• Liputan Khusus
  • PULIHKAN LUKA TAK KASAT MATA: Ruang Aman di Sekolah Bernama BK, Cerita Konsultasi Murid SMA Al Biruni

PULIHKAN LUKA TAK KASAT MATA: Ruang Aman di Sekolah Bernama BK, Cerita Konsultasi Murid SMA Al Biruni

Dari kegelisahan memilih jurusan hingga mencegah perundungan, praktik bimbingan konseling di SMA Al Biruni menunjukkan bahawa sekolah hadir bagi muridnya.

Ilustrasi. Kesehatan mental memerlukan perhatian serius dari individu maupun negara. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang6 Januari 2026


BandungBergerakSuatu siang, Syalwa Fauziah, murid Sekolah Menengah Atas (SMA), melangkah ke ruang Bimbingan dan Konseling (BK) SMP–SMA Al Biruni Cerdas Mulia, Bandung. Ia datang bukan karena pelanggaran disiplin atau masalah kenakalan remaja. Syalwa justru membawa kegelisahan yang lebih personal: menentukan pilihan jurusan antara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjelang naik ke kelas XI.

Di ruang konseling dengan interior berwarna-warni berpadu dengan roaster block yang memungkinkan sirkulasi udara mengalir bebas,  Syalwa berbincang dengan guru BK Hikmat Nurjaman. Tanpa rasa canggung meski konselornya laki-laki, ia merasa diterima, diberi ruang aman, dan benar-benar didengarkan.

Berdasarkan hasil psikotes di sekolah beralamat di Jalan Terusan Panyileukan, Syalwa sebenarnya memiliki potensi kuat di bidang sains. Namun minatnya justru tertuju pada IPS. Pilihan itu sempat disayangkan banyak orang. Meski begitu, Syalwa tetap melangkah sesuai keyakinannya, sebuah keputusan yang ia ambil setelah berdiskusi panjang dengan guru BK-nya.

“Pak Hikmat bilang enggak apa-apa, ini tergantung jalan kamu ke depan mau seperti apa. Kalau masih bingung, salat istikharah dulu cari pencerahan,” ujar Syalwa kepada BandungBergerak di Al Biruni, Selasa, 25 November 2025. "Terus akhirnya ketika Syalwa memutuskan untuk ambil IPS tuh udah yakin banget gitu."

Sistem BK yang Inklusif

Di Al Biruni, layanan bimbingan dan konseling dijalankan melalui tiga program utama. Pertama, konseling klasikal, berupa bimbingan satu kelas penuh dengan materi terstruktur yang masuk dalam jadwal pelajaran. Kedua, konseling kelompok, yang melibatkan empat murid atau lebih melalui dinamika kelompok untuk membantu pemahaman diri atau pemecahan masalah. Ketiga, konseling individu, yang dilakukan secara tatap muka antara konselor dan murid.

Syalwa telah terbiasa mengikuti konseling klasikal dan kelompok setiap pekan. Pengalaman itu membuatnya merasa aman saat menjalani konseling individu. Ia tidak takut dihakimi.

Hikmat Nurjaman menjelaskan, Al Biruni memosisikan sekolah sebagai rumah kedua yang inklusif, berlandaskan nilai-nilai Islami. Guru berperan sebagai orang tua, sementara murid SMP dan SMA dipandang sebagai adik dan kakak yang saling menjaga. Sistem kekeluargaan inilah yang menopang keberlangsungan BK.

Hikmat telah menjadi guru BK di Al Biruni sejak 2014 dan menangani seluruh murid SMP hingga SMA. Ia satu-satunya guru BK di sekolah tersebut, sesuai standar Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 yang menyebutkan satu guru BK idealnya melayani 150 siswa. Saat ini, Al Biruni memiliki 149 murid—71 siswa SMA dan 78 siswa SMP.

Menurut Hikmat, konsep BK di Al Biruni berbeda dari sekolah pada umumnya. Jika di banyak sekolah tanggung jawab BK sepenuhnya berada di tangan guru BK, di Al Biruni seluruh guru dan staf ikut terlibat.

“Semua staf punya peran untuk mengawasi, memotivasi, dan mendorong perilaku anak,” ujar Hikmat.

Membangun Ruang Konseling yang Aman

Proses konseling diawali dengan identifikasi kondisi murid melalui konseling kelas menggunakan instrumen Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Murid diminta menuliskan pengalaman dan perasaan mereka selama bersekolah. Hikmat kemudian mengamati respons dan perilaku murid. Jika ditemukan perubahan yang mencolok, ia melanjutkan identifikasi dengan mengobrol bersama teman dekat murid tersebut.

Konseling individu menjadi tahap berikutnya. Menariknya, Hikmat memberi keleluasaan bagi murid untuk memulai cerita melalui WhatsApp atau menulis diari, jika mereka belum nyaman berbicara langsung.

Dalam setiap proses, Hikmat memegang dua asas utama: kerahasiaan dan keterbukaan. Segala hal yang disampaikan murid dijaga kerahasiaannya, sementara murid didorong untuk jujur menyampaikan apa yang mereka rasakan.

Pendekatannya humanis dan cair. Ia aktif mendekati murid yang tampak bermasalah, mengajak berbincang tanpa nada menginterogasi. Tidak ada praktik mempermalukan murid, apalagi mengumumkan kesalahan melalui pengeras suara.

"Tujuan kita adalah untuk memanggil, karena anak ini ada satu masalah yang harus diselesaikan tapi mereka tidak merasa untuk dituduh apa-apa, tidak merasa untuk diinterogasi, tapi betul-betul sukarela," jelasnya.

Metode diskusi terbuka menjadi kunci. Murid diajak berpikir kritis dan menumbuhkan kesadaran diri. Fokus konseling bukan pada kesalahan, melainkan pada solusi.

"Pulang dari BK itu membawa satu mindset yang berbeda dari sebelumnya. Karena apa? Karena tujuan kita berdiskusi," ungkap Hikmat. 

Relasi guru dan murid juga tidak hanya dibangun di ruang BK. Koneksi sering terjalin di koridor sekolah, kantin, pergantian jam pelajaran, bahkan saat bermain futsal bersama. Cara ini sengaja ditempuh untuk mematahkan stigma BK sebagai ruang penghukuman.

"Kita tidak perlu menjelaskan bahwa BK itu ramah, bahwa BK itu begini-begini, tapi dengan gaya, kalau bahasa Sunda mah amis budi," jelas Hikmat.

Baca Juga: Pertolongan Pertama Menangani Kedaruratan Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa
Mengenali Gangguan Kecemasan dan Cara Pemulihannya

Berkaca dari Kasus SMA 72 Jakarta

Kasus pengeboman di SMA 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025, menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Pelaku diketahui pernah mengalami perundungan dan berasal dari keluarga yang tidak utuh. Sejumlah tanda kerentanan sebenarnya telah muncul jauh hari, mulai dari perubahan perilaku hingga laporan perundungan. Namun, semua itu tidak tertangani dengan memadai.

Bagi Hikmat, kasus tersebut merupakan akumulasi persoalan yang dibiarkan. Banyak murid yang tampak “baik-baik saja” justru menyimpan konflik terdalam. Ketika keluhan tidak direspons serius, sekolah kehilangan kesempatan penting untuk hadir sebelum masalah membesar.

"Bisa jadi masalahnya kecil, tapi karena tidak ada orang yang membantunya, akhirnya mencuat ke hal-hal lain," paparnya.

Ia menegaskan, ruang aman tidak cukup dibangun lewat ruangan BK atau aturan tertulis. Yang lebih penting adalah kehadiran orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, peka terhadap perubahan kecil, dan menjalin relasi sebelum jarak tercipta.

Budaya Antiperundungan

Kepala SMA Al Biruni, Eris Risnawati, menyebut sekolahnya sebagai sekolah inklusif Islam yang menghargai dan mengembangkan potensi setiap murid. Selain murid reguler, Al Biruni juga menerima murid dengan beragam diagnosis, seperti autisme, hambatan kecerdasan, hambatan pendengaran, hingga low vision.

Kesadaran dan empati ditanamkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan diperkuat setiap bulan. Materinya beragam, mulai dari penerimaan terhadap perbedaan, anti-bullying, kesehatan mental, hingga nilai-nilai Islami. Tujuannya membangun kolaborasi dan sikap saling merangkul.

“Bagaimana anak-anak reguler bisa berkolaborasi dengan anak-anak inklusif,” kata Eris.

Dukungan sekolah terhadap BK diwujudkan dengan menyediakan waktu khusus dalam jadwal pelajaran untuk konseling kelas, serta memfasilitasi guru BK mengikuti seminar, webinar, dan pelatihan.

"Kita pasti memfasilitasi (guru BK) untuk selalu ikut ke sana, apalagi tentang perundungan, misalkan, ada webinar atau apa pun itu, pasti kita mendukung," jelasnya.

Bagi Eris, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, tetapi juga rumah kedua yang manusiawi. Pencegahan perundungan tidak cukup dengan aturan dan sanksi, melainkan harus tercermin dari cara sekolah memperlakukan murid sehari-hari.

Setiap indikasi perundungan atau perubahan perilaku murid tidak pernah dianggap sepele. Sekolah memilih merespons cepat dan membangun kesadaran bersama.

"Bullying itu tidak boleh. Kita selalu mengingatkan harus saling sayang, harus saling merangkul, karena bahaya bullying itu," tutur Eris.

Baginya, sekolah yang aman bukanlah sekolah tanpa masalah, melainkan sekolah yang bersedia hadir, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap proses tumbuh kembang setiap murid.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//