MAHASISWA BERSUARA: Menyoal Ketergantungan AI untuk Debugging pada Mahasiswa Informatika
AI (Artificial Intelligence) sebaiknya digunakan sebagai alat pendamping atau sarana verifikasi setelah mahasiswa mencoba melakukan debugging secara mandiri.

Andrew Tristan Gunawan
Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
4 Januari 2026
BandungBergerak.id – Pada saat ini, perkembangan teknologi canggih berupa kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence) di kalangan mahasiswa Informatika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) meningkat secara signifikan. Berbagai platform otomatisasi lainnya menjadi bagian dari aktivitas belajar sehari-hari. Kehadiran AI menawarkan kemudahan dalam menyelesaikan tugas, debugging (proses menyelesaikan masalah terkait pemrograman), hingga memberikan penjelasan terkait materi-materi kompleks. Namun, maraknya penggunaan AI menimbulkan masalah terkait menurunnya kemampuan problem solving dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa terutama dalam menyelesaikan permasalahan pemrograman.
Kemampuan problem solving dan berpikir kritis sangat diperlukan sebagai mahasiswa informatika di industri teknologi. Perusahaan teknologi menuntut ketelitian, kemampuan analitis yang tajam, dan problem solving dalam menghadapi proyek-proyek besar. Oleh karena itu, pengunaan AI di kalangan mahasiswa Informatika Unpar perlu di evaluasi agar tidak menghambat perkembangan kemampuan berpikir komputasional.
Lemahnya pemahaman dasar pemrograman membuat mahasiswa informatika kurang siap menghadapi tuntutan industri teknologi yang menuntut kemampuan pemrograman tingkat lanjut. Industri pengembangan perangkat lunak membutuhkan penguasaan algoritma (langkah-langkah logis dalam pemrograman), struktur data, dan pemrograman berorientasi objek karena sistem yang dikembangkan berskala besar dan kompleks. Ketergantungan mahasiswa terhadap kecerdasan buatan (AI) dalam menyelesaikan proyek pemrograman berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis serta kemandirian dalam debugging.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Keuntungan Menggunakan ChatGPT yang Merugikan Mahasiswa
MAHASISWA BERSUARA: Mungkinkah Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Peran Akuntan?
MAHASISWA BERSUARA: Risiko Pelanggaran Privasi dalam Dinamika Kecerdasan Buatan
Kemampuan Berpikir Komputasional
Penelitian oleh Sergio Rojas‑Galeano (2025) dalam studi Tool or Trouble? Exploring Student Attitudes Toward AI Coding Assistants menunjukkan bahwa mahasiswa pemrograman yang mengandalkan bantuan AI saat membuat kode mengalami kesulitan saat diminta menyelesaikan tugas yang sama tanpa bantuan AI, yang mengindikasikan adanya ketergantungan serta celah dalam pemahaman konseptual dan keterampilan mandiri. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan AI tanpa bimbingan yang tepat dapat memperlemah pemahaman mahasiswa terhadap logika pemrograman dan proses problem solving, sehingga kemampuan berpikir komputasional mereka kurang siap menghadapi proyek industri berskala besar yang menuntut konsep pemrograman tingkat lanjut, seperti pengambilan data dari server dan pengiriman ke klien, pemrograman basis data lanjutan, serta pengelolaan Big Data. Karena lemahnya kemampuan berpikir komputasional, lulusan informatika berpotensi tidak siap memenuhi kebutuhan industri yang menuntut problem solving dan pemahaman konseptual yang kuat.
Kemampuan berpikir komputasional merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa informatika karena proses analisis, perancangan, serta pengembangan program komputasi menuntut pola berpikir yang sistematis dan logis. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa informatika yang menunjukkan kemampuan berpikir komputasional yang rendah. Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah ketergantungan terhadap kecerdasan buatan dalam proses debugging pada permasalahan pemrograman.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lukman dkk. (2023), sebanyak 44,4 persen mahasiswa mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis akibat penggunaan AI yang terlalu sering dalam menyelesaikan tugas kuliah. Selain itu, mahasiswa cenderung lebih berfokus pada penguasaan teori serta sintaksis bahasa pemrograman daripada pemahaman terhadap logika dan alur kode program. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi dasar pemrograman serta penyelesaian soal sederhana sehingga mahasiswa jarang dilatih untuk berpikir kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan pemrograman. Akibatnya, ketika mahasiswa dihadapkan pada permasalahan yang menuntut kemampuan analisis mendalam serta pemikiran kreatif untuk menghasilkan kode program yang efisien, mereka sering mengalami kesulitan dalam menemukan solusi yang optimal.
Dalam pemrograman, debugging merupakan bagian penting dalam pengembangan perangkat lunak karena melalui proses tersebut mahasiswa dapat memahami kesalahan logika program, alur eksekusi kode, serta kesalahan sintaksis yang terjadi. Namun, dalam praktik pembelajaran, proyek pengembangan perangkat lunak sering kali dapat diselesaikan dengan cepat tanpa mengalami kesalahan program yang signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswa kurang memperoleh pengalaman debugging secara langsung karena penggunaan kecerdasan buatan memungkinkan letak kesalahan logika atau sintaksis kode program diketahui secara instan tanpa melalui proses analisis alur program secara menyeluruh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yeadon et al. (2024), yang membandingkan kinerja AI seperti ChatGPT dan GPT-4 dengan mahasiswa dalam tugas pemrograman Python tingkat universitas, ditemukan bahwa meskipun AI mampu mencapai skor tinggi, mahasiswa tetap unggul secara signifikan pada tugas tertentu, sehingga menunjukkan keterbatasan akurasi AI dalam menyelesaikan permasalahan pemrograman yang kompleks. Akibatnya, mahasiswa menjadi kurang terbiasa melakukan penelusuran kesalahan secara sistematis sehingga kemampuan analisis dalam meminimalisasi kesalahan dan memperbaiki kode program tidak berkembang secara optimal.
Bahaya Berlebihan Menggunakan AI
Penggunaan AI (Artificial Intelligence) dalam pembelajaran pemrograman memang mampu meningkatkan efisiensi, terutama dalam membantu mahasiswa menemukan kesalahan kode dengan lebih cepat. Namun, apabila digunakan secara berlebihan, AI justru dapat mengurangi kesempatan mahasiswa untuk melatih kemampuan berpikir komputasional, analitis, dan problem solving secara mandiri. Pembahasan yang telah disampaikan menunjukkan bahwa pemanfaatan AI sering kali belum diarahkan untuk mendukung proses berpikir mahasiswa, melainkan cenderung menggantikan tahapan analisis yang seharusnya dilakukan secara bertahap. Oleh sebab itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendamping atau sarana verifikasi setelah mahasiswa mencoba melakukan debugging secara mandiri. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tetap dapat merasakan manfaat teknologi tanpa kehilangan kesempatan untuk memperkuat pemahaman konsep dasar dan kemandirian berpikir dalam pemrograman.
Selain itu, peran dosen dan institusi pendidikan sangat penting dalam mengarahkan penggunaan kecerdasan buatan secara bijak. Perguruan tinggi perlu merancang metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan pemrograman secara mandiri sebelum menggunakan bantuan AI. Dengan demikian, AI tidak menjadi alat instan yang menggantikan proses berpikir, melainkan sarana refleksi dan evaluasi untuk memperdalam pemahaman konsep pemrograman serta meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan industri teknologi di masa depan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

