• Berita
  • Solidaritas Lintas Batas: Palestina sebagai Isu Global yang Melampaui Konflik Agama

Solidaritas Lintas Batas: Palestina sebagai Isu Global yang Melampaui Konflik Agama

Diskusi Kembang Kata Book Club menyoroti respons Mesir dan gerakan kemanusiaan dunia terkait pembantaian di Palestina.

Masyarakat Kota Bandung memperingati Hari Kemerdekaan Palestina, di Jalan Asia-Afrika, Sabtu, 15 November 2025. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Nabilah Ayu Lestari7 Januari 2026


BandungBergerakPerjuangan rakyat Palestina tak dapat dipahami semata sebagai konflik agama, tetapi sebagai persoalan global yang berkaitan dengan kolonialisme, imperialisme, dan pelanggaran hak asasi manusia. Sherif Mohyeldeen, analis kebijakan publik dari kawasan MENA, memaparkan bagaimana genosida di Palestina merupakan bagian dari sistem penindasan yang panjang, melibatkan kapitalisme, militerisme, serta otoritarianisme negara-negara pendukungnya.

Sherif juga mengulas posisi Mesir sebagai negara yang berada di garis depan dalam menyaksikan eskalasi kekerasan tersebut. Pandangan Sherif diulas di forum Ruang Kata #3 bertema “Cross-border Solidarity: How Solidarity with Palestine Works in Egypt?” yang digelar Kembang Kata Book Club di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, 2 Oktober 2025.

Perjuangan Palestina Bukan Isu Agama

Sherif Mohyeldeen tumbuh dalam keluarga Nubia-Mesir yang terlibat langsung dalam sejarah konflik Arab–Israel. Namun pengalaman akademiknya di Inggris membuatnya meninjau kembali cara ia memahami solidaritas terhadap Palestina.

Namun, pengalaman di Inggris membuatnya merefleksikan kembali argumentasinya. Ia berpendapat bahwa perjuangan Palestina adalah isu global yang melampaui konflik agama, analog dengan perubahan iklim. Ia menyebut Zionisme sebagai "kanker di seluruh dunia," menekankan bahwa ini adalah perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme, dan genosida. 

“Jadi saya mencoba membentuk kembali argumen saya mengapa saya mendukung Palestina. Dan kemudian saya merasa, ini lebih baik,” kata Sherif.

Sherif menyebut Zionisme sebagai sistem penindasan transnasional yang dampaknya terasa di berbagai belahan dunia. Pandangan itu ia rangkai dari pembacaan historis konflik sejak 1948 hingga kondisi hari ini.

Baca Juga: Diskusi Buku Antony Loewenstein di Bandung: Membedah Bisnis Senjata Israel, Palestina Sebagai Laboratorium Uji Coba
Mengingat Palestina Lewat Layar, Menuntut Kemerdekaan dengan Turun ke Jalan

Tantangan Solidaritas di Bawah Rezim Otoriter

Dalam forum itu, Sherif juga menjelaskan bagaimana solidaritas rakyat Mesir terhadap Palestina tetap kuat, meski negara menerapkan kontrol ketat atas aksi publik.

“Aksi solidaritas yang kami lakukan selalu mendapatkan kecaman pemerintah. Kami sering merasa tidak aman untuk bersuara,” katanya.

Ia menilai bahwa dukungan rakyat Mesir tidak pernah padam meski dibatasi militerisme, sensor, dan tekanan geopolitik.

Menghadirkan Ruang Diskusi dalam Situasi Global yang Rapuh

Kembang Kata Book Club menyelenggarakan diskusi ini untuk memperluas pemahaman publik mengenai bagaimana solidaritas lintas negara bekerja dan bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam gerakan kemanusiaan global.

Rafi dari Komunitas Kembang Kata Book Club berharap pengetahuan dari diskusi ini menular ke lingkungan peserta masing-masing.

“Harapannya dari orang-orang yang hadir di sini bisa nyebar ke lingkungan terdekat mereka, tentang isu yang kita bahas hari ini,” ungkap Rafi. 

Rafi menegaskan, konflik Palestina adalah proses penjajahan yang didorong kepentingan global, bukan perang agama. Ia membandingkannya dengan praktik kolonial Inggris yang memakai identitas agama dan ras untuk membenarkan penindasan.

“Apa yang sebenarnya terjadi di Palestina lewat perkembangan politiknya, sejarahnya, ekonominya, itu bakal jelas banget bahwa yang terjadi di Palestina itu bukan konflik agama, tapi sebuah proses penjajahan yang ditopang untuk memenuhi kepentingan imperialisme global, gitu,” tegasnya. 

Seni sebagai Penutup Perlawanan

Diskusi ditutup dengan penampilan Muslih, rekan Sherif, yang memainkan *oud*, alat musik tradisional Mesir. Ia membawakan lagu rakyat Palestina bertema perlawanan, sementara Sherif membacakan puisi berbahasa Arab. Penutup sederhana itu menggarisbawahi bagaimana seni tetap menjadi medium solidaritas ketika ruang politik dibatasi.

Alya, peserta dari The Room 19, mengatakan forum ini memperdalam pemahamannya tentang penindasan yang dialami rakyat Palestina.

“Sudah seharusnya kita memiliki pemahaman bersama tentang isu global ini dan membangun solidaritas yang sama,” katanya.

Diskusi ini menegaskan kembali bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar pilihan moral, tetapi tuntutan kemanusiaan global. Dan perubahan hanya mungkin terjadi ketika masyarakat terus bersuara, melampaui batas agama dan negara.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//