KISAH CIKOLE #3: Kebun Stroberi Boemi Hajoe
Dozij bersaudara mengubah kebun bunga potong di kawasan Desa Cikole, Lembang, menjadi hamparan perkebunan stroberi yang cantik.

Malia Nur Alifa
Pegiat sejarah, penulis buku, aktif di Telusur Pedestrian
30 November 2025
BandungBergerak.id – Kisah ini saya dapatkan dari majalah De Indishe Mercuur yang terbit tanggal 13 Januari 1922, pada halaman ke 19. Ada sebuah kolom berjudul De Aardbein Cultuur te Lembang.
Setelah berkutat dengan kesalahan dalam pengolahan data lisan yang saya lakukan dalam masa meriset kawasan Cikole, terutama data perkebunan stroberi bernama Boemi Hajoe, akhirnya dari kesalahan itu saya belajar bahwa membandingkan ulang penamaan dan pelafalan itu adalah hal yang sangat penting. Apabila salah, kita akan diam di tempat dan data riset yang bersangkutan tidak akan berkembang.
Setelah menemukan bahwa nama dari perkebunan stroberi tua di kawasan Cikole tersebut adalah Boemi Hajoe, maka saya mulai berselancar mengunjungi beberapa situs Belanda. Dan lagi-lagi memeriksanya di lapangan untuk memastikan kembali sebelum data ini saya rasa sudah pantas untuk saya sejajarkan dengan data sejarah Lembang lainnya. Hal inilah mungkin yang menyebabkan hampir semua data riset saya ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengolahnya. Diperlukan waktu kurang lebih 12 tahun untuk itu semua, bahkan itu baru sekitar 65 persen dari wilayah Lembang yang telah saya teliti, sisanya masih memerlukan riset lanjutan terutama kawasan barat Lembang.
Baca Juga: KISAH CIKOLE #1: Antara Pisang Kole dan Kopi Kental
KISAH CIKOLE #2: Cerita Pasangan De Rooth dan Maritje, serta Polemik Data Keluarga Dozij
De Aardbein Cultuur te Lembang
Artikel ini ditulis pada tahun 1922 oleh seorang pria bernama C. J. J. van Hall. Ia adalah seorang yang sangat tertarik pada ilmu pengetahuan tentang pertanian dan hortikultura dan dia merasa hal ini sangat menarik untuk ia tulis.
Buah beri memang tumbuh subur di kawasan dataran tinggi Hindia Belanda. Sebelumnya van Hall sempat melihat kabun-kebun stroberi tumbuh subur di dataran tinggi Pangalengan, tepatnya di kebun-kebun milik administrator perkebunan teh. Ia pada saat itu mencicipi stroberi di perkebunan kina Cikembang pada tahun 1917 dan rasanya sangat lezat.
Tak lama ia menemukan berita bahwa di kawasan Lembang pun terdapat sebuah perkebunan stroberi luas dan membuatnya sangat penasaran hingga pergi untuk mengunjunginya. Dalam artikel tersebut, Van Hall mengatakan bahwa letak dari perkebunan stroberi di Lembang ini adalah melalui 5 pos dari Lembang, ini artinya adalah 5 pos dari tugu selamat datang di Lembang. Dahulu terdapat tugu “Selamat Datang di Lembang” yang sebelumnya terdapat di kawasan yang tidak jauh dari pabrik Kimia Farma, Cicendo. Namun karena pada 1906, Bandung menjadi kota praja yang menyebabkan wilayahnya meluas, hal ini menyebabkan kawasan Lembangweg berkurang. Tugu selamat datangnya saat itu harus mundur ke area yang sekarang Jalan Setiabudi, tepatnya di sebuah taman di seberang Setiabudi Super Market.
Lalu Van Hall juga menerangkan bahwa lokasi perkebunan stroberi ini berada di sepanjang jalan yang dipakai untuk menuju Gunung Tangkuban Parahu di ketinggian 3.400 kaki yaitu tepatnya adalah 1036,32 MDPL. Lokasi kebun stroberi tersebut sangat dekat dengan Gunung Putri. Di sanalah perusahaan perkebunan Boemi Hajoe yang didirikan oleh dua Dozij bersaudara, salah satunya adalah mantan dari pegawai perkebunan kopi (petani kopi) yang kini mengabdikan dirinya untuk membudidayakan stroberi.
Perkebunan Boemi Hajoe ketika disambangi Van Hall baru berusia 3 tahun dan dahulunya adalah perkebunan bunga potong. Di tangan Dozij bersaudara kebun bunga tersebut berubah menjadi hamparan kebun stroberi yang cantik. Dahulu bunga potong yang dibudidayakan di tanah ini tidak tumbuh dengan baik, namun berbeda dengan stroberi yang ternyata tumbuh dengan sangat subur.
Pada tahun 1917 itulah Dozij bersaudara akhirnya memperluas perkebunan stroberi Boemi Hajoe menjadi 21 hektar. Setelah saya riset ke lapangan, ditemukan data lisan dari keluarga yang sangat membantu saya dalam misi pencarian denah dan patok perkebunan ini. Bagian timur perkebunan Boemi Hajoe berbatasan dengan KLapang yang dulu menjadi landasan pesawat udara di masa Perang Dunia I dan II. Lalu di selatannya berbatasan dengan perkebunan koloni sayuran Soerjasoemirat, di bagian baratnya inseminasi buatan Baru Ajak (Balitsa), di utara berbatasan dengan Kampung Pasar Ahad, hingga total seluruhnya kurang lebih 21 hektare.
Sistem penanaman yang dilakukan Dozij bersaudara cukup sederhana. Stroberi ditanam di dalam bedengan selebar 1,2 meter, dipisahkan oleh jalur setapak selebar kurang lebih 1 meter. Setiap bedeng memiliki dua baris stroberi dengan jarak tanam 60 cm.
Sebelum ditanam, tanah diolah dahulu secara mendalam dan diberi pupuk dengan takaran sekitar 10 pikul pupuk kandang per bedengan 15 meter berisikan 45 tanaman. Dan 6 bulan setelah penanaman, pemupukan ringan kembali dilakukan, yaitu sekitar 3 pikul pupuk kandang per bedengan yang berisi 45 tanaman.
Tanaman tetap di tempatnya kurang lebih satu tahun. Pada saat itu buahnya mulai menyusut dan hasil panen pun menurun. Perlu diingat bahwa tanah di sini sebelumnya telah diolah secara ekstensif. Tanaman kemudian dicabut dan dibagi, lalu lahan diolah kembali untuk ditanami. Awalnya tanaman yang tumbuh pada tunas digunakan sebagai bahan tanam, tapi kemudian tunas dipotong secara teratur dan secepat mungkin bahan tanam diperoleh secara eksklusif dengan membelah taman tua.
Penanaman stroberi tidak membutuhkan banyak perawatan. Tetapi ada dua tugas yang memerlukan banyak pekerjaan dan perhatian, yaitu menipiskan daun secara teratur dan menopang cabang yang berbuah. Stroberi mengembangkan dedaunan yang sangat lebat dan rimbun sehingga harus ditipiskan secara teratur untuk mencegah daun menghitam dan membusuk.
Jumlah produksi stroberi seluruh kawasan perkebunan Boemi Hajoe rata-rata 30 pon per hari per 2 hektarenya. Satu pon stroberi kala itu dijual dengan harga 1,75 Gulden, sehingga penjualan harian per 2 hektar dari total 21 hektar adalah 52,50 Gulden.
Dozij bersaudara ini pernah berniat untuk mengekspor stroberi hasil kebunnya, namun sepertinya upaya ini belum berhasil. Tanaman stroberi mengalami kesulitan transportasi agar tetap segar hingga ke tangan konsumen.
Data terakhir yang saya temukan tentang perkebunan Boemi Hajoe ini adalah, ternyata mereka juga memili peternakan sapi perah, tidak banyak memang mungkin hanya sekitar 20 ekor sapi. Produksi susunya sangat kecil dibandingkan peternakan lainnya di Lembang.
Saya ucapkan terima kasih yang sangat mendalam pada keluarga Mama Riri dan Bapak Aki yang sangat membantu proses make sure data ini. Dan data Boemi Hajoe adalah data terakhir yang saya olah di lapangan karena tidak lama setelahnya saya melahirkan anak ke-3 dan saya harus juga berjuang dengan mioma saya yang mengharuskan saya masuk ruang operasi. Tak lama setelah itu pandemi Covid-19 hadir yang menyebabkan terhentilah proses riset lapangan saya, hingga berlanjut kembali melakukan riset pada awal tahun 2022 dan berakhir di awal tahun 2023 serta mulai menuliskannya secara perlahan baik itu dalam buku atau tulisan kolom.
***
*Kawan-kawan dapat membaca artikel-artikel lain Malia Nur Alifa, atau tulisan-tulisan lain tentang Sejarah Lembang

