tanah di Kota Bandung terus mengalami penurunan (land subsidence) setiap tahunnya dan akan memicu krisis air bersih. Di saat yang sama, musim hujan telah tiba, potensi bencana banjir pun mengancam Cekungan Bandung.

Sementara strategi yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam mengantisipasi banjir pada musim hujan kali ini dinilai belum masksimal. Upaya rutin pemeliharaan atau menormalisasi sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) masih belum menyentuh akar persoalan.

Bahkan upaya normalisasi akan percuma jika hanya berfokus dalam penanganan dan antisipasi banjir di sektor hilir. Direktur Ekskutif Wahana Lingkungan Hidup Jawa Barat (Walhi Jabar) Meiki W Paendong mendorong Pemkot Bandung agar memperhatikan lebih jauh potensi banjir dari hulu atau sumber airnya.

“Percuma kalau yang diperbaiki hanya bagian hilir saja (sungai) karena permasalahannya juga harus diantisipasi sejak dari hulunya (sumber air). Salah satunya menjadikan daerah sekitar hulu sungai sebagai lahan konservasi, dilindungi,” tuturnya ketika dihubungi, Kamis (17/9/2021).

Walhi Jabar mengimbau agar ada perhitungan yang tepat untuk menyusun strategi jangka panjang yang dapat dijadikan solusi dalam menghadapi bencana banjir. Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah pola alam yang juga bergantung pada tindakan manusia atau warga.

Ada hubungan antara bencana banjir dan penurunan muka tanah di Kota Bandung. Salah satu penyebab land subsidence ialah karena pengambilan air tanah yang berlebihan. Penelitian yang dilakukan oleh Kelompok Keilmuan Geodesi Institute Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 2000 menunjukkan, penurunan permukaan tanah di Cekungan Bandung bisa mencapai 5-10 sentimeter per tahun. Dewasa ini, jumlah penurunannya bisa mencapai 15-20 sentimeter melebihi batas normalnya.

Meiki menambahkan, sejumlah proyek pembangunan yang ada di Kota Bandung juga punya peran besar terhadap penurunan muka tanah dan penyerapan air. Bukti dari pengaruh proyek pembangunan ini dapat dilihat dari sejumlah bencana banjir yang terus meningkat, khususnya di pemukiman sekitar sungai.

Sementara pada muskim kemarau, terjadi krisis air bersih. PDAM Tirtawening Kota Bandung baru-baru ini menyatakan berkurangnya pasokan air baku akibat kekeringan.

“Ironinya, Bandung ini setiap kemarau krisis air. Terus, ketika musim hujan volume airnya justru gak tertampung sampai berpotensi banjir bandang. Pemerintah harus bisa menentukan skala prioritas, mana pembangunan hiburan, mana renovasi lingkungan,” imbuh Meiki.

Maka, baik potensi banjir maupun penurunan muka tahan harus sama-sama dicegah. Pencegahan land subsidence dapat dilakukan dengan cara menghentikan pengambilan air tanah yang berlebihan. Indikator krisis air bergantung pada korelasi antara land subsidence dan volume pengambilan air tanah, salah satunya memerhatikan setiap proyek pembangunan yang bakal dan sedang dilakukan.  

Saat ini, level air tanah sudah banyak yang melebihi minus 45 meter yang menyebabkan telah terjadinya kerusakan pada lapisan di dalam tanah yang dapat menampung dan meloloskan air (akuifer). Tidak lebih dari 50 tahun lagi Kota Bandung diprediksi akan mengalami krisis air yang lebih kronis.

Baca Juga: Hari Bumi dan Krisis Air Bersih yang Mengancam Kota Bandung
Bandung Kota Rawan Bencana (2): Banjir dan Krisis Air Bersih

Titik-titik Banjir Kota Bandung

Salah satu langkah yang ditempuh Pemkot Bandung dalam mengantisipasi banjir ialah dengan melakukan pengangkutan sampah dan pengerukan sedimentasi di 48 DAS yang ada di Kota Bandung. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi terjadinya luapan air saat musim hujan.

Sejauh ini, perbaikan tersebut meyisakan 10 titik yang masuk dalam daftar pemantauan ketat lantaran kerap terjadi luapan air sungai ketika musim hujan. Diketahui, titik banjir di Kota Bandung mencapai lebih dari 68 lokasi.

Menurut survei DPU pada 30 Jul 2021, titik banjir terluas berada di daerah sekitar Cibaduyut. Daerah dengan potensi banjir besar lainnya, yakni Kopo-Citarip dengan 13 titik bencana banjir dan 10 titik lainnya di Pasirkoja-Soekarno Hatta.

Berikutnya, Simpang Soekarno Hatta-Gedebage, Pasar Induk Gedebage, Jalan Rumah Sakit, Margacinta, dan Jalan A.H. Nasution, dan di kawasan Cikadut terdapat empat titik banjir.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPU Kota Bandung, Yul Zulkarnaen mengungkapkan, pihaknya telah meyiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk menanggulangi dan menangtisipasi potensi banjir di Kota Bandung.

“Kita punya banyak perlatan yang bisa digunakan penanganan banjir. Beko untuk pengerukan dan pengangkatan sampah, loader mobile pump untuk menyedot air. Kita ada tim siaga banjir yang piket 24 jam apabila terjadi hujan,” ungkapnya dalam pertemuan Bandung Menjawab di Balai Kota Bandung pada Kamis (17/9/2021).

Yul juga mengaku telah melakukan sejumlah renovasi pada titik infrastruktur yang krusial, seperti renovasi kirmir, saluran air atau drainase, dan sejenisnya.

“Kemarin sudah mapag hujan, pengerukan sedimen dan sampah di titik-titik banjir. Kita lakukan di banyak lokasi hingga ratusan titik,” ujarnya.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//