• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Pendidikan yang Tidak Pernah Mencari Anak Paling Rentan

MAHASISWA BERSUARA: Pendidikan yang Tidak Pernah Mencari Anak Paling Rentan

Sistem pendidikan gagal untuk melindungi anak-anak penderita kanker yang berada pada kondisi paling rentan dan tidak berdaya untuk akses pendidikan mereka.

Silaen Laura Veronika

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Telkom Bandung

Berfoto setelah belajar di Rumah Pejuang Kanker Ambu. (Foto: Dokumentasi Silaen Laura Veronika)

1 Januari 2026


BandungBergerak.id – Sudah dua tahun saya meneliti pendidikan bagi anak penderita kanker. Anak-anak yang selalu disebut layak mendapatkan pendidikan, tetapi kenyataannya tidak pernah disediakan ruang yang sesuai untuk mereka.

Fakta yang saya dapatkan ketika melihat sudut pandang dari Rumah Singgah Kanker di Kota Bandung. Kepala yayasannya bernama Ambu, seorang yang pernah kehilangan anaknya belasan tahun lalu karena penyakit kanker mata, menciptakan rumah singgah sehangat rumah nenek, Rumah Pejuang Kanker Ambu.

Banyak anak di sana harus berhenti sekolah karena tubuh mereka tidak lagi selaras dengan ritme pendidikan formal yang kaku. Titik balik ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan hanya sosial atau kesehatan, melainkan kegagalan sistem pendidikan untuk melindungi anak-anak yang berada pada kondisi paling rentan dan tidak berdaya untuk akses pendidikan mereka.

Riset saya bermula melalui kunjungan ke Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu pada 2023, saat merealisasikan program OSIS SMA Negeri 20 Bandung bernama Altehyamarco, sebuah nama yang merefleksikan semangat penyembuhan dan hidup panjang. Di dalam kegiatan tersebut kami hanya bermain dan memberikan sumbangan untuk pasien dan orang tua di sana. Selain itu, ada asa pribadi, saya ingin menemukan perspektif baru dan sebagai bentuk penghargaan mengenang Papa yang telah pergi tahun 2021 akibat menderita penyakit kanker leukemia.

Senang rasanya semesta seperti berpihak karena muncul pertanyaan kecil di benak saya, “Mengapa anak-anak ini tidak bersekolah?” Pertanyaan itu saya ajukan terhadap kepala yayasan, jawabannya memprihatinkan. "Anak-anak kebanyakan berhenti sekolah karena biaya, keterbatasan kesehatan, takut infeksi, dan keadaan emosional karena mereka merasa malu dan tidak layak untuk sekolah. Jadi mereka bermain game sepanjang hari," ujar Ambu di Rumah Pejuang Kanker Ambu, Bandung, Sabtu, 15 April 2023.

Negara Indonesia yang katanya mendukung pendidikan inklusif, belum memiliki pendidikan yang menjamin untuk mereka. Ada beberapa yayasan seperti Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia yang telah mendukung pendidikan mereka, tapi apakah sudah ada pemerataan seperti anak-anak di Rumah Pejuang Kanker Ambu?

Jika tidak ada program khusus dari pemerintah Indonesia, lantas bagaimana di Kota Bandung?

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Bukan Memberi Makan Siang Gratis, tapi Merombak Sistem Pendidikan
MAHASISWA BERSUARA: Memaknai Ucapan Dedi Mulyadi tentang Disiplin dalam Pendidikan
MAHASISWA BERSUARA: Menimbang Jalan Baru Literasi dan Numerasi Indonesia, Berkaca pada Pendidikan Finlandia

Persoalan yang Kompleks

Terseret oleh asa dan logika di waktu yang tepat. Saya bisa kembali ke Rumah Kanker Ambu ketika di bangku kuliah Oktober 2025 bersama 9 teman saya lainnya dalam memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Sosial dan SDGs. Kami menemukan permasalahan lebih kompleks.

Pertama ketertinggalan literasi yang serius. Saya senang dapat bertemu dengan Awan, anak yang saya jumpai saat tahun 2023, sekarang ia sudah kelas 7 SMP. Tapi saya miris karena Awan masih kesulitan mengeja namanya sendiri. Hal ini karena efek kemoterapi dan cepat lelah memaksa mereka putus sekolah. Ini bukti bahwa kesehatan telah menjadi penghalang kurikulum yang kaku.

Kedua minimnya fasilitator dan sistem yang tidak adaptif. Walaupun sekarang sudah ada tiga guru volunteer, jumlahnya tidak cukup. Ketiadaan kurikulum khusus serta metode yang adaptif membuat anak-anak bosan. Pendidikan yang dibutuhkan adalah konsistensi yang lambat dan adaptif, bukan kecepatan kurikulum formal.

Ketiga distraksi dan menurunnya motivasi belajar. Stabilitas emosional yang terganggu diperburuk oleh gawai. Anak-anak mencari distraksi pada game atau reels karena lingkungan belajar yang ditawarkan sistem tidak menarik.

Kami merancang “Lembar Kecil Semesta”, terinspirasi dari kata “Lembar Kerja Siswa”, tetapi dirancang dengan pendekatan sesuai psikis dan psikologis anak di sana.

Dibuka oleh sesi dongeng interaktif untuk memulihkan fokus yang hilang. Dari penilaian sederhana, saat kami tanyakan, “Dari bintang 1-5, seberapa semangat kamu belajar?”, mayoritas anak berada di angka 2-5. Angka ini adalah indikator kuantitatif bahwa semangat mereka telah tergerus, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena sistem telah menelantarkan mereka.

Kami menyadari, kurikulum kaku adalah musuh terbesar anak penderita kanker. Kami menggantinya dengan modul membaca dan menulis yang disesuaikan secara individual dari kelas 1-7 SMP. Setiap halaman yang mereka selesaikan bukanlah tugas, melainkan kemenangan kecil yang secara psikologis jauh lebih berharga daripada nilai ujian.

Fokus dan energi yang fluktuatif, tantangan utama penderita kanker, kami sikapi dengan Ruang Pemulihan Kreatif. Aktivitas seperti mewarnai dan flashcard bukan sekadar hiburan, melainkan terapi motorik halus yang terintegrasi untuk membantu mereka kembali bersemangat tanpa merasa terbebani. Ini adalah adaptasi kurikulum yang seharusnya diadopsi oleh sekolah formal, bukan sekadar program sementara.

Program ditutup dengan Kartu Harapan Akhir. Di kartu itu, tertulis keinginan mereka tentang sekolah. Kartu itu kemudian dilipat menjadi pesawat kertas. Pesawat kertas adalah simbol bahwa mimpi mereka tetap bisa terbang jauh.

Harapan itu Masih Ada

Dalam enam pertemuan, semangat belajar 24 anak di Rumah Ambu naik drastis, dari beragam bintang 2-4 menjadi bintang 5. Perubahan cepat ini menunjukkan bahwa ketika pendidikan dibuat adaptif, motivasi mereka langsung kembali.

Tiga anak yang kami amati menguatkan temuan itu.

Haikal, anak terambisius yang menunjukkan fokus dan kreativitas jauh melampaui usianya. Kami belajar bahwa anak-anak kanker bukan kehilangan kemampuan, mereka hanya kehilangan kesempatan. Febby bukan rajin karena paksaan, tetapi karena ia merasa lingkungan belajar di program ini aman dan suportif. Terakhir Almira, yang awalnya cenderung tertutup karena kondisi fisiknya yang menderita kanker kulit. Namun, setelah kami berikan sesi one-on-one, ia mulai terbuka, berbaur, dan akhirnya semangat belajarnya naik menjadi bintang 5.

Dari ketiga kasus ini, kami menyimpulkan bahwa itu semua tentang emosi. Ketika emosi mereka membaik, rasa percaya diri tumbuh, dan belajar kembali menjadi sesuatu yang mereka senangi. Anak-anak penderita kanker tidak kehilangan kemampuan, mereka hanya kehilangan kesempatan dan lingkungan belajar yang aman secara emosional.

Di akhir program, harapan kecil anak-anak kami lipat menjadi pesawat kertas. Salah satu di antaranya bertuliskan, ‘Aku ingin selalu naik kelas… walau sulit karena pengobatan, aku akan terus berusaha,’ tulis Haikal, Jumat, 14 November 2025.

Ini adalah harapan dan tuntutan. Ketika anak-anak yang terperangkap dalam penyakit yang mematikan mereka masih punya keinginan tulus untuk bersekolah, masih ada semangat untuk sembuh. Lalu apa alasan negara dan sistem pendidikan formal untuk tidak menyediakan sarana yang layak dan berkelanjutan bagi mereka?

Tanggung jawab ini harus diambil alih. Negara kita Indonesia harus mulai peduli terhadap mereka yang tidak berdaya. Pendidikan dapat disalurkan ke pemerintah kota, khususnya di Bandung, agar segera mengubah model pendidikan adaptif ini dari proyek relawan menjadi kebijakan pendidikan yang berkelanjutan dan terlembaga.

Pada akhirnya, bagi mereka, hidup bukan sekedar bertahan, tetapi menemukan makna melalui pendidikan. Itulah tujuan dari Lembar Kecil Semesta: membaca harapan, menulis masa depan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//