Jalan Tol Cisumdawu Sudah Jadi, Tapi Sawah Kami Ikut Mati
Ratusan meter persegi sawah di bawah tebing Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di Desa Mulyasari, Sumedang Utara, berubah menjadi lahan kritis.

Tiara Nurzavira dan Kamilia Rachman
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad)
5 Januari 2026
BandungBergerak.id – Suara deru kendaraan di Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) kini menjadi latar baru bagi kehidupan warga Desa Mulyasari, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Suara mesin mobil yang berlalu-lalang kini menggantikan gemericik air irigasi di Mulyasari. Di bawah jalan tol yang megah, Aca berdiri di tepi sawah yang tak bisa lagi ditanami. Dulu, ia produktif memanen padi. Sekarang, ia hanya menunggu panggilan kerja serabutan untuk sekadar membeli beras sebab lahan sawah kini tak menghasilkan apa pun lagi. Rumah yang pernah ia tempati kini nyaris tiga tahun dibiarkan kosong akibat retakan di dinding dan lantai. Ia bahkan harus mengontrak selama lima bulan, namun bantuan yang dijanjikan tak kunjung datang, sehingga akhirnya membayar dari kantong sendiri.
Namun, cerita Aca hanyalah salah satu dari banyak cerita serupa yang ditemukan di Mulyasari. Longsor, limpasan air dari tebing tol, dan perubahan sistem irigasi juga menyebabkan puluhan warga lain kehilangan sawahnya. Beberapa bahkan mengalami kerusakan yang jauh lebih parah hingga lahan mereka menjadi bantaran sungai dan tidak dapat diperbaiki lagi.
“Teu aya nu dibanggakeun ti tol ieu. Nu aya mah nyangsarakeun (tidak ada yang dibanggakan dari tol ini, yang ada menyengsarakan),” ujar Aca.
Sebelum proyek Tol Cisumdawu dimulai pada 2011, Mulyasari dikenal sebagai salah satu desa agraris yang subur di Sumedang utara. Hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang, dan warga pun hidup dari hasil panen padi. Air dari saluran irigasi desa mengalir stabil, menjadi urat nadi kehidupan para petani.
“Dulu kami sibuk menanam di sawah,” kenang Aca sambil menatap tanah becek di kakinya. “Kapungkur mah, sawah téh nyokong ekonomi. Ayeuna mah sawah séép jadi walungan, henteu bisa digarap. Longsor jeung cai gede ti tol nu nyieun ruksak (Dulu sawah itu mendukung ekonomi. Kalau sekarang sawah habis jadi sungai, tidak bisa digarap. Longsor dan air besar dari tol yang menyebabkan kerusakan).”
Ketika alat berat mulai bekerja, bukit-bukit di sekitar desa dikeruk, dan struktur tanah pun berubah. Banyak saluran air yang tersumbat atau berpindah arah. Limpasan air dari area proyek tol mengalir deras ke lahan di bawahnya, menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan tak lagi bisa digarap.
Baca Juga: Walhi Jabar Ingatkan Pentingnya Dialog dalam Pembebasan Lahan Tol Cisumdawu
Lebih Baik Mengakses Tol Cileunyi daripada Tol Jatinangor
Membangun Tol Dalam Kota Bandung, Mundur Dua Dekade
Pembangunan yang Mengubah Nasib
Kini, ratusan meter persegi sawah di bawah tebing tol berubah menjadi lahan kritis. Sebagian tertimbun material longsor, sebagian lain rusak akibat perubahan sistem irigasi. Air yang dulu mengalir rata kini menumpuk di satu titik, menyebabkan genangan di area bawah dan kekeringan di area atas.
Pemerintah desa sempat mengajukan penanganan darurat ke dinas terkait. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pipanisasi, yaitu pemasangan pipa untuk menyalurkan air dari sumber mata air ke lahan pertanian. Namun, menurut Sekretaris Desa Mulyasari, Evan, pipanisasi ini hanya bersifat sementara dan belum mampu menggantikan fungsi irigasi besar yang rusak akibat perubahan kontur tanah.
“Memang ada pipanisasi bantuan dari dinas, tapi belum maksimal. Irigasi besarnya belum terbangun lagi,” jelas Evan.
Air yang turun dari atas tol kini jauh lebih besar daripada sebelum ada proyek. Saat musim panas mereka merasa aman. Tetapi saat hujan, warga selalu was-was karena derasnya air dari tebing tol bisa datang kapan saja.
Ketimpangan ini bukan hanya tentang rusaknya lahan, tapi juga tentang bagaimana pembangunan besar sering kali mengabaikan detail kecil yang menentukan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Tol Cisumdawu yang kini menjadi kebanggaan Jawa Barat, justru menyisakan luka bagi desa kecil seperti Mulyasari.

Hidup Tanpa Sawah
Setelah sawahnya tak lagi produktif, Aca berusaha bertahan dengan menjadi pekerja serabutan. Pendapatannya tidak menentu, dan di usia empat puluh empat tahun, tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Namun kebutuhan hidup tetap berjalan.
Banyak warga Mulyasari mengalami hal serupa. Mereka kehilangan sumber penghasilan dari hasil pertanian dan terpaksa mencari pekerjaan baru. Sebagian mencoba berdagang kecil-kecilan, sebagian pula menjadi pekerja serabutan seperti Aca. Namun, bagi mereka yang sudah lanjut usia, pilihan itu tak mudah. Sawah yang dulu menjadi jaminan masa tua kini hanya menyisakan kenangan.
“Kumaha deui atuh, ayeuna mah jadi kuli (Bagaimana lagi, sekarang hanya jadi kuli),” ujarnya.
Dulu, sekali panen ia bisa membawa pulang beberapa kuintal. Sekarang, tanah yang selama ini menjadi tempatnya menanam telah rusak. Sawah bukan hanya ladang untuk bertanam. Bagi warga Mulyasari, sawah adalah tabungan untuk hari tua. Ketika sawah hilang, rasa aman mereka pun hilang.
Ganti Rugi yang Tak Kunjung Datang
Masalah lain yang membelit warga adalah ketidakjelasan ganti rugi. Sejak awal pembangunan, warga sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah. Mereka bahkan membentuk tim perwakilan warga dan menggelar aksi demonstrasi menuntut kejelasan kompensasi atas lahan yang rusak. Namun hingga 2025, belum ada hasil nyata.
Pemerintah kabupaten dan provinsi memang pernah turun tangan untuk melakukan survei dan pendataan. Tapi setelah itu, tak ada tindak lanjut. Dulu, saat proyek masih berjalan, warga pernah menerima kompensasi berupa bantuan beras. Namun, setelah proyek selesai dan alat berat pergi, bantuan itu hilang begitu saja.
“Kungsi dipasihan beas sakali. Baheula jaman proyek mah kungsi aya kompensasi, 30 ribu per bata. Tapi mangsa proyek rengse, parantos opat taun henteu aya deui naon-naon (Pernah diberi beras sekali. Dulu ketika proyek berlangsung pernah ada kompensasi, 30 ribu per bata. Tapi semenjak proyek selesai, setelah empat tahun belum ada lagi),” Ujar Aca.
Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun sejak proyek dimulai, semangat warga untuk menuntut keadilan mulai meredup. Beberapa masih aktif mengumpulkan bukti dan mengirimkan surat ke instansi pemerintah. Namun sebagian lainnya sudah menyerah. Mereka merasa suara kecil dari desa tak cukup untuk menembus tembok kebijakan.
“Teu aya kabar nepi ka ayeuna. Padahal laporan téh tos kamana-mana (Tidak ada kabar sampai sekarang. Padahal laporan sudah diajukan kemana-mana),” begitu keluh warga.
Jalur yang mereka tempuh sudah panjang mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, hingga kementerian, namun hasilnya tetap nihil. Meski begitu, ada secercah harapan. Sejumlah mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil mulai mengadvokasi kasus ini agar mendapat perhatian publik. Langkah kecil itu memberi sedikit harapan bagi Aca dan kawan-kawan.
“Harapan abdi mah enggal aya kapastian pembebasan lahan (Harapan saya sih cepat ada kepastian pembebasan lahan),” ujar Aca.

Menanti Keadilan di Bawah Bayangan Tol Cisumdawu
Senja turun perlahan di Desa Mulyasari. Cahaya oranye memantul di genangan air yang menutup sisa-sisa sawah. Dari kejauhan, suara kendaraan di Jalan Tol Cisumdawu terdengar seperti gema kemajuan berlapis dengan keheningan desa yang seolah berhenti di waktu lain. Di bawah lengkung beton yang megah, Aca masih berdiri di tanah yang dulu memberinya kehidupan.
Ia menatap ke arah jembatan tinggi yang membelah langit Sumedang. Di atas sana, kendaraan melintas tanpa henti seolah dunia bergerak begitu cepat. Sementara di bawahnya, ia dan puluhan petani lain masih menunggu sesuatu yang tak kunjung datang yaitu kejelasan, ganti rugi, perhatian, mungkin juga sekadar pengakuan.
“Mun tos dibébaskeun mah abdi hoyong jadi patani deui (Kalau sudah dibebaskan sih saya ingin kembali jadi petani),” kata Aca. “Tapi mun henteu… nya janten buruh waé (Tapi kalau tidak… ya jadi buruh saja).”
Bagi warga Mulyasari, pembangunan bukan hanya soal jalan yang menghubungkan tempat, tetapi bagaimana kehidupan di kiri-kanannya tetap bisa berjalan. Mereka tidak menolak kemajuan, tapi ingin dilibatkan di dalamnya. Sebab bagi mereka, pembangunan yang sejati bukan tentang seberapa cepat mobil melaju di atas aspal, melainkan seberapa adil negara memelihara mereka yang hidup di bawahnya. Satu hal yang mereka harapkan bukanlah kemewahan, namun hanya kepastian.
Dan di bawah bayangan tol yang kini menjadi simbol kemajuan itu, suara Aca bergema pelan: Jalan tol sudah jadi, tetapi sawah kami ikut mati.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

